Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tunggu Aku


__ADS_3

"Mau ngapain ke apartemen kamu, Vin?" Jeany memandang wajah tampan yang belakangan selalu memenuhi pikirannya. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban pemuda itu.


"Nanti juga kamu tahu," jawab Kevin sambil tersenyum.


"Kalo mau ngomong di sini aja."


"Siapa yang bilang mau ngomong?"


"Trus mau apa?"


Kevin mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Jeany. "Mau balas perbuatan kamu tadi malam," bisiknya sambil menatap langsung ke mata gadis itu.


Wajah gadis itu langsung memerah. Ia memutus kontak matanya dengan Kevin. Tiba-tiba Kevin tertawa karena teringat peristiwa tadi malam. Ia tahu butuh keberanian besar bagi Jeany yang sangat pemalu itu untuk menciumnya, membuktikan betapa besar cinta gadis itu terhadapnya.


"Apa yang lucu?" tanya Jeany karena merasa dirinya yang sedang ditertawakan.


"Gak, gak ada. Yuk!"


Kevin berdiri dari tempat duduknya. Ketika dilihatnya Jeany masih ragu-ragu, ia meraih tangan gadis itu dan menariknya dengan lembut.


"Jangan kuatir, aku gak akan bikin kesalahan untuk kedua kalinya."


Jeany mengangguk mengerti. Ia percaya pada Kevin, karena ia tahu pemuda itu sangat menyesali perbuatannya. Hatinya kembali sakit memikirkan Kevin yang menyesal telah berhubungan dengannya. Sedangkan ia dengan bodohnya justru jatuh cinta pada pemuda itu.


Di dalam mobil, Jeany merasa Kevin sering melihat ke arahnya sambil tersenyum. Ia akhirnya memutuskan untuk berpura-pura sibuk melihat ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Randy, tetapi ia memilih mengabaikannya, tak ingin mempermainkan pemuda itu dengan memberinya harapan palsu. Cukup tadi pagi saja ia menerima tawaran Randy untuk mengantarnya.


Dalam waktu sekejap saja mereka telah tiba di gedung apartemen Kevin. Lift yang mereka tumpangi tiba di lantai sebelas, lantai di mana apartemen Kevin berada. Jeany berjalan dengan langkah yang terasa berat. Ketika ke tempat itu untuk kedua kalinya tempo hari, ia tidak sempat berpikir apa pun karena seluruh inderanya dikacaukan oleh rasa mual hebat yang menyebabkannya muntah-muntah. Namun kini ia benar-benar merasa rikuh. Bagaimanapun di tempat itulah ia kehilangan kesuciannya.


Kevin memasukkan kata sandi pintu apartemennya sambil melihat ke arah Jeany yang terlihat sedikit pucat. "Masih mual?" tanyanya ketika mereka sudah masuk.


"Engga."


Sebenarnya Jeany masih sedikit mual, sangat sedikit sehingga ia merasa tidak perlu menyebutkannya. Setelah makan biasanya rasa mual itu akan hilang dengan sendirinya. Ia kini lebih merasa gugup dibanding mual.


"Mau teh panas?"


"Engga."


Kevin lalu menuntun Jeany berjalan ke arah jendela apartemen. Ketika gadis itu sedang terpana dengan pemandangan kota yang dilihatnya dari kaca jendela, ia merasakan Kevin menyibak rambut panjangnya ke samping dan mengaitkan sebuah kalung di belakang lehernya.


"Vin, ini-"


"Buat ganti kalung yang kamu jual. Memang gak sama persis sih modelnya. Nanti aku bakal cariin yang sama," jawab Kevin masih berdiri di belakang Jeany.


Jeany meraba liontin kalung tersebut, bimbang antara menerima atau tidak pemberian pemuda itu. Rasa-rasanya ia tak akan sanggup melihat wajah kecewa Kevin lagi. "Kamu gak perlu ganti kalung itu. Aku sendiri yang mau menjualnya," ucapnya kemudian pada Kevin.

__ADS_1


Tiba-tiba Kevin melingkarkan lengannya di pinggang Jeany dan mendekapnya dengan erat dari belakang. Gadis itu seketika merasakan seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan karena terlalu terkejut dengan perlakuan Kevin. Apa ini mimpi?


"Maafin aku ...." Pemuda itu berkata lirih di telinga Jeany. "Maafin aku udah merusak kamu. Maafin aku udah bikin kamu merasakan sakit."


Jeany masih terdiam, tetapi air mata telah menggenang di pelupuk matanya.


Resah karena tidak mendapat jawaban dari Jeany membuat Kevin memohon pada gadis itu. "Tolong jangan jauhi aku, ijinkan aku bertanggung jawab."


Gadis itu menggigit bibir bawahnya. "Apa kamu begini karena kasihan?" tanyanya dengan perasaan sedih.


Pemuda itu langsung membalik tubuh Jeany agar menghadap padanya. "Bukan."


"Merasa bersalah?"


"Mungkin awalnya aku merasa bersalah, awalnya merasa kasihan. Tapi gak tahu sejak kapan, aku jadi sayang sama kamu."


Air mata Jeany akhirnya tumpah juga. Kevin langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kamu gak lagi bohongin aku kan, Vin?" Suara Jeany sedikit teredam karena wajahnya menempel di dada Kevin. Ia menghirup dalam-dalam aroma parfum pemuda itu, wangi segar maskulin yang sangat disukainya.


Kevin semakin mengeratkan pelukannya. "Maaf ya karena aku terlambat menyadari perasaanku."


