
Waktu keberangkatan Randy dan Monica yang tinggal tiga jam lagi membuat Kevin mengemudikan SUV miliknya dengan tergesa-gesa. Namun walau diburu waktu, ia tetap mengindahkan rambu lalu lintas. Tidak ada satu pun lampu merah yang diserobotnya. Ia ingat ada lima nyawa yang berada dalam mobil yang dikemudikannya termasuk dirinya sendiri.
"Jangan terlalu ngebut, Vin." Jeany tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya melihat mobil mereka berkali-kali mendahului kendaraan di depan dengan kecepatan tinggi.
"Tenang aja sebelum nyalip aku udah mastiin depan kosong kok," jawab Kevin tanpa menoleh.
Randy yang duduk di kursi tengah mobil terkekeh melihat sahabatnya mengemudi dalam keadaan tertekan. "Lagian lo pake bangun telat segala sih, Vin."
"Lo kayak gak tau aja ...," seloroh Kevin tanpa berpikir.
"Mama kenapa gak bangunin Papa? Kalo Kenny belum bangun Mama selalu bangunin Kenny," sahut Kenny yang sedari tadi mendengarkan percakapan tersebut.
Randy menahan tawa mendengar pertanyaan Kenny. "Soalnya mama kamu juga belum bangun, Kenny," ucapnya sambil menyeringai pada bocah yang kini duduk di antara dirinya dengan Monica itu.
"Kenapa Mama belum bangun? Mama gak pernah bangun kesiangan."
"Mama kecapekan, Kenny, makanya bangun siang." Kevin mencoba memberi penjelasan yang masuk akal.
"Mama kok bisa kecapekan?"
Jeany seketika memberi tatapan tajam pada sang suami, yang membalasnya dengan senyum kecut.
"Mama kan kemarin harus bangun subuh buat didandani. Jadi capek kurang tidur." Jeany cepat-cepat menjawab sebelum laki-laki di sampingnya memberi jawaban yang semakin memancing pertanyaan Kenny.
"Oh iya, Ma, kata Oma kemarin Mama sama Papa mo kasih adik buat Kenny. Mana adiknya?"
Pertanyaan polos Kenny memancing tawa tiga orang dewasa yang ada di dalam mobil. Hanya tiga karena Jeany justru merasa malu.
Kevin melirik sang putra sekilas dari kaca spion tengah mobilnya. "Kenny pengen punya adik?" tanyanya.
"Iya pengen!"
"Nanti papa mama kasih Kenny adik, tapi belum sekarang ya."
"Kenapa belum, Pa?"
"Soalnya papa mama masih sibuk."
"Sibuk apa, Pa? Mama kan sekarang udah gak kerja?"
"Kenny, Papa lagi nyetir," tegur Jeany yang merasa jengah dengan pertanyaan putranya. "Nanti lagi tanya-tanyanya ya."
"Ya, Ma."
Dalam hati Kevin merasa takjub melihat Kenny yang begitu mudah menurut pada Jeany. Istrinya itu telah mendidik putra mereka dengan sangat baik. Pantas saja Henny, sang mama langsung jatuh hati pada pertemuan pertamanya dengan Kenny.
"Kenny ngobrol sama Daddy aja ya?" Randy merangkul bahu Kenny. "Kalo Daddy ke Jakarta lagi Kenny mau dibawain apa?"
"Kacang disco ama pai susu! Mama juga suka pai susu. Iya kan, Ma?!" Kenny menjawab dengan wajah ceria.
"Iya, Sayang," jawab Jeany sambil tersenyum.
"Kacang disconya yang rasa barbeque ya, Daddy!"
"Beres, Bos!" Tangan Randy membuat gaya memberi hormat seperti ketika mengikuti upacara bendera. "Kenny nanti ajak Papa Mama main ke Bali ya. Nanti Daddy ajak ke Waterbom. Kenny suka kan main perosotan besar?"
"Suka, Daddy! Pa, Ma, nanti kita ke Bali ya Kenny mau main perosotan ...!"
"Kalo mau main perosotan di Jakarta juga banyak, Kenny," ucap Kevin keberatan.
"Bedalah, Vin. Kenny kan orang Bali, paling engga dia harus tahu tempat wisata di Bali dong." Randy menjawab Kevin sambil tersenyum lebar. "Mau kan, Kenny?"
"Mau, Daddy!"
Kevin hanya diam. Untung saja perhatiannya harus terbagi pada jalan raya. Jika tidak ia pasti sudah memperlihatkan rasa cemburu yang tidak seharusnya ada.
