Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Aku Tidak Akan Meninggalkanmu


__ADS_3

Jeany terkejut ketika Kevin membukakan pintu rumah untuknya. Ia melihat pemuda itu mengedarkan pandangan ke belakang dirinya seolah mencari sesuatu. Gadis itu paham apa yang sedang dicari oleh Kevin.


"Stevi udah pulang."


"Oh."


"Kamu dari tadi nunggu dia?"


"Engga sih, aku-"


"Oh aku tahu. Kamu pasti nunggu ini."


Jeany mengambil kartu debit dan kartu kredit Kevin dari dalam tasnya, beserta nota dan bukti pembayaran ketika makan di restoran. Ia menyodorkannya pada Kevin. Pemuda itu menerimanya dengan bingung. Padahal tadi ia ingin mengatakan bahwa Jeanylah yang sedang ia tunggu.


"Tadi kartu kredit Stevi gak bisa dipake, jadi aku pake kartu kamu. Yang aku pesen cuma ramen ama ocha, totalnya tujuh puluh delapan ribu. Bulatkan aja jadi delapan puluh ribu, jadi hutangku ke kamu totalnya dua juta delapan puluh ribu. Kalo ada hutang lain yang aku lupa, tolong bilang."


"Kamu kenapa sih? Dateng-dateng kok ngomongin utang?" Kevin bertambah bingung dengan sikap Jeany.


"Biar sama-sama tau aja."


"Aku kan gak pernah perhitungan sama kamu."


"Aku gak bilang kamu perhitungan. Hutang kan memang harus dibayar," ucap Jeany yang langsung berlalu menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Kevin mengikutinya.


"Jean, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu waktu tadi kamu pergi?"


Pemuda itu mencekal lengan Jeany, mencegahnya masuk ke dalam kamar. Gadis itu memandanginya sejenak sebelum menjawab. "Gapapa. Cuma capek aja."


Kevin melepas tangannya yang memegangi Jeany. "Ya udah kalo gitu kamu istirahat dulu. Met malam."


Pemuda itu kini mengetahui satu hal lagi tentang Jeany. Suasana hati gadis itu mudah naik turun. Moody. Sepertinya pengaruh lapar dan lelah. Kevin mengingatkan dirinya agar tidak membiarkan Jeany merasa lapar dan lelah. Tidak mengapa kalau suasana hatinya sedang baik. Yang jadi masalah kalau berubah buruk, ia yang terkena imbasnya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari gadis itu.


Keesokan paginya Kevin menyambut Jeany di depan pintu kamarnya dengan senyum cerah. Pemuda itu sedang menggendong sang keponakan.


"Pagi, Jean. Gimana tidurnya?"


"Pagi. Kayak biasa. Sini, Enzo."


Jeany hendak mengambil Enzo dari pelukan Kevin, tetapi ditahan oleh pemuda itu. "Dah kamu sarapan dulu aja. Kak Marvin ama Kak Winda juga lagi sarapan tuh."


"Aku gak biasa sarapan. Kamu aja yang sarapan."


"Mulai hari ini biasain. Sarapan itu penting."


"Kok kamu maksa?"


"Demi kelangsungan persahabatan kita."


"Hahaha kelangsungan persahabatan apaan?" Walaupun ada rasa getir karena pemuda itu hanya menganggapnya sebagai sahabat, kata-kata Kevin dirasanya lucu.


"Aku gak mau kamu jutekin lagi," ucap Kevin dengan tampang kecut.


Seketika tawa gadis itu meledak.

__ADS_1


"Itu apa hubungannya ama sarapan?"


"Aku kan dah pernah bilang, kamu rese kalo lagi laper. Sekarang ketambahan, rese kalo lagi capek."


Jeany meringis. Ia membiarkan saja laki-laki di hadapannya itu mengambil kesimpulan yang salah. Tidak ada yang ingin diceritakannya pada Kevin soal kejadian tadi malam. Namun ada satu hal yang ingin diketahuinya.


"Kalo aku diemin kamu terus, kamu bakal gimana?"


"Marah lah. Aku gak suka dijutekin atau didiemin gak jelas gitu."


Jeany hanya tersenyum. Semalaman ia telah memikirkan permintaan Stevi. Ia sadar dirinya pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Stevi bila kekasih yang amat dicintainya dekat dengan perempuan lain. Lagipula harus sampai kapan ia menyiksa dirinya sendiri? Sebab melihat Kevin dan Stevi berpelukan saja hatinya sudah terasa sangat sakit.


Karenanya, pagi itu sebelum membuka pintu kamarnya ia telah bertekad untuk menjaga jarak dari Kevin. Tidak ada gunanya mempertahankan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Hubungan Kevin dengan Stevi didasari oleh cinta, sedangkan hubungannya dengan Kevin adalah sebuah kesalahan. Lebih cepat dilupakan lebih baik.


Namun sikap Kevin pagi itu begitu manis. Tekad Jeany saat itu juga menghilang entah ke mana. Ia masih bersikap biasa saja pada pemuda itu, hingga menuruti keinginannya untuk sarapan. Mereka berdua pergi ke ruang makan, dan bergantian sarapan karena harus ada yang menjaga Enzo.


Bahkan hingga tengah hari, mereka masih menghabiskan waktu bersama, menjaga Enzo hingga bayi itu tidur siang. Jovina yang melihatnya pun meledek kakaknya itu ketika Jeany sedang pergi ke toilet.


