
Beep beep beep ...!
"Hiiisshhh ...." Erangan kesal keluar dari bibir Vivian saat ponselnya membunyikan alarm dengan suara mengagetkan. Alih-alih terbangun, ia malah membenahi posisi tidurnya agar lebih nyaman, tidak menghiraukan ponsel yang terus berbunyi.
Akan tetapi suara itu semakin lama semakin mengganggu. Vivian terpaksa bangkit. Dengan gerakan kasar ia mengambil ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjang. Ada dua pilihan yang muncul pada layar ponsel. Tanpa pikir panjang perempuan itu menekan tulisan "snooze", lalu kembali tidur dalam balutan selimut.
Sepuluh menit kemudian alarmnya kembali berbunyi. Vivian menyingkap selimutnya dengan perasaan frustrasi. Rasa-rasanya ia belum puas terpejam. Berbagai terpaan masalah membuatnya sulit tidur beberapa hari belakangan. Jangan lupakan uang seratus juta rupiah yang telah ditransfernya ke rekening Tante Maya.
Ia bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu. Hatinya menjerit tidak rela. Butuh waktu tidak sebentar untuk mengumpulkan uang sebesar itu, di saat kebutuhan hidup keluarga dan biaya kuliah David telah menguras sebagian besar gajinya. Perasaan tidak ikhlas itu semakin menambah beban berat di pikirannya.
Setelah mandi dan memoles wajahnya dengan riasan sederhana, Vivian menghabiskan sarapannya tanpa selera. Tanpa Revan, hidupnya terasa hampa. Ia memandangi kursi kosong di hadapannya sambil menggali ingatan. Kapan terakhir kalinya ia dan Revan menghabiskan waktu di meja makan itu sambil berbincang hangat, membicarakan masalah yang tak begitu penting? Sepertinya sudah lama sekali.
Yang Vivian ingat, ia sering berkeluh-kesah soal pekerjaan. Revan akan mendengarkannya dengan penuh perhatian. Laki-laki itu memang tidak berbuat banyak, hanya duduk diam mendengarkan. Namun itu sudah cukup untuk melegakan perasaan Vivian. Revan selalu bisa membuatnya merasa nyaman.
Sedang apa dia sekarang? tanya Vivian dalam hatinya. Ya Tuhan, ia benar-benar merindukan suaminya itu. Tadinya ia mengira, setelah beberapa hari saling berjauhan Revan akan merasa rindu dan memohon untuk kembali padanya. Nyatanya, justru dirinya yang semakin gundah gulana, siang malam memikirkan laki-laki itu.
Namun segundah apa pun perasaan Vivian saat ini, ada tanggung jawab yang harus ia jalankan sebagai seorang karyawan. Ada sikap disiplin yang harus ia teladankan pada anggota timnya. Setidaknya, totalitas dan dedikasinya dalam bekerja akan meninggalkan nama baik untuknya jika suatu hari ia memutuskan untuk mengundurkan diri.
Mengundurkan diri? Vivian langsung menggeleng cepat. Ia sudah melangkah demikian jauh dalam karirnya. Banyak orang lain memimpikan berada di posisinya saat ini. Lantas mengapa ia yang sudah mendapatkannya malah mau berhenti?
Kenapa Revan nggak pengertian banget! gerutunya kesal. Perempuan itu memutuskan berangkat kerja, mengabaikan tatapan prihatin Supatmi padanya. Saat melihat mobilnya, lagi-lagi ia teringat pada Revan. Berkat suaminya itu ia tidak perlu lagi memanaskan mobil setiap pagi, atau repot-repot membawanya ke bengkel untuk pengecekan rutin. Revan telah menugaskan sopir untuk melakukan itu semua.
Begitu baik sikap Revan padanya. Haruskah ia menuruti saja keinginan suaminya itu? Namun bagaimana dengan kebutuhan hidup keluarganya? Ah, ia jadi gundah lagi. Dengan pikiran gamang, Vivian terus mengemudikan kendaraannya menuju tempat kerja. Saat melewati bangunan kantor milik Revan, ia sesaat tergoda untuk membelokkan mobilnya ke sana. Akan tetapi bayangan dua orang petugas keamanan di pintu masuk gedung yang dulu menghadangnya membuat Vivian mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
Di kantor, segala sesuatu juga tidak berjalan lancar. Seharian perutnya terasa tidak nyaman, seperti sedang diremas. Ia tidak sengaja menumpahkan sedikit kopinya ke baju saat minum. Doni, salah seorang Relationship Manager, juga belum mencapai target bulan itu.