__ADS_1
Dalam diam, Monica memperhatikan sang suami yang terlihat begitu menyayangi Kenny. Ia jadi berandai-andai. Betapa bahagianya bila ada buah hati yang melengkapi kehidupan pernikahannya dengan Randy. Namun semua itu hanya khayalan, karena sebelum mereka menikah Randy sudah menegaskan padanya bahwa ia tidak ingin memiliki anak. Perempuan itu menghembuskan napas dengan perasaan sedih.
Tak terasa mobil Kevin sudah memasuki area parkir bandara. Kevin, Jeany dan putra mereka ikut mengantar Randy dan Monica hingga ke lobi Terminal 3 Domestik Bandara Soekarno Hatta. Ada rasa kehilangan di hati masing-masing.
"Vin, makasih udah repot-repot antar gue dan Monic ke bandara," ucap Randy yang entah mengapa merasa canggung untuk mengucapkan salam perpisahan pada sahabatnya itu.
"Ah basa-basi lo!" Kevin langsung memberi pelukan pada Randy. "Thanks waktu itu lo jagain istri dan anak gue," ucapnya sambil menepuk punggung sang sahabat.
"Ngomong apa lo? Yang gue jaga kan anak bini gue."
Jawaban Randy seketika melenyapkan rasa terima kasih Kevin padanya. "Sialan lo," umpatnya kesal, tentu saja cukup pelan agar tidak terdengar oleh yang lain. Ia melepaskan pelukannya.
Sambil tersenyum tanpa dosa Randy mendekati Jeany dan memberi kecupan di pipinya. Begitu pula pada Kenny. "Daddy pulang kampung dulu ya, Kenny. Jangan lupa ajak Papa Mama ke Bali, nanti kita main bareng."
"Iya, Daddy!"
"Baik-baik di sana, Ran. Jaga kesehatan, jangan lupa minum obat tepat waktu," pesan Jeany pada sang mantan suami.
"Siap!" Randy tersenyum pada Jeany, tetapi ada sedikit rasa sedih di hatinya. Perpisahan adalah hal yang tidak disukai oleh siapa pun.
Kini giliran Monica yang berpamitan pada keluarga kecil tersebut. Ia memandang canggung pada Jeany yang pernah dimarahinya karena rasa cemburu butanya pada perempuan itu.
"Kevin, Jean, aku balik dulu ya."
Kevin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Malah Jeany yang bersikap lebih ramah. "Jaga kesehatan ya, Mon. Makasih udah mau datang ke nikahanku dan Kevin."
Merasa tersentuh, Monica langsung maju untuk memeluk Jeany. "Sorry atas sikapku waktu itu," bisiknya di telinga Jeany.
"Iya aku ngerti. Aku doakan semoga kamu dan Randy selalu bahagia."
"Amin. Makasih, Jean."
Jeany lantas menyuruh putranya untuk mengucapkan salam perpisahan pada Monica. Kenny pun maju dan tersenyum lebar pada Monica.
"Mommy?" tanya Monica tertegun.
Kenny mengangguk mantap. "Istri Daddy kan dipanggil Mommy," ucapnya polos.
Perasaan hangat menyelimuti hati Monica. "Kamu anak pintar. Nanti Daddy sama Mommy pasti datang lagi," ucapnya sambil memeluk Kenny.
Mereka saling melambaikan tangan sebelum benar-benar berpisah. Setelahnya, Randy dan Monica masuk ke dalam untuk mendaftarkan keberangkatan mereka di loket maskapai penerbangan dengan lambang burung.
"Kenny lucu ya, Ran," komentar Monica saat sudah berada di ruang tunggu keberangkatan.
Randy melihat sang istri sejenak. "Bikin satu kayak gitu mau?" tawarnya.
"Ka-kamu serius?" Monica begitu terkejut dengan jawaban Randy.
"Serius. Nanti kita konsultasi ke dokter supaya anak kita gak ketularan virus."
Air mata bahagia menetes dari sepasang mata Monica. "Makasih ya, Yang," ucapnya dengan suara serak pada sang suami.
"Dasar cengeng, gitu aja nangis." Randy mengejek Monica, tetapi tangannya mengusap-usap kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.
***
Sudah satu bulan lebih usia pernikahan Jeany dengan Kevin. Perempuan itu sangat menikmati peran barunya sebagai ibu rumah tangga. Mempraktikkan berbagai resep masakan yang dilihatnya di internet menjadi kegemaran barunya. Tidak berat baginya karena ada dua orang asisten rumah tangga yang membantu.
Tidak lama setelah menikah, Kevin membelikannya sebuah mobil bertransmisi otomatis. Jeany hanya menggunakannya untuk mengantar jemput sang putra ke sekolah atau ke tempat les. Ia tak suka pergi tanpa ditemani oleh sang suami.
