Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Ada Syaratnya


__ADS_3

Hari itu ruangan tempat Kevin dirawat sedikit ramai karena kedatangan adik dari papanya. Di antara semua saudara sang papa, tantenya yang bernama Anita itulah yang memiliki hubungan paling dekat dengan keluarga Kevin. Anita datang bersama putra tertuanya.


"Halo, bagaimana kabar keponakan tante? Kamu kok bisa sampai tabrakan lho, Vin? Mamamu yang gak suka rumah sakit ini jadi ke rumah sakit terus." Anita tidak sungkan menertawakan kakak iparnya.


"Terus saja tertawa. Kamu gak tahu begitu dengar kabar Kevin kecelakaan langsung mulas-mulas perutku! Untung anakku ini gak kenapa-napa."


"Hahaha .... Kak Alan pasti pusing sekali waktu itu!" Bukannya merasa simpati, Anita justru tertawa semakin keras mendengar cerita Henny.


"Maaf ya aku udah bikin mama kuatir," ujar Kevin merasa bersalah.


Henny memandang sayang putra keduanya yang berwajah tampan itu. "Gak apa-apa, yang penting kamu bisa segera pulih. Tadi kata dokter hasil pemeriksaan kamu bagus, sepertinya lusa sudah boleh pulang."


"Syukurlah ...," gumam Kevin. Ia ingin segera keluar dari rumah sakit agar dapat bertemu dengan gadis yang sangat dirindukannya.


Hingga hari ketiga dirawat di rumah sakit, Kevin belum dapat menghubungi Jeany. Gadis itu tidak pernah mengangkat panggilan telepon darinya, membuat pemuda itu semakin hari semakin gelisah. Ia bertanya untuk kesekian kalinya pada Henny.


"Ma, Jeany kenapa gak bisa ditelpon? Dia baik-baik aja kan?"


Henny menghela napas kesal mendengar nama Jeany selalu disebut. Ia tidak mengatakan yang sebenarnya agar tidak mengganggu proses pemulihan Kevin.


"Kan mama sudah bilang, Jeany lagi sibuk jaga Enzo. Kakak iparmu kan beberapa hari ini lembur terus."


"Ya tapi masak gak bisa ditelpon sama sekali? Aku kangen dia, Ma ...," keluh Kevin.


"Wah tante ingat lho sama Jeany. Yang datang di pesta ulang tahun Enzo kan? Pacar kamu, Vin?" Anita yang mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu ikut menimpali.


"Bukanlah, Nit! Dia itu temannya Kevin yang kebetulan jadi babysitter-nya Enzo," tukas Henny tanpa basa-basi.


"Oh .... Iya seingatku juga waktu itu Kevin memperkenalkannya sebagai teman. Tapi siapa tahu kan sekarang mereka pacaran? Anaknya cantik. Kulitnya itu lho, halus sekali. Cocok sama Kevin!"


Henny langsung memasang wajah tidak suka mendengar adik iparnya memuji Jeany.


"Ma, Jeany kan memang pacar aku sekarang." Kevin mengoreksi ucapan sang mama, membuatnya langsung mendapat pelototan dari Henny.


"Kamu gak malu bilang begitu di depan tantemu? Sudah punya pacar cantik kok disia-siakan. Sebentar lagi Stevi datang, jangan bikin dia sedih lagi dengan sikap buruk kamu."


Tidak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu, yang kemudian terbuka disusul masuknya seorang gadis cantik. Henny langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan Stevi.


"Maaf ya, Tante saya agak siang datangnya," ucap Stevi begitu masuk ruangan tersebut.


"Gak apa-apa masih pagi kok ini. Nah, Nit, ini baru calon menantuku. Gimana, cantik sekali kan dia? Stevi sayang, ayo kenalan sama tantenya Kevin."

__ADS_1


"Oh iya selamat siang, Tante. Saya Stevi."


"Oh jadi ini pacarnya Kevin? Wah cantiknya seperti artis ya ...." Anita juga takjub dengan kecantikan Stevi.


Tante Kevin itu lalu memperkenalkan putranya. "Ini Hansen, anak saya. Seumuran sama Marvin tapi kok ya masih jomblo!" keluh Anita sambil menoleh pada anaknya. "Ayo kapan kamu cari pasangan, Kevin saja sudah punya pacar!"


Hansen dan Stevi bersalaman.


"Tunggu mapan dulu lah, Ma. Nanti juga datang sendiri jodohnya." Putra Anita menjawab dengan malas. Pasalnya ke mana pun mereka pergi, sang mama selalu mengungkit topik yang sama, pasangan hidupnya.


