
Kevin menatap nyalang kedua asisten rumah tangga di hadapannya. Awalnya ia ingin menanyakan pakaian batik yang akan dikembalikannya pada Stevi, tetapi justru mendengar hal yang tidak disangka-sangka.
"Jawab saya!" bentaknya lagi karena dua wanita di hadapannya masih bungkam.
"I-iya diusir, Den ...."
"Kenapa? Karena Mama mengira dia wanita panggilan?"
Bi Murni dan Iis sama-sama menggeleng dengan raut wajah menunjukkan ketidaktahuan. Sadar tidak akan mendapat jawaban, Kevin menghela napas kesal dan berbalik meninggalkan mereka. Namun tidak lama kemudian ia kembali.
"Mbak Iis dengar baik-baik ya. Pertama, Jeany bukan wanita panggilan. Kedua, saya yang melarang Jeany untuk cuci piring karena pekerjaan dia di sini hanya menjaga Enzo. Dan ketiga, dia punya fobia sosial yang bikin dia gak pintar bergaul apalagi basa-basi gak penting!"
Setelah Kevin pergi, Iis merasa tubuhnya gemetar. Belum pernah ia melihat majikan mudanya semarah itu.
"Gimana iki, Bik? Den Kevin marah besar karo aku ...."
"Makanya to jangan kebiasaan suudzon dan ghibah. Wes nanti minta maaf kalo ketemu orange lagi."
"Iyo, Bik nyesel aku ...."
Setelah memarahi asisten rumah tangganya, Kevin duduk di ruang tengah menunggu keluarganya pulang. Ia menduga mereka sedang memeriksakan Enzo di dokter, karena sempat didengarnya tadi keponakannya terjatuh. Pemuda itu tidak menghubungi mereka karena tidak ingin mamanya tahu ia telah membeli ponsel baru.
Hampir setengah jam kemudian papa, mama, kakak, kakak ipar dan keponakan Kevin memasuki ruangan tersebut. Pemuda itu segera berdiri dan menghampiri Winda yang sedang menggendong putranya.
"Enzo gimana, Kak?"
"Gapapa kok, untung tadi mama datang tepat waktu, jadi Enzo gak sampai jatuh ke bawah."
Henny melihat Kevin dengan raut wajah lelah dan kecewa. "Kamu tadi ke mana, Kevin? Kamu tidak bantu Stevi jaga Enzo? Mama kecewa sekali sama kalian. Stevi sangat ceroboh membiarkan Enzo main sendiri sampai jatuh di tangga!"
"Ma, kenapa mama mengusir Jeany?"
Bukannya menjawab pertanyaan Henny, Kevin malah balik bertanya. Suasana di ruangan tersebut mendadak berubah. Marvin segera mengajak anak dan istrinya ke lantai atas, menuju kamar mereka. Sedangkan Alan berdiri menunggu istrinya berbicara dengan putra kedua mereka.
"Mama capek sekali, Kevin. Besok saja kita bicaranya."
"Tapi, Ma-" Kevin berjalan mengikuti mamanya yang berniat naik ke lantai atas bersama sang suami.
"Kevin, mama kamu habis perjalanan jauh. Biarkan mama kamu istirahat dulu." Alan mencegah putranya mengikuti mereka.
Kevin menarik rambutnya frustrasi. Ia tidak sadar adiknya yang baru saja pulang telah berada di sampingnya, memperhatikan sikapnya yang tidak biasa.
"Kak Kevin napa uring-uringan?"
Mendengar suara putrinya, Henny yang sudah sampai di bagian tengah tangga menghentikan langkahnya dan kembali turun ke bawah. Alan mengikutinya.
"Vina, kamu dari mana saja jam segini baru pulang?"
"Hehehe biasa, Ma. Jalan-jalan ama Tania CS." Jovina menjawab dengan santai.
"Kamu itu ya, setiap hari bangun siang, keluyuran gak jelas sampai malam. Sama sekali gak perhatian dengan keadaan di rumah! Mau sampai kapan kamu begini terus?"
