
"Kayaknya aku gak bisa ikut, Stev."
"Yah .... Kenapa gak bisa, Sayang?" tanya Stevi dengan raut wajah kecewa. Pupus sudah impiannya liburan ke luar negeri bersama sang kekasih.
"Aku udah janji sama mama libur semester mau pulang ke rumah bantuin jaga keponakan, soalnya babysitter-nya mendadak berhenti."
"Emang orang tuanya ke mana kok harus kamu yang bantu jaga?" Stevi masih tidak terima dengan penolakan Kevin.
"Kerja dua-duanya."
Sebenarnya kakak ipar Kevin, ibu dari keponakannya telah mengajukan surat pengunduran diri di kantornya. Namun aturan tempat kerjanya mengharuskan ia berhenti pada akhir bulan depan. Mama Kevin akhirnya meminta putra keduanya yang akan libur kuliah untuk membantunya menjaga cucu pertamanya itu.
Kevin malas menjelaskannya pada Stevi karena telanjur kecewa. Awalnya ia berencana memperkenalkan Stevi pada keluarganya ketika libur semester kelak. Menurutnya Stevi juga tidak akan keberatan menemaninya menjaga keponakan yang sedang lucu-lucunya itu.
Namun ia mengerti bahwa menghabiskan waktu liburan dengan pergi ke Singapura tentu saja pilihan yang jauh lebih menarik daripada menghabiskannya dengan mengasuh bayi. Ya, ia harus bisa mengerti. Ia tidak boleh merusak momen kekasihnya bersenang-senang dengan sahabatnya.
"Kalo gitu aku batalin aja ya ke Singapore? Aku temani kamu jaga keponakan," usul Stevi kemudian.
"Yah gak bisa gitu dong, Stev. Itu kan apartemen om lo. Masak elo-nya kagak ikut?" protes Devi yang langsung diangguki oleh Sandra.
"Iya kamu pergi aja, Stev gapapa. Kasihan temen kamu kecewa kalo kamu gak pergi." Kevin cukup puas karena Stevi lebih mementingkan dirinya dibanding sahabat-sahabatnya. Ia melupakan kekecewaan yang tadi dirasakannya.
"Tapi aku pengen liburan sama kamu." Stevi berkata dengan suara manja.
Kevin tersenyum. "Nanti habis kamu pulang dari Singapore. Sekalian aku kenalin ke keluargaku ya."
Stevi langsung sumringah. Sang pacar berniat memperkenalkannya pada keluarga, artinya ia serius dengan hubungan mereka. Devi dan Sandra pun saling bertatapan melihat ekspresi sahabat mereka.
"Duh duh senangnya yang mau dikenalin ke camer," goda Devi dan Sandra bersamaan.
"Apaan sih. Masih jauh tau gak ...." Stevi menjawab malu-malu.
"Loh bener kan calon mertua. Emang lo gak mau jadi istrinya Kevin?"
__ADS_1
"Deviiiii .... Apaan sih ...." Stevi semakin salah tingkah membuat Kevin dan kedua sahabat gadis itu menertawakannya.
Setelah itu mereka makan sambil membicarakan rencana liburan mereka ke Singapura. Tentu saja Kevin lebih banyak diam. Namun ia ikut senang melihat gadis yang dicintainya berbicara dengan begitu bersemangat dan mata berbinar bahagia. Tampak sekali bahwa sang kekasih sangat menantikan liburan tersebut.
Sudahlah yang penting dia bahagia, batinnya.
Keesokan harinya, Kevin pergi ke kampus untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Mereka meminta rangkuman materi kuliah padanya. Kevin memiliki otak cerdas. Ia mampu merangkum inti dari berpuluh-puluh halaman buku teks menjadi beberapa halaman saja, dan mampu menyusunnya dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Karena itulah para sahabatnya selalu meminta bantuannya setiap kali musim ujian tiba.
Mereka memutuskan untuk bertemu di kampus karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Selain itu di kampus juga tersedia fasilitas fotokopi sehingga mereka tidak perlu repot-repot lagi mencarinya di luar.
