Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Aku Juga Tulus


__ADS_3

Di ruang praktiknya, seorang dokter spesialis saraf sedang menjelaskan hasil CT Scan Kevin pada Henny. Mama Kevin itu duduk mendengarkan dengan tegang, takut akan mendengar berita buruk.


"Tidak ada luka serius di kepala. Hanya ada sedikit pendarahan di bagian belakang seperti tampak di sini,” kata dokter tersebut menunjukkan gambar yang sedang dipegangnya.


"Pendarahan, Dok?" tanya Henny cemas. Ia tidak terlalu mengerti dengan gambar yang ditunjukkan oleh dokter tersebut. Namun kata pendarahan, apalagi di bagian kepala, kedengarannya bukan hal yang sepele.


“Ibu tidak perlu khawatir. Seperti yang Ibu lihat, untuk pendarahan ringan seperti ini tidak perlu dilakukan tindakan operasi. Berobat jalan saja sekitar dua minggu hingga satu bulan, pendarahan tersebut akan sembuh.”


"Oh syukurlah, Dok. Lalu berapa lama anak saya harus diopname?"


"Kita observasi dulu dua sampai tiga hari ini ya untuk melihat ada tidaknya komplikasi."


"Baik, terima kasih banyak, Dok."


***


Henny masuk ke ruangan tempat Kevin dirawat dengan wajah cerah, merasa lega luka yang dialami oleh putranya akibat kecelakaan tidaklah parah. Dilihatnya Stevi masih setia menemani Kevin.


"Gimana hasil CT Scan-nya, Ma?"


"Gak ada luka serius kok, Nak. Cuma pendarahan kecil di kepala, untunglah gak perlu sampai dioperasi. Beberapa hari lagi sudah boleh pulang."


"Untung tertolong airbag," gumam Kevin.


"Stevi, kamu sudah makan?" Henny bertanya pada gadis yang terlihat agak muram itu.


"Sudah kok, Tante."


"Terima kasih sekali ya sudah bantu jaga Kevin."


"Memang sudah seharusnya begitu, Tante. Tapi kayaknya sore saya harus pulang, soalnya besok mama saya mau berangkat ke Malaysia."


"Oh ya? Wah saya belum sempat kenalan sama mama kamu. Tunggu Kevin sembuh ya nanti saya sama papanya Kevin berkunjung ke rumah kamu."


"Boleh sekali, Tante." Stevi tersenyum senang menjawabnya.


"Ma, Mama apaan sih? Mama kan tahu aku sama Stevi udah putus." Kevin memprotes ucapan sang mama.


Henny menatap tajam putranya.


"Kevin, kamu hargai Stevi dong, Sayang. Gadis sebaik dan secantik ini jangan disia-siakan."


"Ma, sekarang aku sudah sama Jeany. Aku cinta sama Jeany, Ma."


Stevi merengut sedih mendengarnya. Henny pun agak terkejut putranya yang tidak pernah membicarakan urusan asmara itu mengucapkan kata cinta di hadapannya. Namun ia tidak mungkin merestui hubungan Kevin dengan Jeany yang dianggapnya seorang wanita penghibur.


"Kamu sekarang sedang sakit. Kita bicarakan nanti saja setelah kamu sembuh," ucap Henny tegas.


Kevin sangat kesal dengan ketidakberdayaannya saat ini. Ia berusaha mengendalikan emosinya agar tidak menumpahkannya pada Henny. Pemuda itu tidak pernah bertengkar hebat dengan sang mama. Tidak ada juga hal yang perlu dijadikan pertengkaran karena kedua orang tuanya tidak pernah menggunakan cara otoriter dalam mendidik anak-anak mereka. Semua keputusan dihasilkan melalui diskusi bersama antara anak dengan orang tua.


Namun Kevin tidak mengerti mengapa untuk masalah hubungannya dengan Jeany, sepertinya sang mama tidak memberinya ruang untuk berdiskusi. Pemuda itu memandang Stevi yang sedang diam dalam lamunannya.


"Stev, mending kamu pulang dulu aja. Kasihan mama kamu pasti juga lagi butuh kamu."


