Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 14 - Yang Penting Aku dan Kamu Bahagia


__ADS_3

Revan tertegun melihat Vivian yang menangis untuk kedua kalinya malam itu. Percaya atau tidak, selama sembilan tahun menjalin hubungan dengan Vivian, belum pernah sekalipun ia melihat perempuan itu meneteskan air mata. Hati Vivian bagaikan terbuat dari batu intan yang keras dan tidak mudah tergores.


Namun kini batu intan itu seolah kehilangan ketegarannya. Hal itu menimbulkan penyesalan dalam batin Revan. Seandainya ia lebih bijak dan tidak gegabah melontarkan ajakan bercerai, istrinya tidak akan merasa terluka hingga menangis tersedu-sedu seperti sekarang.


Tanpa pikir panjang ia segera memeluk tubuh Vivian, berharap perempuan itu mendapatkan rasa nyaman dari tubuh mereka yang merapat. Kata maaf baru saja akan terucap dari bibirnya ketika tiba-tiba ia mendengar kalimat tak terduga.


"Kamu terlalu baik, Rev. Aku merasa nggak pantas jadi istri kamu."


"Kenapa bilang begitu?" tanya Revan terkejut. "Nggak ada yang pantas jadi istriku selain kamu."


"Sikapku selama ini buruk banget sebagai istri."


"Aku juga bukan suami yang sempurna."


Revan memeluk Vivian lebih erat. Perempuan itu memejamkan matanya dan menikmati kehangatan yang ia rasakan dari dekapan itu. Dengan wajah melekat di dada suaminya, ia mencurahkan isi hati yang selama ini tersimpan rapat.

__ADS_1


"Selama ini aku berusaha keras untuk punya karir yang cemerlang, supaya orang tua kamu nggak malu memperkenalkan aku sebagai menantu. Karena kamu tahu keluargaku—" Vivian berhenti sejenak untuk mencari kata-kata yang tepat. "Nggak ada yang istimewa dari keluargaku."


Itu adalah pengakuan mengejutkan bagi Revan. Sebelum ini, ia menganggap Vivian adalah perempuan yang ambisius mengejar karir hingga rela mengorbankan waktu untuk keluarga. Selama ini ia mengira istrinya yang punya harga diri tinggi itu menolak segala fasilitas darinya karena tidak ingin dianggap mata duitan oleh orang lain. Ia sama sekali tidak berpikir itu semua Vivian lakukan karena merasa rendah diri berhadapan dengan keluarganya yang kaya raya.


"Itu cuma perasaanmu aja. Orang tuaku nggak pernah mempermasalahkan latar belakang keluargamu."


"Kalau bukan karena omamu, mungkin kita nggak akan bisa menikah. Waktu itu orang tuamu nggak merestui."


"Mereka cuma kecewa karena aku menolak perjodohan yang sudah diatur sejak lama, sama sekali nggak ada hubungannya sama keluargamu."


Nada putus asa dalam suara Vivian membuat Revan melepas pelukan. Kedua tangannya memegang pipi istrinya dan mengangkat wajah yang terlihat muram itu agar memandangnya. "Kenapa kamu jadi pesimis begini? Ke mana Vivian yang selalu penuh semangat dan nggak peduli apa kata orang?"


Vivian menatap balik suaminya dengan sorot mata sedih. "Nggak tahu kenapa, kalau menyangkut keluargamu aku nggak bisa cuek."


"Karena kamu overthinking. Vi, rumah tangga ini kita yang menjalani. Nggak usah memikirkan pendapat orang lain. Yang penting aku dan kamu bahagia."

__ADS_1


Vivian sangat ingin menyangkal saat Revan menyebutnya terlalu banyak berpikir. Namun ia memilih tetap diam. Hubungan mereka belum sepenuhnya membaik. Jika terus saling membantah, bisa-bisa pernikahan mereka benar-benar akan berakhir.


Demi mempertahankan ikatan suci mereka, ia akan belajar untuk tidak terlalu memedulikan sikap keluarga Revan kepadanya. "Ya." Ia memberi suaminya tatapan lembut. "Yang penting aku dan kamu bahagia."


Revan dan Vivian saling tersenyum. Lalu, entah siapa yang memulai, bibir keduanya menyatu, saling memagut dalam kerinduan yang sama. Hasrat dan kerinduan yang terpendam selama berhari-hari mereka luapkan dalam ciuman itu. Karena merasa belum puas dengan posisi mereka, Revan membaringkan tubuh Vivian di atas sofa dan kembali mencumbu istrinya itu tanpa jeda.


Lidah yang menggelitik lehernya dan tangan yang bergerak liar di dadanya membuat tubuh Vivian memanas. Ia membalas dengan menyesap dan menggigit pelan leher Revan, mengirim sensasi yang luar biasa ke sekujur tubuh laki-laki itu.


Dengan tidak sabar Revan menyingkap rok yang Vivian kenakan. Gairah yang meletup-letup dalam dirinya harus segera dituntaskan. Namun apa yang ia lihat membuatnya membeku di tempat.


"Kamu masih datang bulan?" Laki-laki itu bertanya dengan wajah terpukul.


Mata Vivian membelalak. "Astaga! Aku lupa!"


Revan terdiam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Hanya deru napasnya yang terdengar. Vivian sadar akan penderitaan yang tengah suaminya alami. Perempuan itu segera bangkit. Ia menuntun tubuh sang suami agar duduk di sofa, menggantikan dirinya yang tadi berbaring di sana.

__ADS_1


"Malam ini biar aku yang memanjakan kamu," ucapnya dengan senyum menggoda, lalu berjongkok di depan sang suami. Malam itu Vivian benar-benar membuat Revan bahagia.


__ADS_2