
Hari itu Jeany harus menghadapi perpisahan, hal yang sangat dibencinya. Kakak kos yang sangat dekat dengannya harus meninggalkan ibu kota demi mengejar karir yang diimpikannya. Mereka duduk bersama untuk terakhir kalinya sebelum Serly berangkat ke Tanjung Pinang.
"Harusnya kita makan-makan dulu, tapi gimana lagi lo sampe di kos udah tengah malam mulu. Sebagai gantinya, gue tinggalin barang yang sangat penting ini buat lo."
Serly menyerahkan sebuah kotak kecil dengan corak lucu. Jeany menerima dan membukanya. Gadis itu menatap sesuatu yang hanya pernah ia lihat di rak dekat kasir minimarket. Raut wajahnya mendadak kaku.
"Kayaknya Kak Serly salah ngasih kotak."
"Hahaha kenapa muka lo? Gak salah lah .... Kevin agresif begitu, cepat lambat lo pasti butuh barang ini. Jangan sampe tekdung sebelum waktunya." Serly berbicara blakblakan.
Jeany merasa wajahnya memanas. Ia yakin saat ini semburat merah pasti telah muncul di pipinya. Kotak dari Serly ia letakkan di atas meja, semata untuk menghargai niat baik kakak kosnya itu.
"Kak Serly kejauhan mikirnya."
"Gak kejauhan lah. Gue kan udah pengalaman. Ups! Hehehe ...."
Jeany menyipitkan matanya. "Pesawat Kak Serly jam berapa berangkatnya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Senyum di wajah Serly menghilang. Sama seperti Jeany, ia pun merasa berat harus berpisah dengan gadis itu.
"Ah elo merusak suasana aja. Sedikit lagi cowok gue nyampe buat antar gue ke bandara. Gue sedih deh harus ninggalin lo." Mata Serly sudah berkaca-kaca.
"Iya, Kak aku juga sedih. Tapi ini kan demi masa depan Kak Serly."
"Tapi lo kok kayak gak sedih sih? Kalo sedih lo kudunya mewek dong kayak gue!"
"Sedih, Kak. Tapi air matanya gak mau keluar."
"Hmm belajar dari Kevin apa Randy nih pinter bikin alasan ...."
"Kak Serly berapa lama di Tanjung Pinang?"
"Mungkin dua apa tiga tahun. Abis itu pindah. Ntah kapan kita bisa ketemu lagi. Jangan kaget ya kalo ntar ketemu gue udah jadi kepala cabang hahahaha ...." Serly tertawa pongah.
"Amin, Kak. Ntar kalo aku ngajuin kredit usaha jangan dipersulit ya."
"Sesuai prosedur lah. No KKN!" jawab Serly dengan seringai lebar.
Tiiin tiiin!
Suara klakson mobil dari luar rumah membuat mereka sadar telah tiba waktunya Serly untuk pergi. Sang pacar telah datang menjemputnya. Ia dan Jeany lantas berpelukan, masih tidak rela untuk berpisah. Serly memberi petuah pada adik kosnya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Dengar ya, Jean. Lo harus bahagia. Egois dikit gapapa, jangan ngalah mulu."
"Kak Serly juga jaga kesehatan ya di Tanjung Pinang. Semoga kerjaannya dan semuanya lancar di sana."
__ADS_1
"Hiks hiks .... Iya, Jean. Jangan lupain gue ya .... Kalo ada kesempatan gue pasti bakal ke Jakarta. Ntar kita jalan-jalan bareng lagi ya ...."
Kalimat dari Serly membuat Jeany terenyuh. Ia kini menangis seperti kakak kosnya itu. Gadis itu mengantar Serly hingga ke mobil yang menjemputnya. Pacar Serly turun dan membantu membawakan tiga koper milik Serly lalu menaruhnya di bagasi mobil.
"Gue pergi ya hiks hiks .... Baik-baik di sini," ucap Serly sambil sesenggukan. "Oh iya hiks, gue mo kasih pesan penting .... Kalo gak ada k*ndom bilang Kevin supaya buang di luar hiks .... Cara itu cukup ampuh kok ...."
Tangisan Jeany seketika berhenti. "Kak Serly! Gak nyambung banget!"
