
Randy meletakkan ponsel pintarnya di atas meja. Ia baru saja selesai berbicara dengan Jeany yang mengingatkannya untuk minum obat. Laki-laki itu tersenyum memikirkan Jeany yang tidak berubah sedikit pun. Jeany tahu betapa pentingnya bagi pengidap HIV seperti dirinya untuk minum obat tepat waktu, agar virus mematikan itu tidak membentuk kekebalan terhadap obat.
Ia menenggak obat antiretroviral yang sudah tujuh tahun menjadi penyambung hidupnya. Tanpa obat tersebut, virus yang diidapnya akan dengan cepat berubah menjadi penyakit mematikan, AIDS. Randy bersyukur tubuhnya tidak menunjukkan reaksi negatif dari obat tersebut. Berbeda dengan Monica, sang istri yang dulu sempat mengalami gatal-gatal ketika pertama kali menjalani terapi pengobatan.
Keluar dari kamar, ia mendapati sahabatnya sedang duduk di sofa menonton saluran Netflix di layar kaca. Sahabatnya itu menoleh melihatnya berjalan mendekat.
"Gue kira lo udah tidur," ujar Johan padanya.
"Masak baru datang langsung tidur? Ntar lo kapok nebengin gue di sini."
"Lagian lo ngapain aja jam segini baru nyampe? Pesawat lo landing sore kan?"
"Lepas kangen sama mantan bini sama anak dululah," seloroh Randy sambil mengambil kacang kulit yang tersedia di atas meja, camilan kesukaan Johan kala menonton film favoritnya.
Johan menatap sahabatnya penuh rasa simpati. "Lo beneran cinta ya ama dia? Gimana perasaan lo bentar lagi dia bakal jadi istri Kevin?"
"Gue turut bahagia buat dia."
"Hufff gue gak ngerti ama hubungan kalian bertiga," ucap Johan sambil menggelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong anak lo pasti udah gede ya?"
"Udah masuk SD."
"Lo ada fotonya gak? Penasaran gue lihat mukanya." Johan hampir tertawa membayangkan wajah anak Randy akan tengil seperti ayahnya.
Randy memberi senyum penuh arti sebelum membuka galeri foto di ponselnya dan menunjukkannya pada Johan. Cukup lama sahabatnya itu mengamati berbagai foto yang baru diambilnya tadi ketika jalan-jalan bersama Jeany dan Kenny.
"Buseettt ...." Johan berdecak heran. "Muka anak lo kok mirip banget ama Kevin? Jangan-jangan pas nyetak, Jeany ngebayangin muka Kevin bukan muka lo."
Randy langsung melirik sebal. "Cewek mana pun kalo udah ama gue gak mungkin ngebayangin cowok lain," tuturnya pongah.
"Nah itu anak lo bisa plek banget ama Kevin." Lagi-lagi Johan memperhatikan foto Kenny dari berbagai sudut. "Jangan-jangan ...." Johan tidak meneruskan kalimatnya. Dipandanginya Randy dengan tatapan tak percaya.
"Iya yang dipake buat nyetak bukan alat gue," jawab Randy dengan kalem.
"Wah gile! Bener-bener gile!" Johan langsung menggelengkan kepalanya tanpa henti. Ia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu. "Kapan lo tau dia bukan anak lo? Pantesan kalian cere. Pasti lo kecewa banget ya?"
Randy merasakan tepukan simpati dari Johan di pundaknya. Ia langsung menepis tangan sahabatnya itu. "Gue udah tau kali, makanya nikahin dia."
"Apa?! Ckckck gile .... Kok lo mau sih?!"
"Ya karna gue cinta ama dia."
"Trus lo bisa sayang ama anak itu?"
"Bisalah. Gue yang lihat waktu dia pertama kali hadir di dunia, gue yang gendong sampe dia bisa tidur, gue yang kasih dia susu tengah malem kalo Jeany udah tepar, gue juga ganti popoknya pas dia pup."
Mata Randy menerawang mengingat saat-saat melelahkan namun juga terasa indah itu. Kehadiran Kenny membuatnya tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, karena hingga kini ia belum berani memiliki anak sendiri.
"Ckckck luar biasa lo bisa ngelakuin semua itu, Ran .... Harusnya Jeany cari Kevin buat tanggung jawab!"
"Emang selama Kevin di Singapore lo bisa hubungin dia?" tanya Randy pada Johan.
"Hmm bener juga lo. Dia langsung kayak hilang ditelan bumi gitu. Nomor gak aktif. Fb ama Ig-nya tiba-tiba aja gak ada lagi. Eh begitu nongol langsung kasi kabar mau nikah. Ama mantan bini lo lagi!" Johan memperhatikan wajah Randy, membuat sahabatnya itu merasa jengah.
"Ngapain lo ngeliatin muka gue kayak gitu?"
"Lo beneran gapapa?"
"Gapapa lah, gue juga udah bahagia ama bini gue yang sekarang."
