
Henny kembali lagi ke sekolah sang cucu. Wajah anak laki-laki yang sangat mirip dengan putra keduanya selalu mengganggu pikirannya. Dan di sinilah ia sekarang berdiri menunggu, berharap dapat bertemu dengan anak tersebut. Penantiannya tidak sia-sia. Ia melihat anak tersebut keluar sambil berlari kecil.
"Selamat siang, Nak. Kamu masih ingat saya?" Henny datang menghampiri dan tersenyum pada anak itu.
"Ibu yang kemarin!" Anak laki-laki itu menjawab dengan ceria.
"Kamu sudah dijemput?"
"Belum," jawab anak itu karena tidak melihat sosok yang biasa datang menjemputnya.
"Kalau begitu kita duduk di sana dulu mau ya? Saya juga lagi tunggu cucu saya keluar." Henny menunjuk bangku di dekat pos satpam.
Anak laki-laki itu mengangguk.
"Siapa nama kamu, Nak?"
"Kenny, Bu."
"Panggil saja saya oma, seperti cucu saya kalau manggil saya."
"Ya, Oma."
"Oma mau tanya. Waktu itu kamu gak takut sama oma?"
"Engga ...." Kenny menatap Henny dengan matanya yang bulat. Wajah polosnya sungguh membuat Henny gemas.
"Kamu gak takut lihat oma sudah keriput dan tidak punya rambut?"
"Kata mama, kita gak boleh menilai orang lain cuma dari luarnya," ucap Kenny menirukan kata-kata sang mama.
"Kamu mengerti artinya?"
"Ngerti. Kata mama, dulu waktu kecil mama sangat pemalu sama penakut, gak berani ngomong sama orang. Trus waktu main ke rumah temennya, mama gak berani nyapa orang tua temennya. Habis itu waktu temennya ulang tahun, cuma mama yang gak diundang. Katanya gara-gara mama gak sopan. Padahal sebenernya mama cuma pemalu. Jadi kata mama kita gak boleh terlalu mudah menghakimi orang lain." Anak itu berbicara dengan sangat lancar karena cerita tersebut sudah meresap dalam ingatannya.
Ah, sekarang Henny tahu dari mana anak itu bisa begitu bijaksana.
"Mama kamu mama yang sangat hebat ...."
"Iya! Kenny sayang mama!"
"Kalau muka kamu mirip papa atau mama?"
"Kata mama mirip papa."
"Wah pasti papa kamu ganteng sekali ya seperti kamu?"
Kenny menggelengkan kepalanya. "Gak tahu. Kenny gak pernah ketemu papa."
"Oh maaf. Apa papa kamu sudah meninggal?"
"Kata mama, papa berobat di tempat jauh, belum pulang sampai sekarang."
"Jadi kamu cuma tinggal berdua sama mama kamu?"
"Iya. Papa pergi berobat waktu Kenny belum lahir."
DEG!
Jantung Henny mulai memompa tidak beraturan. Ia memandangi wajah yang sangat mirip dengan putranya itu. Seketika wanita itu teringat pada seorang gadis yang tujuh tahun silam diusirnya karena mengaku mengandung darah daging sang putra. Mungkinkah ....
"Kenny! Aduh maaf mami telat, tadi ban mobilnya bocor ...."
Kedatangan Mita menepis kecurigaan Henny. Ia tersenyum ramah pada perempuan yang baru datang itu, perempuan yang dianggapnya seorang ibu yang luar biasa.
***
Satu hal yang yang disyukuri oleh Jeany adalah adanya kesenjangan jabatan yang cukup jauh antara dirinya dengan Kevin di kantor. Ia yang hanya staf biasa tidak perlu berhubungan langsung dengan pemangku jabatan direktur utama tersebut. Mereka nyaris tak pernah bertemu, hanya sesekali berpapasan. Bila itu terjadi, Jeany akan berpura-pura tidak melihat. Hatinya masih terlalu sakit untuk menyapa laki-laki itu seperti biasa.