"Hiks nyambung kok. Ya udah gue pergi dulu ya hiks .... Dadah, Jean ...."
Serly naik ke mobil dan menurunkan kaca jendelanya. Ia dan Jeany saling melambaikan tangan, sama-sama merasakan kehilangan di hati masing-masing.
Beberapa jam kemudian, Jeany telah berada di restoran, menjalankan kewajibannya sebagai kasir. Sore itu hanya beberapa meja yang terisi. Biasanya restoran tersebut memang lebih ramai di malam hari.
Usai memroses tagihan yang diantarkan oleh pelayan, Jeany berdiri di tempatnya, menunggu bila ada yang ingin melakukan pembayaran lagi. Beberapa menit kemudian ia melihat seseorang berjalan ke arahnya, seseorang yang pernah berbuat jahat padanya. Karena harus bersikap profesional, Jeany tetap memasang senyum di wajahnya.
"Oh ternyata lo jadi kasir di sini. Gue mau bayar!" Rika berkata dengan angkuh.
Jeany menerima kartu kredit dari Rika. Ia memeriksa kartu tersebut lalu memasukkan angka-angka pada program kasir.
"Totalnya tujuh ratus tujuh puluh ribu rupiah ya, Kak."
Rika memperhatikannya dan memberi senyum mengejek. "Coba lo mau ikut gue, gak perlu capek-capek kerja kayak gini, berdiri berjam-jam! Gajinya juga pasti kecil!"
Jeany tetap diam seolah tidak mendengar ucapan Rika. "Silakan masukkan pin kartu kreditnya, Kak." Gadis itu menunjukkan mesin EDC di atas meja kasir.
"Terima kasih telah mengunjungi restoran kami ya, Kak. Kami nantikan kedatangannya kembali."
"Huh pura-pura b*go! Ada seseorang yang lebih pinter daripada lo. Cantik banget lagi ...."
Jeany berpura-pura tidak acuh. Namun ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Beruntung Rika meneruskan niatnya untuk mempengaruhi pikiran Jeany.
"Awalnya dia juga nolak-nolak kayak lo. Tapi begitu gue kasih tahu bayarannya delapan puluh juta, gak perlu nunggu lama dia langsung mau! Dasar munafik! Gak heran sih, orang keluarganya udah bangkrut. Kalo gak jual diri mo dapat duit dari mana buat nutupin gaya hidup mewahnya?"
DEG!
Entah kenapa Jeany yakin sekali yang dimaksud oleh Rika adalah Stevi. "Gak mungkin itu kemauannya sendiri. Kamu pasti ngejebak dia kayak yang kamu lakuin ke aku dulu," pancingnya pada Rika.
"Hehe .... Gue akuin memang harus main cantik sama dia. Dan berhasil. Malam ini dia bakal ngelepas keperawanannya demi lima puluh juta!" Rika berkata sambil menyeringai puas.
Jeany mulai merasa gelisah. Malam ini? Stevi tidak mungkin segegabah itu kan? "Kalo aku mau apa juga bakal dapet lima puluh juta?" Gadis itu berpura-pura tertarik.
Rika mengeluarkan senyum licik. "Jangan lupa koneksi gue sangat luas. Lo minat?"
"Tapi aku takut digerebek."
__ADS_1
"Klien gue orang kelas atas, mainnya di hotel kelas atas juga. Kalo beruntung, bukan gak mungkin lo dijadiin simpanan. Lo lihat yang duduk di sana? Dia sugar daddy gue, punya jaringan toko elektronik di mall," bisik Rika dengan wajah bangga.
Jeany melihat seorang pria paruh baya yang tadi dikiranya adalah salah satu anggota keluarga Rika. Sejujurnya ia merasa sedih teman lamanya harus memilih jalan hidup seperti itu.
"Aku pikir-pikir dulu ya, Rik. Nomor HP kamu masih tetap?"
"Masih. Telpon aja. Kapan pun lo butuh gue bisa bantu."
Rika berjalan kembali ke mejanya. Tidak lama kemudian ia meninggalkan restoran tersebut bersama pria paruh baya tadi. Sama sekali tidak tampak adanya hubungan tak wajar di antara mereka.