"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu aja. Tante, saya permisi pulang dulu ya."

__ADS_1


"Ya ampun, maafkan Kevin ya, Nak Stevi. Kamu sudah repot-repot datang tapi dia malah seperti ini. Tidak usah diambil hati ya."


"Gapapa kok, Tante. Mungkin memang Kevin butuh waktu untuk menerima saya kembali." Stevi menjawab sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Besok kamu datang lagi kan? Soalnya tante besok gak bisa full jaga di rumah sakit."


"Iya besok pagi saya pasti datang lagi."


Gadis itu pun meninggalkan ruangan Kevin untuk pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumah, Stevi mendapati sang mama tidak sedang sendiri. Seorang gadis cantik dan modis tampak berbincang seru dengan mamanya. Sesekali terdengar tawa kecil dari keduanya. Mereka berdua menoleh ketika Stevi memasuki rumah.


"Stevi, sudah pulang kamu, Nak? Gimana keadaan Kevin? Kamu sudah sampaikan permintaan maaf mama karena gak bisa datang menjenguk dia kan?" Vira menyambut Stevi sambil menanyainya.


"Gak ada luka serius kok, Ma. Stevi sudah bilang mama lagi sibuk soalnya besok mau berangkat."


"Loh, Tante mau berangkat ke mana?" Gadis cantik tadi tampak terkejut.


Vira mengeluarkan senyum tipis. "Mau ke Malaysia, menemani papanya Stevi," jawabnya. Ia kemudian menoleh pada Stevi dan berbicara dengan antusias. "Stevi sayang, lihat ini tetangga kita baik sekali mengantar kue buatannya. Enak banget lho ini, kamu harus belajar bikin kue sama dia."


"Ah biasa aja kok, Tante. Saya juga masih belajar. Kebetulan tadi bikinnya banyak, jadi saya antar kemari sekalian mengakrabkan diri sama tetangga baru."


Gadis tetangga itu memberikan senyum manis, senyum yang selalu menjadi andalannya untuk membuat orang lain jatuh hati padanya. Stevi memandang kagum gadis itu. Ia selalu menyukai orang yang memperhatikan penampilan seperti tetangganya itu.


"Rika, lo umur berapa?"


"Hampir 21."


"Sama gue juga 21," ucap Stevi sedikit terkejut karena ternyata usia mereka sama.


Vira juga semakin menyukai tetangganya itu. "Aduh tante senang sekali punya tetangga yang seumuran Stevi, baik lagi seperti kamu. Kalau begini saya bisa lebih tenang pergi ke Malaysia. Tolong bantu lihat-lihat Stevi ya, Rika. Anak saya ini manja sekali soalnya."


Rika menjawab dengan sikap sopan. "Tenang aja, Tante, saya nanti bakal sering main ke sini. Stevi juga boleh kok kalau mau main-main ke rumah saya, kebetulan saya tinggal sendiri jadi senang sekali pas tau ada tetangga baru."


"Ok ntar gue main-main ke rumah lo ya, Rika. Mau belajar bikin kue buat pacar gue."


Rika tersenyum dalam hati. "Pacar lo namanya Kevin kan?"


Stevi terkesiap mendengarnya, begitu pula Vira. 'L-lo kenal pacar gue?"


Rika memandang Stevi penuh arti. "Kenal dong. Gue juga kenal sama cewek yang sekarang lagi deket sama pacar lo."


***


"Ran, lo tahu gak di mana tempat yang sekarang lagi buka lowongan kerja?" tanya Jeany pada pemuda yang kini selalu setia menemaninya.


"Hmm di mana ya? Coba gue pikir-pikir ...." Randy tampak berpikir keras hingga dahinya berkerut. "Ah gue tau! Di rumah gue!" sahutnya dengan wajah ceria.


Jeany melihat ke arah pemuda itu tanpa ekspresi. "Kayaknya gue salah udah tanya sama lo."


"Lho kenapa? Kerja di rumah gue gak berat kok, enak lagi. Dijamin lo bakal puas terus ...."


Gadis itu memandangnya risih. Entah mengapa ucapan Randy membuatnya membayangkan sesuatu.


