Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Mulai Ambil Tindakan


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah di distrik Orchard, Singapura, tiga orang perempuan sedang beristirahat setelah seharian menjelajah negeri singa itu. Di antara mereka bertiga, hanya Stevi yang masih menjaga posisi duduknya agar tetap terlihat anggun. Dua orang lainnya lebih memilih posisi duduk yang memberikan kenyamanan bagi tubuh lelah mereka.


"Gempor kaki gue! Untung handphone Stevi ketinggalan, kalo gak bisa-bisa kita masih kelayapan ntah di mana," ucap Sandra sambil memijit-mijit telapak kakinya.


"Lagian lo juga sok pake heels segala. Pake sandal ceper dong kayak gue biar kaki lo gak sakit." Devi membalas ocehan sahabatnya.


"Pikir gue biar cantik gitu, biar kelihatan jenjang kaki gue. Ternyata sama aja ya biar heels mahal tetep aja bikin kaki sakit kalo dipake lama."


Devi hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Sandra. Hatinya sedang dongkol karena harus pulang lebih awal dari jadwal yang direncanakannya semula. Ia melirik ke arah Stevi, si biang kerok yang membuat mereka kini sudah duduk manis di dalam apartemen.


Stevi sedang termenung setelah tadi berbincang cukup lama dengan kekasihnya di telepon. Seharian ia tidak tenang karena meninggalkan ponselnya di apartemen, takut Kevin menghubunginya. Ia sudah mengecewakan kekasihnya itu dengan pergi ke Singapura, karena itu dirinya tidak ingin menambah kekecewaan Kevin dengan tidak memberi kabar. Walaupun tidak mengatakannya, Stevi dapat melihat raut kecewa pada wajah Kevin ketika mengetahui rencananya untuk liburan ke Singapura.


"Girls, kayaknya gue mau balik Jakarta aja," ucap Stevi tiba-tiba.


"What?!" Devi dan Sandra spontan menoleh ke arah Stevi.


"Lo gila? Baru dua hari udah mau balik?" Kekesalan Devi semakin memuncak.


Stevi mengabaikan kata-kata kasar Devi. Ia menatap layar ponselnya tanpa arti. Setelah beberapa saat akhirnya ia bercerita. "Kalian tahu gak? Tadi Kevin bilang Jeany jadi babysitter keponakannya."


"Babysitter? Aduh tuh cewek kok aneh banget sih?" Lagi-lagi Devi berkata sinis. Kombinasi lelah dan dongkol membuatnya bersikap lebih pedas daripada biasanya.


"Dengerin dulu ceritanya sampe selesai dong," tegur Sandra pada Devi. Ia lantas menyuruh Stevi melanjutkan ceritanya.


"Dia lagi butuh uang. Pas kebeneran babysitter yang harusnya masuk kerja gak jadi datang. Trus Kevin tawarin dia buat gantiin tuh babysitter sampe kakak iparnya resign bulan depan."


"Kok kayaknya Jeany tuh bukan orang gak punya deh. Dulu di SMA kan dia bawa mobil." Sandra mengemukakan pendapatnya.


"Tapi beneran lagi susah kayaknya. Gue pernah ke kosnya, bangunan kosnya tuh kurang bagus gitu," jawab Stevi.


"Ya bagus dong Kevin jadiin dia babysitter. Biar dia sadar statusnya tuh gak setara ama keluarga Kevin yang sekarang menggaji dia," kata Devi tanpa belas kasihan.

__ADS_1


"Ya ampun nyebut lo, Dev. Jahat amat ama sesama cewek." Sandra memprotes kekejaman mulut sahabatnya.


"Habisnya modus banget pake kerja ama Kevin. Kayak gak ada kerjaan lain aja. Gue yakin dia cuma pura-pura susah supaya Kevin kasihan ma dia! Supaya dia bisa deketin cowok lo!" Devi berbicara dengan nada provokatif pada Stevi.


"Engga engga, Dev. Dia beneran susah. Dulu dia pernah kerja di club malam."


"What?!" Devi dan Sandra menyahut bersamaan.


"Maksud lo kerja di club malam jadi-"


"Bukan bukan. Dia jadi waitress," potong Stevi cepat-cepat.


"Lo tahu dari mana dia pernah kerja di club malam?" tanya Sandra penasaran.


"Waktu itu gue, Kevin, Randy ama Jeany lagi makan berempat. Randy ngajakin Jeany jalan tapi Jeany bilang dia mo kerja. Trus jadi ngomongin kerja di club gitu. Gue juga kurang ngerti, Jeany gak mau banyak cerita ama gue," jawab Stevi dengan wajah muram.