Henny melimpahkan kekesalannya pada sang putri. Jovina tidak terima dimarahi begitu saja, sebab menurutnya ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Gadis itu langsung membalas ucapan mamanya.
"Mama kenapa sih tiba-tiba marahin Vina? Biasanya juga kan aku kayak gini kalo lagi liburan."
"Sudah tahu gak ada yang jaga Enzo, bukannya bantu malah keluyuran. Gak kamu gak kakak kamu semua bikin mama kecewa!"
"Mama udah tahu gak ada yang jaga Enzo, kenapa malah mecat Kak Jeany?"
Kevin sontak menoleh pada adiknya.
"Vina!" Alan membentak putrinya. "Jangan kurang ajar sama mama kamu!"
"Habis Vina gak ngerti, Pa, kenapa Mama-"
"Sudah sudah kamu masuk dulu ke kamar! Mama kamu butuh istirahat."
__ADS_1
Dengan hati dongkol Jovina berlari menaiki tangga. Alan juga menuntun istrinya berjalan menuju kamar mereka di lantai atas. Ia tahu suasana hati istrinya sedang tidak baik. Puluhan tahun menikah dengan Henny, ia paham tabiat istrinya yang jika marah pada satu orang, maka orang lain juga akan terkena imbasnya. Hal yang tadinya dianggap biasa saja dapat dengan mudah menjadi sumber pertengkaran baru.
Kevin juga bukannya tidak tahu dengan tabiat mamanya. Ia pun memilih untuk masuk ke kamarnya dan menelepon Jeany, walau mereka masih dalam keadaan bertengkar.
"Halo, Vin?" Terdengar suara yang amat dirindukan oleh pemuda itu.
"Halo. Kamu lagi apa?"
"Lagi baca novel. Sorry ya tadi aku kelewatan. Kamu udah gak marah kan?"
"Aku yang harusnya bilang sorry karena gak memahami kamu. Apa selama aku di rumah sakit terjadi sesuatu?"
Jeda sejenak sebelum gadis itu menjawab, "gak ada apa-apa. Kamu udah makan? Udah minum obat?"
"Udah. Besok aku ke kos kamu lagi ya."
"Mama kamu udah bolehin?" Kevin dapat mendengar nada penuh harap pada suara kekasihnya itu, menambah rasa sesak di hatinya.
"Biarpun gak diijinin aku bakal tetap ke sana. Kangen tau gak sehari aja gak ketemu kamu."
"Beneran? Kamu gak akan pernah berhenti cari aku kan?"
"Iya." Kevin tahu gadis itu merasa hubungan mereka penuh ketidakpastian. "Jean, aku cinta kamu."
"Aku ... aku juga."
"Juga apa?"
"Juga sama."
"Hmm kamu gak romantis banget sih," ucap Kevin pura-pura kecewa.
"Aku juga cinta kamu." Kevin mendengar kalimat tersebut diucapkan dengan sangat cepat, dan sambungan telepon itu pun terputus. Lebih tepatnya diputus oleh Jeany.
Tingkah gadis itu ketika malu membuat Kevin tertawa. Namun tidak lama kemudian rasa sedih menyelimuti dirinya.
Keesokan paginya di meja makan Kevin langsung mengutarakan isi hatinya di depan seluruh anggota keluarganya. Tentu saja tidak termasuk Jovina yang masih belum bangun dari tidurnya.
"Ma, Pa, Kak Marvin, Kak Winda, tolong restui hubunganku dengan Jeany."
Lagi-lagi Kevin merasakan suasana di ruangan itu berubah. Ada semacam ketegangan yang coba disembunyikan oleh orang-orang di sana. Henny meletakkan sendoknya di piring dengan keras hingga mengeluarkan suara berdenting yang mengagetkan. Ia lupa akan keberadaan sang cucu yang seharusnya dijauhkan dari segala paparan emosi negatif di usianya yang masih terlalu dini.
"Winda, kamu suapi Enzo di depan saja," titah Henny pada menantunya.
