Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Ia Memegang Kartu As Jeany


__ADS_3

Kevin hanya terdiam membaca pesan dari Randy. Ia tidak ingin menyetujuinya, tetapi juga tidak mampu terang-terangan menolak. Sementara itu Randy sedang bersiul senang dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah lebih ceria. Semua gerak-gerik mereka tidak luput dari perhatian Stevi.


"Sayang, kamu lihat apa kok serius sekali?" tanyanya pada Kevin.


Kevin menjawab sambil menyeruput cappuccino yang ia pesan. "Oh cuma lagi hapusin aplikasi yang gak kepake."


Pemuda itu merasa dirinya semakin hari semakin pandai berdusta. Ia tidak ingin membohongi Stevi, tetapi lagi-lagi dirinya dihadapkan pada keadaan yang mengharuskannya membohongi kekasihnya itu.


Pembicaraan mereka sempat terhenti karena pelayan kafe mengantar makanan pesanan mereka. Randy memperhatikan Kevin yang sedang menikmati cappuccino-nya, lalu tersenyum jahil.


"Vin, lo kok gak pesen mocktail lagi?"


"Uhuk!" Sepertinya Randy punya hobi membuat Kevin tersedak ketika minum.


Kevin menggeram dalam hati. Ingin sekali rasanya ia melakban mulut Randy. Ia hendak memberi isyarat dengan menginjak kaki Randy. Akan tetapi, seperti telah belajar dari pengalaman, pemuda itu telah menggeser kakinya menjauh dari jangkauan kaki Kevin. Randy memberi cengiran tanpa dosa pada sang sahabat.


"Lagi pengen cappuccino aja," sahut Kevin menahan kesal karena gagal menginjak kaki Randy.


"Habisnya lo bilang mocktail yang kapan hari enak. Siapa tahu yang di sini sama enaknya," lanjut Randy dengan senyum lebar yang membuat Kevin semakin ingin menonjoknya.


"Wah aku kira kamu gak suka minuman selain kopi, Yang. Tempo hari aku bikinin sirup di rumahku gak kamu minum soalnya," timpal Stevi setelah mendengar informasi tersebut.


"Jeany aja tahu Kevin suka mocktail. Ya gak, Jean?" Keisengan Randy semakin menjadi-jadi.


Untung kali ini Jeany tidak tersedak. Pasalnya Jeanylah yang mengantar mocktail pesanan Kevin ketika di kelab malam tempo hari. Gadis yang sedari tadi menunduk untuk menikmati spagetinya itu berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Randy. Ia tetap asyik dengan spagetinya.


"Lo kalo gak mau makan pulang aja gih!" kata Kevin sambil menatap sebal pada Randy .


"Hahaha iya iya galak amat. Bilang aja lo gak ikhlas nraktir gue," balas Randy. Dalam hati ia merasa puas telah mengerjai sahabatnya itu.


Muncul perasaan tidak nyaman di hati Stevi. Ia merasa seolah-olah Kevin, Randy dan Jeany telah sering bertemu tanpa dirinya, seolah-olah hanya dirinya yang tidak tahu apa pun.


"Tapi lo beneran pernah kerja di club, Jean?" Stevi teringat kembali hal yang tadi sempat menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Dulu."


"Gimana rasanya kerja di tempat kayak gitu?" tanya Stevi lagi terang-terangan menunjukkan pandangan negatifnya pada tempat kerja lama Jeany itu.


"Sama aja kayak kerja di kafe."


"Oh .... Lo jadi apa?"


"Waitress."


"Oh kirain ...."


Stevi menggantung ucapannya. Jeany tidak suka dengan pertanyaan Stevi. Memangnya pekerjaan apa yang bisa dilakukannya di kelab malam selain menjadi pramusaji? Barangkali tenaga kebersihan, karena untuk meracik minuman ia jelas tidak bisa.


"Hehehe padahal lo cocok banget lho kalo jadi dancer." Randy menggoda Jeany yang hanya dibalas dengan tatapan dingin oleh gadis itu.


Stevi mengamati Kevin yang sedang melihat ke arah Randy dan Jeany secara bergantian. Raut wajah kekasihnya itu tidak tampak terkejut mengetahui Jeany pernah bekerja di kelab malam, membuatnya bertanya-tanya apakah kekasihnya sudah lama mengetahui hal tersebut.


'Tapi, Jean, ortu lo tau kalo lo kerja di club?"


"Sorry, Stev gue gak mau bahas masalah itu. Itu urusan pribadi gue."


Jeany berkata terus terang. Ia tidak pernah merasa dekat dengan Stevi, sehingga menurutnya pertanyaan Stevi tadi telah melanggar ranah pribadinya.


