Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kamu Perempuan Terhormat


__ADS_3

Dari celah pintu yang belum sepenuhnya terbuka, dua pasang mata saling bertemu pandang. Tidak ada yang ingin mengalah saat tatapan kemarahan beradu dengan sorot mata penuh kebencian. Henny lebih dulu menyuarakan pikirannya setelah sebelumnya rasa syok membuat ia sulit menggerakkan lidahnya.


"Kevin, apa maksud semua ini?! Kenapa kamu masih berhubungan dengan perempuan ini?!"


Kevin memegang tangan wanita yang telah melahirkannya itu dan berbicara dengan tegas. "Ma, Mama merestui atau tidak, aku tetap akan menikahi Jeany. Tapi sekarang aku ingin membuktikan ke Mama kalau yang Jeany lahirkan adalah benar darah dagingku, cucu Mama yang dulu ingin Mama gugurkan."


Tawa sinis diberikan oleh Henny. "Jadi dia mengadu sama kamu? Kamu percaya anak itu anak kamu? Perempuan ini sudah berhubungan dengan banyak laki-laki!"


"Cukup, Tante! Saya gak mau dengar lagi penghinaan dari Tante! Sekarang juga pergi dari rumah saya!" Jeany mengusir Henny sebelum ia kehilangan kesabarannya. Kepada Kevin ia berkata, "Vin, lebih baik kamu bawa mama kamu pulang. Percuma dia gak akan mau mengakui cucunya!"


Jeany semula ingin memaki, ingin menghujani wanita tua itu dengan kata-kata kasar yang selalu dipendamnya selama ini. Namun ketika membuka mulut, makian yang telah disiapkannya itu tak mampu terucap. Perubahan drastis pada tubuh Henny sangat mengejutkannya. Mungkin hatinya terlalu lemah. Bisa-bisanya ia merasa iba pada perempuan yang pernah ingin melenyapkan janinnya?


"Sabar, Jean. Tolong beri aku waktu untuk meyakinkan mamaku. Aku yakin Mama akan percaya setelah melihat anak kita. Bolehkah kami masuk?"


"Gak! Aku gak ijinkan dia menemui Kenny!"


DEG!


Henny terkesiap. Wajah bocah laki-laki yang sangat mirip dengan Kevin muncul di benaknya. Tangannya terulur begitu saja memegang lengan Jeany.


"Kamu bilang siapa nama anak kamu tadi? Kenny???" tanyanya sedikit mengguncang tubuh Jeany.


Jeany tidak terpengaruh walau melihat perubahan sikap Henny. Ia tetap bungkam.


"Iya, Ma. Nama anak kami Kenny." Kevin yang menjawab pertanyaan sang mama.


"Apa kamu jualan brownies?" Suara Henny nyaris menyerupai sebuah bisikan.


"Mama tahu dari mana?" Lagi-lagi Kevin yang menjawab karena Jeany masih tidak ingin berbicara.


Tiba-tiba Henny menangis tersedu-sedu. Ia mengingat kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya sendiri.


Pasti mama kamu mama yang sangat hebat ya ....


Mama kamu pekerja keras ....


Mama Kenny kerja keras demi Kenny ....


Tangis Henny semakin keras seiring dengan penyesalannya yang semakin dalam. Perempuan yang ia anggap sebagai seorang ibu yang luar biasa, nyatanya adalah perempuan yang dulu pernah diusirnya dengan tidak hormat. Dan janin yang dulu tidak diakuinya berasal dari benih sang putra, kini tumbuh menjadi anak dengan budi pekerti yang telah ia saksikan sendiri.


Ia bahkan tidak memerlukan tes DNA untuk yakin bahwa Kenny adalah cucu kandungnya. Henny merasa wajahnya ditampar berkali-kali. Namun justru hatinya yang terasa amat sakit. Ia takut sisa hidupnya yang sudah tidak lama lagi itu akan dihabiskannya dalam penyesalan tak berujung.


Wanita itu menjatuhkan dirinya, berlutut di hadapan Jeany. "Tolong maafkan saya ...!" ratapnya sambil memegangi kaki perempuan yang telah melahirkan cucunya itu.


Kevin ikut berlutut sembari memegangi pundak sang mama. Walau tak tega melihat wanita tua itu merendahkan dirinya, ia tahu hal tersebut sudah seharusnya dilakukan oleh Henny. Perbuatannya di masa lalu terlalu kejam untuk dimaafkan. Sedangkan Jeany, ia terlalu terkejut untuk memberikan respons apa pun.


