
Stevi turun dari mobilnya dengan lesu. Tiga hari sudah ia dengan setia menemani Kevin di rumah sakit, berharap upayanya akan menumbuhkan kembali cinta untuknya di hati pemuda itu. Namun tiga hari pula pemuda itu memperlakukannya dengan dingin, malah lebih banyak berbaring memunggunginya. Pada akhirnya hanya rasa lelah yang Stevi dapat, baik fisik maupun batin.
Dan puncaknya tadi sore, ketika Jeany mengunjungi Kevin di rumah sakit. Kevin terlihat begitu senang hingga tak memedulikan dirinya yang masih berada di sana. Ia terpaksa memberi kesempatan mereka untuk berdua saja di dalam ruang rawat pemuda itu, daripada sakit hati merasa tersisih. Entah apa yang mereka berdua lakukan di dalam ketika Randy membuka pintu ruangan tersebut. Namun melihat reaksi Randy yang begitu emosional, Stevi dapat menduga apa yang dilihat oleh pemuda itu.
Hari ini Stevi sendiri lagi di rumah. Perutnya terasa lapar. Gadis itu membuka dompetnya dan menghela napas melihat jumlah lembaran uang di dalamnya. Pergi ke rumah sakit setiap hari membuatnya harus menyisihkan dana lebih, memastikan mobilnya memiliki cukup bahan bakar agar dapat terus berjalan. Stevi menertawakan dirinya, merasa kini nasibnya tidak lebih baik daripada Jeany. Tapi setidaknya Jeany masih memiliki cinta Kevin, pikirnya kecut.
Stevi memutuskan untuk memasak mi instan, makanan murah yang tetap mampu membuatnya berselera makan di saat makanan lain tidak berhasil menggugah minatnya. Ia mengambil satu bungkus mi instan dari dalam lemari dan sebutir telur dari dalam kulkas, lalu bersiap untuk mendidihkan air.
Ting tong ...
Suara bel pintu membuat Stevi meletakkan panci yang telah diisinya dengan air. Ia membuka pintu dan seketika tersenyum senang melihat kedatangan tetangganya.
"Hai, mau makan di rumah gue gak? Gue malas nih makan sendirian." Rika mengundang Stevi untuk makan malam di rumahnya.
"Mau banget. Kebetulan gue juga belum makan."
Stevi melangkah menuju rumah Rika untuk pertama kalinya. Ia terpukau melihat interior rumah tetangganya itu, minimalis tetapi bercita rasa mewah. Mereka langsung duduk di ruang makan, menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Rika.
"Rik, lo pinter banget masak ya. Ini enak banget!" Stevi memuji setelah mengunyah daging sapi lada hitam yang merupakan menu kesukaannya.
"Hehe biasa aja. Lo juga bisa asal sering latihan. Oh iya, katanya mau bikinin kue buat pacar lo? Kapan mau belajar, mumpung gue lagi free."
Wajah Stevi berubah sendu. "Gak jadi, Rik. Gue udah putus ama dia."
Rika tersenyum menunjukkan rasa simpatinya. "Gue udah nebak sih hubungan kalian lagi gak baik-baik aja. Gue gak sengaja denger pembicaraan kalian waktu kita pertama kali ketemu."
"Iya dia selingkuh. Gue gak ngerti di mana kurangnya gue ...."
Rika mencondongkan tubuhnya. "Lo mau tahu kenapa pacar lo gak bisa tinggalin Jeany?"
"Kenapa? Lo tahu?" tanya Stevi tak sabar.
"Karena Jeany udah tidur sama pacar lo."
Stevi membulatkan matanya terkejut. Ia tidak menyangka Kevin dan Jeany sudah berbuat sejauh itu.
***
__ADS_1
Pagi itu, Jeany bangun dengan perasaan bahagia. Pertemuannya dengan Kevin telah memberinya energi baru. Ia akan menggunakan energi tersebut untuk mencari pekerjaan. Sambil bersenandung kecil gadis itu melangkah menuju kamar mandi.
Keluar dari kamarnya, Jeany melihat seseorang sedang duduk dengan wajah terlihat lelah tetapi tetap ceria. Tas berukuran besar digeletakkannya begitu saja di lantai.
"Hai, do you miss me?"
"Kak Serly?! Kakak udah selesai magangnya?"
Serly mengangguk sambil tersenyum lebar. "Nih gue bawain emping dari Depok. Tapi jangan kebanyakan makannya, ntar lo asam urat!"
Jeany mengambil bungkusan dari tangan Serly. "Makasih. Kakak hari ini gak kerja?"
"Kagak. Istirahat dulu hari ini." Tiba-tiba wajah Serly terlihat sedih. "Jean, lo gak apa-apa kalo gue tinggal?"
"Kak Serly mau pergi ke mana?" tanya Jeany terkejut.
