Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 17 - Di Kantor Suami


__ADS_3

Langkah Vivian terasa berat saat melintasi halaman parkir kantor Revan. Sebenarnya ia enggan datang ke sana. Hubungannya dengan orang tua Revan tidak bisa dikatakan baik, walau juga tidak bisa dibilang buruk. Sikap mertuanya yang tak acuh membuat Vivian merasa tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga besar suaminya itu.


"Selamat siang, Pak. Saya Vivian ada janji bertemu dengan Pak Perdana." Vivian memberi senyum sopan kepada petugas keamanan yang berjaga di depan pintu masuk.


"Silakan masuk, Ibu Vivian."


Seperti yang Vivian duga, petugas keamanan di kantor Revan telah mendapat informasi soal kedatangannya. Ia langsung diantar ke ruang tunggu tamu. Tidak sampai lima menit kemudian, seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai sekretaris papa Revan mendatanginya.


"Mari, Bu Vivian. Bapak dan Ibu Perdana sudah menunggu di ruangannya." Sekretaris bernama Johanna itu berbicara dengan sikap profesional yang sempurna.


Vivian berjalan mengikuti sang sekretaris dengan perasaan cemas yang membuat jantungnya berdebar kencang. Bukan tanpa alasan ia merasa cemas. Mertua yang tidak pernah menganggapnya ada tiba-tiba memanggilnya agar datang ke perusahaan dan itu terjadi tepat ketika adiknya kedapatan melakukan penelitian skripsi di sana. Sulit baginya untuk berpikir positif pada situasi tersebut.


Untuk menghalau rasa cemas, Vivian menyibukkan pikirannya dengan mengamati suasana di kantor Revan. Ia tidak bisa tidak merasa kagum pada desain interior gedung yang megah dan futuristik. Beberapa karyawan tampak berlalu lalang di lobi kantor yang luas.

__ADS_1


Seragam karyawan di kantor Revan juga menarik perhatiannya. Dengan warna biru gelap, desain seragam itu membuat orang yang mengenakannya tampak modis sekaligus profesional. Untuk sesaat ia merasa tergoda berkarir di sana, hal yang segera ia tepis dari benaknya.


Vivian menoleh saat mendengar bunyi tumit sepatu yang mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat, makin lama makin dekat. Tidak lama kemudian terlihat seorang karyawan perempuan yang melangkah tergesa dengan wajah gelisah.


"Ada masalah, Mar? Kok buru-buru?" Johanna bertanya pada karyawan tersebut.


"Aku mau pulang, Jo. Barusan babysitter anakku telpon, katanya anakku nangis terus dan nggak mau makan. Aku takut dia sakit." Karyawan itu berhenti untuk menjawab pertanyaan rekan kerjanya.


Johanna terlihat ikut khawatir. "Aduh iya baiknya kamu pulang. Tapi hati-hati nyetirnya, Mar."


Setelah karyawan tersebut pergi, Vivian dan sekretaris papa Revan meneruskan langkah mereka. Vivian mengungkapkan rasa simpatinya. "Kasihan dia kayaknya khawatir banget."


"Namanya orang tua, Bu, paling takut kalau anak sakit. Apalagi anaknya Maria ini pernah demam tinggi sampai kejang. Dia jadi sering bolak-balik ke rumah buat ngecek anaknya." Johanna bertutur dengan nada prihatin.

__ADS_1


"Rumahnya dekat sini?"


"Jauh, Bu, di Sidoarjo kota."


"Semoga anaknya baik-baik aja ya," ucap Vivian tulus.


Kejadian barusan cukup mengusik pikiran Vivian. Ia tahu tidak mudah menjadi ibu sekaligus wanita karir yang harus seharian meninggalkan anaknya di rumah, apalagi jika anak sedang dalam kondisi tidak sehat. Itu sebabnya ia belum ingin memiliki anak. Pikiran yang tidak tenang bisa berimbas pada produktivitas kerja. Ia ingin mencari solusi agar wanita karir seperti dirinya tetap dapat bekerja maksimal tanpa harus menomorduakan anak. Namun bagaimana caranya?


"Setelah ini kita naik lift ya, Bu. Ruangan Pak Perdana ada di lantai enam."


Suara Johanna menyadarkan Vivian akan tujuannya datang ke kantor itu. Ia menarik napas panjang dan menatap lurus-lurus ke depan. Sorot matanya seolah mengatakan, "Aku siap."


Namun sorot mata tegar itu hilang dalam sekejap saat melihat sosok familiar laki-laki yang berjalan beberapa meter di depannya. Postur tubuhnya, caranya berjalan, dan rambut hitam legam yang dipotong dengan gaya crew cut itu .... Tidak salah lagi, laki-laki di depan adalah Revan, suaminya.

__ADS_1


Vivian mengerutkan kening. Suaminya itu seharusnya sedang berada di dalam pesawat yang tengah mengudara menuju kota Jakarta. Kenapa sekarang ada di hadapannya, berjalan ke arah lift sama seperti dirinya? Ia langsung berlari kecil untuk memastikan.


__ADS_2