Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Bantu Aku Mendekati Jeany


__ADS_3

Pertanyaan Mita mengejutkan Jeany. Ia berpikir keras mencari jawaban. Namun rasa panik membuat otaknya tak mampu bekerja.


"Eh i-itu ...." Gadis itu masih gelagapan mencari jawaban yang masuk akal.


"Ya ampun udah jam segini aja! Jean, sorry ya aku tutup dulu telponnya. Udah jam makan papaku. Nanti sambung lagi. Dadah ...."


"Iya dadah ...."


Jeany menghela napas lega. Untuk sementara waktu ia terselamatkan dari pertanyaan Mita. Ia lalu berbaring di kasurnya sambil memikirkan percakapannya dengan Mita tadi.


Menjauh dari Kevin? Apa aku bisa?


Hari-hari berikutnya Kevin dan Jeany malah lebih sering bertemu karena jadwal ujian mereka yang sama. Kevin selalu menyapa ramah Jeany ketika bertemu. Bahkan pemuda itu lebih memilih menjadi tutor Jeany ketimbang menerima ajakan teman-temannya untuk pergi jalan-jalan.


"Vin, kalau udah lulus S1 lo rencana lanjut S2 atau langsung cari kerja?" tanya Jeany penasaran ketika mereka sedang belajar bersama di teras kos gadis itu.


"Ehm ... belum tahu. Mama sih nyuruh gue lanjut S2 ke Aussie. Kan di sana ada adik mama gue. Tapi gue malas," jawab Kevin sambil meringis.


"Kenapa malas?"


"Soalnya gue gak mau jauh dari Stevi."


JLEB!


Jawaban Kevin yang apa adanya itu menusuk hingga ke dasar hati Jeany. Sebegitu besarnyakah cinta Kevin untuk Stevi? tanyanya dalam hati.


"Tapi gue juga gak tenang ninggalin lo," ujar Kevin tiba-tiba membuat hati Jeany berdebar.


Gadis itu menatap Kevin dengan pandangan bertanya. Namun yang dilihatnya adalah sepasang mata indah yang sedang menatapnya balik, membuatnya terpana hingga tidak mampu mengalihkan pandangan.


"Gue udah janji bakal selalu menjaga lo." Kevin berkata sambil tetap menatap Jeany. Ia pun tidak sanggup mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. Entah sejak kapan gadis itu jadi terlihat begitu indah di matanya.


"Seandainya bukan karena merasa bersalah, apa dia bakal jadi sahabat kamu?"


Kata-kata Mita yang kembali terngiang di pikirannya membuat Jeany memutus kontak matanya dengan Kevin. "Udah gue bilang itu bukan salah lo."


Gadis itu ingin Kevin mau dekat dengannya tanpa embel-embel perasaan bersalah. Ia ingin Kevin bersahabat dengannya karena ia memang pantas menjadi sahabat pemuda itu.

__ADS_1


Kevin menarik napas dan menghembuskannya, berharap dengan melakukan itu ia dapat mengangkat sedikit beban di hatinya. "Gue juga berharap seiring berjalannya waktu perasaan bersalah ini bakal memudar," katanya pelan.


"Kalo perasaan bersalah lo udah gak ada, apa lo tetap mau jadi sahabat gue?


"Tentu! Kenapa engga?" jawab Kevin mantap.


Jeany menatap ke dalam bola mata Kevin. "Lo tulus mau jadi sahabat gue?"


"Gue tulus, Jean."


"Kalo gitu gue punya permintaan."


"Sebutkan satu permintaan kamu." Kevin menirukan gaya bicara dalam sebuah iklan rokok yang pernah dilihatnya di televisi.


"Lo jangan kayak gitu di depan Stevi, ntar dia ilfeel," kata Jeany sambil tergelak.


"Pesona gue terlalu besar. Dia gak mungkin ilfeel," jawab Kevin kalem.


Mereka kembali tertawa. Jeany tidak menyangka Kevin yang selalu terlihat keren itu ternyata bisa juga bersikap konyol.


"Trus apa permintaan lo?" tanya Kevin setelah mereka berdua puas tertawa.


"Ehm .... Kalo itu ...." Kevin terlihat ragu-ragu.


"Jangan mikir aneh dulu. Lo tau kan gue bukan asli Jakarta. Selama ini gue ama sahabat gue gak pernah pake panggilan lo-gue. Gue gak nyaman dengan panggilan itu," jelas Jeany.


