Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Temani Aku Nonton


__ADS_3

Kevin berusaha mencari Jeany untuk memberi penjelasan. Namun sepanjang ia memandang, gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya ia berjalan menuju tempat parkir mobil karena menduga gadis itu pulang ke rumah kosnya. Lebih baik menjelaskan di sana saja, pikirnya.


Sementara itu, Jeany berjalan pulang dengan sangat cepat. Ia sengaja menghindar dari kejaran Kevin. Bukan karena marah, melainkan karena merasa malu telah bereaksi secara berlebihan terhadap kata-kata Kevin. Kalau tahu begini lebih baik tadi tidak usah pergi ke kampus saja, sesalnya. Gara-gara ingin mengembalikan buku teks yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus, ia jadi mendengar hal yang tidak ingin didengarnya.


Jeany tahu tidak seharusnya ia marah, karena Kevin hanya mengatakan fakta yang ada. Ia sendiri sudah sering mendengarnya. Kaku, tidak asyik, membosankan. Label itu telah disematkan padanya bahkan sejak sekolah menengah, dan ia sudah menerima kekurangan dirinya yang tidak pandai bergaul.


Padahal ia bisa berpura-pura tidak mendengar. Entah apa yang membuat Jeany tidak bisa menahan diri, seolah-olah sebagian dari dirinya ingin Kevin tahu bahwa ia merasa terluka karena perkataan pemuda yang memaksa menjadi sahabatnya itu.


Setelah tiba di kos, Jeany masuk ke kamarnya dan langsung membaringkan diri di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia sungguh merasa malu. Terlebih lagi, kejadian tadi disaksikan oleh Randy. Ia tadi dapat mendengar suara tertawa Randy dan hal tersebut memperkeruh suasana hatinya.


Suara nada dering ponsel menyadarkan Jeany yang hampir terlelap di tengah lamunannya. Ia ragu sejenak sebelum mengangkat ponselnya, karena nama Kevinlah yang muncul sebagai pemanggil.


"Halo, Vin."


"Halo, Jean. Lo ada di kos?"


"Vin, gue minta maaf soal tadi. Anggap gue gak pernah ngomong." Jeany langsung bicara pada inti permasalahan.


"Keluar sekarang. Gue ada di depan kos lo."


Entah mengapa Jeany merasa nada bicara Kevin kali ini agak berbeda. Biasanya laki-laki itu selalu berbicara dengan hangat, tetapi kalimat terakhirnya tadi membuat Jeany merasa sedikit takut. Tidak ingin membuat Kevin menunggu lama, ia bergegas keluar membukakan pagar untuk pemuda itu.


"Jean, gue gak pernah menganggap lo kaku dan gak asyik. Tadi gue bicara begitu supaya Randy gak ngedeketin lo," jelas Kevin pada Jeany setelah mereka duduk di teras rumah kos.


Jeany menggeleng. "Lo cuma bicara kenyataan. Gak seharusnya gue tersinggung."


"Jeany, dengar!" Karena panik, Kevin tanpa sadar meninggikan suara. Ia sejenak mengambil napas dan menghembuskannya, lalu berucap lembut, "gue cuma mau melindungi lo dari Randy."


"Karena?"

__ADS_1


"Karena dia itu playboy. Dia gak pernah serius sama perempuan."


"Maksud lo serius sama perempuan itu yang bagaimana?"


"Seperti gue terhadap Stevi."


Tiba-tiba Jeany merasakan suatu perasaan aneh yang tidak dapat dijelaskannya. Seolah-olah jantungnya diremas oleh tangan tak kasat mata.


"Lo percaya ama gue kan?" Kevin ingin memastikan karena dilihatnya gadis itu hanya terdiam.


Jeany ingin tertawa. Mana mungkin ia mempercayai Kevin? Gadis itu yakin di alam bawah sadar Kevin, pemuda itu memang menganggap Jeany seperti apa yang dikatakannya pada Randy tadi. Kalau tidak, tidak mungkin kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya.


"Gue gak percaya. Tapi gue tahu lo gak bermaksud buruk. Sebaiknya kita lupakan aja masalah ini." Jeany memang tidak pernah berpura-pura dengan perkataannya. Kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menyatakan isi hatinya yang sebenarnya.


Kevin menghela napas. Ia tidak bisa membantah Jeany. Sejujurnya ia juga tidak yakin seperti apa pandangannya terhadap gadis itu karena ia memang tidak pernah memikirkan Jeany. Sebelum malam itu, ia tidak pernah menganggap gadis itu penting.


