
"Kamu kemarin kok gak ngasi kabar kalo uda sampe rumah, Yang?"
Stevi bertanya dengan rasa kecewa pada sang kekasih yang kini sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Semalam ia membuat dirinya sendiri terjaga cukup lama demi menunggu kabar dari Kevin. Namun kabar yang ditunggu tak kunjung tiba, dan pada akhirnya ia ketiduran. Ketika terbangun, ia mendapati tidak ada pesan apa pun dari kekasihnya itu.
"Aduh sorry banget aku lupa."
Kevin menunjukkan wajah bersalahnya. Tadi malam ketika dalam perjalanan pulang dari rumah Stevi, ia melewati penjual terang bulan. Seketika ia jadi teringat pada Jeany, gadis yang pernah mengatakan menyukai makanan tersebut. Selesai membeli terang bulan, pemuda itu langsung tancap gas agar dapat segera tiba di rumahnya. Kevin ingin Jeany menikmati kudapan kesukaannya itu dalam keadaan masih hangat. Ia sama sekali tidak ingat untuk memberi kabar pada kekasihnya.
"Iya aku ngerti kok. Pasti kamu tadi malam langsung tidur kan, makanya lupa kasih kabar."
"Hehehe ...." Kevin hanya menanggapi dengan terkekeh, tidak ingin lagi menambah daftar kebohongannya.
"Sebagai gantinya, makan siang di sini ya. Aku mau coba masak buat kamu," ucap Stevi dengan senyum malu-malu.
"Ehm ... Makan di rumah aku aja gimana? Kasihan Jeany gak ada yang bantuin jaga Enzo."
Mendengar jawaban Kevin, Stevi tidak tahan untuk tidak menyuarakan isi hatinya.
"Yang, bisa gak kalo lagi sama aku gak usah bicarain Jeany?"
Kevin tertegun, tak pernah menyangka kekasihnya akan berbicara seperti itu. "Tapi Jeany itu sahabat aku, Stev. Dan aku udah janji sama dia mau bantu jaga Enzo," ucapnya memberi penjelasan.
Stevi menghela napasnya, sadar telah kelepasan bicara. "Sorry aku yang berlebihan. Aku cuma gak suka kamu perhatian ke cewek lain."
"Kamu cemburu?"
Stevi mengangguk.
"Maaf ya. Aku yang salah gak ngertiin perasaan kamu," sesal Kevin. Ia mengusap lembut kepala Stevi. "Ya udah sekarang kamu masak gih. Aku udah gak sabar nyobain masakan kamu."
Dalam hatinya Stevi agak kecewa. Harus ia akui, sebagai laki-laki Kevin agak lamban. Setelah berbulan-bulan berpacaran, kekasihnya itu belum pernah menciumnya. Berbeda dengan mantan kekasihnya. Padahal ia tahu saat ini mereka hanya berduaan saja di rumah gadis itu. Mama Stevi pagi-pagi sekali sudah pergi karena ada urusan. Sedangkan Bi Yani, sang asisten rumah tangga juga sedang pulang kampung.
Ingin mengetes Kevin, Stevi langsung memeluk pinggang laki-laki itu dan menyandarkan kepalanya di dada Kevin.
"Stevi?! Kamu kenapa tiba-tiba-"
Kalimat Kevin terhenti karena Stevi menempelkan jari telunjuknya di bibir pemuda itu. Gadis itu kembali memeluknya.
"Ssstt ... Aku kangen banget sama kamu, Yang."
"Jangan gini, Stev. Gak baik."
Stevi mendongakkan kepalanya. "Gak baik kenapa?"
"Ya gak baik kalo sampe dilihat orang."
Kevin berusaha melepaskan tangan Stevi, tetapi gadis itu kian mengeratkan pelukannya.
"Brarti kalo gak ada yang lihat gapapa kan? Di sini cuma ada kita berdua ...."
__ADS_1
"Bukan gitu. Gak baik gimanapun juga kita belum nikah."
"Masak cuma pelukan aja harus nikah dulu?"