"Iya, Ma."
Setelah Winda keluar dari ruang makan bersama Enzo, Henny langsung menatap putra keduanya dengan sorot mata penuh ketegasan. "Sampai kapan pun mama tidak akan merestui hubungan kalian!"
"Tapi kenapa, Ma? Apa salah Jeany?"
"Mama tidak mau punya calon menantu wanita penghibur!"
"Astaga, Ma! Jeany bukan wanita penghibur!" Tanpa sadar Kevin berbicara keras pada mamanya.
"Kevin! Bicara baik-baik dengan mama kamu!" Alan mengingatkan putranya.
"Kalau bukan wanita penghibur untuk apa dia kerja di club malam? Dan untuk apa mendekati laki-laki yang sudah punya pacar?"
"Jeany di sana cuma waitress, Ma. Dia butuh uang untuk kuliah dan biaya hidup. Tunggu, Mama tahu dari mana Jeany pernah kerja di club malam?"
"Stevi yang cerita sama mama."
"Astaga Stevi ...," keluh Kevin. Namun ia mengesampingkan kekesalannya pada Stevi. Baginya sekarang yang terpenting adalah membujuk orang tuanya agar mau menerima Jeany. "Ma, Pa, percaya sama aku. Jeany perempuan baik-baik. Di club malam dia cuma mengantar makanan dan minuman di cafe. Aku lihat sendiri, Ma."
"Apa maksud kamu lihat sendiri? Kamu pernah ke club malam?" Henny semakin berang mendengar ucapan putranya.
"Cuma sekali, Ma. Itu pun gak lama. Tolong percaya sama aku. Jeany perempuan baik-baik."
__ADS_1
"Perempuan baik-baik tidak akan bekerja di tempat hiburan malam! Mama yakin dia sudah rusak!"
Mendengar kalimat Henny, Kevin menjatuhkan lututnya di lantai. Pemuda itu bersimpuh di kaki sang mama. "Aku yang udah merusak dia, Ma .... Aku udah mengambil kesucian Jeany ...."
"APA MAKSUD KAMU???" Henny berteriak penuh amarah.
Alan dan Marvin tidak kalah terkejutnya dengan satu-satunya wanita di ruangan itu.
"Kevin, kamu jangan bicara sembarangan!"
"Iya, Vin. Masak kamu udah gak perjaka?" Marvin memusatkan perhatian bukan pada hal semestinya.
Kevin memeluk kaki Henny dan memohon pada wanita yang melahirkannya itu. "Aku mohon .... Restui kami, Ma .... Aku harus bertanggung jawab karena udah memperkosa dia!"
"Memperkosa bagaimana???"
"Waktu itu dia dijebak temannya, mau dijual ke om-om. Aku yang menolong dia. Tapi karena aku mabuk, aku ... aku malah memperkosa dia ...."
PLAK!
Tangan Henny terayun begitu saja menampar putranya. Namun satu tamparan tidak mampu memuaskan hatinya yang telah dipenuhi amarah luar biasa. Ia terus memukuli Kevin.
"Mama sudah bilang jangan ulangi kesalahan papamu! Kenapa kamu tidur dengan pel*cur hah?! Kenapa kamu bikin mama sedih! Kalian papa dan anak sama saja! Kalian bikin mama hancur!!!"
Henny terus memukuli Kevin dengan membabi buta. Ia tidak menyadari tangannya yang semula hanya memukuli pundak putranya itu kini telah berpindah tempat ke kepala. Kevin memejamkan matanya menahan sakit, di kepala maupun di hatinya. Melihat itu Alan dan Marvin segera menghentikan Henny.
"Sudah, Ma, sudah! Jangan pukuli Kevin seperti itu, dia ada pendarahan di otak!"
Henny menepis tangan suaminya dengan kasar. "Ini semua gara-gara kamu!! Kalau kamu tidak memberi contoh buruk anak kamu tidak akan seperti ini!! Aku benci kamu benci kamu!!!" Kini giliran Alan yang mendapat pukulan dari istrinya.