"Kenapa? Hmm lo pasti lagi mikir yang engga engga nih. Astaga .... Gak nyangka banget Jeany pikirannya bisa ngeres juga ya ternyata ...." Randy memasang raut wajah syok dengan nada bicara yang dibuat-buat.


"Randy, gue lagi gak minat becanda."

__ADS_1


"Hahaha .... Elo sih negthink mulu ma gue. Kalo lo kerja di rumah gue, gue gak akan bikin lo kecapekan. Malah enak terus ...."


"Ya enaknya kenapa?!" Jeany berseru saking kesalnya dengan omongan Randy yang semakin rancu.


Pemuda itu terpingkal-pingkal melihat reaksi gadis itu. "Enak karena gajinya gede dong, Jean .... Ato lo mau yang lain yang gede?"


"RANDY!"


Randy tertawa tanpa dosa. Sebenarnya dalam hati ia merasa sedikit lega karena suasana hati Jeany tidak seburuk kemarin. Ia sempat khawatir gadis itu benar-benar kehilangan harapan hidupnya.


"Lagian lo mau cari kerja dengan tampang kusut kayak gitu? Kayaknya cuma gue yang mau terima lo ...."


Jeany tersenyum sedih. Wajahnya saat ini memang tampak kacau, pucat, dengan mata sembab akibat semalaman menangis.


"Udah, lo baca ini aja biar gak kepikiran tuh bocah lagi!" Randy menyodorkan novel yang dibawanya pada Jeany. Gadis itu melihatnya heran.


"Kok novelnya masih segelan, Ran?"


"Gue memang suka yang masih tersegel."


"Lo baru beli?" Jeany mengabaikan kalimat ambigu Randy.


Pemuda itu tersenyum dan menjawab dengan anggukan.


"Bukannya lo bilang koleksi lo lengkap? Kok masih beli?"


"Babe, koleksi gue memang lengkap ...." Senyum di wajah Randy semakin lebar memperlihatkan lesung pipit yang membuat wajahnya terlihat semakin rupawan. "Di toko buku," lanjutnya dengan wajah tidak bersalah.


Jeany memejamkan mata sambil meletakkan telapak tangannya di dahi, kehabisan kata-kata untuk menanggapi Randy. Pemuda itu selalu membuatnya kesal, tetapi tidak dipungkirinya kehadiran Randy sedikit mengobati luka hatinya. Ia lalu teringat kejadian di hari sebelumnya.


"Lo gimana ceritanya kemarin bisa jemput gue di rumah Kevin?" tanya gadis itu penasaran.


"Dikasih tahu Stevi."


"Stevi?"


"Iya. Dia ngerasa bersalah bikin nyokap Kevin benci dan akhirnya mengusir lo."


Jeany hampir mengerti arah pembicaraan Randy. "Jadi dia yang bilang ke mama Kevin kalo gue pernah kerja di club?"


"Iya, tapi dia sama sekali gak tahu itu bakal bikin nyokap Kevin benci banget sama lo. Dia aja kaget banget pas tau lo diusir."


"Kok lo tahu semuanya?"


"Hehehe .... Stevi kan bisa dibilang partner gue. Dia bantu gue deketin lo supaya Kevin bisa balik sama dia."


Informasi itu tidak membuat Jeany marah. Ia selalu sadar diri akan kesalahannya merebut Kevin dari Stevi. Ditatapnya Randy sejenak lalu bertanya dengan ragu, "Ehm, Ran? Lo bisa bantu gue ketemu Kevin gak?"


Randy memutar bola matanya malas. "Lo tega banget sih, masak gue disuruh bantuin saingan gue mulu? Gimana gue mo menang?"


"Please ...."


"Hufff iya deh iya .... Awas kalo abis ini lo masih nolak gue!"


"Makasih banget, Ran!" Karena terlalu senang, Jeany tanpa sadar memeluk Randy. Pemuda yang dipeluk itu tentu saja terkejut. Ia melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman bahagia.

__ADS_1


Jean, semoga setelah ini lo sadar kalo gue juga tulus sama lo ....


__ADS_2