Tunggu. Apa ini artinya sekarang dia penting bagi gue? Engga engga. Gue hanya ingin menghilangkan perasaan bersalah. Itu aja. Kevin membatin berusaha memantapkan hatinya.


"Bangunan tua jadi kurang peminat."


Kevin mengamati rumah kos Jeany. Memang benar bangunan tersebut tampak tua dan kurang terawat dengan cat mengelupas di hampir semua permukaan dinding. Taman di halaman depan dipenuhi rumput liar. Plafon teras pun tampak koyak bekas terkena bocornya air hujan.


"Tapi lo betah di sini?" tanya Kevin yang merasa aneh karena Jeany mau tinggal di tempat seperti itu. Ia sendiri tidak yakin bisa tinggal di situ.


"Sewa kosnya murah," jawab Jeany apa adanya. Gadis itu mengatakannya seolah-olah hal tersebut adalah hal biasa baginya, tetapi Kevin dapat melihat perubahan pada raut wajah Jeany.


"Eh, gimana kalo lo temenin gue nonton? Gue yang traktir. Dari kemaren pengen banget nonton tapi gak ada yang temenin," ajak Kevin yang tiba-tiba teringat saran Randy untuk mengajak Jeany, setelah dilihatnya wajah gadis itu berubah sendu.


Jeany kaget Kevin mengajaknya nonton. Belum pernah ada laki-laki yang mengajaknya jalan sebelum ini. Selain karena tak pandai bergaul, Jeany juga tidak pernah memberi harapan pada sedikit laki-laki yang mendekatinya walau sebatas membalas pesan percakapan. Baginya itu sama saja dengan mempermainkan perasaan mereka.

__ADS_1


Namun Jeany sendiri tak mengerti mengapa kini ia seolah memberi kesempatan pada Kevin untuk mendekatinya.


Sebagai sahabat. Iya sebagai sahabat.


Dua kata itu terus Jeany tanamkan dalam benaknya. Ia memperhatikan Kevin sejenak. Pemuda itu terlihat baik dan tidak berpura-pura padanya. Tidak ada salahnya pergi nonton berdua sebagai sahabat. Akan tetapi hal tersebut tidak boleh sampai mengganggu hubungan Kevin dengan sang kekasih.


"Gue sungguhan boleh pergi nonton sama lo?" tanyanya pada Kevin.


Pemuda itu memberi tatapan tak mengerti. "Kenapa gak boleh?"


"Lo udah bilang Stevi?"


"Belum sih, tapi gue yakin dia gak keberatan. Dia tahu lo sahabat gue."


"Sebaiknya lo bilang dulu. Gue gak mau ada kesalahpahaman."


Kevin merasa saran Jeany ada benarnya. Ia pun menghubungi ponsel Stevi. Ia melakukan tiga kali panggilan tetapi Stevi tidak mengangkatnya. Akhirnya Kevin mengirim pesan Whatsapp pada kekasihnya itu.


"Gue udah WA dia. Yuk pergi," ajak Kevin tak sabar karena akhirnya keinginannya menonton film favorit terwujud juga. Ia lupa bahwa sebenarnya tujuan awalnya adalah untuk menghibur Jeany.


"Tunggu, gue ambil tas dulu."


Jeany tidak kalah bersemangatnya dengan Kevin. Ia sangat suka nonton. Entah kapan terakhir kalinya ia pergi ke bioskop. Keterbatasan ekonomi membuatnya harus memberi batasan jelas antara kebutuhan dengan keinginan. Namun Jeany bukan perempuan yang suka berpura-pura. Ia tidak akan mengatakan tidak ingin, bila sebenarnya menginginkan. Kali ini ada kesempatan nonton gratis, tentu saja ia tidak boleh menyia-nyiakannya.


Kedua kalinya Jeany duduk di mobil Kevin, belum banyak yang bisa mereka bicarakan. Sahabat masih sebatas status. Mereka tetaplah dua orang asing yang seolah dipaksa untuk saling mengenal karena sesuatu yang terjadi di luar kehendak mereka. Diam-diam gadis itu mencuri pandang pada Kevin.


Sosok Kevin yang sedang berkonsentrasi menyetir terlihat begitu menawan. Wajah Kevin termasuk mulus untuk ukuran laki-laki. Seolah tahu sedang diperhatikan, pemuda itu menoleh pada Jeany. Ia tersenyum melihat Jeany yang langsung memalingkan wajahnya.


"Jangan ngelihatin gue terus, ntar lo jatuh cinta."

__ADS_1


"Ge-er!"


Kevin tertawa mendengar jawaban ketus Jeany. Ia memang hanya bercanda, sama sekali tidak berpikir gadis kaku itu suatu hari akan jatuh hati padanya.


__ADS_2