Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Beberapa Hari Lagi


__ADS_3

Stevi membuka matanya setelah tertidur cukup lama. Saat itu juga dirasakannya pandangannya berputar. Ia memejamkan matanya kembali, mencoba mengingat mengapa dirinya bisa berada di tempatnya terbaring saat ini.


"Stev, gimana keadaan kamu sekarang? Perlu aku panggilin suster?"


Suara seorang pemuda yang amat dikenalnya membuatnya terkejut. Kenapa justru pemuda itu yang menemaninya di sana, bukan sang mama?


"Udah baikan. Mama aku mana?"


"Mama kamu pulang karena ada urusan, jadi minta tolong aku jaga di sini. Tadi malam kakak kamu juga datang tapi udah pulang lagi."


"Oh." Stevi sedang tidak ingin banyak bicara karena kepalanya masih pusing.


Berarti Kevin dari tadi malam nungguin aku ..., batinnya, merasa sedikit terhibur karena pemuda itu masih peduli padanya.


"Makan dulu ya, Stev? Biar bisa minum obatnya," bujuk Kevin seraya mengambil nampan makanan yang tadi diantar oleh perawat.


Stevi menurut. Ia pun ingin segera pulang agar tidak lagi merepotkan semua orang. Gadis itu melihat ruangan tempatnya dirawat, ruang VIP. Stevi bertanya-tanya dari mana mamanya mendapatkan dana untuk membayar biaya perawatannya. Ia menyesal karena lagi-lagi telah menyusahkan sang mama.


Baru satu suap makanan yang ditelan, Stevi sudah memejamkan matanya lagi karena pusing yang dirasakannya. Kevin akhirnya membantu menyuapinya. Pemuda itu bernapas lega setelah melihat Stevi masih memiliki semangat untuk pulih.


Tadi malam pemuda itu sempat berpikiran sangat buruk, ia sangat takut gadis itu berbuat nekat akibat keegoisannya yang memutus hubungan mereka secara sepihak. Beruntung setibanya ia di rumah sakit, kondisi Stevi telah stabil dan telah dipindah ke ruang rawat inap. Jika tidak, rasa bersalah akan terus menghantuinya seumur hidup, lebih besar dari rasa bersalahnya karena telah merenggut kesucian Jeany.


"Sorry bikin kamu repot," ucap Stevi dengan suara yang masih terdengar lemas.


"Gak kok, lagian ini salahku juga kamu jadi kayak gini," jawab Kevin membuat Stevi merasakan kembali kesedihan yang sama dengan hari sebelumnya ketika pemuda itu mengakhiri hubungan mereka.


Gadis itu tidak mampu menghabiskan makanannya, tetapi paling tidak perutnya sudah terisi dan ia baru saja meminum obatnya. Satu hal yang kini membuat Kevin saat ini gelisah adalah karena ia belum memberi kabar pada Jeany. Ponselnya mati akibat habis daya. Ia teringat semalam meninggalkan Jeany begitu saja karena pikirannya sedang sangat kacau dan panik. Kini ia tidak sabar menunggu mama Stevi kembali agar dapat segera pulang dan bertemu dengan Jeany.


"Selamat pagi."


Seorang dokter beserta perawat masuk untuk memeriksa Stevi. Kevin melihat perawat tersebut juga memeriksa infus dan mengambil darah Stevi.


"Tekanan darahnya bagus dan sudah tidak muntah ya. Ada keluhan lain?"


"Cuma pusing, Dok."


"Kita lihat hasil tes darahnya dulu ya, kalau bagus dan sudah tidak ada keluhan maka besok sudah boleh pulang," ucap dokter tersebut ramah.


"Terima kasih, Dok."


Kevin mengantar dokter tersebut hingga ke depan pintu. Ia ingin memastikan lagi kondisi Stevi pada dokter tersebut.


"Jadi Stevi benar sudah gapapa, Dok?"


"Iya, untung kondisi keracunannya tidak parah sehingga hanya menimbulkan gejala pusing dan mual muntah. Adik ini pacarnya pasien?" tanya dokter tersebut setelah memperhatikan Kevin lebih seksama.


"Em ... iya."


