
"Jean, kamu kenapa?" tanya Kevin karena Jeany sedari tadi tidak bersuara. Sudah cukup lama mobilnya melaju tetapi gadis itu hanya duduk diam dengan wajah setengah menghadap ke jendela.
Kevin memperhatikan lagi lebih seksama. "Astaga dia ketiduran," gumam pemuda itu setelahnya. "Kasihan pasti dia capek banget ngurusin Enzo seharian."
Ingin melihat wajah Jeany, Kevin mengulurkan tangan kirinya untuk menyibak rambut yang terurai menutupi wajah bagian kanan Jeany, perlahan menyelipkannya di balik telinga gadis itu.
Karena merasakan sentuhan Kevin, Jeany sedikit menggerakkan kepalanya tanpa terbangun. Kevin pun urung merapikan sisa rambut yang masih terjuntai, takut membangunkan gadis itu. Namun, kini ia dapat melihat wajah lelah Jeany.
Mau tidak mau Kevin jadi membandingkan dua orang gadis berbeda nasib yang saat ini sedang dekat dengannya. Stevi dan Jeany, keduanya begitu bertolak belakang. Stevi bisa bersenang-senang di Singapura dengan mudahnya, sementara Jeany harus menghabiskan waktu liburnya dengan bekerja.
Ketika Stevi membalas pesannya tadi, ia begitu senang hingga langsung menelepon kekasihnya itu untuk melepas rindu. Sepanjang obrolan mereka Stevi tidak hentinya menceritakan keseruannya selama berada di Negeri Singa. Namun, pikiran Kevin juga tidak berhenti tertuju pada Jeany.
Seandainya hidup Jeany seberuntung Stevi, mungkin perasaan bersalahnya tidak akan bertahan selama ini. Apakah dengan tidak bertanggung jawab, dirinya turut menambah kesengsaraan dalam hidup gadis itu? Ia mengeratkan pegangannya pada kemudi, merasa benci pada dirinya sendiri.
JEDUG!
Jeany mengerang ketika dahinya terantuk kaca jendela mobil. Ia mengerjapkan matanya, setengah sadar melihat jalanan yang dilewati penuh dengan kendaraan. Gadis itu menutup matanya kembali, ingin melanjutkan tidurnya. Akan tetapi tidak lama kemudian ia membuka matanya karena teringat dirinya sedang menumpang mobil Kevin.
"Tidur lagi aja gapapa. Ntar aku bangunin kalo udah sampe," ucap Kevin padanya.
"Gak, udah gak ngantuk kok," jawab Jeany malu karena ketiduran. Ini akibat dirinya semalaman tidak bisa tidur. Ia jadi memikirkan seperti apa wajahnya ketika tertidur tadi. Apakah mulutnya menganga lebar?
Oh Tuhan jangan sampai Kevin melihatku dalam keadaan memalukan ....
"Pasti capek banget ya?" kata Kevin menunjukkan pengertiannya.
"Iya," jawab Jeany apa adanya. Sudah telanjur ketiduran, tidak ada gunanya berpura-pura tidak lelah.
"Anggap aja latihan biar kalo punya anak ntar gak kaget," ucap Kevin yang kemudian terkejut dengan kata-katanya sendiri. Karena kalau sampai Jeany punya anak dalam waktu sembilan bulan lagi, bisa dipastikan dirinyalah ayah dari anak itu.
"Sorry aku gak bermaksud mengungkit masalah itu," kata laki-laki itu menyesal.
"Gapapa kok. Kamu kan tahu sendiri itu gak mungkin terjadi."
Karena aku sedang datang bulan, lanjut Jeany dalam hatinya.
Mereka berdua terdiam hingga tiba di kos Jeany. Seperti biasanya, Kevin menunggu di teras rumah kos karena Jeany tidak pernah mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Gadis itu benar-benar menjaga norma dalam berhubungan dengan lawan jenis. Sayang sekali ada kejadian di malam naas itu.
Gue benar-benar merusak dia, Kevin membatin penuh sesal.
__ADS_1
Sementara itu, Jeany mengemas barang miliknya yang dirasa perlu untuk dibawa selama tinggal di rumah Kevin. Ia lalu menghampiri kakak kosnya. "Kak, satu bulan ke depan aku gak tidur di sini. Kakak jangan ajak cowok Kakak masuk ke dalam ya," pesannya pada Serly yang sedang asyik menonton serial Korea di laptopnya.
Serly langsung menekan tombol jeda karena mendengar ucapan ganjil adik kosnya itu. Dilihatnya Jeany sedang menenteng tas berukuran lumayan besar.
"Lho lho lho tiba-tiba kasih pesen aneh banget? Jelasin dulu kek biar gue gak bingung. Lo mau ke mana? Mau pulang kampung? Tumben? Apa nyokap lo nyuruh pulang?" Serly menyerangnya dengan bertubi-tubi pertanyaan.
