Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Cium di Pipi


__ADS_3

Kevin mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Jakarta untuk mengantar kekasihnya pulang. Mereka baru saja makan malam di kafe pilihan Stevi yang letaknya cukup jauh dari rumah Kevin. Ingin menciptakan suasana romantis, pemuda itu pun memperdengarkan lagu favoritnya.


Ia tidak pernah memutar lagu itu sebelumnya saat bersama Stevi, karena khawatir kekasihnya itu tidak suka mendengar lagu lama. Namun karena Jeany menyukainya, ia jadi berpikir Stevi juga akan menyukainya.


"Ini kan lagu jadul banget, Yang?"


Baru saja intro dimulai. Suara vokalis bahkan belum terdengar tetapi Stevi sudah memprotes lagu yang diputar oleh kekasihnya. Rupanya kekhawatiran Kevin menjadi kenyataan.


"Jadul tapi enak didengar kan?" Kevin berusaha mengubah pandangan Stevi.


"Ganti lagu aku aja."


Stevi langsung mematikan lagu Kevin dan menggantinya dengan lagu yang ada di ponselnya. Kevin hanya dapat tersenyum kecut dalam hati. Mereka melakukan perjalanan ke rumah Stevi dengan ditemani lagu-lagu yang bahasanya tidak dimengerti oleh Kevin. Untung saja Kevin penikmat musik sejati. Tanpa mengerti arti lirik pun ia tetap dapat menikmati suatu lagu. Ia berusaha menikmati lagu yang disukai oleh kekasihnya itu.


"Aku masuk dulu ya mau kasih salam sama mama kamu," ucap Kevin setelah mereka sampai di rumah Stevi.


Stevi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Lain kali aja, Yang. Kayaknya mama aku udah tidur. Kamu langsung pulang aja," jawab Stevi yang khawatir kekasihnya itu pulang terlalu malam.


"Ya udah kalo gitu. Besok aku jemput jam sembilan ya?"


"Iya. Hati-hati, Yang. Kasih kabar kalo udah sampe." Stevi langsung mencium pipi Kevin, yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh sang empunya pipi.


"Yang, kamu gak balas cium aku?"


"Eh? Ci-cium ya?" tanya Kevin dengan kikuk.


Stevi tertawa melihat kekasihnya salah tingkah. "Iya. Di pipi. Atau kamu mau di tempat lain?" Stevi memberi tawaran sambil mengeluarkan senyuman menggodanya.


"Oh. Di pipi aja hehe ...." Kevin lantas mengecup pipi Stevi.


"Mulai sekarang biasain cium pipi ya kalo mau pulang," pinta Stevi pada kekasihnya.


Kevin mengangguk. Ia langsung berjalan ke mobilnya. Sebelum benar-benar pergi, pemuda itu melambaikan tangannya melalui kaca jendela mobil yang telah diturunkan. Stevi membalas lambaian tangan kekasihnya sambil tersenyum. Namun begitu mobil Kevin sudah tak terlihat lagi, senyuman hangat itu berubah menjadi senyuman getir.


Dengan langkah lesu Stevi berjalan menuju kamarnya. Ketika melewati kamar mamanya, ia mendapati lampu kamar itu masih menyala. Ia pun masuk tanpa mengetuk pintu, seperti yang biasa dilakukannya. Tampak sang mama sedang duduk membaca sesuatu dengan sangat serius.


"Mama lagi ngapain kok belum tidur?"

__ADS_1


Stevi dapat melihat mamanya bergegas merapikan lembaran demi lembaran kertas yang tersebar di atas meja dan memasukannya ke dalam laci meja. Mama Stevi lalu melepas kacamata baca yang tadi dipakainya. Raut wajahnya begitu lelah.


"Cuma ngecek beberapa laporan aja kok. Kamu sudah makan?"


Stevi tidak mengerti laporan apa yang sedang dibaca oleh mamanya, yang tidak memiliki pekerjaan selain mengurus rumah tangga. Namun saat ini ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Gadis itu ingin membereskan masalah asmaranya terlebih dahulu.


"Sudah, Ma sama Kevin." Stevi menjawab sambil berdiri tepat di belakang mamanya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di pundak mamanya dan mulai memijatnya. Dalam hatinya Vira merasakan haru dan bahagia menerima perhatian dari putrinya.


"Kamu sama Kevin pacaran serius kan, Nak?" tanya Vira sambil menikmati sentuhan tangan Stevi pada otot-ototnya yang kaku.