"Tolong maafkan saya dulu tidak percaya sama kamu. Saya baru tahu kamu mamanya Kenny! Kenny anak yang baik, kamu sudah membesarkan cucu saya dengan baik!" Henny terisak di sela-sela kalimatnya.


Kevin dan Jeany saling berpandangan. "Mama udah pernah ketemu Kenny?" tanya laki-laki itu.


Henny mengangguk berkali-kali. "Kenny satu sekolah sama Enzo. Mama bahkan sudah pernah makan brownies buatan Jeany!"


Kevin melebarkan matanya mendengar jawaban sang mama. Baginya ini adalah sebuah kebetulan yang baik. Sang mama juga sudah mau menerima Kenny sebagai cucunya. Impiannya untuk menikahi Jeany sedikit lagi terwujud.


Namun ternyata sang kekasih memiliki pemikiran lain. "Mana mungkin perempuan rendahan seperti saya melahirkan cucu Tante!"


"Jean ...." Wajah Kevin memelas menatap perempuan yang dicintainya itu. "Tolong maafkan mamaku. Mamaku benar-benar menyesal ...."


"Iya saya benar-benar menyesal, Jeany .... Tolong maafkan saya. Apapun akan saya lakukan agar kamu bersedia memaafkan saya!"


Jeany memandang sinis wanita itu. "Saya gak butuh apa pun dari Tante! Sekarang pergi dari rumah saya! Pergi!!"


Jeany sedikit berteriak karena emosi tengah menguasai pikirannya. Ia bahkan tak peduli lagi bila ada tetangga yang mendengar keributan mereka. Kejadian di klinik aborsi masih sangat melekat di ingatannya.


Tidak bisa dipercaya, pikirnya. Semudah itu Henny meminta maaf setelah tahu Kenny adalah cucu kandungnya. Bagaimana dengan rasa sakit hatinya selama ini? Bagaimana dengan waktu tujuh tahun yang hampir setiap malam harus dilaluinya dengan tangisan? "Kenapa masih belum pergi juga?!" ketusnya pada Henny.


Tangan Jeany yang ingin melepas cengkeraman Henny pada kedua kakinya ditahan oleh sebuah tangan mungil.


"Mama .... Mama kenapa marahin Oma? Oma kenapa nangis?"

__ADS_1


Jeany tidak menduga putranya yang tadi sudah tertidur akan muncul di sana. "Kenny, kamu masuk dulu ya, Nak?" ucapnya pada sang putra.


Henny menatap Kenny dengan linangan air mata. "Kenny .... Kenny cucuku ...." Suara wanita itu tidak beraturan, tangannya terulur ingin menggapai sang cucu.


"Ya, Oma? Oma kok bisa ke sini? Oma kenapa berlutut?" Wajah polos Kenny menatap Henny dengan bingung.


Kevin lalu mengajak sang mama berdiri dan berbisik pada Jeany. "Aku ajak Kenny pergi dulu, tolong bicara sama mamaku."


Jeany tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin ia menunjukkan kebenciannya pada Henny di depan Kenny. Setelah mendapat persetujuan dari Jeany, Kevin menghampiri sang putra. "Kenny, mau gak temenin Papa beli terang bulan buat mama?"


Bocah itu mengangguk bersemangat. "Mau, Pa! Mama paling suka terang bulan! Kenny juga suka!"


Kevin tersenyum. "Ayo kita pergi sekarang," ajaknya sembari menggandeng tangan Kenny.


Ia lalu pamit pada Henny. "Ma, aku pergi dulu ya. Jean ...." Kevin memberi tatapan memohon pada Jeany yang segera mendapat jawaban berupa anggukan dari perempuan itu.


Kenny meniru sang papa. "Ma, Kenny pergi dulu ya. Oma, Kenny pergi dulu. Dadah, Mama dadah, Oma ...," ucapnya sambil melambaikan tangan.


Jeany dan Henny kompak melambaikan tangannya pada Kenny. Keduanya lalu saling berpandangan.


"Masuk," kata Jeany dingin.


Henny masuk dengan patuh. Begitu ia memasuki rumah Jeany, tercium aroma manis brownies yang sedang dipanggang. Hatinya kembali diliputi penyesalan.


"Apa kamu sudah mau memaafkan saya, Jeany?" Wajah Henny terlihat begitu memelas.


"Saya gak bisa! Tante sudah terlalu kejam mau menggugurkan Kenny waktu itu!"


"Waktu itu saya hanya menggertak kamu!" Henny mengeluarkan tangisan putus asa.