"Kita kan sahabat sekarang. Sahabat tuh gak ada yang ditutupin satu sama lain, kayak gue, Devi ama Sandra." Stevi memberi penjelasan bagaimana seharusnya hubungan persahabatan dijalankan. Ia melihat ke arah Kevin berharap kekasihnya itu mengatakan sesuatu untuknya.


"Tapi gue gak pengen cerita," jawab Jeany lugas.


"Berarti lo belum anggap gue sebagai sahabat." Stevi menyimpulkan dengan raut wajah kecewa.


Hampir saja Jeany mengatakan bahwa ia memang tidak pernah menganggap Stevi sebagai sahabatnya ketika Kevin tiba-tiba menengahi. "Udah, Stev. Kalau Jeany gak mau cerita gak usah dipaksa. Lagian kan Jeany udah gak kerja di club lagi, jadi gak ada gunanya juga dibahas."


Kata-kata Kevin yang seolah lebih memihak Jeany membuat Stevi merasa kecewa. Namun gadis itu menutupinya. Ia tersenyum membalas perkataan Kevin. "Iya aku gak maksa lagi. Mungkin memang Jeany belum percaya sepenuhnya sama aku," katanya dengan nada penuh pengertian.

__ADS_1


"Gak rugi kok, Jean jadi sahabat Stevi. Pacar gue pengertian banget gini," puji Kevin di depan Jeany yang memilih untuk tidak menanggapinya.


Randy tertawa terbahak-bahak melihat drama dengan tokoh utama sahabatnya sendiri. Di matanya, Kevin bagaikan suami yang mendamaikan istri pertama dan istri keduanya yang sedang bertengkar gara-gara masalah sepele. Sedangkan peran Randy tentu saja tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia akan menjadi laki-laki yang merebut istri kedua sang tokoh utama.


"Kalian udah tahu belum angkatan kita mau ngadain reuni?" tanya Stevi tiba-tiba.


Ketiga orang lainnya hanya menggeleng.


Stevi bertanya pada sang kekasih. "Sayang, kamu juga gak tahu?"


"Gak tahu. Kapan reuninya?"


"Ada di grup alumni loh padahal. Tanggal 20 bulan depan. Pas hari Sabtu."


Kevin meringis. Pantas saja ia tidak tahu, karena ia telah lama mengeluarkan diri dari grup percakapan yang menurutnya sangat bising itu. Randy juga tidak tahu karena ia tidak pernah melihat percakapan di grup tersebut. Walaupun tidak keluar dari grup, ia telah mematikan notifikasinya agar tidak terganggu dengan percakapan tidak penting di dalamnya. Sedangkan Jeany, jangan ditanya. Ia bahkan tidak dimasukkan ke dalam grup.


"Di mana reuninya? Jangan bilang di gedung sekolah," tanya Randy tidak antusias.


"Engga dong. Reuni kali ini gak main-main. Di Hotel Continental," kata Stevi menyebut nama sebuah hotel bintang lima di Jakarta.


"Kita datang yuk, Yang. Ntar kita pake baju couple-an" ajak Stevi pada Kevin. Ia ingin memamerkan statusnya yang kini adalah kekasih Kevin ke teman-teman SMA-nya.


"Iya terserah kamu aja. Yang penting kamu senang," jawab Kevin yang merasa gemas melihat tingkah manja kekasihnya.


"Kalo gitu lo pergi ama gue ya, Jean. Ntar kita pake baju couple-an," ajak Randy sambil mengedipkan matanya pada Jeany.


"Hahaha ngapain lo mau pake baju couple ama Jeany? Kalian kan gak pacaran!" Kevin tertawa meledek Randy.


"Kok lo yakin pas reuni ntar gue ama Jeany belum pacaran?" tantang Randy dengan wajahnya yang nakal tetapi tampan itu.


Kevin melihat Randy dengan tatapan memperingatkan. Ia sungguh tidak akan segan memberi pelajaran pada pemuda itu bila berniat mempermainkan Jeany, sekalipun Randy adalah sahabatnya sendiri.


"Lo gak usah kepedean, Ran. Gue gak ikut reuni. Jadi simpan fantasi baju couple lo itu buat cewek lain."

__ADS_1


Jeany akhirnya bersuara setelah sekian lama. Gadis itu sudah bisa membayangkan seperti apa reuni di hotel bintang lima. Paling tidak ia harus memakai gaun dan makeup. Ia tidak punya cukup uang dan waktu untuk itu semua. Apalagi pergi dengan Randy, pemuda yang ia tahu seorang casanova sejati.


Randy tersenyum penuh percaya diri. Penolakan Jeany tidak membuatnya berkecil hati, karena ia tahu telah memegang kartu as gadis itu. Ia akan membuat Jeany menjadi miliknya.


__ADS_2