
Kabar kecelakaan Kevin malam itu menggemparkan seluruh anggota keluarga Wijaya. Ketika papa Kevin, Marvin, Winda dan Jovina sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit, mama Kevin justru keluar masuk toilet karena sakit perut mendadak.
"Kalau seperti ini Mama di rumah saja, tunggu kabar dari papa. Vina juga di rumah saja temani mama kamu," ucap papa Kevin.
"Gak, Pa. Mama bisa gila kalau harus di rumah menunggu kabar dari kalian. Mama mau ikut," jawab Henny sambil mengambil tasnya.
"Aku juga mau lihat Kak Kevin, Pa!" rengek Jovina.
"Ya sudah ayo kita berangkat sekarang," putus Alan, sadar dirinya tidak akan bisa membuat istri dan putrinya menurut.
"Jean, titip Enzo dulu ya, nanti kakak kabari," pamit Winda pada Jeany.
"Iya, Kak," jawab Jeany pasrah.
Gadis itu mendesah gelisah. Ia juga ingin ikut ke rumah sakit dan melihat keadaan kekasihnya. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya bila posisinya di rumah itu hanya seorang pengasuh bayi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat dan memanjatkan doa.
Ya Tuhan tolong jaga Kevin agar dia baik-baik saja ....
***
Keluarga Kevin langsung mendatangi Unit Gawat Darurat rumah sakit yang disebutkan oleh orang yang menelepon mereka tadi.
"Permisi, kami keluarga Kevin Wijaya. Bagaimana keadaan anak saya sekarang, Dok?" ucap papa Kevin terburu-buru.
"Anak Bapak pasien yang mengalami kecelakaan mobil?"
"Iya iya, Dok itu anak saya!"
Raut wajah dokter muda tersebut berubah simpatik. "Pasien mengalami benturan parah dan patah tulang leher."
Semua keluarga Kevin menahan napas mereka mendengar pemaparan dokter atas kondisi Kevin yang terdengar sangat parah.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi luka yang dialami putra Bapak terlalu fatal. Yang sabar, Pak, Bu, kami mohon maaf putra Bapak dan Ibu tidak dapat diselamatkan."
Henny langsung merosot ke lantai karena kakinya tidak kuat lagi menopang berat tubuhnya. Ia menangis histeris mendengar putra keduanya telah tiada. Winda dan Jovina ikut menangis sambil memeluk satu sama lain.
Alan dan Marvin terlihat pucat pasi. Namun sebagai seorang laki-laki mereka lebih kuat menerima kabar buruk tersebut. Alan mengusap wajahnya berkali-kali sebelum bertanya ,"apa saya bisa melihat jenazah putra saya, Dok?"
Seorang petugas mengantar keluarga Kevin ke kamar jenazah. Henny bersikeras untuk ikut walaupun harus berjalan dengan langkah terseok-seok sambil dipegangi oleh putri dan menantunya. Sepanjang perjalanan dari UGD menuju kamar jenazah, mama Kevin itu tidak berhenti menangis.
Hanya Alan dan Marvin yang masuk ke dalam kamar jenazah. Mereka mendekati jenazah yang ditunjuk oleh petugas. Dengan tangan bergetar papa Kevin menarik kain putih penutup jenazah yang telah dipenuhi bercak darah itu. Air matanya kini tidak dapat ditahannya lagi.
"Astaga ...."
Alan dan Marvin sama-sama menangis melihat jenazah tersebut. Luka yang dialaminya demikian parah hingga kedua laki-laki itu tidak tega melihatnya. Namun mereka menangis karena ketegangan hebat yang tadi mereka rasakan kini berganti menjadi kelegaan luar biasa manakala melihat jenazah tersebut bukanlah sosok yang mereka pikirkan.
***
__ADS_1
"Saya mohon maaf sekali atas kekeliruan ini," ucap dokter muda tadi sambil berkali-kali membungkukkan badannya.
Rupanya ada dua orang pasien korban kecelakaan yang masuk ke Unit Gawat Darurat rumah sakit tersebut. Kebetulan sekali keduanya memiliki persamaan : laki-laki dan masih muda. Dokter jaga tersebut mengira pasien yang meninggal lah yang dimaksud oleh keluarga Kevin karena memang belum ada sanak keluarganya yang datang
"Tidak apa-apa, Dok, saya mengerti. Lalu di mana anak saya sekarang?"
