
Sambil menyetir, Kevin sejenak mengingat masa remajanya, hari-hari dalam hidup yang paling dibencinya. Masa ketika ia mulai memiliki rasa ingin tahu terhadap lawan jenis, justru diisi dengan tangisan mamanya yang berulangkali mengatakan padanya agar tidak mengikuti jejak sang papa.
"Aku cuma bisa bilang waktu yang menyembuhkan semua."
"Untung mama kamu berbesar hati maafin papa kamu ya," puji Jeany tulus. Ia tahu tidak mudah seorang wanita untuk menerima kembali suami yang telah bercinta dengan wanita lain.
"Hahaha prosesnya panjang. Mamaku harus ke psikiater karena gangguan kecemasan, jadi parno terus. Makanya sampai sekarang mamaku selalu ikut ke mana pun papaku pergi."
"Oh pantas ...."
Tadinya Jeany mengira alasan mama Kevin ikut pergi ke Hong Kong hingga terburu-buru mencari babysitter pengganti adalah karena punya kepentingan dalam perjalanan bisnis sang suami. Rupanya karena perasaan cemas seorang istri yang takut dikhianati suami untuk kedua kalinya.
"Dan papaku harus ikut serangkaian tes buat memastikan dia gak kena penyakit."
"Maksud kamu AIDS?"
"Bukan cuma AIDS. Ada banyak macam penyakit menular s*ksual."
Wajah Jeany menunjukkan kecemasan. Ia tidak pernah berpikir ke arah sana. Apakah Kevin pernah berhubungan dengan perempuan lain sebelum kejadian malam itu? Bukan tidak mungkin ia terpengaruh kebiasaan buruk Randy kan? Akan tetapi hingga saat ini Jeany merasa dirinya baik-baik saja, hanya perut bagian bawah yang sering terasa tidak nyaman.
"Jangan kuatir aku bersih kok," sahut Kevin seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Jeany.
Gadis itu menatapnya tidak yakin.
"Aku cuma pernah ngelakuin itu sama kamu!" ucap Kevin sedikit tidak sabar. Bisa-bisanya Jeany meragukannya?
"Iya," jawab Jeany tertunduk karena malu, tetapi memutuskan untuk mempercayai pemuda yang dicintainya itu. Ia merasa buruk karena sempat-sempatnya senang mengetahui dirinya menjadi perempuan pertama bagi Kevin. Cinta memang mampu membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.
Mereka berdua tiba di rumah Kevin hampir pukul satu dini hari. Pak Darto sedikit terkejut ketika membukakan pintu pagar untuk tuan mudanya itu. Pikiran liarnya bertanya-tanya ke mana tuan mudanya membawa pengasuh bayi itu hingga pulang demikian larut.
"Sorry, Jean jadi pulang malem banget. Untung besok acaranya siang ya," ucap Kevin sebelum mereka memasuki pintu kamar masing-masing.
"Iya gapapa, Vin. Makasih ya udah dibantu beli kado sama ditraktir makan."
"Sama-sama. Met tidur ya."
Keesokan harinya mereka berdua bangun kesiangan. Ketika Jeany turun, Winda dan Jovina telah selesai didandani oleh penata rias profesional yang khusus dipanggil ke rumah oleh Winda. Sedangkan Marvin sedang bermain di kamar bersama Enzo, menunggu istri dan adiknya.
"Kak, maaf ya saya bangun kesiangan," ucap Jeany tidak enak.
"Gapapa, kan memang hari ini kamu off. Buruan ganti pakai baju yang saya kasih ya, habis ini giliran kamu di-makeup," Winda memberi instruksi pada Jeany.
Tidak lama setelahnya tampak Jeany telah berganti pakaian. Ia mengenakan atasan dan bawahan dengan bahan brokat. Warna merah muda pada pakaiannya membuat gadis itu terlihat lembut dan anggun. Parasnya yang ayu jadi terlihat semakin menyejukkan.
__ADS_1
"Wah kamu cantik banget .... Sudah saya duga baju ini pas buat kamu. Coba pakai juga sepatunya biar kalo gak cocok langsung tukar sama yang lain."
Winda sangat senang melihat penampilan Jeany. Ia memang punya hobi mempermak seseorang melalui pakaian. Menurutnya seseorang bisa terlihat sangat berbeda hanya karena pilihan pakaian yang dikenakannya. Sayangnya tidak semua orang memiliki selera berpakaian yang bagus. Jeany salah satunya.
Jeany menurut saja apa yang dititahkan oleh Winda. Ia sudah merasa malu sekali karena bangun kesiangan. Terlebih, Winda terlihat begitu tulus memperhatikan dirinya.
"Wah Kak Jeany cantik bangettt ...." Tiba-tiba Jovina muncul di ruangan tersebut.
"Kevin udah bangun, Vina?" tanya Winda yang memang menyuruh Jovina untuk membangunkan kakaknya itu.
"Udah, Kak. Lagi mandi dia," jawab Jovina sambil tetap memandang kagum pada Jeany. Namun, semakin dilihat, ia semakin merasa ada sesuatu yang kurang.
"Tunggu. Kak Jeany mau pakai tas itu?"
"Astaga iya ya pantas tadi kakak lihat juga kayak ada yang kurang," imbuh Winda.
"Aku kayaknya punya tas yang cocok deh. Bentar aku ambilin ya," kata Jovina bersemangat. Gadis itu setengah berlari ke kamarnya, tidak memedulikan dirinya yang sedang mengenakan pakaian pesta dan wajahnya yang telah terpoles sempurna oleh tata rias.