__ADS_1
"Gue salut ama lo, Ran! Belum tentu gue bisa kayak lo," ucap Johan tulus.
"Apaan? Geli gue dengernya! Gue tidur dulu deh, besok mau ketemu sahabat lama," ucapnya dengan seringai di bibir.
Randy berjalan kembali ke kamarnya. Ia membuka ponselnya dan mengetik pesan percakapan. Sedetik kemudian sudah muncul balasan dari Kevin. Ia tersenyum lalu membaringkan diri di kasur. Besok ia akan menyelesaikan segala kesalahpahaman dengan sahabat lamanya itu.
***
Hari terakhir Kevin bekerja sebelum cuti menikah dilaluinya dengan tak sabar. Ia berkali-kali melihat penunjuk waktu, berharap jam dinding di ruangan kerjanya segera menunjukkan pukul lima petang. Saat waktu yang ditunggu akhirnya tiba juga, Kevin bergegas meninggalkan kantornya. Ia mengendarai mobilnya menuju sebuah restoran.
Randy sudah duduk menunggunya di dalam restoran tersebut. Bahkan, ia kini sedang menikmati sebuah hidangan tanpa menunggu sahabatnya yang belum datang. Kevin menarik kursi di hadapan Randy dan duduk.
Laki-laki itu mengamati Randy. Tidak banyak perubahan pada diri Randy, hanya sedikit lebih kurus. Ia bertanya-tanya sakit apa yang diderita oleh sahabatnya itu hingga tidak bisa menyentuh perempuan yang telah sah menjadi istrinya.
"Halo, Bro! Sorry gue makan duluan, udah laper banget!" sapa Randy ramah sambil menyunggingkan senyum seolah tak pernah ada masalah di antara mereka.
"Gimana kabar lo?"
"Ya seperti yang lo lihat. Sehat walafiat. Mo pesen apa? Gue yang traktir!"
"Gak usah, gue ke sini cuma mau ngomong."
"Makan dululah .... Gak enak ngobrol kalo perut kosong. Calon pengantin jangan sampe sakit," ucap Randy santai, masih sambil mengunyah.
Kevin mengambil buku menu, memilih menu favoritnya dan memanggil pelayan restoran. Setelah pesanannya dihidangkan, ia makan dengan sangat cepat. Melihat piring sahabatnya telah kosong, barulah Randy angkat bicara.
"Salah satu cewek yang pernah tidur ama gue meninggal karena AIDS."
Kevin mendengarkan sambil melihat wajah serius Randy. Ia mulai tak tenang dengan arah pembicaraan mereka.
"Malam itu di kos Jeany, gue baru aja melakukan tes HIV. Hasilnya positif," ucap Randy lebih lanjut.
Kevin tampak sangat terkejut. Ia terdiam beberapa saat. "Jadi itu sakit yang dimaksud oleh Jeany?" tanyanya merasa terpukul.
"Kenapa lo gak cerita ama gue, Ran?"
"Ini aib buat gue. Bahkan sampe sekarang baru lo sahabat gue yang tahu. Gue ingin tetap hidup normal tanpa mendapat tatapan jijik dari orang-orang."
Kevin tahu dirinya juga akan melakukan hal yang sama bila berada di posisi Randy. "Sorry gue belum bisa jadi sahabat yang baik buat lo," ucapnya tertunduk.
"Baru sadar lo?"
"Gimana kondisi lo sekarang?" Kevin kembali bertanya tanpa menanggapi olokan Randy.
"Baik banget. Gak ada bedanya dengan orang yang negatif HIV. Itu karena pas ketahuan positif kondisi gue belum parah dan gue langsung melakukan pengobatan."
Kevin terdiam, menyesali dirinya yang tidak ada di saat sang sahabat membutuhkan dukungan moril darinya. "Gue bener-bener nyesel, Ran. Gue bukan sahabat yang baik."
"Gak ada yang perlu disesali. Kita semua belum dewasa waktu itu. Gue juga salah karena meminta Jeany untuk gak cerita sama lo."
Kevin mengangguk, walau rasa sesal itu masih bercokol di sanubarinya. Ada lagi hal yang ingin ditanyakannya, namun ia ragu menyampaikannya. Rupanya Randy yang terlebih dahulu menyinggung hal tersebut.
"Ada lagi yang mau lo tanyain?"
Walau sempat ragu sejenak, Kevin memutuskan untuk bertanya agar tidak ada lagi hal yang membebani pikirannya.
"Selama menikah ama Jeany, apa lo pernah menyentuh dia?"
"Menyentuh yang bagaimana dulu?" Randy balik bertanya sambil memasang senyum yang menurut Kevin sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Lo tau maksud gue."
"Kalo yang lo maksud ML, gak pernah."
Diam-diam Kevin menghembuskan napas lega. Itu artinya Jeany tidak mungkin tertular virus tersebut. Namun jawaban Randy berikutnya membuat perasaan cemburunya mencuat.
