Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Bak Disambar Petir


__ADS_3

"Wah, terima kasih .... Ini mama kamu bikin sendiri?" Henny menerima sekotak brownies dari tangan mungil Kenny.


"Iya katanya ucapan terima kasih soalnya Oma kemarin ngasih Kenny donat."


Henny tersenyum senang. Ia mengamati kotak brownies tersebut. "Ternyata mama kamu jualan brownies ya?"


Tiba-tiba bibir bocah itu merengut sedih. "Kenny gak suka Mama jualan brownies," ucapnya sambil mencebik.


"Lho kenapa?"


"Mama jadi gak bisa nemenin Kenny main. Mama jadi sakit ...."


"Kok bisa sakit?"


"Mama kecapekan bikin brownies sampai malam ...."


Kasihan sekali ibu anak ini, pikir Henny. Seorang diri membesarkan anak. Ia tahu biaya sekolah Kenny tidaklah murah.


"Kenny sayang, kamu harus bangga mama kamu pekerja keras." Henny mengusap-usap kepala bocah itu.


"Tapi Kenny gak suka mama kerja keras ...."


"Mama Kenny kerja keras demi Kenny, supaya bisa menyekolahkan Kenny dan belikan Kenny mainan."


"Kalo gitu Kenny mau cepat besar! Supaya gak usah sekolah, jadi mama gak usah kerja lagi!" Wajah polos Kenny menunjukkan tekad yang kuat.


"Iya, Sayang kalau begitu harus rajin belajarnya supaya pintar dan cepat besar."


"Ya, Oma!"


"Kalau mama kamu sakit siapa yang jemput kamu?"


"Mami."


Henny mengernyit bingung. Pada saat itu sang cucu merengek minta pulang. "Oma ayo pulang, Enzo udah laper ...."


"Aduh cucu Oma udah laper ya? Ya udah kita pulang sekarang ya." Henny lalu beralih pada Kenny. "Kenny Sayang, Oma pulang dulu ya? Besok Oma ke sini lagi."


"Ya, Oma."


Henny mencium pipi Kenny sebelum pulang. Ia sendiri tak mengerti mengapa semakin hari rasa sayangnya pada Kenny semakin besar.


***


Begitu banyak hal tak terduga yang terjadi dalam waktu singkat. Seperti halnya Kevin yang tidak menduga akan dapat merasakan kembali bibir Jeany setelah mereka sekian tahun berpisah. Terlebih, perempuan itu kini sudah berstatus istri sahabatnya sendiri. Lebih tidak diduganya lagi perempuan itu akan membalas dengan penuh gairah seolah masih ada rasa di antara mereka.


Ah seandainya saja Jeany tidak pingsan, pikirnya. Mungkin kini mereka berdua sudah bergelut mesra di balik selimut, melakukan penyatuan berkali-kali hingga tubuh mereka kelelahan dan tertidur dalam keadaan saling berpelukan.


Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memarahi dirinya sendiri karena sudah berkhayal terlalu jauh. Dipandanginya perempuan yang sedang terbaring di kasurnya, yang hanya sadar sebentar dan kembali tertidur setelah tadi dokter memeriksa dan memberinya suntikan. Kelelahan, kata dokter. Mengapa perempuan itu bisa kelelahan hingga pingsan?


Dengan lembut jemari Kevin menggenggam tangan Jeany. Tangan yang satu membelai pipi tirus perempuan itu. Wajah Jeany yang sedang tidur tampak begitu indah di pandangannya. Perlahan ia menurunkan wajahnya dan mengecup bibir yang tampak pucat itu. Perempuan itu masih memejamkan matanya, sama sekali tidak terganggu oleh perlakuan Kevin padanya.


"Jean, kalau gak begini aku gak akan bisa memandang kamu tanpa melihat kebencian di matamu." Laki-laki itu memandanginya penuh cinta, masih dengan menggenggam jemarinya.


"Aku tahu kesalahanku ke kamu terlalu besar. Berkali-kali merusak kamu. Tapi kamu terlalu kejam, Jean. Lari ke pelukan sahabatku sendiri. Kamu gak tahu betapa hancur hatiku waktu itu!"


"Begitu pendarahan di kepalaku benar-benar sembuh, aku langsung kembali ke Jakarta. Aku ingin memperbaiki hubungan kita ...."