Jeany membiarkan dirinya berada dalam dekapan pemuda itu untuk beberapa saat. Sepasang manusia itu saling berbagi kehangatan dan rasa nyaman yang membuat mereka enggan melepaskan pelukan tersebut. Namun Jeany ingin memastikan satu hal.


"Gimana dengan Stevi?"


"Kamu bakal putusin dia kan?" desak gadis itu lagi sambil mengangkat wajahnya untuk melihat Kevin.


"Aku belum bisa putusin dia."


"Kenapa? Kamu masih cinta dia?" Jeany bertanya sambil menahan rasa sesak di dadanya.


"Sekarang bukan waktu yang tepat. Dia masih butuh aku," ucap Kevin pelan.


Jeany melepaskan dirinya dari pelukan Kevin dan mundur beberapa langkah, menjauh dari pemuda itu.


"Kamu gak bisa lepasin Stevi karena dia udah ngasih segalanya ke kamu kan?" tuding Jeany setengah berbisik. Air matanya nyaris mengalir kembali.


"Ngasih segalanya gimana?" tanya Kevin dengan bingung.


"Jangan pura-pura gak tahu!"


"Maksud kamu ML? Dari mana kamu bisa ambil kesimpulan kayak gitu?"


"Apa kalian sering melakukannya?"

__ADS_1


"Astaga, Jeany! Kamu pikir aku cowok kayak gitu?!"


"Semua cowok memang gitu! Sama aku aja kamu bisa, apalagi sama-"


Segalanya terjadi begitu cepat. Entah bagaimana kini tangan kanan Kevin telah berada di belakang kepala Jeany, menahannya agar tidak bergerak. Sedangkan tangan kirinya merangkul pinggang gadis itu hingga tubuh mereka saling menempel. Jeany tidak percaya pemuda itu sedang mel*mat paksa bibirnya. Ia hanya diam tidak berani membalas, sambil merasakan jantungnya yang berpacu sangat cepat memompa darahnya ke seluruh tubuh.


Kevin diam-diam merasa puas karena menemukan kesempatan untuk melakukan hal yang ingin dilakukannya sejak tadi malam. Bibir Jeany terasa begitu manis dan lembut, membuatnya ingin menjelajah lebih lama. Pemuda itu memiringkan kepalanya agar dapat mencecap lebih dalam lagi. Bibir Kevin perlahan menelusuri rahang Jeany dan terus bergerak turun hingga akhirnya berlabuh di ceruk leher gadis itu.


"Vin, berhenti .... Kita gak boleh gini ...." Sambil menahan rasa geli yang aneh, Jeany berupaya menghentikan Kevin. Ia takut pemuda itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.


Kevin kembali mencium bibir gadis itu, mungkin untuk membuatnya berhenti berbicara. Namun Jeany sedang tidak dalam pengaruh obat, akal sehatnya mengatakan bahwa apa yang sedang mereka lakukan tersebut salah. Dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Kevin.


Pemuda itu akhirnya berhenti, tetapi ia tidak menjauhkan wajah mereka. Dalam jarak yang begitu dekat ia menatap Jeany tepat pada kedua matanya. Tatapannya seolah berkabut, menyiratkan hasrat yang harus ditahannya.


"Aku bahkan gak bisa mencium Stevi," ucapnya dengan napas memburu. "Tolong percaya sama aku. Cuma kamu perempuan yang pernah aku sentuh."


"Lalu kenapa kamu gak bisa putusin dia?"


Kevin menghela napasnya. Ia mengingat Stevi pernah mengatakan belum siap bila orang-orang mengetahui masalah kebangkrutan keluarganya. Setidaknya ia harus menghargai Stevi dengan tidak menceritakannya pada siapa pun, termasuk Jeany.


"Aku belum bisa ceritain. Ini masalah pribadi."


"Dan kamu berharap aku bisa percaya sama kamu?"


"Tolong ngertiin posisiku. Dulu aku yang kejar-kejar dia supaya mau jadi pacarku. Sekarang dia masih sangat butuh aku, aku gak bisa putusin dia gitu aja."


"Lalu kapan kamu akan putusin dia?"


"Setelah dia siap."


Jeany memejamkan matanya sejenak. Sakit di hatinya begitu terasa. Ia tahu tidak bisa menuntut banyak, karena dirinyalah yang menjadi orang ketiga di antara Kevin dan Stevi.


"Aku ngerti kok posisi kamu. Makanya aku mau jaga jarak kan. Aku rasa lebih baik kita tetap jaga jarak sampai kamu benar-benar putus dari Stevi."


"Jean, aku-"


"Gak ada perempuan yang mau diduain, Vin. Kalau kamu pilih dia, aku bakal mundur. Tapi kalau aku yang kamu pilih, kamu harus putusin dia."


Kevin memandang lekat-lekat wajah Jeany yang terlihat sangat serius dengan perkataannya. "Aku akan putusin dia secepatnya. Tolong tunggu aku," ucapnya memberi jawaban pada gadis itu.


Jeany mengangguk, tetapi hatinya meragu. Melihat Kevin yang begitu berat untuk melepas Stevi, rasa-rasanya kebahagiaan yang ia cari masih jauh dari jangkauan.


***


Hari itu dihabiskan Stevi dengan memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus. Begitu banyak kardus rokok bekas yang entah dari mana telah disiapkan oleh sang mama, tetapi tak cukup juga menampung barang-barang gadis itu.

__ADS_1


Tidak ada yang membantu Stevi. Mamanya sedang pergi entah ke mana. Teman-temannya belum ada yang tahu rencana kepindahannya. Dan kekasih yang diharapkannya datang tidak juga menampakkan kehadirannya. Malamnya, untuk pertama kali dalam hidupnya Stevi membutuhkan obat tidur agar dapat terlelap.


__ADS_2