Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 18 - Sering Berbohong?


__ADS_3

"Rev?" Vivian memegang pundak laki-laki itu. Ia tertegun ketika laki-laki itu menoleh.


"Kak Vivi?"


Setelah melihat wajah laki-laki itu, Vivian kehilangan kata-kata. Lama tidak bertemu membuatnya lupa bahwa Revan memiliki adik yang mirip dengannya. Devan Halim, satu-satunya adik Revan itu usianya hanya dua tahun di bawah kakaknya.


Dalam hal pendidikan pun Devan mengikuti jejak kakaknya. Ia kuliah di Amerika, di universitas yang sama dan mengambil jurusan yang sama dengan Revan.


Revan dan Devan masing-masing diserahi tanggung jawab sebuah perusahaan. Jika Revan memegang posisi direktur di kantor pusat Surabaya, maka Devan menempati cabang Jakarta yang masih berada di bawah kendali kantor pusat.


Adik iparnya itu memandanginya dengan wajah penasaran. "Kak Vivi nggak tahu kalau Kak Revan ke Jakarta?"


"Tahu kok." Vivian tertawa karena merasa kejadian barusan sangat konyol. "Tadi Kakak sempat ngira kakak kamu bohong soal ke Jakarta. Habis kalian dari belakang mirip banget."

__ADS_1


Perjumpaan dengan Devan mengurangi ketegangan yang Vivian rasakan. Walau mereka tidak akrab, Devan selalu bersikap ramah padanya. Setidaknya masih ada anggota keluarga Revan yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


"Once a liar always a liar." Devan mengakhiri kalimatnya dengan derai tawa.


Siapa saja yang melihat wajah Devan pasti tahu laki-laki itu sedang bercanda. Namun bukannya ikut tertawa, Vivian merasa wajahnya mendadak kaku. Kata-kata Devan membuatnya berpikir. Benarkah Revan sering membohonginya?


"Ternyata Pak Devan sudah kenal dengan Bu Vivian." Johanna menyapa Devan dengan gaya akrab.


"Iya, Jo. Bu Vivian ini istrinya Pak Revan. Masak kamu nggak tahu?"


"Nggak apa-apa." Vivian memaksakan senyum untuk menyembunyikan perasaan terlukanya.


"Kak Vivi ke sini mau ketemu Papa?" Devan tampak terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


"Iya. Lebih baik Kakak ke sana sekarang biar Papa nggak kelamaan nunggu."


"Kalau gitu kita bareng aja. Kebetulan aku juga mau kasih laporan ke Papa." Devan menunjukkan map yang sedang ia pegang.


Mereka bertiga naik lift yang sama. Di lantai enam, Johanna membukakan pintu ruangan papa Revan. Setelah mempersilakan Vivian dan Devan masuk, sekretaris itu keluar dari ruangan dan menutup pintu.


Suhu dingin langsung menerpa Vivian begitu ia memasuki ruang kerja papa Revan. Selain pendingin udara, Vivian yakin sikap kedua mertuanya juga menjadi penyebab ia hampir menggigil saat ini. Ia melihat David duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan dengan wajah muram, tidak berani memandang dirinya.


Kendati tidak mendapat sambutan hangat, Vivian tahu ia tetap harus menjaga etika. "Pa, Ma, apa kabar?" ucapnya menyapa kedua mertua yang sedang memberinya tatapan dingin.


Papa Revan menjawab sambil menunjuk ke arah David. "Baik. Kamu bisa duduk di sana."


Vivian menurutinya. Setelah duduk, ia mendengar David berbisik. "Kak?" Perempuan itu menggeleng sebagai isyarat agar adiknya berhenti bicara.

__ADS_1


Pada saat itu ia melihat Devan berjalan mendekati kedua orang tuanya. "Pa, Ma. Aku sudah dapat tanda tangan kontrak dengan Vanessa Wong," ucapnya bersemangat. Laki-laki muda itu menyerahkan sebuah map berwarna biru tua pada papanya.


Perdana Halim membuka map dan membacanya dengan saksama. Setelah itu ia berbicara dengan wajah puas dan bangga. "Revan sudah mengurusnya dengan baik. Kalau tidak ada kakak kamu mungkin Vanessa tidak bersedia jadi brand ambassador Halim Food."


__ADS_2