Namun ia tidak bisa menghindari tunangan laki-laki itu.
"Jean, kamu dimintai tolong Bu Lisa untuk datang ke ruangannya. Katanya mau tanya soal kelancaran pembayaran agen di Jawa Tengah," ucap Prasetyo pagi itu.
"Baik, Pak saya ke sana."
Dengan langkah berat Jeany berjalan menuju ruangan Lisa di divisi pemasaran. Ia mengetuk pintu sebelum membukanya.
"Oh Jeany. Masuk, Jean! Ini saya lagi mengevaluasi limit kredit untuk agen di Jawa Tengah. Saya perlu tahu kelancaran pembayarannya. Kalau tidak lancar, limit kreditnya harus dikurangi."
"Oh iya, Bu."
Lisa membuka dokumen yang telah diketiknya di laptop.
__ADS_1
"Kalo agen Sumber Rejeki gimana?"
"Lancar, Bu sebelum jatuh tempo sudah ada pembayaran."
"Wah senangnya kalau semua agen seperti ini."
"Kalau Utama Jaya?"
"Yang itu biasanya terlambat dua sampai tiga hari ...."
Lisa dan Jeany berdiskusi dengan serius, hingga ponsel Lisa berdering.
"Oh bentar ya, camer saya telpon." Lisa menyeringai lebar.
Wajah Jeany langsung berubah kaku.
"Halo, Ma? Aku lagi di kantor. Gak ganggu kok. Foto acara pertunangannya sudah jadi? Iya nanti Lisa ke sana ya, Ma ...."
Lisa benar-benar diterima dengan baik, pikir Jeany pahit. Ia bahkan sudah memanggil mama Kevin dengan sebutan mama juga.
"Sorry ya, Jean saya gak enak kalo gak angkat telpon dari mamanya Kevin," ucap Lisa setelah Henny mengakhiri panggilannya. "Oh ya ngomong-ngomong kamu tahu siapa mantannya Kevin?"
"Gak tahu."
"Hmm ya wajar sih kamu gak tahu. Sama saya saja dia gak mau cerita. Katanya buat apa membahas masa lalu, yang penting sekarang adalah masa depan kami."
"Oh."
Entah mengapa Lisa sangat ingin memamerkan hubungannya dengan Kevin di depan Jeany. Padahal Jeany tidak terlihat tertarik. Walau kecewa karena tidak mendapat tanggapan yang diinginkannya, Lisa tetap melanjutkan bualannya.
"Kevin ngajak honeymoon ke Eropa, katanya biar romantis. Tapi saya bilang di Indonesia saja, kan pemandangan di Indonesia gak kalah indah dengan pemandangan di luar negri ...."
Jeany terpaksa mendengarkan cerita panjang lebar Lisa dengan hati panas.
"Oh iya, Jean, saya dengar kamu jualan brownies ya? Pesan buat lusa bisa? Mau kasih buah tangan buat keluarga Kevin."
"Gak bisa, Bu. Sudah full orderan sampai bulan depan," tolak Jeany cepat.
***
Hari itu adalah hari jadi Prasetyo yang ke tiga puluh dua tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia akan berbagi kebahagiaan dengan para stafnya walau hanya secara sederhana. Saat jam makan siang tiba, mereka satu divisi keuangan pergi ke warung bakso yang terkenal enak di dekat kantor. Prasetyo sengaja memilih tempat tersebut agar dapat kembali ke kantor sebelum jam istirahat berakhir. Ia termasuk disiplin dalam hal waktu.
Rombongan divisi keuangan itu berpapasan dengan Kevin yang juga ingin keluar untuk mencari makan siang. Prasetyo dan para staf keuangan langsung menyapanya.
Kevin dapat melihat semua orang menyapanya dengan ramah dan sopan, kecuali satu orang yang hanya berdiri diam tidak memandang dirinya. Setelah berkali-kali terjadi, ia mengerti bahwa Jeany melakukannya dengan sengaja. Merasa kesal, Kevin menatap perempuan itu tajam sebelum beralih pada sang manajer.
