Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 12 - Belum Percaya


__ADS_3

Vivian tidak lagi berniat menghindar. Ia mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata dan membalas tatapan Revan. Kebencian terlihat jelas dari sorot mata itu.


Melihat itu, Revan menghela napas. Rasa senangnya yang sempat muncul lantaran mendapati sang istri cemburu, hilang begitu saja. "Kita harus bicara," ucapnya serius.


"Nggak ada yang perlu dibicarain, Rev!" Vivian menyentak tangannya yang sedang dipegang erat oleh Revan. "Dulu aku sudah pernah bilang, kan? Sekali kamu berkhianat, saat itu juga pernikahan kita berakhir!"


Revan kembali mencengkeram lengan Vivian dengan tenaga yang lebih kuat daripada sebelumnya. "Dengar! Kalau pernikahan kita harus berakhir, aku nggak akan membiarkannya berakhir karena kesalahpahaman!"


Pada saat itu, pintu lift terbuka. Vivian dan Revan otomatis menghentikan pertengkaran dan menggeser posisi berdiri mereka untuk memberi jalan pada orang yang baru saja keluar dari lift. Dari sudut matanya, Vivian melihat sepasang pria dan wanita berjalan melewati mereka. Dalam keadaan normal, ia dan Revan akan menyapa tetangga mereka, setidaknya dengan senyuman. Namun kali ini, ia justru menunduk agar mereka tidak melihat wajahnya yang masih menyisakan tangisan.


Hanya Revan yang mengangguk dan tersenyum sopan pada mereka. Setelah itu, ia cepat-cepat menarik Vivian agar masuk ke dalam lift dan menekan tombol pada panel agar pintu lift menutup. Bahu sebelah kanan Vivian menubruk dada Revan akibat tarikan kuat itu. "Lepas, Sialan!" bentaknya dan berusaha menjauhkan diri.


Namun Revan justru semakin merapatkan tubuh mereka dengan merengkuh pinggang Vivian. Perempuan itu mendongak untuk memberi makian atas perlakuan lancang tersebut, tetapi sorot mata Revan yang menghunjamnya dalam jarak teramat dekat membuat perempuan itu kehilangan kata-kata.


"Ikut aku. Akan aku buktikan kalau aku nggak selingkuh," kata Revan sungguh-sungguh.


Vivian yakin dirinya benar-benar telah dibutakan oleh cinta. Ia membiarkan Revan membawanya memasuki Toyota Land Cruiser milik laki-laki itu, meninggalkan mobilnya sendiri yang terparkir tidak jauh dari sana. Ia menurut saja ketika Revan memintanya turun dari mobil dan menuntun langkahnya menuju sebuah unit apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari griya tawang mereka.


"Di sini aku tinggal setelah pergi dari rumah." Revan mulai bercerita tanpa menunggu Vivian bertanya. "Sendiri," tambahnya.


"Yeah karena selirmu tinggal di penthouse," balas Vivian dengan sinis.


"Kami baru saja makan malam untuk membicarakan kontrak kerja. Vanessa akan menjadi bintang iklan eksklusif untuk produk baru Halim Food."


"Bintang iklan yang tinggal di penthouse laki-laki beristri." Vivian menambahkan dengan nada penuh sindiran.


"Vanessa ingin privasinya terjaga. Penthouse kita adalah pilihan yang paling tepat."

__ADS_1


"Kamu pikir aku bakal percaya, Rev? Alasan kamu terlalu nggak masuk akal!"


Dengan sikap tenang yang tidak dibuat-buat, Revan mengambil ponselnya. Laki-laki itu menggerakkan jempolnya naik-turun pada layar ponsel. Setelah beberapa saat berlalu, ia menyodorkan benda segi empat tersebut kepada Vivian. "Kamu lihat ini aja."


"Aku nggak butuh—" Ucapan Vivian terhenti. Perempuan itu terkejut dengan apa yang ia lihat pada layar ponsel. "Rekaman CCTV?"


Revan mengangguk. "Seperti yang kamu lihat. Tepat jam 7 malam aku sampai di penthouse. Vanessa keluar dan kami langsung pergi. Aku sama sekali nggak masuk ke dalam."


Ini pertama kalinya Vivian tidak menyanggah pembelaan diri Revan. Rekaman CCTV yang ia tonton memang memperlihatkan Vanessa yang membuka pintu dan memberi Revan sambutan dengan merangkul dan mencium pipi laki-laki itu. Vivian mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak mengumpat.