"Aku jadi babysitter, Kak, tapi cuma satu bulan. Biar gak repot bolak-balik untuk sementara aku tinggal di tempat kerjaku."
"Yahhh gue sendirian dong di sini. Tega banget lo, Jean!" protes Serly.
"Mo gimana lagi, Kak. Aku juga aslinya gak mau tinggal di sana. Aku takut banget," keluh Jeany dengan wajah gelisah.
"Emang di mana tempat kerja lo?"
"Kelapa Gading."
"Yah gak jauh-jauh amat sih sebenernya. Tapi lumayan juga kalo bolak-balik," kata Serly membenarkan.
Jeany menatap kakak kosnya itu dengan mata yang memancarkan kegelisahan, ketakutan, dan kecemasan.
"Lo gak usah takut. Yang penting lakukan kerjaan lo dengan baik, gak usah dengerin omongan orang lain." Serly paham adik kosnya itu selalu cemas bila bertemu orang baru sehingga berusaha menghiburnya.
"Sama Kevin."
"Apa?! Lo serius gak pacaran ama dia? Kok dia sering banget antar jemput lo sih?"
"Gak lah, Kak. Malah sekarang bisa dibilang dia majikan aku."
"Haaah? Kok bisa???"
"Soalnya aku jadi babysitter keponakan dia."
"Ampun dah kalian berdua bener-bener aneh!" Serly menggeleng-gelengkan kepalanya. "Eh tapi ini kesempatan bagus buat lo," lanjutnya sambil menyeringai.
"Kesempatan bagus apa, Kak?" Jeany melihat kakak kosnya itu dengan waspada karena melihat senyum liciknya.
"Kesempatan buat ambil hati Kevin! Lo tinggal di rumah dia artinya lo bisa berdekatan terus sama dia!" Serly berbicara dengan menggebu-gebu.
"Engga lah, Kak aku gak mau jadi perebut pacar orang," tolak Jeany tegas.
__ADS_1
"Tapi lo suka dia kan?"
"Gak, gak suka."
"Trus kenapa muka lo merah gitu?"
"Si-siapa yang merah," jawab Jeany terbata-bata.
Serly tertawa keras karena melihat reaksi Jeany. Gadis yang sangat mudah ditebak isi hatinya.
"Denger ya, Jean. Selama mereka belum menikah, lo masih ada kesempatan. Kita gak pernah tau jodoh seseorang. Siapa tau jodoh Kevin itu elo ya gak?" Serly berusaha mempengaruhi pikiran Jeany.
Lagi-lagi pipi Jeany memerah membuat Serly tertawa terbahak-bahak. Benar-benar anak yang polos, pikirnya.
"Pokoknya pikirkan aja kebahagiaan lo sendiri. Jangan ingkari perasaan lo. Ngerti?"
"Iya, Kak," jawab Jeany patuh sekadar untuk membungkam keceriwisan Serly.
"Ya udah trus jam berapa Kevin mau jemput lo? Udah malam ini," kata Serly sambil melihat ke arah jam dinding.
"Dia lagi nunggu di depan. Tadi aku pulang diantar dia."
"Ya ampun jadi dari tadi dia lo biarin tunggu di luar???" tanya Serly dengan suara keras.
"Iya biasanya juga gitu kan," jawab Jeany dengan polosnya.
"Hadeuhhh gimana coba Kevin mo jatuh cinta ama lo? Sikap lo gak ada manis-manisnya ke dia. Suruh masuk dulu kek, bikinin minum! Kalo perlu ajak dia masuk ke kamar lo!" Serly terus mengomeli adik kosnya itu.
"Kak Serly! Ngaco ah!"
Jeany berjalan meninggalkan Serly yang dianggapnya berusaha meracuni pikirannya yang masih murni. Serly bergegas menyusulnya karena ingin bertemu dengan Kevin.
"Cie cieee yang mau tinggal serumah," goda Serly ketika Kevin mengambil alih tas dari tangan Jeany dengan maksud membantu membawakannya.
"Bukan cuma tinggal berdua, ada keluarga saya juga, Kak," kata Kevin menjelaskan agar Serly tidak salah paham.
"Hahahahaha! Gue udah tau kali serius amat lo. Emang cocok ya ama Jeany sama-sama gak bisa becanda!" Serly tergelak-gelak melihat Kevin dan Jeany yang salah tingkah.
Sialan gue salah ngomong, umpat Kevin dalam hati.
__ADS_1
Kevin dan Jeany berjalan meninggalkan rumah kos gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Serly. Serly tidak tersinggung dengan ketidaksopanan mereka. Ia masih memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.