"Selamat siang. Kalian mau ke mana?" jawabnya tanpa senyum.
Prasetyo tidak gentar diperlakukan dingin. Ia menjawab atasan yang usianya lebih muda itu dengan senyuman.
"Kebetulan saya mau mentraktir staf saya makan bakso. Pak Kevin mau ikut?"
Diam-diam Jeany merasa waswas. Ia berharap Kevin akan menolak tawaran dari Prasetyo.
"Boleh. Apa ada acara spesial?"
Para staf keuangan menyembunyikan keterkejutan mereka karena akan makan siang bersama direktur utama, hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
"Hanya merayakan ulang tahun sederhana," jawab Prasetyo yang juga tidak menduga Kevin akan setuju untuk bergabung. Tadi ia hanya berbasa-basi saja mengajak direkturnya itu.
"Oh kalau begitu selamat ulang tahun." Kevin menjabat tangan Prasetyo.
"Terima kasih. Mari, Pak."
Mereka berjalan menuju tempat parkir. Masalah muncul di sana. Kevin membawa mobilnya sendiri tetapi ia tidak tahu jalan menuju warung bakso. Prasetyo pun menyuruh Febi sang asisten manajer untuk menemani Kevin dan menjadi penunjuk jalan. Namun belum sempat Febi menjawab, Kevin sudah mencegahnya.
"Biar Jeany saja yang ikut saya."
DEG!
Jeany tidak menduga Kevin akan menyebut namanya. Semua rekan kerjanya kini memandang dirinya penuh tanda tanya. Mengapa direktur baru mereka bisa menyebut nama gadis pendiam itu?
"Oh sepertinya Pak Kevin sudah kenal Jeany ya?" Prasetyo mulai mengerti.
"Dia teman lama saya."
"Wah kebetulan sekali. Kok kamu gak pernah cerita, Jean?" Prasetyo melihat Jeany dengan wajah ingin tahu.
"Iya, Jean habis ini lo hutang cerita ke kami," bisik Juli di telinga Jeany.
"Sudah lama sekali, Pak," jawab Jeany apa adanya.
__ADS_1
"Ayo, Jean!"
Kevin langsung menarik tangan Jeany menuju mobilnya. Para staf lain melihat mereka pergi dengan mulut terbuka saking tak percayanya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Bahkan Prasetyo yang selama ini mengenal Jeany dari istrinya juga tidak tahu bila perempuan itu memiliki hubungan dekat dengan direktur barunya di kantor.
"Kamu ngapain sih kayak gini?! Nanti bisa muncul gosip!" Jeany menghardik Kevin setelah duduk di dalam mobil laki-laki itu.
Kevin tetap memandang ke depan, mulai melajukan mobilnya. Jeany mengira laki-laki itu tidak akan memberikan jawaban. Namun tidak lama kemudian Kevin menjawabnya dengan nada dingin.
"Sampai kapan kamu mau pura-pura gak kenal aku?"
Jeany mendengus dan memalingkan wajah menghadap ke jendela di samping kirinya. "Anggap aja kita memang gak pernah kenal."
"Kenapa kamu harus kayak gini?"
"Karena aku benci kamu." Aku benci kamu yang begitu mudah melupakan aku ....
Kevin mengeratkan pegangannya pada gagang setir. Ia memang pantas dibenci. Setelah mengambil kesucian Jeany tanpa gadis itu kehendaki, ia nyaris melakukan kembali kesalahan yang sama. Ia telah menyakiti Jeany begitu dalam hingga membuat gadis itu mengakhiri hubungan mereka.
Keduanya membisu hingga tiba di pelataran parkir warung bakso yang berukuran cukup luas. Mobil milik Prasetyo telah lebih dulu terparkir di sana. Jeany mengerutkan dahinya menyadari sesuatu.