"Serius dong, Ma."


"Bagaimana kalau kalian tunangan dulu?"


Stevi sejenak menghentikan gerakan tangannya. "Ya ampun, Ma. Kami pacaran belum ada setengah tahun. Lulus kuliah aja belum. Mikir apa Kevin nanti kalo aku ajak tunangan?"


Dapat didengarnya sang mama menghela napas berat sebelum berucap, "jadi masih lama ya?"


"Sebenernya ada apa sih kok Mama nanyanya gitu?"


Stevi mengerti kegelisahan sang mama. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. "Mama tenang aja, Stevi pasti bahagia sama Kevin. Papa pulang kapan, Ma? Aku gak sabar mau kenalin Kevin ke Papa."


"Mudah-mudahan gak lama lagi ya."


Entah mengapa Stevi merasa ada nada sedih dalam ucapan mamanya. Pandangannya menangkap tangan Vira yang sepertinya semakin kurus. Namun bukan itu yang menarik perhatian gadis itu. "Kok mama gak pake cincin kesayangan mama lagi?" tanyanya karena tidak melihat dua buah cincin berlian yang selama ini tidak pernah absen menghiasi jari tengah dan jari manis tangan kanan sang mama.


"Oh? Itu ... Mama cuci di toko perhiasan. Soalnya sudah mulai kurang bercahaya."


"Oh gitu ...."


"Ya udah kamu bersih-bersih terus tidur ya. Mama juga sudah ngantuk sekali ini."


"Iya, Ma."


Stevi mengecup pipi mamanya dan berjalan ke kamarnya. Perasaannya sangat tidak enak, seolah ada sesuatu yang disembunyikan oleh mamanya itu. Ia membersihkan wajah dan menggosok giginya sebelum merebahkan diri di atas ranjang. Namun gadis itu belum berniat memejamkan matanya walaupun sudah sangat lelah. Ia masih menunggu kekasihnya tiba di rumah dengan selamat, sembari memikirkan berbagai hal yang terjadi hari itu.


***

__ADS_1


Di kamarnya, Jeany tidak dapat tertidur. Ia gelisah memikirkan Kevin yang belum juga pulang. Ke mana gerangan Kevin dan Stevi pergi berkencan? Apa saja yang mereka lakukan? Pikirannya kacau dan hatinya terasa sesak memikirkan semua itu. Ponselnya juga tak hentinya bergetar, karena panggilan dari Serly yang sedari tadi diabaikannya. Dengan kesal ia akhirnya menerima panggilan itu. Namun yang didengarnya justru suara laki-laki.


"Akhirnya lo mau angkat telpon gue."


"Ada apa?"


"Gue kangen."


Jeany tidak menjawab kata-kata yang dianggapnya bualan semata itu.


"Lo lagi apa?" Laki-laki itu tidak menyerah.


"Tidur."


"Berarti gue ganggu?"


"Iya."


"Ya udah gue gak ganggu lagi. Met tidur ya, Cantik. Mimpiin gue ya."


Tanpa menjawab, Jeany langsung mematikan sambungan telepon mereka. Namun di wajahnya kini tersungging sebuah senyuman karena ucapan Randy. Bisa-bisanya ada orang tidak tahu malu seperti itu? Tanpa disadarinya suasana hatinya telah membaik.


Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia segera membukanya, berharap orang yang berada di balik pintu adalah Kevin. Pucuk dicinta ulam pun tiba.


"Hai. Belum tidur kan? Lampu kamar kamu masih nyala."


"Belum kok. Kamu baru pulang?"


"Iya. Temeni aku makan ini yuk?" Kevin menunjukkan benda yang sedang dipegangnya, terbungkus tas plastik.


"Apa itu?"


"Terang bulan. Aku ingat kamu pernah bilang suka makan ini. Ini orang asli Bangka yang bikin, dijamin enak," jawab Kevin setengah berpromosi.


Jeany tersenyum begitu manis, seolah senyumannya itu mewakili isi hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga bahagia. Bagaimana bisa ia tidak jatuh hati pada laki-laki di hadapannya ini, jika sikapnya begitu memikat?


Mereka menikmati terang bulan di taman belakang, ditemani teh panas yang dibuat oleh Jeany untuk mereka berdua. Gadis itu tidak peduli apa pun saat ini. Ia hanya ingin meresapi indahnya kebersamaan dengan laki-laki yang dicintainya, walaupun hanya untuk sementara.

__ADS_1


__ADS_2