"Aku ke kosmu tapi rumah itu sudah dijual. Aku ke restoran tapi mereka bilang kamu berhenti kerja dan menikah dengan Randy. Bahkan aku melihat foto pernikahan kalian di Instagram .... Aku benar-benar hancur, Jean! Harusnya aku yang benci kamu, harusnya aku yang bilang begitu!"


Kevin berhenti sejenak untuk menghapus air mata yang tiba-tiba saja keluar. Ia kembali menatap perempuan yang telah memorak-porandakan hatinya itu.


"Tapi aku gak bisa. Aku selalu rindu kamu. Aku senang sekali begitu tahu kita satu kantor. Aku senang akhirnya ada kesempatan untuk memperhatikan kamu seperti waktu kita pacaran dulu. Terlalu senang sampai gak sadar kalau itu bisa menimbulkan gosip ...."


"Gosip itu gak boleh ada. Orang tuaku gak boleh tahu kita satu kantor. Aku terpaksa mengabaikan kamu. Maafin aku .... Karena aku gak sanggup kalau kamu menghilang lagi dari pandanganku."


Kevin mengecup kening Jeany.


"Cepet bangun, Jean. Ulangi apa yang kamu bilang tadi. Apa maksudmu minta aku membatalkan pernikahanku?"


Samar-samar terdengar suara nada dering ponsel. Kevin meletakkan tangan Jeany dengan lembut dan mencari asal suara tersebut. Suara teredam itu berasal dari dalam tas Jeany. Kevin mengambil ponsel tersebut, sangat berharap panggilan tersebut bukan dari suami perempuan itu. Hingga kini ia belum dapat memaafkan Randy karena telah merebut Jeany darinya.


Mata Kevin berkilat marah saat melihat nama Prasetyo yang terpampang pada layar ponsel. "Halo," jawabnya dingin.


"Eng .... Halo? Ini betul nomornya Jeany?"


"Kamu sekarang juga datang ke tempat saya. Saya kirim alamatnya di WA dan jangan beritahu siapa pun."


Kevin memutus panggilan secara sepihak. Usai mengirim alamat apartemennya pada Prasetyo, ia duduk diam menunggu kedatangan karyawannya itu. Ponselnya sendiri berkali-kali bergetar, panggilan dari Lisa dan Vera. Ia mengabaikan semuanya.

__ADS_1


Saat Prasetyo datang, Kevin mempersilakannya duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya dingin tanpa keramahan membuat Prasetyo sedikit merasa terintimidasi.


"Jeany ada di kamar lagi tidur. Tadi dia pingsan." Tanpa ditanya, Kevin menjelaskan hal yang menjadi penyebab kebingungan Prasetyo.


"Oh pantas tadi gak muncul di kantor. Saya kira ke mana ...." Prasetyo menjawab lega. "Lalu sekarang bagaimana keadaannya, Pak?"


Kevin tidak memedulikan pertanyaan Prasetyo. Ia langsung mencecar karyawannya itu dengan pertanyaan demi pertanyaan.


"Apa hubungan kamu dengan Jeany?"


"Kebetulan dia sahabat istri saya."


"Jadi di luar kantor kalian dekat?"


"Eng .... Dekatnya sama istri saya." Prasetyo menjawab dengan hati-hati.


"Kenapa tadi Jeany bisa berangkat sama kamu?"


"Kami satu kompleks perumahan. Tadi Jeany bilang lagi gak enak badan. Istri saya kuatir jadi minta Jeany jangan bawa motor dulu."


"Memang suaminya ke mana?"


"Pak Kevin tidak tahu? Jeany sudah lama bercerai dengan suaminya."


Bagai disambar petir, Kevin membelalakkan matanya.


"Apa?! Sejak kapan?!"


"Sudah lama sekali, Pak. Sekarang mantan suaminya sudah menikah lagi."


Kevin mengepalkan tinjunya. Kurang ajar kamu, Randy! Aku melepas Jeany karena mengira kamu bisa membahagiakan dia!


"Kamu tahu penyebab mereka bercerai?"


"Wah kalau itu saya tidak tahu, Pak. Jeany gak pernah cerita." Prasetyo berkata jujur.


"Jadi selama ini Jeany tinggal sendiri?"


"Tinggal berdua sama anaknya."


"Apa?!"


Prasetyo sebenarnya tahu Kenny adalah darah daging Kevin. Akan tetapi ia tidak ingin lancang memberitahu laki-laki itu. Terlebih ia tahu alasan Jeany tetap bungkam hingga saat ini. Namun melihat perhatian Kevin pada Jeany, ia yakin laki-laki itu masih mencintai sahabat sang istri. Hanya masalah waktu hingga kebenaran terkuak dari bibir Jeany.