"Kamu ternyata tahu jalan ke sini," tuduhnya.
"Aku pernah ke sini sama Lisa."
"Dasar pembohong," gumam Jeany pelan tetapi masih terdengar oleh Kevin.
"Kalau aku gak bohong kita gak akan bisa bicara berdua."
Jeany diam-diam menggigit bibir menahan pedih di hatinya. Untuk apa lagi Kevin mendekatinya bila laki-laki itu berniat menikahi perempuan lain? Ia teringat wajah kasmaran Lisa ketika menceritakan kisah cintanya dengan Kevin pagi tadi.
"Aku benci kamu, Vin."
Usai berkata demikian, Jeany hendak membuka pintu untuk turun dari mobil Kevin. Namun laki-laki itu tiba-tiba memegang pergelangan tangannya, menahannya agar tidak turun. Selama beberapa saat mereka tetap dalam posisi seperti itu. Kevin tetap memegang tangan Jeany tanpa ada niat untuk berbicara. Perempuan itu juga tetap diam seakan tidak ingin Kevin melepas tangannya.
"Sorry," ucap Kevin setelah beberapa menit berlalu. Ia melepas pegangannya pada perempuan itu.
Sementara itu, di dalam warung bakso orang-orang sedang menunggu mereka dengan tidak sabar.
"Kok mereka gak keluar-keluar dari mobil sih?" tanya Juli penasaran.
"Masih ngobrol kali," jawab Febi.
"Duh gue udah laper banget nih ... tapi gak enak kalo makan duluan," keluh Anet.
"Gue gak sabar mau interogasi Jeany, kayaknya dia deket banget ama Pak Kevin!"
Prasetyo menggelengkan kepala melihat tingkah para stafnya. Namun dalam hati ia juga merasa sangat penasaran.
Saat itu Kevin dan Jeany berjalan masuk. Karena mereka masuk paling terakhir, hanya tersisa dua tempat duduk di samping Prasetyo. Jeany terpaksa duduk bersebelahan dengan Kevin.
"Saya sudah pesankan duluan soalnya waktunya mepet, Pak," ujar Prasetyo saat Kevin mendudukkan diri di sebelahnya.
"Iya gapapa."
Mangkuk bakso telah terhidang di hadapan mereka masing-masing. Di saat yang lain mulai makan, mata Jeany masih berkeliling mencari sesuatu. Kevin langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja sebelah.
"Permisi, Bu, ini masih dipakai?" Kevin bertanya pada penghuni meja tersebut, menunjuk sebuah botol kecap manis.
"Pakai saja, Dik."
"Terima kasih." Kevin tersenyum manis membuat jantung para staf keuangan yang sedari tadi memperhatikannya berdegup kencang.
Laki-laki itu kembali ke tempat duduknya dan menyodorkan botol kecap tersebut pada Jeany. Lagi-lagi semua yang ada di sana terperangah.
"Makasih," jawab Jeany kaku. Ia menuangkan isi botol tersebut ke dalam mangkuknya. Hatinya sedikit tersentuh karena setelah sekian lama Kevin masih mengingat hal kecil tentang dirinya.
Orang-orang dari divisi keuangan itu makan dalam suasana canggung karena kehadiran direktur utama di tengah-tengah mereka.
"Pak Kevin lama tinggal di Singapore?" Prasetyo memulai percakapan.
"Sekitar tujuh tahun."
"Lama juga ya, Pak."
"Iya."
Saat itu Kevin merasa Prasetyo memperhatikan wajahnya tanpa berkedip. Merasa jengah, ia menatap balik dan langsung bertanya, "ada yang salah dengan muka saya?"
"Oh engga. Cuma saya merasa wajah Pak Kevin sangat mirip dengan orang yang saya kenal."
"Oh? Siapa?" Kevin mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Anak angkat saya."
"Uhuk uhuk!" Jeany tersedak kuah bakso yang belum ditelannya dengan sempurna.