"Tuh kan, Kak Kevin gak bisa jauh dari Kak Jeany."


"Kamu ngomong apa sih?" tanya Kevin mengernyit.


"Mau tau aja apa mau tau banget?"


"Kamu udah rapi gitu mau ke mana?" Kevin tidak menanggapi gurauan sang adik yang menurutnya tidak lucu itu.


"Mau pacaran lah. Emang cuma Kak Kevin yang boleh pacaran?"


"Lho, kok jadi Kak Jeany? Tuh kan ...."


Cengiran Jovina semakin lebar melihat kakaknya yang terlihat kehabisan kata-kata karena ucapannya yang tepat sasaran itu.


"Sorry aku lancang masuk."


Stevi masuk ke ruangan itu dengan wajah muram. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Kevin dengan adiknya.


"Lho kok gak bilang kalo mau ke sini, Stev? Kan aku bisa jemput."


"Kamu kan sibuk nemenin Jeany jaga Enzo."


Kevin meneguk ludahnya. Jovina yang tak ingin berada di antara sepasang kekasih yang terlihat tidak sedang baik-baik saja itu segera berpamitan. Lebih tepatnya, pihak perempuan yang terlihat tidak sedang baik-baik saja.


"Kak Kevin, Kak Stevi, aku pergi dulu ya."


"Eh tunggu-tunggu. Mau pergi ke mana? Sama siapa?" Kevin menginterogasi Jovina layaknya seorang kakak yang protektif terhadap adik perempuannya.


"Sama Tania cs lah. Mo nonton."


"Hmm gitu tadi ngaku-ngaku pacaran ...."


"Aku gak mau pacaran ah. Ntar pusing kayak Kak Kevin."


Kevin terlihat asyik mengelus sebuah samurai yang dipajang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Hehehe .... Peace!" Jovina cepat-cepat melarikan diri setelah berhasil membuat kakaknya kesal.


Kevin menggelengkan kepalanya lalu beralih melihat Stevi. Ia tertegun. Ada yang berbeda pada wajah kekasihnya itu.


"Stev, kamu habis nangis?"


Tanpa aba-aba, Stevi langsung menghambur ke pelukan Kevin dan menumpahkan air matanya di dada pemuda itu.


"Cup cup .... Kamu kenapa?" Kevin berusaha menenangkan Stevi dengan menepuk-nepuk pundaknya. Ia tak tega melepas pelukan Stevi yang terlihat amat sedih.


Setelah puas menangis, Stevi akhirnya melepas pelukannya. Ia melihat Kevin dengan matanya yang sembab dan basah.


"Bisa ngomong di tempat lain? Aku gak mau ada siapa-siapa yang dengerin." Sebenarnya yang dimaksud oleh Stevi adalah Jeany.


"Ngomong di kafe aja mau?"


Stevi menggeleng. "Muka aku berantakan gini."


Kevin lalu mengajak kekasihnya itu ke taman belakang, tempat yang menurutnya cukup nyaman untuk bertukar cerita. Tidak ada orang lain di sana pada siang hari seperti ini, semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah duduk di kursi taman yang untungnya terlindung dari teriknya matahari, Stevi memulai ceritanya.


"Keluargaku bangkrut, Yang," ucap Stevi dengan tangisnya yang kembali pecah. "Rumah keluargaku terancam dilelang bank."


Kevin terperangah mendengarnya. Kebangkrutan tentu saja merupakan pukulan yang cukup berat bagi gadis yang terbiasa hidup bergelimang harta seperti Stevi. Akan tetapi bagaimana bisa tiba-tiba bangkrut?


"Apa mamamu cerita penyebabnya?"


"Mama bilang usaha yang papa rintis sama temannya gak berhasil."


"Kamu sabar dulu ya. Pasti ada jalan keluarnya."


"Jalan keluar apa? Keluargaku bahkan udah gak punya dana buat bayar bunga pinjaman tiap bulannya," sergah Stevi emosional.


"Berapa jumlah pinjamannya?"


"Sepuluh M."


Kevin terdiam, merasa bodoh karena berpikir dapat membantu keluarga kekasihnya melunasi hutang mereka. Bila sampai rumah keluarga yang dijadikan jaminan, sudah tentu angka pinjamannya fantastis. Baru kali ini ia ingin segera dewasa, agar tidak merasa tidak berdaya seperti saat ini. Seandainya saja ia sudah bekerja ....


"Yang, kamu gak akan ninggalin aku kan?" tanya Stevi sesenggukan.


"Kamu ini ngomong apa ...."


"Kalo aku udah gak punya apa-apa, udah gak bisa perawatan, udah gak cantik .... Kamu gak akan ninggalin aku kan?"


"Aku gak akan ninggalin kamu."


"Kamu janji?"


"Iya aku janji."


Stevi memeluk Kevin erat dengan perasaan amat lega. Ia tahu kekasihnya tidak akan mengingkari janji. Kevin membalas pelukan kekasihnya yang kini tampak sangat rapuh itu, ingin memberikan kekuatan agar gadis itu mampu melewati ujian dalam hidupnya.


Di belakang mereka, Jeany menyaksikan dengan hati hancur.

__ADS_1


__ADS_2