"Menggertak?" tanya Jeany tak percaya.


"Saya juga seorang ibu, mana mungkin tega melakukan itu? Kalau saya benar-benar ingin menggugurkan kandungan kamu, saya tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja! Waktu itu saya cuma mau kamu tidak mencari anak saya lagi!" Henny mengemukakan alasannya.


Perkataan Henny membuat pendirian Jeany sedikit goyah. Kalau diingat kembali, memang benar ia dapat keluar dari tempat menyeramkan itu tanpa kurang suatu apa pun. Padahal peralatan operasi telah disiapkan, dan orang-orang di sana juga cukup banyak untuk dapat menahannya agar tidak kabur.


"Bagaimana dengan tuduhan Tante pada saya?"


Sambil sesenggukan Henny melanjutkan kalimatnya. "Maafkan keegoisan saya. Saya belum bisa sepenuhnya memaafkan kesalahan suami saya. Saya masih marah kalau ingat kejadian itu. Tapi saya malah melampiaskan kemarahan saya ke kamu. Saya tahu saya salah .... Tolong maafkan saya!"


Jeany tidak tahu harus bagaimana. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Bukankah ini yang selama ini ia inginkan, melihat wanita itu berlutut di kakinya dan memohon pengampunan darinya? Namun mengapa sekarang ia merasa tak tega melihat wanita itu menangis? Mengapa ia merasa ingin memberi Henny sebuah kesempatan?


Melihat Jeany mulai bimbang, Henny kembali meyakinkannya. "Tolong beri saya satu kesempatan saja. Saya akan membuktikan kalau saya benar-benar menyesal. Kalau saya masih membuat kamu kecewa, kamu boleh selamanya melarang saya bertemu dengan Kenny!"


Berat bagi Henny mengucapkan kalimat tersebut. Ia akan sangat menderita jika tidak dapat bertemu lagi dengan cucunya. Namun ia sangat membutuhkan pengampunan dari Jeany.


Kata-kata Henny menyentuh lubuk hati Jeany yang paling dalam. Pada dasarnya ia memang berhati lembut. Ia menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen dan perlahan menghembuskannya.


"Baiklah saya maafkan."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, hati Jeany terasa begitu lega. Ia ingin membuka lembaran baru dengan laki-laki yang dicintainya tanpa menyimpan dendam pada ibu dari laki-laki itu. Ia ingin Kenny merasakan kasih sayang utuh dari keluarga yang semula tidak mengetahui keberadaannya.


"Terima kasih, Jeany ...." Tidak banyak kata yang dapat Henny ucapkan untuk mengungkapkan rasa syukurnya.


Jeany membantu wanita itu berdiri. "Tante mau minum apa? Biar saya buatkan."


"Panggil saya Mama," ucap Henny sambil memegang tangan Jeany. "Sebentar lagi kamu kan jadi menantu saya."


"I-iya, Ma."


Henny tersenyum bahagia. Perhatiannya sedikit teralihkan saat aroma brownies semakin kuat tercium. "Sepertinya brownies kamu sudah matang."


"Oh iya ...!" Jeany langsung beranjak menuju dapur.


Henny mengikutinya. "Biar saya bantu."


"Eh ja-jangan, Ma. Mama tunggu aja di ruang tamu, gak lama kok," tolak Jeany dengan canggung.


"Tidak apa-apa. Gini-gini saya juga bisa bikin kue lho ...."

__ADS_1


"Bukan begitu maksud saya ...."


Henny menahan tawa melihat calon menantunya salah tingkah. Pada akhirnya ia tetap membantu Jeany di dapur. Senyum bahagia tidak pernah lepas dari bibirnya.


Tidak lama kemudian Kevin pulang bersama Kenny. Laki-laki itu terbengong melihat sang kekasih sedang bersama sang mama tampak begitu akur di dapur, yang satu mengeluarkan loyang brownies dari panggangan, yang satu mencuci peralatan masak. Ia tak dapat menahan rasa penasarannya.


"Mama ama Jeany udah baikan?"


Henny dan Jeany sama-sama tersenyum. "Menurut kamu?"


Kenny yang baru keluar dari kamar kecil menyusul masuk dan berkata dengan penuh keceriaan, "Mama, Oma .... Ayo kita makan terang bulan!"


***


Keesokan paginya, Kevin menjemput Jeany dan Kenny. Ia terlebih dahulu mengantar sang putra ke sekolah. Laki-laki itu sangat menikmati peran barunya sebagai seorang ayah, walau agak terlambat.