Alan pasrah dipukuli, tidak pernah menyangka kesalahan bertahun-tahun silam akan kembali memorak-porandakan ketentraman keluarganya. Kesalahan yang telah cukup lama dilupakan dan tidak pernah diungkit itu kini mengancam kebahagiaan putranya. Namun kalau diperbolehkan, ia lebih memilih sang istri yang telah memberinya kesempatan kedua. Ia kemudian merangkul wanita itu untuk menenangkannya.
"Kapan kejadiannya?" tanya Alan pada Kevin.
"Lebih dari satu bulan yang lalu."
"Tapi setelah itu kamu masih berpacaran dengan Stevi kan?"
Kevin menunduk, bingung bagaimana menjelaskan masalah perasaan yang rumit itu. Namun ia semakin menyadari dirinya memang berengsek. Bila tidak muncul rasa cinta di hatinya untuk Jeany, mungkin hingga kini ia masih menjadi kekasih Stevi, membiarkan gadis yang telah ia rusak itu terpuruk tanpa status.
"Kevin, kamu dengarkan saja mama kamu. Papa yakin kamu akan dapat melupakan Jeany. Hubungan kalian itu terjadi hanya karena kesalahan, bukan cinta. Tidak seharusnya kalian berpacaran. Kalau dia butuh uang, papa bisa kasih."
Kevin menatap tak percaya pada Alan. "Mana bisa begitu, Pa? Aku udah memperkosa dia, aku harus bertanggung jawab!"
"Jadi menurut kamu papa kamu juga harus bertanggung jawab sama pel*cur yang sudah dia tiduri? BEGITU???" Lengkingan tinggi menyertai setiap kalimat yang diucapkan oleh Henny.
"Gak bisa disamakan, Ma! Jeany bukan pel*cur! Dia masih suci, aku yang udah ambil keperawanan dia!"
PLAK!
Satu lagi tamparan mendarat di pipi Kevin. Tangan yang baru saja menampar putranya itu bergetar, begitu pula dengan bibir yang berikutnya mengucapkan kalimat mengejutkan.
"Kalau kamu bersikeras mau berhubungan dengan dia, mama tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi!"
Air mata Henny menetes ketika mengucapkannya. Kevin juga tanpa sadar menangis, merasa dalam posisi teramat sulit. Hati pemuda itu terbelah antara sang mama dengan sang kekasih. Ia harus memilih antara wanita yang telah melahirkannya dengan gadis yang telah mengisi hatinya.
Wajah Jeany muncul dalam pikiran Kevin, segala tawa dan tangis gadis itu ketika mereka bersama. Ia mengingat saat pertama kali mencium gadis itu dan membaringkannya di atas ranjang. Ia mengingat ciuman-ciuman berikutnya, yang dilakukannya setelah menyadari rasa cintanya pada gadis itu. Ia membayangkan bila tidak dapat bertemu lagi dengannya. Seketika dadanya terasa amat sakit, seolah ada yang meremasnya.
Pemuda itu menghapus air matanya dan menatap sang mama. "Maafin aku, Ma. Aku sayang Mama, tapi aku juga cinta Jeany. Aku gak bisa berpisah dengan dia."
"Kalau begitu bawa barang-barang kamu dan tinggalkan rumah ini. Mulai sekarang kamu bukan anak kami lagi."
"Ma!" Alan dan Marvin menyuarakan keberatan mereka bersamaan.
Henny tetap bergeming. Namun dalam hati ia pun hancur karena putranya lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya. Setelah mengemasi barang-barangnya, Kevin mengembalikan kartu kredit dan kartu ATM pemberian orang tuanya.
"Maafin aku belum bisa berbakti sama Papa Mama. Maafin aku udah bikin Mama kecewa ...."
__ADS_1
Pemuda itu melangkah keluar meninggalkan rumah orang tuanya. Ia tidak menyesali keputusannya. Namun ia tahu tanpa dukungan finansial dari orang tua, hidupnya ke depan tak lagi mudah.