"Oh pasien lebih sering diperhatikan saja. Dari penuturannya pasien tidak sengaja minum obat tidur terlalu banyak karena tidak tahu efek sampingnya. Tadi malam saya juga sudah bicara dengan ibunya, jika ada indikasi depresi sebaiknya segera diajak berkonsultasi pada psikiater supaya bisa mendapat pendampingan dari ahlinya."


"Baik, Dok, terima kasih ya."


Tidak sengaja? pikir Kevin sedikit tak percaya. Ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Stevi, agar tahu langkah apa yang harus diambilnya kemudian.

__ADS_1


"Stev, aku boleh tanya gak?" ucapnya hati-hati.


"Tanya aja."


"Kamu sejak kapan minum obat tidur?"


"Sejak sulit tidur."


"Maksud aku, udah lama? Kok aku gak tahu?"


"Kamu kan sibuk urusin Jeany, gimana mau tahu?"


Jawaban Stevi menancap tepat ke sasaran. Kevin memaklumi sikap ketus gadis itu. Memang dirinya yang bersalah.


"Lalu tadi malam kamu kok bisa minum terlalu banyak obat tidur?"


Stevi tersenyum sinis. "Kenapa? Kamu takut aku bunuh diri? Mungkin sebaiknya begitu ya supaya kamu gak bisa bahagia sama Jeany."


"Aku tahu aku salah dan aku udah merasa sangat buruk karenanya. Tapi tolong jangan lakukan hal yang merugikan diri kamu lagi," pinta Kevin sungguh-sungguh.


Gadis itu menatapnya datar. "Tenang aja aku gak sebodoh itu."


Stevi memang tidak berniat bunuh diri. Walau akhir-akhir ini timbul keinginan untuk menghilang dari dunia, ia tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menghilangkan nyawanya sendiri. Lagipula ia tidak tega membayangkan mama yang amat disayanginya harus bersedih bila ia tiada. Tadi malam ia hanya ingin cepat tertidur dengan menenggak obat tidur lebih banyak dari biasanya, tanpa memikirkan efek lanjutan yang akan diterimanya.


Gadis itu memperhatikan Kevin yang masih terlihat memesona di matanya. Pemuda itu juga sedang melihat dirinya sehingga kini keduanya saling berpandangan.


Seandainya gak ada Jeany yang mengganggu hubungan kami, pikirnya sedih.


"Iya aku sadar." Kevin menundukkan kepalanya.


"Ini gak adil buat aku."


"Maaf," jawab Kevin masih tertunduk.


"Setelah reuni .... Kita putus setelah reuni."


Kevin mengangkat wajahnya. Ia bertemu pandang dengan sepasang mata yang menunjukkan keteguhan, kontras dengan wajah sendu pemiliknya.


"Putus sekarang atau nanti gak ada bedanya, Stev." Walau terdengar menyakitkan, Kevin tidak ingin memberi harapan palsu yang nantinya justru akan lebih melukai Stevi.


"Seenggaknya beri aku muka .... Aku udah bilang ke teman-teman bakal ke sana sama kamu, aku udah siapin semuanya. Tiba-tiba kamu putusin aku dan semua hancur berantakan! Kamu dan Jeany udah selingkuh di belakangku, apa kalian gak bisa sabar menunggu beberapa hari lagi?"


Kevin menelan ludahnya, merasa berada pada posisi yang sangat sulit.


"Stev, kamu harus tahu semua ini salahku, bukan salah Jeany. Aku yang udah berbuat kesalahan. Kita masih bisa pergi ke reuni sebagai teman."


"Aku udah bilang kamu itu pacarku!! Gimana ceritanya teman pakai baju couple!! Kalo Jeany itu cewek bener dia pasti gak akan mau sama cowoknya orang!! Terserah kamu mau putus setelah reuni atau gak usah putus sama sekali!!!" Stevi mulai emosional lagi, napasnya tersengal-sengal.


"Oke oke, kita putus setelah reuni. Sekarang kamu tenang dulu ya," ucap Kevin cepat-cepat, takut kondisi Stevi akan memburuk bila mereka terus berselisih.


Mereka berdua saling diam hingga waktunya makan siang. Gadis itu sudah tidak terlalu pusing sehingga dapat makan tanpa perlu dibantu oleh Kevin. Ia tidak memedulikan lagi penampilannya di depan Kevin, tidak ada keinginannya walau sekadar untuk mencuci wajah. Percuma, pikirnya, pemuda itu tetap akan meninggalkannya demi perempuan lain.