Setelah Kenny turun, Kevin melajukan mobilnya menuju kantor. Tangan kanannya mengendalikan kemudi, sedangkan tangan kirinya ia turunkan untuk menggenggam tangan sang kekasih.


"Nanti malam aku dan papa mama akan menemui orang tua Lisa untuk membatalkan pertunangan kami secara resmi."


"Semoga mereka mau menerima dengan lapang dada ya, Vin." Jeany tidak bisa tidak merasa cemas.


Tapi sepertinya Kevin tidak peduli. Pertanyaan selanjutnya dari laki-laki itu tidak ada hubungannya dengan pembicaraan yang baru saja mereka lakukan.


"Kamu mau honeymoon di mana?"


Jeany mencubit perut Kevin membuat laki-laki itu menjengit. "Nikahnya kapan udah mau honeymoon aja."


"Aku udah nahan lama banget loh, Jean."


"Di kamar aja kalo gitu," jawab Jeany asal.


"Gak masalah, di mana aja aku bisa kok, Sayang." Kevin menyeringai nakal.


Gurat bahagia tampak jelas di wajah Jeany. Ia masuk ke ruangan kerjanya dengan senyum mengembang. Sebuah pemandangan langka bagi rekan-rekannya.


"Cieee baru jadian ya kok senyum-senyum terus?" goda Juli padanya.


"Traktir gue makan dulu baru gue jawab," Jeany menanggapi dengan candaan.


"Ah elu .... Salah kalo minta traktiran ma gue. Minta ama Bu Lisa tuh, sebentar lagi dia bakal nikah ama Pak Kevin!"


"Apa???" Senyum di wajah Jeany seketika menghilang.


"Iya, makanya masuk grup! Ada yang nge-share fotonya tuh. Ternyata tunangan Bu Lisa itu Pak Kevin! Hmm berarti Pak Kevin anak yang punya perusahaan ini ya? Beruntung banget sih Bu Lisa. Dapet cowok cakep, tajir lagi!"


"Tapi kan ada aturan suami istri gak boleh kerja satu kantor?" timpal Anet.


"Yaelah itu buat krucil kayak kita. Bos mah bebas!"


Kebahagiaan Jeany hilang tak berbekas. Amarah menyeruak di dadanya. Ia tahu pasti Lisa sengaja menyebarkan foto pertunangan tersebut. Sedetik kemudian muncul perasaan gelisah. Ia tak ingin lagi disebut sebagai penghancur hubungan orang lain.


***


Di ruangan direktur utama, Kevin mengeluarkan kemarahannya di hadapan Lisa. Ia membanting vas bunga yang ada di meja kerjanya hingga hancur berkeping-keping. Lembaran demi lembaran kertas dan alat tulis juga berhamburan di lantai. Ia sudah sangat ingin meluapkan kemarahannya setelah berulangkali menerima ucapan selamat dari para petinggi perusahaan. Ucapan selamat atas pertunangannya dengan Lisa yang sebenarnya telah ia batalkan.


"UNTUK APA KAMU MENYEBARKAN FOTO PERTUNANGAN ITU?!" teriak Kevin sambil menggebrak meja.


Lisa menahan rasa takutnya. Ia masih dapat berdiri tegak karena merasa tidak bersalah.


"Supaya kamu gak seenaknya membatalkan pertunangan kita! Sekarang semua orang di kantor sudah tahu hubungan kita. Kalau mereka tahu pernikahan kita batal karena ada perempuan lain, reputasimu di kantor akan hancur!"


"Kamu kira aku peduli dengan reputasiku?? Aku bahkan rela melepas semua fasilitas demi dia!"


"Sekarang keadaan gak sama seperti waktu kamu kuliah dulu. Kamu direktur di perusahaan ini. Tanggung jawabmu besar."


Rahang Kevin mengeras menahan emosi. Kalau Lisa bukan seorang perempuan, pasti sudah ia hajar dari tadi. Ia memikirkan Jeany. Reputasinya sendiri tidak penting. Akan tetapi bagaimana dengan reputasi Jeany? Ia tak ingin masa lalu terulang lagi, saat Jeany menerima cacian karena dianggap merebut kekasih orang lain. Ditatapnya Lisa dengan sorot mata tajam menusuk.


"Aku akan melakukan apa pun supaya perempuan yang aku cintai gak tersakiti lagi. Sekalipun harus menyakiti orang lain."

__ADS_1


Mampir juga di karya temanku Lisa Rahayu yuk 😃



__ADS_2