Jeany langsung menghubungi Kevin. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk mencegah Stevi menjual kesuciannya. Kekasihnya itu tidak mengangkat panggilannya. Dilanda panik, ia lantas menghubungi Randy. Namun pemuda itu memberikan tanggapan yang tidak diharapkannya.
"Lo yakin yang dimaksud memang Stevi? Udahlah gak usah diurusin. Kalo bener Stevi juga kan itu keputusan dia sendiri, risiko dia tanggung sendiri."
"Tapi Stevi temen kita, Ran!"
"Lo gak mungkin bisa kontrol semua temen lo, Jean. Itu pilihan mereka sendiri."
Dengan pikiran tidak karuan Jeany tetap harus melanjutkan pekerjaannya. Ia begitu lega ketika Kevin menelepon balik dirinya. Gadis itu segera menceritakan pertemuannya dengan Rika.
"Kita harus tolongin Stevi, Vin! Tapi kalo itu bukan Stevi gimana?"
"Gapapa. Rika memang harus dihentikan sebelum jatuh korban lain."
Di tempatnya bekerja, Kevin berpikir keras selama beberapa saat. Ia tidak punya pilihan selain meminta bantuan pada papanya yang memiliki kenalan petinggi di kepolisian.
***
Beberapa jam kemudian di kantor polisi, Stevi tidak berhenti menangis. Ia bersyukur polisi datang sebelum ia kehilangan kesuciannya. Gadis itu tidak menghubungi siapa pun, tidak kakak-kakaknya, tidak pula teman-temannya. Bahkan ia melarang Kevin yang tadi meneleponnya untuk datang menemaninya di kantor polisi. Ia tidak punya muka untuk bertemu dengan siapa pun.
Atas campur tangan papa Kevin, Stevi hanya ditetapkan sebagai saksi korban. Setelah menjawab pertanyaan dari penyidik yang memakan waktu cukup lama, gadis itu diperbolehkan pulang. Begitu pula dengan pria yang memesan jasa Stevi.
Lain halnya dengan Rika. Ia langsung ditetapkan sebagai tersangka dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. Gadis itu harus membayar mahal atas perbuatan kejinya melakukan praktik prostitusi. Belakangan diketahui ia juga seorang pemakai dan pengedar narkoba, menambah panjang daftar kejahatan yang dilakukannya.
Beberapa jam sebelum itu, Henny yang mendengar cerita dari suaminya merasa sangat terkejut. Mereka sedang berada di kamar dan berbagi cerita menjelang tidur seperti kebiasaan mereka selama puluhan tahun.
"Jadi Kevin sengaja telpon Papa buat mencegah Stevi yang mau menjual dirinya? Tidak disangka Stevi serendahan itu!" ucap Henny merasa jijik.
"Iya, Ma. Kevin memohon-mohon sama Papa. Untung Papa berteman baik sama Pak Sugeng. Kalau tidak pasti susah menembus hotel mewah seperti itu," ucap Alan menyebut nama Kapolda yang dikenalnya. "Orang yang menjebak Stevi ditangkap tanpa ada keributan di hotel."
"Menjebak apanya? Kan dia sendiri yang mau! Mama heran kenapa anak kita harus kenal dengan perempuan gak bener seperti Stevi dan Jeany!"
Alan hanya diam mendengarkan, tidak ingin istrinya mengomel lebih jauh dan mengungkit lagi kesalahan yang pernah dilakukannya.
***
__ADS_1
Sudah berhari-hari Jeany tidak berjumpa dengan Kevin. Pemuda itu sibuk kuliah di pagi hingga siang hari. Lalu dari siang hingga malam waktunya habis untuk bekerja. Ia terkadang khawatir melihat kekasihnya yang terlalu sibuk. Gadis itu selalu mengirim pesan pada Kevin, mengingatkannya agar tidak lupa makan dan minum obat.
Tidak dapat membendung rasa rindunya, pagi itu Jeany berjalan menuju tempat kos kekasihnya itu. Ia membawakan makanan untuk pemuda itu. Sesampainya di depan kos Kevin, ia melihat pemuda itu berdiri dengan Giselle di samping mobil gadis itu. Giselle tersenyum congkak pada Jeany sebelum masuk ke dalam mobilnya dan pergi.