"Kalo gue lolos tes final kemungkinan besar gue bakal ditempatkan di luar Jakarta."
"Bagus dong kalo Kakak lolos, kan ini pekerjaan yang Kakak incar dari dulu." Jeany tahu Serly sejak dulu memiliki keinginan untuk bekerja di sebuah bank besar milik negara.
"Tapi gue sedih harus tinggalin lo. Rasanya lebih sedih daripada tinggalin pacar gue tau gak?"
"Ya gak gimana gimana, jalanin aja kayak gini. Yah mudah-mudahan sih kami ditempatkan di kota yang sama. Tapi kalo engga, masak mau cari kerja lain? Masih muda begini waktunya kejar karir dan masa depan, jangan sampai terhambat gara-gara pacar."
"Kok Kak Serly kayaknya gak cinta ama pacarnya ...," ucap Jeany heran. Ia sendiri baru beberapa hari tidak bertemu dengan Kevin saja sudah merasa sangat menderita.
"Bukan gak cinta tapi gue gak mau menyia-nyiakan kesempatan."
Jeany menganggut-anggutkan kepala, mengagumi pemikiran dewasa kakak kosnya itu.
"Selamat pagi ...."
Suara Randy mengagetkan dua orang gadis yang sedang asyik berbincang. Pemuda itu berdiri di depan pintu yang sengaja tidak ditutup oleh Serly untuk membiarkan udara pagi masuk ke dalam rumah.
"Randy? Lo ngapain ke sini pagi-pagi?" Jeany terkejut dengan kedatangan Randy.
"Mo anterin lo cari kerjaan lah ...."
__ADS_1
"Udah gue bilang gak usah repot-repot."
Serly memperhatikan pemuda yang baru pertama kali dilihatnya itu. Ganteng juga, pikirnya. Ia langsung meminta penjelasan pada sang adik kos. "Jean, ini siapa? Kok gak lo kenalin ke gue?"
"Oh iya lupa. Ini Randy, Kak. Ran, kenalin ini kakak kos gue, panggil aja Kak Serly."
Randy mengulurkan tangan dan mengeluarkan senyum terbaiknya. "Saya Randy, Kak. Calon suaminya Jeany."
Mendengar itu, Serly mengangkat kedua alisnya.
"Ran, lo jangan halu deh," omel Jeany.
"Gue bukan halu, tapi lagi menerapkan kekuatan pikiran. The power of mind," jawab Randy sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Hahaha .... Jadi ceritanya lo lagi pdkt sama Jeany? Lo harus berusaha lebih keras ya, saingan lo berat soalnya. Tapi lo gak kalah cakep kok dari dia." Serly memberi Randy semangat.
Randy tersenyum jemawa mendengarnya. "Iya dong untuk urusan naklukin hati cewek mah Kevin gak ada apa-apanya dibanding saya ...."
"Udah ah gue berangkat dulu ya." Jeany meninggalkan Serly dan Randy begitu saja.
"Tunggu gue, Jean! Wah lo mentang-mentang udah ketemu Kevin, gue gak dianggep lagi ...." Randy berjalan mengejar Jeany.
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya, merasa sikapnya memang keliru. Sebenarnya ia hanya tidak ingin memberi pemuda itu harapan palsu.
"Bukan gitu, Ran ...."
"Ya kalo gak gitu ayo pergi bareng gue ...."
Serly menggelengkan kepala melihat Jeany yang seolah menutup pintu hatinya, dan melihat Randy yang begitu gigih mengejar Jeany. Ia berharap adik kosnya itu dapat menemukan kebahagiaan, entah dengan Kevin, Randy atau siapa pun itu.
***
Keesokan harinya, Kevin diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan pendarahan di otaknya sudah mengecil. Obat yang diresepkan oleh dokter spesialis saraf bekerja dengan baik.
"Pasien harus membatasi aktivitas yg memerlukan konsentrasi dan untuk sementara tidak diperbolehkan beraktivitas berat. Selain itu obat harus diminum secara disiplin, karena obat tersebut membantu otak menyerap pendarahan secara lebih optimal. Setelah satu minggu harap kembali kontrol," pesan dokter pada Henny.
"Ayo, Ma!"
__ADS_1
Kevin sudah tidak sabar untuk pulang. Selama dua hari ia sengaja tidak menghubungi Jeany. Ia ingin membuat gadis itu cemas, kemudian membuatnya terkejut dengan kepulangannya yang tiba-tiba. Pemuda itu tersenyum geli membayangkan seperti apa reaksi Jeany kelak. Namun ia justru menjadi orang yang mendapat kejutan, setelah mengetahui gadis itu tidak lagi tinggal di rumahnya.
Tolong like dan tinggalkan komentar kalian ya, Teman-teman pembaca 🙏🙏🙏