Sore itu Jeany menyempatkan diri mampir ke apotek usai mengantar Kenny ke tempat les. Di sana ia membeli sesuatu. Jantungnya berdebar kencang tak sabar menanti datangnya esok pagi.
Bila Jeany tak sabar menanti hari esok, Kevin justru tak sabar menanti malam tiba. Hampir setiap malam laki-laki itu mengajak bercinta. Gairahnya kepada sang istri seolah tak pernah padam.
"Kamu suka aku pakai yang mana, Vin?" tanya Jeany sambil menunjukkan pakaian dalam seksi hadiah dari Serly yang tidak bisa hadir di acara pernikahan.
__ADS_1
"Aku lebih suka kamu gak pakai apa-apa."
Usai menjawab demikian, Kevin langsung mematikan lampu kamar dan menyerang sang istri dengan cumbuannya yang memabukkan. Sebenarnya ia ingin bercinta dengan lampu menyala, ingin melihat wajah Jeany ketika perempuan itu mengerang nikmat di bawah tubuhnya. Namun ia mengerti sang istri masih malu.
"Malam ini pelan-pelan ya, Vin," pinta Jeany sebelum sang suami menyatukan tubuh mereka.
Kevin mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Biasanya kamu suka kalo aku kasar."
"Heihhh kamu ini .... Pokoknya malam ini pelan-pelan!" ucap Jeany malu sekaligus jengkel.
"Oo kamu mau tahu enak mana ya main pelan apa kasar?" tebak sang suami.
"Aduh! Gak usah ngomong aneh-aneh!" Tangan Jeany langsung mencubit pinggang Kevin dengan kesal.
Kevin tertawa sebelum melanjutkan aksinya. Ia benar-benar melakukannya dengan lembut seperti permintaan Jeany, membuat perempuan itu terbuai oleh surga dunia yang ia berikan.
Keesokan paginya, Kevin dan Jeany sarapan berdua di meja makan. Perempuan itu belum membangunkan putra mereka karena hari itu tanggal merah.
"Vin, aku mau kasih tahu sesuatu," ucap Jeany tiba-tiba.
"Kasih tahu apa, Jean?"
"Sebentar lagi Kenny punya adik."
Alih-alih menjawab, Kevin malah sibuk menyeruput kopi.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Kevin usai meletakkan cangkir kopinya.
"Ih kamu ini .... Aku bilang sebentar lagi Kenny punya adik. Aku hamil, Vin!"
Kevin tercenung selama beberapa saat seperti orang bodoh. "Sungguh?" tanyanya setelah fungsi otaknya kembali. Senyum bahagia tampak di wajahnya.
"Iya. Kamu gak sadar udah satu bulan lebih aku belum dapet?"
Kevin menggeleng.
"Dasar .... Cuma tahu pake," cibir sang istri padanya.
"Gak juga. Aku tahu cara bikin kamu puas," bantah Kevin.
"Haizzz ngomong sama kamu bikin naik darah ya!" Jeany berseru dengan kesal.
Kevin terpingkal-pingkal dibuatnya. "Jangan naik darah dong, ntar kasihan anak kita. Tapi kamu beneran yakin udah positif?"
"Yakin. Tadi pagi aku udah tes pake testpack. Besok malam anterin ke dokter kandungan mau?"
"Pasti mau, Sayang. Aku gak akan melewatkan lagi masa kehamilan kamu. Aku akan jadi suami siaga!"
Jeany tersenyum lega. Tadinya ia takut Kevin tidak akan senang mendengar kabar kehamilannya yang terlalu cepat itu. Namun tak lama kemudian ia melihat wajah masam sang suami.
"Berarti aku harus puasa," ucap Kevin sedikit tak rela.
"Kenapa harus puasa? Kan bisa pelan-pelan kayak tadi malam?"
"Hehehe kamu juga gak mau aku puasa ya? Tapi aku gak mau ambil risiko, Jean. Usia kandungan kamu masih rawan."
"Hiiiishh siapa yang gak mau!" Jeany hampir kehilangan kesabarannya dengan ucapan Kevin yang selalu saja mesum. "Ya udah kamu puasa aja. Bisa kan?"
Kevin tersenyum nakal. "Bisa dong .... Tujuh tahun aja aku bisa tahan pake yang gratisan, apalagi ini cuma beberapa bulan." Ia kembali meminum kopinya yang masih panas.
"Mau coba gratisan yang lain gak?" Jeany melambai-lambaikan telapak tangannya di hadapan sang suami.
Kevin seketika menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
TAMAT
__ADS_1