"Oh gitu." Kevin mengangguk paham. "Kalau gitu oke mulai sekarang kita pakai aku-kamu!"


"Makasih." Jeany tersenyum tulus.


Kevin menyetujui permintaan Jeany bukan tanpa alasan. Ia berpikir semakin dirinya diterima menjadi sahabat gadis itu, semakin cepat ia dapat melupakan perasaan bersalahnya. Ia yakin Stevi juga tidak akan keberatan. Kekasihnya itu sangat baik dan pengertian.


Sedangkan Jeany, dalam hatinya ada sebongkah perasaan bahagia karena merasa hubungannya dengan Kevin semakin akrab.


Aku gak bisa menjauh dari dia, Mit. Aku bahagia dekat dia. Ijinkan aku egois, seenggaknya sampai kuliah berakhir karena setelah ini aku gak akan ketemu dia lagi ....


Tiga hari kemudian Kevin, Stevi, Jeany dan Randy dipertemukan dalam ruang ujian yang sama. Entah siapa yang mengajak duluan, mereka berempat kini telah duduk di sebuah kafe tidak jauh dari kampus mereka.

__ADS_1


Jeany tentu saja awalnya menolak. Ia tahu dirinya tidak akan sanggup membayar makanan di kafe yang terkenal mahal itu. Namun Stevi memaksanya. Stevi menggandeng tangannya seolah mereka adalah sahabat dekat.


Kevin tahu alasan Jeany menolak. Karena itu ia menawarkan diri untuk mentraktir mereka semua, yang langsung disetujui dengan senang hati terutama oleh Randy.


Jeany berusaha memilih menu termurah. Ia sungguh merasa sungkan bila terus dibayari oleh Kevin.


"Jean, masak lo makan sandwich doang? Mana kenyang?" protes Stevi.


"Iya gapapa, gue ada makanan di kos." Jeany menjawab dengan agak malu-malu.


"Aku pesenin spageti juga ya. Kamu suka spageti kan?" tanya Kevin yang dijawab dengan anggukan oleh Jeany.


Pertanyaan Kevin membuat Randy mengangkat alisnya. Lebih tepatnya panggilan aku-kamu yang digunakannya ketika berbicara dengan Jeany membangkitkan rasa penasaran Randy. Ia melirik Stevi untuk melihat reaksi kekasih Kevin itu.


Di luar dugaan, Stevi justru bersikap seolah itu hal yang biasa baginya. Kevin memang sudah memberitahunya sehingga ia tidak kaget ketika mendengarnya secara langsung.


Lain lagi halnya dengan Kevin. Semenjak memakai panggilan aku-kamu dengan Jeany, ia merasa tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia seolah-olah sedang berbicara dengan kekasihnya. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa perasaannya tersebut muncul semata-mata karena ia belum terbiasa.


Ketika sedang menunggu pesanan mereka datang, Randy mengajak Jeany berbicara. "Jean, habis ujian jalan bareng yuk."


"Kayaknya gue gak bisa. Gue mau kerja," tolak Jeany tanpa basa-basi.


"Maksudnya lo mau balik kerja di club?" tanya Randy bersemangat.


"Apa?! Jeany pernah kerja di club?" Stevi bertanya dengan raut wajah tidak percaya. Jeany yang terlihat polos ternyata pernah bekerja di tempat hiburan malam.


Kevin dan Jeany mengeluh dalam hati. Sejak kejadian terenggutnya mahkota Jeany oleh Kevin, pembicaraan mengenai kelab malam sungguh hal tabu bagi mereka berdua. Tidak ada yang ingin mengungkitnya, apalagi di hadapan Stevi.


Kevin menginjak kaki Randy yang berada di sebelahnya.


"Aduh apaan sih, Vin!" protes Randy yang tidak peka dengan isyarat dari sahabatnya itu.


"Buruan save nomor baru lo," kata Kevin sambil menyodorkan ponselnya pada Randy.


Namun di layar ponsel telah tertulis sebuah pesan yang membuat Randy tersenyum penuh arti.


[Jangan bilang Stevi kalo gue pernah ke club.]

__ADS_1


Randy lalu mengetik sesuatu di ponsel Kevin dan mengembalikannya. Kevin seketika menampakkan wajah tegang begitu membaca kalimat yang diketik oleh Randy.


[Asal lo bantu gue deketin Jeany.]


__ADS_2