"Tapi gue pernah cium dia." Randy lalu mengangkat telapak tangannya untuk menahan Kevin berbicara. "Dengerin dulu. Gue ama Jeany menikah dua tahun lebih. Tentu lo gak senaif itu berpikir gak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Gue bilang begini supaya ke depannya setelah kalian menikah lo gak ungkit-ungkit masalah ini lagi dan bikin dia sedih. Kalo lo gak bisa menerima keadaan dia yang pernah jadi istri gue, lebih baik lo pikir ulang keputusan lo untuk menikahi dia."
Cukup lama Kevin memikirkan kata-kata Randy. Ia sangat terganggu mengetahui laki-laki lain pernah menyentuh perempuan yang dicintainya, walaupun belum sampai berhubungan badan.
Entah mengapa pikirannya kini berubah. Padahal dulu ketika mengetahui Jeany telah bercerai dengan Randy, ia sangat senang hingga tidak keberatan menerima anak hasil pernikahan mereka yang waktu itu masih dikiranya adalah anak Randy. Apa karena virus yang diidap oleh sahabatnya itu?
"Kenapa lo gak meminta hak lo? Kalian kan tetap bisa pakai pengaman."
"Karena gue takut gak sengaja menulari dia. K*ndom bisa bocor. Jadi gue pake cara lain."
"Cara lain?"
"Lo gak perlu tahu. Anggap aja itu masa lalu Jeany sebagai istri gue. Pertanyaannya sekarang, apakah lo bisa menerima masa lalu dia?"
***
Jeany menunggu kabar dari Kevin hingga larut malam. Sejak pertengkaran mereka kemarin, laki-laki itu belum juga menghubunginya, bahkan setelah pertemuan laki-laki itu dengan Randy sore tadi.
Berbagai pikiran buruk melintas di benaknya. Mungkinkah Kevin mengubah keputusannya setelah mengetahui ia dulu menikah dengan seorang pengidap HIV? Mengapa sebelumnya tak terpikir olehnya? Bagaimana bila laki-laki itu kini menganggapnya kotor?
Saat pintu rumahnya diketuk, Jeany terlalu bersemangat hingga hampir berlari untuk membukanya. Ia sudah tahu siapa yang datang di saat seperti ini.
"Masuklah. Kenny udah tidur," ucapnya menyambut Kevin.
Wajah Kevin sangat kusut, memperlihatkan pergolakan batin yang tengah dialaminya. Jeany merasa sedih melihatnya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan dirinya sebelum berbicara.
"Kamu udah bicara ama Randy?"
"Udah."
"Vin, aku ... aku mengerti kalo kamu mau membatalkan pernikahan kita. Kamu pasti sekarang jijik sama aku-"
Kevin langsung mendekap Jeany dengan sangat erat.
"Aku justru jijik sama diri aku sendiri, Jean! Aku bukan pacar yang baik, bukan sahabat yang baik, bukan papa yang baik .... Aku gak ada di saat kalian semua membutuhkan aku!"
Kevin membenamkan wajahnya di bahu Jeany dan mengeluarkan isakannya. Pemilik bahu yang menjadi tempat sandaran itu mengusap kepala Kevin dengan lembut.
"Bukan salah kamu. Keadaan yang memaksa."
Kevin mengangkat kepalanya dan menatap Jeany. "Maafin aku kalo terlalu cemburu. Itu semua karena aku takut di hati kamu tumbuh cinta buat Randy. Karena dia yang selalu ada buat kamu."
Jeany menatap balik dan memegang pipi laki-laki itu. "Randy selamanya akan punya tempat di hati aku, Vin. Pengorbanannya terlalu besar buat aku. Tapi yang aku cinta cuma kamu."
"Aku mengerti .... Dia yang udah menjaga kamu dan anak kita."
Setelahnya Jeany mengajak Kevin melihat album foto ketika Kenny masih bayi. Laki-laki itu melihat satu per satu foto dengan hati pedih, karena bukan ia yang memeluk dan mencium Kenny di foto itu. Bukan ia yang tersenyum bangga sambil menggendong sang jagoan. Laki-laki lain yang melakukannya. Sahabatnya sendiri. Pandangannya kemudian terhenti pada salah satu foto.
"Sepatu ini ...?"
Jeany mendekat dan tersenyum, walau matanya telah berkaca-kaca. "Kamu ingat? Waktu itu kita pergi cari kado buat Enzo. Tiba-tiba aja aku pengen beli sepatu itu ...."
Kevin kembali terisak. "Ingat ... aku ingat. Aku bersyukur membelikan sepatu itu. Seenggaknya ada yang aku beli buat anak kita ...," ucapnya sambil mengusap air mata.
__ADS_1
Kevin masuk ke kamar dan menciumi Kenny yang sedang tidur pulas sambil memeluk guling. Hatinya diliputi penyesalan. Terlalu banyak waktu berharga yang dilewatkannya, yang tak mungkin kembali walau ditukar dengan apa pun juga.
Boleh tanya ya? Teman-teman tahu novel ini dari mana? Terima kasih sebelumnya 🙏