"Apa gue bilang? Makanya jangan tertipu ama penampilan! Dari luarnya aja alim, gak tahunya pernah kerja di club malam!" Devi mulai mengompori.


Suasana jadi sedikit tegang. Stevi dan Devi sama-sama diam, masing-masing berusaha menurunkan emosi agar tidak menumpahkannya pada orang terdekat.


"Jadi rencana lo selanjutnya gimana, Stev?" Sandra berusaha menjadi penengah, seperti yang selalu dilakukannya selama ini.


"Gue bingung .... Apa menurut kalian gue terlalu pencemburu? Bagaimanapun dia sahabat Kevin ...."


"Ehm .... Kalo menurut gue sih lo lihat dulu aja situasinya gimana. Jangan sampe hubungan kalian rusak gara-gara lo cemburu." Sandra memberi saran.


"Tapi gue gak suka mereka deket, San ...," lirih Stevi.


"Lo tenang aja. Kevin kayaknya bukan tipe cowok player kayak Randy. Di SMA kita dulu kurang cakep gimana coba cewek-ceweknya .... Tapi gak satu pun yang dia deketin. Terus terang gue aja shock waktu dulu Kevin pdkt ama lo."


"Justru itu .... Aneh kan tiba-tiba dia bisa sahabatan ama Jeany?"

__ADS_1


"Ya barangkali betul kata Devi, Kevin kasihan sama dia. Tapi gue penasaran deh. Lo pernah tanya Kevin gak gimana ceritanya dia bisa suka ama lo?"


Stevi menggeleng. "Gue cuma pernah tanya sejak kapan dia suka gue. Katanya sejak kelas 3 SMA."


"Wah wah lama juga ya dia nunggu lo!" Sandra berdecak kagum.


"Ngomong-ngomong soal Randy, tadi lo bilang dia ngajak jalan Jeany?" tanya Devi tiba-tiba. Emosinya seketika menguap setelah mencerna informasi yang tadi sempat diabaikannya.


"Iya. Tapi Jeany nolak," ulang Stevi.


"Kayaknya dia sering ketemu Jeany di club ya. Buktinya dia tahu Jeany pernah kerja di club. Lo gak curiga Kevin juga sering ke club? Secara dia ama Randy kan sahabat sejak SMA. Jangan-jangan dia deket ama Jeany gara-gara sering ketemu di club malam." Devi mulai beramsusi.


"Aduh, Dev .... Please deh jangan bikin gue makin pusing."


"Gue cuma mau lo lebih waspada. Kalo lo lihat gelagat Jeany suka ama cowok lo, lo harus mulai ambil tindakan."


"Iya menurut gue gak ada salahnya juga waspada seperti yang Devi bilang." Sandra menimpali. "Tapi gak usah takut berlebihan juga. Yang penting kan jelas-jelas Kevin cintanya ama lo, mesranya ama lo," imbuhnya lagi.


Mesra? Stevi mendengus dalam hatinya.


Hal paling mesra yang pernah dilakukan Kevin adalah menggenggam tangannya. Bahkan Kevin tidak pernah memanggilnya dengan sebutan "Sayang" seperti yang dilakukannya pada pemuda itu. Stevi semakin bertekad untuk mempererat hubungannya dengan Kevin sekembalinya dari Singapura.


"Makasih ya, Dev, San. Kalian emang sahabat terbaik," ucap Stevi terharu karena kedua sahabatnya selalu tulus mendengarkan curahan hatinya dan menjadikan masalahnya seolah-olah masalah mereka sendiri.


"Iya. Lo gak jadi balik Jakarta kan?" tanya Sandra serius.


"Rugi tau kalo cuma gara-gara tuh cewek liburan kita jadi terganggu. Untung cowok kita gak populer kayak Kevin ya, San. Bisa-bisa gak tenang hidup kita ntar," ledek Devi.


"Sorry deh sorry. Gue baliknya bareng kalian kok. Sekarang kita massage aja gimana? Gue bayarin deh," rayu Stevi agar kedua sahabatnya kembali ceria.


"Aseeekkk .... Habis itu kita makan di Beni aja ya biar deket. Gue lihat review-nya bagus-bagus ...."

__ADS_1


Mereka bertiga mendapatkan kembali semangat liburan yang sempat menghilang karena masalah Stevi. Demi kedua sahabatnya, Stevi berusaha menikmati sisa liburannya yang masih panjang. Ia mengesampingkan kegalauannya untuk sementara waktu.


__ADS_2