"Pasien sudah dipindah ke ruang perawatan. Putra Bapak harus diopname karena mengalami benturan di kepala dan muntah-muntah. Hasil rontgen di kepala bagus tidak ada keretakan pada tulang tengkorak. Besok saya kasih rujukan untuk CT Scanning supaya bisa dilihat ada pendarahan atau tidak."
"Terima kasih banyak, Dok."
Di dalam ruang perawatan, Kevin yang sudah tertidur karena efek obat tampak ditunggu oleh seorang pria paruh baya. Pria itulah yang membawa Kevin ke rumah sakit dan mengurus segala keperluan administrasi untuk perawatan Kevin. Ia pula yang memberi informasi keluarga pemuda itu perihal kecelakaan yang dialaminya.
"Saya mohon maaf sekali karena kelalaian saya sudah membuat putra Bapak terluka. Saya siap bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatannya," ucap pria itu. Ia adalah pengemudi mobil dari arah berlawanan. Sebelum kecelakaan terjadi, pria tersebut sedang mengemudi sambil membalas pesan di ponselnya, membuat mobil yang dikendarainya oleng melewati markah pembatas jalan dan masuk ke jalur kemudi Kevin.
"Sudahlah yang penting anak saya selamat. Saya berterima kasih karena Bapak sudah membawa anak saya ke rumah sakit," ucap papa Kevin. Melihat itikad baik pria tersebut, keluarga Kevin memilih menyelesaikan masalah kecelakaan tersebut secara kekeluargaan.
Setelah berdiskusi, diputuskan Marvin lah yang menjaga Kevin malam itu. Anggota keluarga Kevin yang lain pulang ke rumah untuk beristirahat. Di rumah itu Jeany masih menunggu dengan gelisah. Sambil menggendong Enzo yang belum mau tidur, ia menunggu kedua orang tua Kevin masuk ke dalam kamarnya sebelum mendekati Winda.
"Gimana keadaan Kevin, Kak? Dia gak apa-apa kan? Apanya yang luka?"
Winda bahkan baru beberapa langkah masuk ke dalam rumah namun Jeany telah menyerang kakak ipar Kevin itu dengan banyak pertanyaan sekaligus. Winda tersenyum maklum melihat sikap Jeany. Terlihat sekali gadis itu sangat mengkhawatirkan adik iparnya.
"Kevin gapapa kok, tapi harus diopname dan besok dilakukan pemeriksaan lebih lanjut soalnya kepalanya kebentur."
"Ya Tuhan syukurlah ...." Jeany menutup mulutnya untuk menahan isakannya. Harusnya ia senang mendengar Kevin baik-baik saja, namun ia justru menangis. Winda merangkul Jeany untuk menenangkannya.
"Gak usah sedih, Kak ... Kak Kevin selamat kok cuma lebam dikit pipinya!"
"Kak Jeany tahu gak, tadi di rumah sakit heboh banget! Aduh jadi ngakak kalo ingat-ingat itu!"
Jovina berbicara sambil tertawa terpingkal-pingkal. Jeany terheran-heran melihat Winda juga ikut tertawa. Apakah mereka berdua tidak sedang merasa sedih dengan keadaan Kevin? Namun ia menjadi orang yang berikutnya tertawa setelah mendengar cerita dari Jovina. Jeany tertawa sambil menyeka air matanya. Walau telah dapat tertawa, ia masih sangat mengkhawatirkan Kevin. Perasaan itu kian menyiksa karena ia tidak dapat melihat langsung keadaan kekasihnya itu.
Keesokan paginya Henny dan Jovina pergi ke rumah sakit untuk menggantikan Marvin menjaga Kevin. Papa Kevin tidak ikut karena pagi itu ia ada jadwal pertemuan dengan rekan bisnisnya. Winda tidak dapat pergi karena harus masuk kantor. Sedangkan Jeany tentu saja harus melakukan pekerjaannya menjaga Enzo.
Nanti malam. Ya, nanti malam aku harus cari cara untuk melihat Kevin, Jeany membatin penuh tekad.
Mobil yang mengantar Henny dan Jovina baru saja akan keluar dari pintu gerbang ketika sebuah mobil lain berhenti di depan pagar. Seorang gadis cantik terlihat turun dari mobil tersebut.