"Iya. Kita harus hindarin hal-hal yang bisa memancing untuk melakukan lebih. Kamu ngerti maksud aku kan?"
"Tapi aku gak keberatan untuk melakukan lebih, asal sama kamu. Aku cinta kamu, Yang." Stevi masih keras kepala.
"Jangan begini. Kita pacaran sehat ya. Aku begini juga karena menghargai kamu sebagai perempuan."
Stevi melihat kesungguhan dalam setiap kata yang Kevin ucapkan. Ia pun menyerah. Beginilah kalo pacaran sama cowok alim, tuturnya dalam hati.
"Kamu memang beda dari cowok lain. Itu yang bikin aku makin cinta kamu." Gadis itu memuji sang kekasih.
Kevin merasa menjadi orang paling munafik sedunia. Namun ia memang tidak ingin melakukan perbuatan terlarang lagi. Cukup Jeany yang telah rusak karena dirinya, yang hingga kini membuat hidupnya tersiksa oleh rasa bersalah.
"Kalo gitu aku masak dulu ya. Kamu tunggu di sini gapapa kan?"
"Aku bantuin masak ya?"
"Jangan. Aku suka gugup kalo dilihatin pas lagi masak. Dah kamu tunggu di sini aja ok? Nonton TV aja. Ini remote-nya."
Kevin tertawa. Ternyata Stevi yang biasanya selalu percaya diri bisa gugup juga. Setelah kekasihnya berlalu ke dapur, pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jeany. Beberapa menit berlalu, tapi panggilannya tidak kunjung diangkat.
Kenapa nih cewek gak angkat telpon sih, keluh Kevin dalam hati.
Pasti HP-nya disimpan di dalam tas lagi.
"Aku gak lama kok." Kevin mengingat ucapannya pada Jeany tadi.
Sambil menghela napas pemuda itu hanya dapat berharap semoga Jeany segera membuka ponselnya. Ia merasa tidak enak bila sudah berjanji namun tidak menepatinya.
Dua jam kemudian Stevi telah selesai memasak. Ternyata gadis itu memasak nasi goreng.
"Sorry lama, Yang. Aku belum lancar motong-motong sayur ama daging."
"Gapapa kok. Ayo kita makan sekarang."
Setelah duduk di meja makan, Stevi mengambilkan piring untuk Kevin dan mengisinya dengan nasi goreng. "Kamu mau minum apa?" tanyanya pada Kevin.
"Air putih aja."
Stevi melihat kekasihnya memakan makanan yang ia masak dengan perasaan gugup. Ini pertama kalinya ia memasak tanpa ada yang membantunya mempersiapkan bahan. Ia ingin dapat mahir memasak, agar dapat selalu membuatkan makanan kesukaan Kevin. Karena ada pepatah yang mengatakan salah satu cara untuk mendapatkan hati laki-laki adalah melalui perutnya.
"Kamu kok gak makan?" tanya Kevin yang sadar sedari tadi Stevi hanya memperhatikannya.
"Ehm, gimana masakan aku?"
Kevin tersenyum. "Enak banget kok. Bisa habis dua piring nih aku."
__ADS_1
"Beneran? Kalo gitu makan yang banyak. Aku masak lebih kok."
Stevi pun akhirnya makan juga. Raut wajahnya terlihat bahagia sekali. Kevin ikut senang melihat wajah gembira Stevi. Walaupun kurang suka nasi goreng, ia harus menghargai usaha keras kekasihnya yang mau turun ke dapur demi dirinya. Diperhatikannya Stevi yang tampak lelah tetapi wajahnya berseri-seri. Gadis itu kini makan dengan bersemangat.
Jeany udah makan apa belum ya? tiba-tiba Jeany muncul di pikiran Kevin.
Kevin sangat paham kebiasaan Jeany. Gadis itu sering terlambat makan ketika menjaga Enzo hingga Kevin harus berulangkali mengingatkannya. Ia tahu Jeany merasa takut bila harus meminta tolong Bi Murni atau Mbak Iis untuk menggantikannya menjaga Enzo sementara ia makan. Kedengarannya konyol memang. Namun Kevin dapat memahaminya karena ia tahu Jeany memiliki kecemasan sosial yang membuatnya kurang pandai berinteraksi dengan orang lain.