"Sejak kita pindah karena kamu nggak betah, fungsi penthouse aku alihkan untuk keperluan bisnis. Beberapa kolega dari luar kota juga menginap di sana kalau berkunjung ke Surabaya."


Revan tidak menyembunyikan rasa kecewa dalam nada bicaranya. Dulu ia membeli griya tawang itu untuk Vivian, berharap perempuan itu akan bahagia dengan hunian mewah bak istana yang ia persembahkan. Namun ia salah. Bukan hanya meminta pindah, Vivian juga terkesan tidak peduli pada tempat itu.


"Terserah mau kamu apakan. Kan kamu yang beli, bukan aku." Itu adalah jawaban Vivian yang diucapkan dengan acuh ketika suatu hari Revan mengatakan ingin menjualnya. Setelah itu Revan tidak pernah menyinggung masalah penthouse lagi.


"Citilites. Kalau kamu mau, aku bisa mintakan rekaman CCTV di sana juga."


"Nggak perlu," sahut Vivian ketus. Tawaran dari suaminya itu kembali mengingatkan dirinya akan status sosial mereka yang tidak setara. Keluarga besar Revan sebagian besar berprofesi sebagai pengusaha. Pemilik restoran tempat Revan dan Vanessa makan malam adalah kakak sepupu Revan. Tentu saja bukan perkara sulit bagi Revan untuk mendapatkan rekaman CCTV di sana.


"Jadi kamu udah percaya kalau aku nggak selingkuh?"


"Belum."


Vivian kembali mengamati video. Ia mempercepat penayangan hingga sosok Revan dan Vanessa kembali muncul pada layar. Waktu menunjukkan kejadian empat puluh lima menit yang lalu saat Revan terlihat memasuki griya tawang dengan tergesa-gesa. Vanessa menepuk pundak laki-laki itu sambil tertawa sebelum ikut masuk dengannya.


Setelah itu mata Vivian terpaku pada layar yang hanya memperlihatkan pintu yang tertutup rapat. Amarahnya yang sempat mereda kembali naik ke ubun-ubun. Ia sungguh ingin melompat ke dalam layar dan mendobrak pintu itu dengan satu kali tendangan. Suaminya ada di balik pintu apartemen, di dalam sana berduaan dengan perempuan lain.

__ADS_1


"Ini gak lama sebelum aku mergokin kalian kan?" ujarnya dengan senyum getir. "Kali ini apa lagi alasan kamu?"


"Kalau kamu perhatikan baik-baik, aku di dalam sana nggak lebih dari lima menit." Revan menjawab masih dengan sama tenangnya.


"Lima menit udah cukup buat kamu having s*x sama dia!"


"Benarkah?" Revan menyeringai. "Kamu tahu persis durasiku lebih lama dari itu."


"Stuff it, Rev!"


Revan terkekeh melihat reaksi Vivian. Usaha perempuan itu agar tetap terlihat galak menjadi sia-sia karena rona merah bersemi pada kedua pipinya. Ia terlihat semakin cantik. Revan berlama-lama memandangi wajah sang istri. Ia baru memberi penjelasan setelah melihat Vivian melotot.


"Aku masuk karena tiba-tiba ingin BAB."


"Apa?" Vivian mengernyit mendengar jawaban aneh itu.


"Bukan hal aneh. Aku memang biasa BAB lebih dari satu kali dalam sehari. Kamu tahu itu."


Tidak ada sangkalan yang keluar dari mulut Vivian. Memang benar apa yang dikatakan oleh Revan. Mereka bahkan pernah gagal bercinta karena alasan yang sama. Namun tetap saja Vivian masih merasa ada yang janggal.


"Kenapa kamu nggak pakai toilet yang ada di lobi?"


Pertanyaan itu membuat Revan jengkel setengah mati. "Terlalu jauh. Aku nggak mau berak di celana," katanya sambil menatap kesal sang istri.


Vivian pasti sudah menyemburkan tawa kalau ia tidak mengingat posisinya yang sedang menginterogasi sang suami. Ia memikirkan semua jawaban Revan. Semua masuk akal baginya. Ia benar-benar ingin mempercayai laki-laki itu. Namun ada satu hal yang tidak ia mengerti.


"Kenapa Vanessa bilang dia pacar kamu?"

__ADS_1


Sepasang mata Vivian menatap wajah Revan saat ia menanti jawaban. Hatinya mencelos karena untuk pertama kalinya pada malam itu sang suami tidak lagi membalas tatapannya.


__ADS_2