"Itu kan Kak Stevi, Ma! Pacarnya Kak Kevin!" ucap Jovina memberitahu sang mama.
Ya, Stevi mengabaikan larangan Kevin untuk datang menemui mamanya. Gadis itu tetap ingin bertemu dengan orang tua Kevin dan memperkenalkan diri sebagai kekasih pemuda itu. Ia bukan tipe perempuan yang bisa dicampakkan begitu saja.
Mendengar informasi dari putrinya, Henny langsung menoleh dan memperhatikan Stevi dengan seksama. Cantik sekali, pikirnya.
"Pasti dia belum tahu kakak kamu masuk rumah sakit. Ayo kamu ajak sekalian."
Jovina turun dan mendatangi Stevi. Gadis itu terlihat sangat terkejut dan bergegas ikut masuk ke dalam mobil. Ia duduk di samping Henny.
__ADS_1
"Tante, maaf ya saya baru memperkenalkan diri sekarang," ucap Stevi pada mama Kevin. Matanya terlihat merah menahan tangis karena sangat mencemaskan Kevin.
Henny tersenyum lembut pada Stevi dan menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu.
"Kamu gak usah khawatir ya, Kevin baik-baik saja kok. Untung kamu datang di saat yang tepat. Kevin pasti senang sekali pagi-pagi sudah dikunjungi pacarnya yang cantik ini."
"Tante bisa saja ...." Stevi tersipu-sipu dipuji cantik oleh Henny. Dalam hati ia tersenyum senang karena sepertinya telah berhasil mengambil hati mama Kevin.
Ketika tiga orang perempuan itu tiba di rumah sakit, Kevin belum terjaga dari tidurnya. Menurut dokter hal tersebut dikarenakan pemuda itu baru saja mengalami trauma sehingga memerlukan waktu tidur lebih lama untuk memulihkan tubuhnya.
Sambil menunggu Kevin bangun, Henny mengajak ngobrol Stevi karena penasaran dengan kisah cinta putra keduanya itu.
"Stevi sudah lama pacaran sama anak saya?"
"Sudah lima bulan, Tante."
"Wah sudah lama begitu kok Kevin gak kasih tau tante. Siapa duluan yang mendekati?"
"Mungkin dia malu, Tante. Kevin duluan ...." jawab Stevi tersenyum kikuk.
"Aduh saya penasaran sekali bagaimana cara Kevin mendekati kamu. Malah saya sempat mengira Jeany yang pacarnya Kevin, habis dia sebelumnya gak pernah bawa cewek ke rumah sih ...." ucap Henny sambil tertawa kecil.
"Kak Kevin memang beda kalo lagi sama Kak Jeany," timpal Jovina mengangguk-angguk setuju.
Stevi menggenggam jemarinya kuat-kuat hingga kukunya yang panjang terawat menusuk tajam kulitnya. Namun ia mengabaikan rasa sakit di telapak tangannya, sebab rasa sakit di hatinya lebih mendominasi pikirannya.
Lagi-lagi Jeany ....
"Ugh ...."
Terdengar suara Kevin yang mulai terbangun namun masih berat untuk membuka matanya. Ketiga orang yang menunggunya itu segera datang menghampiri. Stevi yang berdiri paling dekat dengan Kevin.
"Yang, bangun ... Ini aku," ucap gadis itu sambil menggenggam tangan Kevin.
Kevin membuka matanya. Penglihatannya sempat kabur sebelum perlahan semakin jelas menunjukkan wajah gadis yang sangat dikenalnya.
"Stevi?"
Stevi menganggukan kepalanya sambil tersenyum penuh haru.
"Iya ini aku. Syukurlah kamu udah sadar. Gimana perasaan kamu sekarang?"
Kevin hanya mengernyit karena merasa nyeri di kepala bagian kanan.
"Kevin, kamu bikin mama cemas sekali, Nak! Di mana yang masih sakit? Sebentar mama panggilkan dokter!"
"Kak Kevin! Huhuhu akhirnya Kak Kevin bangun juga ...."
__ADS_1
Jovina langsung memeluk kakaknya itu. Setelah Jovina melepas pelukannya, Kevin melihat gadis itu dan Henny bergantian dengan wajah bingung.
Sabar ... Tahan dulu emosinya ya, Teman-teman 🤗