Karena itu, selesai makan Kevin segera mengajak Stevi untuk berangkat, yang kemudian dituruti oleh gadis itu. Walau Kevin bersamanya, Stevi tahu kekasihnya itu sedang memikirkan perempuan lain. Namun ia harus kuat. Ia harus menjadi kekasih yang selalu pengertian, agar hati Kevin kembali lagi padanya, seutuhnya hanya miliknya.
Ketika tiba di rumahnya, Kevin langsung mencari Jeany di kamar Enzo. Gadis itu sedang bermain petak umpet dengan sang keponakan, yang tertawa-tawa girang ketika melihat Jeany bersembunyi darinya. Bocah itu merangkak cepat menuju tempat persembunyian Jeany di sudut ruangan, samping lemari. Kevin menahan tawanya melihat semua itu. Ternyata Jeany bisa bertingkah kekanakan juga.
Kevin melihat bagaimana Enzo bersuara menggemaskan ketika menemukan Jeany. Gadis itu juga tertawa dan langsung memeluk Enzo dengan penuh rasa sayang.
"Ehem. Asik main sama Enzo ya sampe gak angkat telponku."
Jeany dan Enzo menoleh bersamaan. Keponakan Kevin segera berteriak girang melihat omnya, dan menjulurkan kedua tangan tanda minta digendong. Kevin pun mengabulkan keinginan keponakannya.
"Kamu tadi telpon, Vin? Ada apa? Sorry gak denger, HP aku di tas."
Kevin meringis. "Sudah kuduga. Mau kasih tahu kalo aku agak lama di rumah Stevi, soalnya-"
"Soalnya tadi gue masak buat Kevin, Jean. Mumpung gak ada orang di rumah, jadi bisa lunch romantis berdua," potong Stevi yang sejak awal memperhatikan dalam diam.
Kevin merasa kata-kata Stevi agak janggal. Namun ia tidak tahu di mana letak kejanggalannya, karena memang yang dikatakan oleh kekasihnya itu tidak salah. Sedangkan Stevi, gadis itu tampak tersenyum ketika berbicara dengan Jeany. Namun hatinya kembali merasakan panas. Kekasihnya tadi malam lupa memberi kabar padanya meski ia telah meminta untuk dikabari, tetapi justru ingat memberi kabar pada Jeany yang hanya berstatus sahabat.
"Oh." Jeany menekan rasa sakit yang menyeruak di hatinya ketika mendengar Kevin hanya berduaan dengan Stevi di rumah gadis itu. Entah apa yang mereka berdua telah lakukan.
"Jean, habis kamu pulang kerja kita pergi jalan-jalan yuk? Sama Devi dan Sandra juga. Khusus cewek-cewek aja kali ini."
"Lain kali aja, Stev gue lagi capek." Sesuai dugaan Kevin, Jeany menolak ajakan Stevi.
"Oh gitu. Ya udah lain kali aja."
"Kamu udah makan, Jean?" Kevin menanyakan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Udah."
"Beneran? Siapa yang gantiin jaga Enzo?"
"Bi Murni. Dia baik ya. Aku gak minta tapi dia langsung nawarin."
Kevin tersenyum lega mendengarnya. "Iya dia memang baik. Makanya mama aku gak kasih dia berhenti kerja."
"Yang, tadi katanya kebelet pipis? Gak baik lho nahan pipis." Stevi mengingatkan kekasihnya yang tadi sempat mengatakan ingin buang air kecil ketika mereka masih dalam perjalanan.
"Oh iya hehe ... Dah Enzo main sama tante dulu ya?"
Kevin menurunkan Enzo di dekat Jeany dan berjalan ke kamarnya. Setelah pemuda itu pergi, Stevi mendekati Jeany dan berkata dengan suara pelan.
__ADS_1
"Please nanti ikut ya. Ada yang mau gue omongin sama lo."