"Kamu kurang mapan apa? Usaha percetakan sudah lancar. Jangan tunda-tunda terus, setahun dua tahun .... Gak kerasa lho lama-lama sudah tua nanti gak ada yang mau!"


Henny dan Stevi menahan senyum melihat wajah dongkol Hansen. Namun di saat semua orang sedang berbincang hangat, Kevin justru merasa tertekan. Ia dapat merasakan sang mama sepertinya memaksakan hubungannya dengan Stevi.


Terdengar suara nada dering ponsel.


"Tante, saya permisi dulu ya mau angkat telpon sebentar." Stevi keluar dari ruangan karena melihat yang meneleponnya adalah Randy.


"Halo, Ran?"


"Halo, Stev. Lo pasti lagi di rumah sakit kan?" Randy menjawab dengan riang.


"Gimana kondisi Kevin?"


"Udah baikan kok. Lo gak jenguk dia?"


"Engga deh, males banget jenguk saingan. BTW, gue lagi butuh bantuan lo nih."


"Apa itu?"


"Calon bini gue pengen ketemu Kevin, tapi takut sama emaknya yang galaknya ngalah-ngalahin emak Nobita. Lo bisa infoin gak kalo emaknya lagi gak di sana?"


Stevi sedikit tersenyum mendengar kalimat Randy. Namun itu tidak cukup menjadi alasan baginya untuk membantu pemuda itu.


"Sorry kali ini gue gak bisa bantu lo. Gue gak mau bantu cowok gue ketemu selingkuhannya."


"Hmm Stev, kalo lo tahu cerita yang sebenarnya lo gak bakal menyalahkan Jeany."


"Memang apa cerita yang sebenarnya?"


"Yah kalo itu sih lo harus tanya langsung sama Kevin ...."

__ADS_1


"Gue heran sama lo, Ran. Kenapa lo malah mau bantu Jeany ketemu Kevin? Lo gak jealous?"


"Hahaha ya jealous lah .... Tapi gue gak tega lihat dia sedih terus, gue pengen melihat dia tersenyum."


Stevi terpaku mendengar kalimat Randy. Ia sekali lagi memastikan bahwa yang sedang berbicara dengannya benar-benar Randy, pemuda tengil yang tidak pernah terlihat serius pada perempuan mana pun. Sebegitu kuatnya kah pesona Jeany hingga membuat seorang casanova seperti Randy rela berkorban perasaan untuknya?


"Kata-kata lo bikin gue terharu, tapi gue tetap gak bisa bantu," jawabnya tegas.


"Hufff ya udah deh .... Kabarin ya kalo lo berubah pikiran. Gue yakin lo juga gak tega lihat Kevin sedih."


Usai menutup panggilan, Stevi kembali masuk ke ruang rawat inap Kevin. Tampak Henny, Anita dan Hansen bersiap untuk keluar.


"Stevi, kamu sudah makan? Kalo belum ayo sama-sama ke kantin," ajak Henny padanya.


"Iya lho tante dengar makanan di kantin rumah sakit ini enak-enak, jadi mau coba," imbuh Anita.


"Sudah kok, Tante. Sebelum ke sini tadi saya sudah makan." Stevi menolak dengan sopan.


"Ya sudah kalau begitu kami pergi sebentar ya."


Setelah semua pergi, Stevi mendekati Kevin.


"Kepala kamu masih sakit?" tanyanya.


"Udah jauh berkurang."


"Aku mau tanya. Sebenarnya antara kamu sama Jeany ada apa sih, kenapa kamu lebih belain dia daripada aku?"


Pandangan Kevin tampak menerawang. Ia menjawab dengan suara lirih. "Aku gak bisa cerita. Tapi yang harus kamu tahu, semua ini salahku. Aku yang salah, aku cowok brengsek ...."


Kata-kata Kevin itu membuat sebuah gagasan muncul di benak Stevi. Gagasan yang tidak ingin diterimanya. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Engga engga. Kevin gak mungkin kayak gitu ....


Pemuda itu mengajaknya bicara lagi, kali ini dengan nada memohon. "Stev .... Aku bisa minta tolong gak? Aku gak maksa, tapi kalo bisa tolong pinjamin HP kamu. Aku pengen bicara ama Jeany ...."


"Hah, kalian berdua benar-benar gak tahu diri ya!" Stevi berkata sinis, mengeluarkan rasa bencinya.


"Maaf, permintaanku memang keterlaluan."


Kevin memilih untuk tidur kembali, tidak mengulangi permintaannya pada Stevi. Namun kata-kata Stevi selanjutnya membuatnya seketika membuka matanya.


"Aku bisa bantu kamu ketemu Jeany. Tapi ada syaratnya."

__ADS_1


__ADS_2