Ponsel Kevin kembali bergetar. Kali ini tidak bisa diabaikannya karena getaran tersebut berasal dari notifikasi alarm yang memberitahukan jadwal rapat direksi. Satu jam lagi.


Sial! Kevin mengumpat dalam hati. Ia masih ingin menunggu Jeany terbangun dan menyerang perempuan itu dengan bertubi-tubi pertanyaan. Ia melihat Prasetyo.


"Kamu boleh kembali. Jangan ceritakan masalah ini sama siapa pun."


"Baik, Pak."


Setelah Prasetyo meninggalkan apartemennya, Kevin menelepon dokter pribadi keluarganya yang tadi memeriksa Jeany.


"Halo, Dok. Saya butuh perawat untuk menjaga calon istri saya sementara saya di kantor. Apa bisa dikirim ke tempat saya sekarang?"


Tanpa ragu Kevin menyebut Jeany sebagai calon istrinya. Setelah mengetahui Jeany bukan lagi milik sahabatnya, ia bertekad akan membangun kembali kebahagiaannya bersama perempuan itu. Masalah anak Jeany dan Randy, demi cintanya pada perempuan itu ia akan berusaha menerima dan menyayangi anak tersebut. Kevin kembali memandangi wajah teduh Jeany.


Semoga anakmu mukanya mirip kamu aja ya, Jean. Jangan mirip papanya biar aku gak makan hati ....


***


Usai rapat direksi, Kevin tidak membuang waktu lagi. Ia memanggil Lisa ke ruangannya untuk mengakhiri status pertunangan mereka. Laki-laki itu tidak ingin mengulang kesalahannya di masa lalu dengan membuat perempuan yang dicintainya terkatung-katung tanpa status. Kali ini ia harus tegas.


"Kenapa dibatalin, Vin?"


Lisa menahan tangis mendengar keputusan Kevin. Dua minggu lagi pernikahan akan diselenggarakan. Undangan sudah disebar. Dan laki-laki itu tiba-tiba ingin membatalkannya? Yang benar saja!


"Kamu tahu dari awal aku setuju untuk menikah karena ingin mengabulkan permintaan terakhir mamaku. Kamu tahu selama ini di hatiku hanya ada satu perempuan. Sekarang aku sudah bertemu dengan perempuan itu. Aku ingin kembali bersama dia."


"Lalu aku? Bagaimana dengan aku? Aku akan jadi bahan tertawaan orang-orang!"


Memang belum ada orang di kantor yang mengetahui rencana pernikahannya dengan Kevin kecuali Vera. Namun bagaimana dengan keluarga besar dan teman-temannya? Ia kerapkali membanggakan calon suaminya itu di depan mereka.


"Aku yang akan membereskan masalah itu. Aku juga akan menemui orang tuamu dan minta maaf secara pribadi. Tolong maafkan aku, Lis," ucap Kevin sungguh-sungguh.


"Siapa perempuan itu?"


"Aku belum bisa bilang."

__ADS_1


"Apa dia Jeany?"


"Bukan."


"Aku gak mau, Vin. Aku gak mau pernikahan kita dibatalkan!"


"Kamu mau atau tidak, aku tetap akan membatalkannya."


"Aku akan bikin kamu menyesal, Vin!"


***


Jeany tersadar dalam keadaan sudah membaik. Ia bersikeras meninggalkan apartemen Kevin, tidak mengindahkan instruksi dari perawat yang memintanya tetap tinggal di sana hingga laki-laki itu kembali.


Perempuan itu memilih kembali ke kantor. Ia tidak bisa menunggu lagi. Begitu banyak pertanyaan di benaknya yang harus segera mendapat jawaban. Ia ingin tahu mengapa Kevin menciumnya seperti tadi, ingin tahu jawaban Kevin atas permintaan yang diucapkannya sebelum pingsan, ingin tahu apakah di hati laki-laki itu masih tersimpan cinta untuknya ....


Jeany menaiki lift menuju lantai tempat ruangan Kevin berada. Namun di sana ia harus bertemu dengan Lisa yang baru keluar dari ruangan direktur utama.


"Oh kebetulan, Jeany." Lisa berjalan menuju meja sekretaris Kevin.


"Ver, tolong ambilkan undangan nikahku. Kevin bilang Jeany harus diundang karena mereka bersahabat."


"Iya tadi Pak Kevin juga udah pesan supaya aku memberikan undangan ini untuk Jeany."


