Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 7 - Tanggung Jawab Anak


__ADS_3

Vivian pernah mendengar bahwa cara paling efektif untuk menyingkirkan kesedihan adalah dengan menyibukkan diri. Karena itu, selama tujuh hari setelah Revan meninggalkan rumah mereka, ia semakin gila bekerja. Berangkat pagi sekali dan pulang sangat larut, agar sesampainya ia di rumah, yang perlu dilakukannya hanyalah tidur.


Vivian tidak memberi dirinya kesempatan untuk memikirkan suami labilnya itu. Ia yakin setelah beberapa waktu, laki-laki itu akan menyesal telah meninggalkannya. Seperti yang sudah-sudah, Revan akan selalu kembali padanya. Asal jangan selingkuh saja, pikirnya. Kalau itu terjadi, ia bersumpah akan menghancurkan Revan dan siapa pun perempuan sialan itu.


Niat Vivian untuk melupakan masalah rumah tangganya terbantu dengan adanya kesibukan baru di kantor. Menjelang hari raya Imlek, ia dan para Relationship Manager menyiapkan bingkisan yang akan diberikan kepada para debitur yang merayakan Tahun Baru China. Vivian sendiri secara pribadi juga mengantarkan bingkisan tersebut pada beberapa debitur yang memiliki hubungan dekat dengannya.


Siang itu, ia sudah berada di salah satu hotel di pinggir kota Surabaya. Bukan hotel mewah, tetapi tingkat okupansinya yang mencapai 70% jelas menunjukkan kemampuannya bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis.


Pemilik hotel tersebut adalah perempuan cantik bernama Imelda Mulya, salah satu debitur Vivian yang kini juga menjadi teman dekatnya. Sampai saat ini Vivian masih sulit percaya ia bisa bersahabat dengan Imelda, orang yang pernah diumpatnya dalam hati pada pertemuan pertama karena membiarkannya berdiri sangat lama saat ia menawari perempuan itu produk pinjaman usaha.


Dulu bangunan hotel milik Imelda tidak seapik sekarang. Gedung berusia dua puluhan tahun itu tampak suram dan beraura seram, membuat calon tamu potensial tidak tertarik untuk menginap di sana. Imelda merombak total bangunan tersebut menjadi bangunan modern yang nyaman ditinggali, tentunya dengan dana yang didapatnya dari kredit yang ditawarkan oleh Vivian.


Seorang karyawan hotel mengantar Vivian menuju ruang kantor Imelda yang besar dan nyaman. Perempuan itu langsung menghampiri Vivian, menyambut dengan hangat sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya.


"Ada angin apa Ibu Vivian yang super duper sibuk tiba-tiba datang berkunjung?" Imelda berpura-pura terkejut melihat kedatangan Vivian.


"Banyak cingcong kamu! Nggak lihat aku lagi pegang apa?"


Imelda tertawa keras-keras. "Jangan galak-galak dong sama debitur," protesnya, lalu menerima bingkisan yang dibawa oleh Vivian.


"Nggak apa-apa kalo debiturnya kamu."


Setelah menjawab, Vivian langsung mendudukkan diri di sofa berlapis kulit warna coklat tua milik Imelda, mengistirahatkan tubuhnya sebentar setelah berkendara cukup jauh.


"Aku haus, Mel," kata Vivian tanpa basa-basi.


Imelda tertawa lagi. Sikap terus terang Vivian yang membuatnya merasa memiliki kecocokan dengan perempuan itu. "Mau minum apa, Buk?"


Pandangan Vivian jatuh pada kabinet kaca di sisi kiri ruangan Imelda. Berbagai botol minuman beralkohol berjejer rapi di sana. "Ada alkohol nggak?" tanyanya pada Imelda karena tahu botol-botol yang dilihatnya hanya berfungsi sebagai pajangan.

__ADS_1


Imelda mengikuti arah pandangan Vivian. Ia langsung menyeringai. "Mau jadi pendekar mabuk kamu?"


"Cuma pengen tahu aja apa yang bikin orang ketagihan minum alkohol," jawab Vivian, teringat pada papanya.


"Yuk lah kita nongki-nongki di bar kalau mau tahu. Lusa aku free. Gimana?" Imelda langsung mengajak dengan antusias. Ia membuka kulkas dan mengambil satu kaleng minuman ringan untuk Vivian.


"Thanks," jawab Vivian menerima kaleng minuman dingin itu. "Nanti deh aku kabarin kalo ada waktu."


"Yang artinya nggak akan pernah terealisasi," timpal Imelda sambil duduk di samping Vivian dan bersedekap, memandang sahabatnya itu dengan wajah masam.


Sebaliknya, Vivian justru tersenyum cerah. "Kok yakin banget kamu?"


"Gimana nggak yakin? Udah berapa kali kamu PHP-in aku? Sejak naik jabatan, waktu kamu habis cuma buat kerja."


"Itu karena aku punya tujuan karir. Untuk mencapai itu harus ada yang dikorbanin, 'kan? Misalnya waktu untuk bersenang-senang."


Vivian sedikit tersentak. Ia lupa temannya ini tidak tahu kalau ia sudah bersuami.


