Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 15 - Setelah Malam yang Panjang


__ADS_3

"Bangun, Sayang. Nanti kamu telat ke kantor."


Revan yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya itu mengulangi panggilannya kepada Vivian. Setengah jam yang lalu ia telah mencoba membangunkan Vivian, tetapi istrinya itu tampak masih pulas. Ia memutuskan untuk memberi perempuan itu sedikit waktu menikmati tidur nyenyaknya. Setelah mandi, ia membangunkan kembali sang istri dengan suara lembut.


Suara Revan yang awalnya terdengar samar itu semakin jelas masuk ke indera pendengaran Vivian. Ia segera membuka matanya dan mendapati sang suami tengah tersenyum menatap dirinya.


"Ugh ... capek banget badanku." Vivian merenggangkan tubuhnya sebelum mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk.


"Kalau capek nggak usah masuk hari ini. Istirahat dulu." Revan memberi usul. Mereka baru saja melalui malam yang panjang dan menguras energi. Pukul satu dini hari ia dan Vivian baru tiba di rumah. Wajar jika istrinya itu kini merasa lelah.


"Aku harus masuk. Mau bicara dulu masalah resign ke Pak Joni sama Pak Samuel." Vivian menyebut nama atasannya di kantor. "Mudah-mudahan lancar."


Sebuah pelukan Revan berikan untuk mengapresiasi keputusan yang dibuat oleh istrinya. "Thanks kamu mau mengorbankan karir demi aku. Aku tahu ini nggak mudah buat kamu."


Vivian tersenyum dan membalas pelukan itu sebentar. "Pakai baju, Rev, ntar masuk angin lagi," katanya pada sang suami.


Dengan lembut Revan mengecup kepala Vivian sebelum berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian. Ia mengenakannya di depan cermin dengan posisi memunggungi Vivian, yang memandangi punggung terbuka suaminya dengan senyum bahagia. Sebuah tato berbentuk huruf V terpatri di sana. Tato itu dibuat Revan ketika ia kuliah di Amerika. Katanya itu adalah simbol rasa cintanya terhadap Vivian.

__ADS_1


Vivian meledeknya kala itu. Menurutnya tindakan Revan terlalu impulsif. Bagaimana jika ternyata mereka berakhir putus? Tato itu justru akan mengingatkannya pada kisah cinta mereka yang gagal. Namun kini Vivian merasa senang setiap kali memandang tato itu, seolah ada bagian dirinya yang melekat pada tubuh Revan. Matanya lalu mengarah ke leher Revan.


"Eh bentar-bentar, Rev." Sambil terkikik geli, Vivian beranjak dari kasur dan berjalan mendekati suaminya. Ia mengambil concealer yang tersimpan di laci meja rias, lalu mengoleskannya ke leher Revan. "Banyak juga ya merah-merahnya. Kayaknya concealer-ku habis buat beginian," katanya sambil meringis.


"Really?" Revan yang tampak terkejut menatap ke arah cermin untuk mengamati lehernya. Saat melihat jejak yang Vivian tinggalkan di sana, ia tersenyum lebar. "Beautiful."


"Dasar sinting!"


"Kok sinting?" tanya Revan dengan alis terangkat. "Apa salahnya memuji mahakarya istri sendiri?"


"Udah ah aku mau mandi." Vivian berjalan ke kamar mandi. Walau di depan Revan ia menunjukkan wajah ketus, senyumnya mengembang saat mendengar sang suami tertawa di belakangnya.


"Hari ini aku antar ke kantor ya?" tanya Revan dengan wajah penuh harap setelah ia menghabiskan suapan terakhir sarapannya.


"Nggak usah, Rev. Aku kan biasanya nyetir sendiri."


Tiba-tiba wajah Revan berubah serius. "Vi, aku mau hubungan kita berjalan seperti suami-istri pada umumnya. Teman-temanmu tahu siapa aku, begitu juga teman-temanku tahu siapa kamu."

__ADS_1


Vivian menyembunyikan ketegangan yang ia rasakan. Ia tidak suka pembicaraan semacam ini karena selalu memicu pertengkaran antara dirinya dan Revan. Belajar dari pengalaman, Vivian kini memilih untuk melakukan kompromi ketimbang menolak secara langsung.


"Aku tahu, Rev. Tapi kan nggak lama lagi aku resign. Gimana kalau kamu mulai antar aku di tempat kerja baru nanti?"


Sepertinya cara Vivian berhasil karena Revan membalasnya dengan senyum cerah. "Kamu udah ada rencana mau apply di mana? Kalau belum, aku bisa carikan posisi di kantorku."


Lagi-lagi Revan menawarkan hal yang Vivian hindari. Ia menggeleng pelan. "Belum. Keputusan resign ini aja baru tadi malam aku buat."


Revan mengangguk. Ia mengerti Vivian tidak bisa didesak. "Oke. Tapi pertimbangkan kemungkinan untuk kerja di kantorku."


"I will, Rev."


Mereka berangkat ke tempat kerja masing-masing seperti biasa. Revan diantar sopirnya, sedangkan Vivian mengendarai Brio putihnya. Aktivitas di kantor Vivian juga berjalan seperti biasa.


Setelah briefing pagi dengan tiga orang anggota timnya, Vivian duduk sejenak untuk mempersiapkan diri. Setelah ini ia akan menemui atasannya untuk membicarakan rencana pengunduran diri. Pada saat itu Revan meneleponnya. Ia bergegas keluar ruangan untuk menerima panggilan tersebut.


"Ya, Rev?"

__ADS_1


"Vi, aku mendadak harus ke Jakarta." Suara Revan terdengar tegang. "Ada laporan kecurangan sales di sana."


__ADS_2