Jeany berdiri terdiam di tempat. Tangannya meremas undangan yang baru saja diterimanya. Ia tidak percaya Kevin akan begitu tega padanya. Jadi ini jawaban laki-laki itu? Dengan mengundangnya datang ke acara pernikahan?


Tanpa menunjukkan perasaannya yang sedang hancur lebur, Jeany menatap Lisa tepat di kedua matanya. "Kalian gak perlu repot-repot karena saya gak akan datang!"


Jeany melempar undangan tersebut ke lantai. Sikapnya memicu kemarahan Lisa. Ia meneriaki Jeany yang telah berjalan meninggalkan dirinya dan Vera. "Punya anak haram aja sok!"


Langkah Jeany terhenti. Ia membalik tubuhnya dan menatap Lisa dengan garang. "Apa kamu bilang barusan?"


Lisa memberi tatapan mengejek. "Kamu pura-pura alim di kantor. Padahal pernah nikah dan udah cerai gara-gara punya anak haram!"


Tangan Jeany langsung menjambak rambut Lisa dengan keras. "Jangan berani sebut anakku anak haram!!"


Rasa sakit akibat tarikan di kulit kepalanya membuat Lisa berteriak. Ia ingin membalas dengan menarik rambut Jeany. Namun amarah membuat kekuatan Jeany beberapa kali lipat lebih besar. Ia membuat Lisa tak berkutik. Sedangkan Vera, ia terlalu terkejut hingga lupa membantu sahabatnya.


Teriakan Lisa terdengar hingga ke ruangan Kevin. Laki-laki itu keluar untuk mengecek keadaan. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jeany yang tidak suka kekerasan sedang menjambak Lisa dan mengacak-acak rambut perempuan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah tadi dia masih tertidur di apartemen? Kenapa sekarang bertengkar dengan Lisa di sini?


Kevin cepat-cepat melerai kedua perempuan itu. Kedua tangannya mencekal pergelangan tangan Jeany yang masih menarik rambut Lisa dengan ganas. "Cukup, Jean. Jangan begini."


Jeany menepis kasar tangan Kevin. "Lepas!"


"Kenapa kamu seperti ini?"


"Kalo kamu gak mau aku nyakitin calon istrimu, suruh dia jaga mulutnya!"


Jeany berjalan pergi meninggalkan tiga orang di sana. Hatinya penuh dengan amarah dan kekecewaan.


Kevin membawa Lisa ke dalam ruangannya dan menanyai perempuan itu. "Sebenarnya ada apa, Lis? Jeany tidak mungkin seperti itu kalau kamu tidak keterlaluan sama dia."


"Kamu masih membela dia! Aku cuma mengatakan kebenaran! Dia itu sok alim padahal perempuan rendahan!" pekik Lisa. Tangannya menyisir rambutnya yang berantakan akibat ulah Jeany.


Kevin memukul mejanya dengan keras sehingga Lisa terperanjat. "Jaga mulut kamu! Jeany tidak seperti itu!"


"Tidak seperti itu apanya? Kamu gak tahu kan kalo ternyata dia sudah menikah dan bercerai!"


Lisa kecewa karena Kevin tidak tampak terkejut. Malah ia hampir merasa melihat senyum di wajah laki-laki itu.


"Trus kenapa? Di dunia ini ada banyak pasangan yang bercerai. Kalau rumah tangga tidak membahagiakan untuk apa dipertahankan?"


"Kamu bilang begitu karena tidak tahu penyebab mereka bercerai!"


"Memangnya apa penyebabnya?"


Kevin tidak tahu mengapa ia sangat berdebar-debar menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Lisa.


"Karena anak yang dilahirkannya bukan anak suaminya!"


DEG!


"Coba ulangi sekali lagi!"


"Anak yang dia lahirkan bukan anak suaminya! Waktu anak itu kena demam berdarah baru ketahuan kalau golongan darahnya beda. Jeany dan suaminya golongan darah A, tapi golongan darah anak itu B! Karena itu mereka bercerai!"


Kevin seolah tersambar petir untuk kesekian kalinya. Ia menatap Lisa tanpa berkedip. "Dari mana kamu tahu semua itu?"


"Dari perempuan yang sekarang jadi istri sah mantan suaminya."

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa-apa lagi Kevin berlari secepat kilat meninggalkan ruangannya. Hanya ada satu hal dalam pikirannya, yaitu meminta penjelasan pada Jeany.


__ADS_2