"Gak usah lari-lari, Vina. Nanti keringetan trus makeup kamu luntur!" Winda setengah berteriak mengingatkan adik iparnya itu.
Jovina tentu saja tidak mendengarnya. Ia tidak mengurangi kecepatan langkah kakinya. "Nih, Kak pake ini aja," ucapnya dengan napas terengah-engah sekembali dari kamar sambil memberikan tasnya pada Jeany yang sedang didandani.
"Makasih ya, taruh aja dulu di meja," jawab Jeany tanpa bisa bergerak.
"Kulit kamu mulus banget kayak bayi," komentar penata rias yang sedang menangani wajah Jeany.
"Saya strobing di bawah alis dan tulang pipi ya biar kelihatan cerah," ucapnya lagi tanpa dimengerti maksudnya oleh Jeany.
Jovina juga sedari tadi memperhatikan penata rias melakukan pekerjaannya. Ia ingin mempelajari teknik yang digunakan, tetapi gerakan tangan penata rias tersebut terlalu cepat bagi mata Jovina yang masih awam. Lebih baik belajar di tempat kursus saja, pikirnya.
"Gawat! Sepatu aku ternyata masih di apartemen!" Kevin yang telah selesai mandi dan kini mengenakan kemeja lengan panjang turun ke bawah dengan tergopoh-gopoh.
"Ih Kak Kevin kok baru sekarang nyadarnya," protes Jovina.
"Makanya jangan sibuk pacaran terus, Vin, biar gak jadi pelupa gini," celetuk Marvin yang telah turun dengan Enzo. Ia telah bersiap untuk pergi ke tempat acara. Kevin hanya terdiam. Akhir-akhir ini ia memang sedang banyak pikiran, tetapi bukan karena berpacaran.
"Trus gimana, Vin? Mau beli baru aja di mall? Atau ambil di apartemen?" tanya Winda.
Kevin melihat jam tangannya.
"Aku ambil di apartemen aja, kan satu arah sama restorannya. Cuma muter dikit," jawab Kevin. Matanya mencari sosok Jeany.
"Jean, kamu-"
__ADS_1
Kevin tidak melanjutkan kalimatnya karena terkesima dengan penampilan Jeany, yang wajah ayunya kini dibingkai oleh rambut panjang tergerai yang ditata setengah bergelombang. Semua orang yang ada di sana menyaksikan bagaimana Kevin tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Jeany.
"Iya? Kenapa, Vin?" tanya Jeany merasa aneh karena dipandangi demikian intens oleh Kevin.
"Gak jadi." Kevin sudah lupa dengan apa yang hendak dikatakannya tadi.
"Pasti gara-gara Kak Kevin Kak Jeany tadi bangun kesiangan," tuduh Jovina kemudian.
"Engga kok saya yang lupa pasang alarm di HP." Jeany cepat-cepat menyanggah.
"Tapi kalo gak pulang pagi pasti bangunnya juga gak kesiangan." Jovina masih tetap ngotot.
"Pulang pagi?!" Marvin dan Winda menyahut bersamaan.
"Sembarangan! Belum ada jam satu udah pulang kok," kilah Kevin.
"Iya itu namanya pulang pagi."
"Pulang pagi itu kalo matahari udah terbit."
Kevin dan Jovina saling berbantahan.
Sadar akan potensi terjadinya perdebatan panjang, Marvin melerai kedua adiknya. "Sudah sudah! Mau pesta jangan ribut!"
Sebagai sesama laki-laki, ia sebenarnya dapat melihat hubungan Kevin dengan Jeany tidaklah biasa. Tidak jadi masalah seandainya adiknya itu belum punya pacar. Ia yang tidak ingin ikut campur urusan pribadi Kevin hanya bisa berharap agar adiknya itu tidak salah langkah.
Sebelum pergi, Winda memberikan amplop tebal pada penata rias yang hendak pulang. "Terima kasih ya. Seperti biasa makeup kamu gak mengecewakan."
"Makasih juga, Jeng yang baik hati dan tidak pelit," ucap sang penata rias sambil tersenyum lebar. Ia senang mendapat klien seperti Winda yang selalu memberi lebih dari tarif yang disepakati semula.
"Jeany perginya ikut saya atau Kevin?" tanya Winda pada Jeany.
"Ikut aku aja, Kak. Biar aku ada temennya." Kevin menjawab tanpa berpikir.
"Ya udah hati-hati ya nyetirnya gak usah ngebut. Telat dikit gapapa," pesan Winda sebelum keluar dengan suami dan anaknya. Jovina mengikuti Marvin dan Winda karena di tengah perjalanan nanti mereka akan menjemput Tania yang juga diundang ke pesta ulang tahun Enzo.
Jeany mengambil tas yang dipinjamkan Jovina padanya. Tas tersebut cantik dan cocok dengan pakaian yang dikenakannya, tetapi ukurannya sangat kecil. Bahkan dompet Jeany tidak muat dimasukkan ke dalamnya. Gadis itu hanya bisa mengisinya dengan ponsel dan Kartu Tanda Penduduk yang telah dikeluarkan dari dompet.
Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu. "Eh bentar, Vin, ada yang ketinggalan."
Sama seperti Jovina tadi, Jeany berlari kecil menuju kamarnya. Setelah menyimpan tas dan dompetnya, ia mengambil lipstik sekadar untuk berjaga-jaga seandainya polesan di bibirnya kelak memudar. Ia tahu bibirnya akan terlihat pucat tanpa polesan lipstik.
Setelahnya Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut terlambat. Beruntung lalu lintas di pagi menjelang siang itu cukup lancar. Begitu sampai di apartemen Kevin, Jeany tiba-tiba merasa mual.
__ADS_1