Walaupun sedang dalam masa minggu tenang, suasana di kampus tetap ramai oleh mahasiswa dengan berbagai keperluan. Kevin memilih menunggu kedatangan sahabatnya dengan duduk di gazebo fakultas ekonomi sembari memainkan ponsel dan menikmati teh botol dingin yang dibelinya di koperasi. Mahasiswa menyebutnya gazebo karena deretan meja dan kursi tersebut didesain menyerupai pondok-pondok kecil dan terletak di samping taman fakultas.
"Hai, Bro! Udah lama nunggu?" sapa Randy sambil menepuk pundak Kevin.
"Gak juga. Udah belajar lo?"
"Ck, lo kayak gak tahu gue aja. Gue tunggu rangkuman dari elo lah baru belajar. Pening kepala gue kalo harus belajar dari buku teks," tukas Randy dengan gaya santainya.
"Lah kan ada catatan penjelasan dari dosen?"
"Lo mau kencan ke mana? Lebih baik lo temenin gue nonton," bujuk Kevin. Ia belum puas bila belum menonton film favoritnya itu.
"Ogah! Ntar gue dikira maho lagi kalo nonton bareng lo! Ajak cewek lo napa?"
"Gue gak mau ganggu dia belajar," jawab Kevin berdusta. Tidak mungkin ia menceritakan alasan yang sebenarnya pada Randy. Bisa-bisa ia diledek habis-habisan oleh sahabatnya itu.
"Cuma nonton aja masak gak bisa? Ato lo ajak Jeany aja. Dia kan sahabat lo sekarang," usul Randy sambil menaik-turunkan alisnya.
Kevin merasa kalimat Randy memiliki makna tersembunyi. Namun ia memilih bersikap biasa saja.
"Dia juga pasti sibuk belajar," elak Kevin.
"Hmm iya sih tuh anak kayaknya gak pernah jauh dari buku ya?"
__ADS_1
"Udah deh buruan copy nih rangkuman!" Kevin mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia takut rahasianya akan terbongkar bila mereka terus menerus membicarakan Jeany.
"Eh tapi, Vin, kayaknya gue mulai penasaran deh ama Jeany. Menurut lo gimana kalo gue deketin dia?"
"Uhuk uhuk!"
Ucapan Randy sukses membuat Kevin yang sedang meneguk teh botol tersedak. Pasalnya Jeany bukan termasuk tipe perempuan yang disukai oleh Randy.
"Lo kayak gak ada cewek lain. Jeany tuh gak asik orangnya. Sama gue aja kaku banget. Lo pasti bosan setengah mati kalo jalan ama dia."
Kevin merasa bersalah mengatakan semua itu. Namun ia hanya ingin melindungi Jeany. Ia tidak ingin gadis itu jatuh ke dalam jeratan Randy yang tidak pernah menganggap serius perempuan mana pun. Randy selalu bersenang-senang dengan banyak perempuan kemudian meninggalkan mereka bila dianggapnya sudah tidak menarik.
"Iya saya memang membosankan. Jadi Tuan Kevin Yang Terhormat tidak perlu buang waktu menjadi sahabat saya."
DEG!
Kevin tidak menyangka Jeany akan muncul di kampus hari itu, di tempat itu dan di waktu ketika dia mengucapkan kalimat yang ia sendiri tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Suatu kebetulan yang aneh!
"Jeany, bukan gitu maksud gue! Gue cuma-" Ia berusaha menjelaskan tetapi gadis itu berlalu dengan cepat meninggalkannya.
Randy terpingkal-pingkal melihat sahabatnya yang sedang kebingungan. Kevin terlihat seperti suami yang tertangkap tangan sedang berselingkuh oleh istrinya.
"Makanya kalo ngomongin orang liat-liat dulu, Bro! Ada orangnya apa engga," katanya di sela-sela tawanya. Ia tertawa hingga perutnya terasa sakit dan air mata menggenang di sudut matanya.
"Lo sengaja kan?" tuduh Kevin dengan geram.
"Enggalah gue mana tahu dia bakal tiba-tiba muncul. Panjang umur banget tuh cewek!" Randy kembali terpingkal-pingkal.
Kevin tidak menghiraukannya. Ia meletakkan rangkuman yang telah dibuatnya di meja dan bergegas pergi untuk memberi penjelasan pada Jeany.
"Lo yang kasih ke anak-anak. Gue mau kejar Jeany dulu."
Randy melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Kevin Kevin .... Lo sedang menggali kuburan lo sendiri ....