"Ayolah kerja di hotelku. Cabang kedua butuh orang. Aku bisa kasih gaji lebih tinggi daripada tempat kamu sekarang. Dan yang pasti kamu nggak bakal sering lembur," bujuk Imelda untuk kesekian kalinya.


"No, thanks." Vivian menjawab cepat. "Aku mau sukses di sesuatu yang bener-bener aku mulai dari nol, bukan karena dapat privilege."


Merintis karir dari tingkat sangat dasar, Vivian mengincar jabatan direktur utama di bank tempatnya bekerja. Jabatan itu akan membuatnya mampu berdiri tegak dan pantas untuk melangkah di samping seorang Revan Halim.


"So what kalau emang beruntung punya privilege?" Imelda mulai berargumen. Ia yang memang terlahir dari keluarga pengusaha tidak terima jika kesuksesannya dikatakan semata-mata karena memiliki "hak istimewa". "Yang bilang begitu cuma fokus sama rasa iri mereka karena nggak punya keistimewaan itu. Padahal tanpa kepandaian mengelola usaha, privilege itu sama sekali nggak ada gunanya. Coba lihat, banyak banget usaha keluarga yang bangkrut setelah dipegang generasi penerus."


"Ya I know," jawab Vivian, sangat mengerti maksud sahabatnya. "Hotel kamu ini bukti nyata kerja keras kamu."


"Jadi gimana, apa kamu mau mempertimbangkan untuk kerja di hotelku?"

__ADS_1


Tanpa perlu berpikir lagi Vivian langsung menggeleng. "Nggak untuk waktu dekat." Sebisa mungkin ia menghindari kemungkinan yang selalu dihindarinya, yaitu dianggap memanfaatkan hubungan dekatnya dengan orang kaya.


***


Suasana saat Tahun Baru China di rumah keluarga Vivian seperti tidak ada bedanya dengan hari biasa. Sepi. Hanya ada tambahan beberapa hiasan berwarna merah yang ditempel di pintu dan dinding rumah. Rumah yang sama sekali tidak ada kehangatan keluarga di dalamnya, pikir Vivian saat memasuki rumah tersebut. Ia pulang hanya agar tidak dicap sebagai anak durhaka.


"Mama, kiong hi. Papa, kiong hi," ucapnya tanpa ekspresi bahagia sedikit pun. Ia memberi amplop tebal berwarna merah pada kedua orang tuanya.


Papa Vivian hanya mengangguk, lalu melanjutkan kegiatannya menonton berita di televisi. Vivian sudah terbiasa dengan sikap dingin papanya. Rasa sayangnya pada laki-laki tua itu juga telah lama pudar. Bagaimana bisa ia menganggapnya sebagai papa kandung, kalau laki-laki itu sendiri yang berkali-kali menyangkal status Vivian sebagai putrinya?


Lalu di mana papa kandung Vivian? Untuk saat ini ia tidak mau memikirkannya. Hidupnya selama ini baik-baik saja tanpa kehadiran laki-laki yang perannya hanya menyumbang setengah dari jumlah kromosom dalam tubuhnya.


Mama Vivian mengeluarkan kue keranjang goreng tepung dan meletakkannya di atas meja ruang tamu. Vivian segera menyantap kue yang hanya dihidangkan pada hari raya Imlek itu. Ia menyukai tekstur renyah adonan tepung yang digoreng dan lembutnya kue berbahan dasar beras ketan itu. Rasa manis dan gurih melebur di lidah Vivian dalam waktu bersamaan, terasa nikmat baginya.


Setelah menghidangkan minuman soda berwarna merah, mama Vivian ikut duduk dan mengamati putrinya yang sedang menikmati kue keranjang. "Tadi Revan telpon bilang kiong hi sama Papa Mama. Dia minta maaf nggak bisa datang karena keluarganya merayakan sincia di Singapore. Kamu kenapa nggak ikut mereka ke sana, Vi?"


Nggak nyangka ternyata Revan masih menghargai orang tuaku. Vivian membatin di sela-sela keterkejutannya. Ia menjawab pertanyaan sang mama dengan ringkas. "Aku nggak bisa ninggalin kerjaan."


Terdengar suara kaki dihentak ke lantai. Wajah mama Vivian terlihat amat kesal. "Dari dulu kamu kok nggak pintar-pintar?! Mama sudah bilang, usaha ambil hati orang tua Revan! Harusnya kamu ikut mereka ke Singapore, bukan malah ngurusin kerjaan kamu yang nggak ada gunanya itu!"


Bukan Vivian namanya kalau tidak membalas saat dirinya direndahkan. Bagi Vivian, pekerjaannya adalah harga dirinya. "Gaji dari kerjaan aku yang Mama bilang nggak ada gunanya sudah bayarin kuliah David selama lima tahun! Dan sudah nutupin biaya hidup kalian selama ini!"


"Ya itu memang sudah tanggung jawab kamu sebagai anak! Susah-susah dirawat dari kecil sampai sekarang sukses punya suami kaya, kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa Papa Mama harapkan?!"


Ibu dan anak itu bertengkar pada hari tahun baru yang seharusnya dilalui dengan penuh kebahagiaan.


Kiong hi \= Selamat


Sincia     \= Tahun baru

__ADS_1


__ADS_2