Mama Stevi datang dan membawakan makan siang untuk Kevin.

__ADS_1


"Nak Kevin, terima kasih sekali ya sudah membantu saya menjaga Stevi. Soalnya saya harus cepat-cepat menyelesaikan pindahan sebelum ke Malaysia. Sepertinya besok saya harus merepotkan kamu lagi," ucap Vira merasa sungkan pada Kevin.


"Gapapa, Tante, besok saya akan datang lagi."


"Tante bersyukur sekali Stevi punya pacar sebaik kamu. Ayo dimakan dulu sebelum pulang."


Kevin hanya meringis mendengar ucapan mama Stevi. Sedangkan gadis itu tetap melanjutkan makannya, walau Kevin sempat melihatnya tersenyum sinis. Pemuda itu cepat-cepat menghabiskan makanannya dan berpamitan pulang.


Di rumahnya, Kevin disambut oleh sang mama yang telah pulang dari Hong Kong. Mama Kevin telah mendengar kabar soal kekasih putranya itu dari menantunya.


"Gimana keadaan pacar kamu, Nak?"


"Udah baikan, Ma. Mungkin besok bisa pulang."


"Syukurlah. Kalo sudah sehat cepat dikenalkan ke papa mama. Oh iya pacar kamu sakit apa, Nak?"


"Oh i-itu sakit maag, Ma .... Sampai mual muntah parah makanya dirawat inap," jawab Kevin berdusta. Tidak mungkin ia mengatakan Stevi overdosis obat tidur, bisa-bisa mamanya akan berpikiran yang tidak-tidak.


Namun jawaban bohong Kevin itu menimbulkan pemikiran lain di benak Henny. Ia menatap Kevin penuh arti. "Mual muntahnya beneran karena maag kan? Kamu jangan bikin hamil anak orang sebelum sah menikah loh ya."


"Ya ampun Mama ada-ada aja deh. Aku naik dulu mau bersih-bersih," jawab Kevin jengkel.


Kevin hanya beralasan saja. Sebenarnya ia ingin segera menemui Jeany dan memberi penjelasan. Gadis yang dicarinya itu terlihat sedang berdiri di balkon kamar, menikmati hembusan angin sembari menunggu bayi yang dijaganya bangun dari tidur siangnya. Pemuda itu berjalan perlahan hingga berdiri tepat di samping Jeany. Rupanya gadis itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari kedatangan Kevin.


CUP!


Secepat kilat Kevin mengecup pipi Jeany, membuat gadis itu menoleh terkejut.


"Pasti lagi mikirin aku ya?" tebak Kevin sambil tersenyum.


"Gak, aku mikirin Randy."


"Berani kamu?" Kevin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang kekasih.


Jeany sedikit bergeser. "Ih udah udah," elaknya. "Gimana Stevi? Kenapa kamu semalam gak pulang? Kenapa gak kasih kabar? Aku cemas tahu semalaman ...."


Kevin tertawa melihat Jeany yang tiba-tiba jadi cerewet. Tapi sesaat kemudian raut wajahnya berubah serius. Ia menceritakan semua yang dialami Stevi pada Jeany. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya, sebagai reaksi atas keterkejutan dan rasa simpatinya pada rival cintanya itu.


"Kasihan banget Stevi, Vin .... Ki-kita harus gimana?" ucapnya diselimuti rasa bersalah.


"Sebenarnya Stevi tadi minta sesuatu."


"Apa itu?"


"Dia minta putusnya ditunda jadi setelah reuni, katanya supaya gak malu karna udah telanjur bilang ke temen-temen kalo dia mau datang sama aku. Kamu gapapa kan? Sabar beberapa hari lagi ya?" Kevin berbicara sambil meremas jemari Jeany yang tiba-tiba terasa kaku di genggamannya.


"Setelah itu kalian beneran putus?"


"Iya."


Jeany lalu mengangguk, walau terasa berat baginya membiarkan Kevin kembali berstatus sebagai pacar perempuan lain. Namun sebagai sesama perempuan, ia paham betul perasaan terluka Stevi akibat pengkhianatan Kevin, dan ia turut andil di dalamnya.


Sabar, Jeany. Tinggal beberapa hari lagi ....

__ADS_1


__ADS_2