"Don, gimana masalah sertifikat PT X yang kata bagian Legal tumpang tindih? Udah kamu tanyakan?" tanya Vivian begitu Doni kembali dari kegiatannya melakukan kunjungan ke beberapa debitur.
Doni terlihat kaget, seperti baru teringat sesuatu. "Su-sudah saya sampaikan ke Pak Chandra, Bu. Katanya mau ditanyakan ke Pertanahan."
"Gimana sih kamu? Ini sudah berapa hari? Kenapa nggak di-follow up lagi?" kata Vivian dengan suara meninggi. "Kamu harus punya inisiatif dong. Bulan ini kamu masih zero booking lho. Besok tanyakan lagi, orang Pertanahan mau melakukan pemetaan ulang apa gimana."
"Iya, Bu," jawab Doni tertunduk.
Suara lesu Doni membuat Vivian menyadari kesalahannya. Seharusnya ia memberi anggota timnya itu motivasi, bukan malah menjatuhkan mentalnya. Seharusnya ia bersikap sebagai seorang pembimbing, bukan sebagai atasan yang hanya tahu menuntut. Pekerjaan Doni sangat banyak, wajar bila ada beberapa hal yang terlupa olehnya. Vivian sebagai ketua tim yang berkewajiban mengingatkannya.
Untuk menenangkan diri, perempuan itu pergi ke toilet, mengganti pakaiannya yang bernoda kopi dengan pakaian cadangan yang memang selalu tersedia di lemari kantor. Namun, hari itu seperti telah ditakdirkan menjadi hari buruk baginya. Ia mendapati dirinya datang bulan.
Biasanya Vivian akan uring-uringan jika tamu bulanannya terlambat datang. Kini sebaliknya, rasa kecewa bercampur sedih tengah merongrong batinnya. Kenapa ia harus datang bulan di saat dirinya telah benar-benar menginginkan kehadiran seorang anak?
Saat ia tiba di rumah, Supatmi, sang asisten rumah tangga melihat kedatangannya dengan terkejut. "Nyonya kenapa? Sakit ya? Apa mau dipanggilkan dokter?" tanyanya cemas setelah melihat wajah pucat majikannya itu.
"Kayak biasanya, Mbak. Nggak usah panggil dokter, saya mau langsung tidur aja."
Vivian berjalan ke kamarnya. Ia masih sempat membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya sebelum merebahkan diri di ranjang. Rasa nyeri di perutnya sangat terasa, tetapi rasa kantuknya juga tak kalah hebat. Ia tertidur sambil teringat pada Revan, yang biasanya akan melakukan apa saja untuk membantu meringankan rasa nyeri di perutnya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu saat Vivian membuka matanya. Rasa nyeri itu masih ada. Tanpa sadar ia merintih dalam gelapnya kamar.
__ADS_1
"Perut kamu masih sakit?"
Sebuah suara maskulin mengagetkan Vivian. Suara Revan, pikirnya nyaris tak percaya. Ia pasti begitu merindukan laki-laki itu sampai memimpikannya seperti ini.
Vivian yang mengira dirinya sedang bermimpi terkesiap saat sebuah tangan menyingkap baju tidurnya dan sedikit menurunkan celana yang ia kenakan. Sebelum sempat mengeluarkan protes, ia merasakan kenyamanan luar biasa dari botol berisi air hangat yang ditempelkan pada perutnya.
Kini ia yakin tidak sedang bermimpi. "Rev?" panggilnya pada laki-laki yang sedang memberinya kenyamanan itu.
"Feeling better?" Laki-laki itu balik bertanya.
"Ya." Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Vivian sehingga ia tidak mengucapkan kata-kata yang ada di benaknya.
Tangan Revan yang satu lagi memberi pijatan lembut pada area perut Vivian. Kini Vivian benar-benar ingin menangis. "Ini kamu beneran pulang kan, Rev?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Aku cuma pulang buat ambil beberapa dokumen."
"Dokumen apa?"
"Untuk mengurus perceraian kita."
"Sialan kamu!" bentak Vivian sambil menyingkirkan segala kenyamanan yang baru saja ia rasakan.
Terdengar suara Revan menghela napas. Tidak lama kemudian ruangan itu menjadi terang karena Revan menyalakan lampu kamar. Laki-laki itu menatap wajah sang istri. Ada sesuatu pada sorot matanya yang membuat jantung Vivian berdegup kencang.
__ADS_1
"Aku masih peduli sama kamu, Vi. Tapi aku juga butuh untuk dihargai sebagai seorang suami. Kalau kamu benar-benar mau mempertahankan rumah tangga kita, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi Teman-teman yang merayakan ya. Mohon maaf lahir batin.