Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kamu Harus Sehat


__ADS_3

Stevi memasuki kamarnya dengan hati puas. Ia meletakkan tas belanjaan di atas kasurnya. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat mengiakan ajakan teman-temannya untuk bertemu dan bersenang-senang bersama. Kini ia tak perlu takut mati gaya. Sumber pemasukan baru telah terbuka lebar baginya.


Satu hal yang mengganggu pikiran Stevi adalah karena tadi mantan kekasihnya tidak sengaja melihatnya masuk ke dalam mobil teman kencannya. Baru satu kali dan sudah tepergok. Itulah sebabnya ia sempat menolak dijemput di daerah kampus. Lain kali ia tidak ingin berkompromi untuk masalah tempat penjemputan. Tentu saja masih ada lain kali karena ia mulai menyukai pekerjaan barunya itu.


Gadis itu membuka tas belanjanya. Ia tadi membeli beberapa baju baru untuk dipakainya kuliah dan jalan-jalan. Baju-baju yang ada dianggapnya sudah ketinggalan jaman. Memang sudah menjadi kebiasannya selalu mengikuti tren mode pakaian terbaru. Beruntung ia mendapat teman kencan yang sangat loyal memberi imbalan, yang cukup dipuaskan hanya dengan tangan dan mulut.


Keesokan harinya ia pergi kuliah seperti biasa, dan bertemu dengan teman-temannya seperti biasa. Tidak ada yang tahu pekerjaan sampingannya. Mobilnya pun masih belum dijual, mungkin sang mama tidak tega setelah mendengarnya terisak di telepon.


Usai jam kuliah berakhir, Stevi berjalan di selasar kampus, hendak menuju toilet. Di dekat toilet ia berpapasan dengan mantan kekasihnya. Pemuda itu langsung menahannya.


"Stev, aku mau bicara."


"Gak ada yang perlu dibicarain."


"Bentar aja."


Kevin langsung menarik tangan Stevi agar mengikutinya. Ia mengajak gadis itu menaiki lift ke lantai paling atas yang sepi dari mahasiswa. Tidak ada yang menganggap sikap mereka aneh. Beberapa mahasiswa yang melihat mereka mengira keduanya masih berpacaran.


Setelah tiba di lantai lima dan memastikan tidak ada orang lain di tempat mereka berdiri, tanpa basa-basi Kevin langsung bertanya, "kamu kenal Rika?"


"Memangnya kenapa?" Sikap Stevi masih tidak bersahabat.


"Denger, Rika itu orang yang sangat berbahaya. Dia yang udah ngejebak Jeany sampai gak sadar dan hampir dilecehkan om-om."


"Tapi akhirnya kamu yang nidurin Jeany kan? Siapa yang sebenarnya bahaya di sini?"


Kevin sesaat dibuat tidak berkutik oleh kata-kata Stevi.


"Oke aku akui aku salah. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Yang terpenting kamu harus berhati-hati sama Rika. Kalo perlu jangan kontak dia lagi. Blokir nomornya. Supaya dia gak menjerumuskan kamu ke pergaulan yang salah."


"Tahu apa kamu? Justru Rika yang udah bantu aku keluar dari kesulitan!"


"Bantu kamu dengan cara apa? Bukan dengan kerja di club malam kan? Siapa yang kemarin jemput kamu?" tanya Kevin dengan perasaan ngeri.


"Aku mau kayak gimana bukan urusan kamu. Mending kita urus hidup masing-masing, gak usah saling ganggu."


"Stev, kamu harus tahu papa kamu lagi sakit!" Kevin tidak tahan lagi untuk mengatakan rahasia itu.


"Apa maksud kamu? Papa aku sakit apa?" tanya Stevi terperangah.


"Mama kamu minta aku rahasiain ini supaya kamu gak kaget. Tapi menurutku kamu perlu tahu. Papa kamu sakit kanker paru, udah stadium akhir. Selama ini di Malaysia papa kamu bukan kerja tapi berobat."


Stevi menutup mulutnya karena terkejut. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


"Gak, gak mungkin .... Kenapa ini semua harus terjadi sama keluarga aku???" ratapnya pilu.


Stevi terlihat begitu terpukul, membuat Kevin sedikit tidak tega. Bila mereka masih sepasang kekasih, mungkin saat itu juga ia akan memeluk gadis itu. Pemuda itu hanya berdiri menunggu Stevi menangis hingga puas.


"Jangan terpengaruh Rika, Stev. Tolong ingat wajah papa kamu yang sekarang lagi berjuang untuk kesembuhannya. Ingat wajah mama kamu yang pasti bakal sedih banget kalo tahu anaknya memilih jalan yang salah."


Stevi masih terdiam, larut dalam kesedihan dan kemarahannya. Ia tidak terima dengan keputusan mamanya yang tidak memberitahu hal sepenting itu. Papanya sakit parah dan dia tidak diberitahu! Ia tidak terima dengan takdir hidupnya yang harus mendapatkan kemalangan bertubi-tubi.


"Stev, aku udah pernah bilang gak akan ninggalin kamu. Kalau butuh bantuan kamu bisa hubungi aku. Jeany juga siap bantu kamu. Tolong jangan rusak masa depanmu," ucap Kevin lagi.


Stevi mendengus dengan senyuman sinis. "Setelah selingkuh di belakangku sekarang kalian mau pura-pura jadi orang baik?"


Kevin menatap tajam Stevi sebelum mengucapkan nasihat terakhirnya. "Jangan sampai sakit hatimu membuat kamu gak bisa berpikir jernih. Tolong ingat orang tuamu." Ia lalu beranjak meninggalkan sang mantan kekasih yang menurutnya sangat keras kepala itu.

__ADS_1


Setelah berjalan kaki sepuluh menit, pemuda itu tiba di pujasera dekat kampusnya. Ia telah membuat janji dengan Jeany untuk bertemu di sana. Kekasih yang akan mentraktirnya makan itu tengah duduk di sebuah meja, menunggu kedatangannya. Gadis itu tersenyum senang saat melihat orang yang ia tunggu telah berdiri di hadapannya.


"Gimana hari pertama kamu kerja?" tanya Kevin setelah mereka memesan dua mangkuk mi dan dua gelas es teh manis.


"Tegang banget .... Waktu totalan sempat selisih. Untung owner-nya sabar. Aku disuruh hitung ulang dan ternyata jumlah uangnya cocok dengan laporan penjualan. Tapi aku masih belum terlalu lancar bikin laporan." Jeany bercerita dengan menggebu-gebu.


"Wajarlah kan kamu baru masuk. Yang penting konsentrasi dan teliti."


Gadis itu mengangguk.


"Tahu gak, kemarin aku dapat tip lumayan banyak dari customer. Kalo tiap hari kayak gitu kita bisa cepet kaya."


Ekspresi Jeany seperti anak kecil yang senang karena mendapat permen. Kevin memperhatikan kekasihnya dengan gemas sekaligus sayang. Hal kecil seperti mendapat tip saja sudah membuat gadis itu bahagia.


"Kamu kapan mulai kerja di tempat sepupumu?" tanya Jeany.


"Dua hari lagi, biar pas tanggal satu katanya."


Wajah Jeany jadi sedikit muram. "Nanti kita bakal jarang ketemu. Apa memang begini ya kalo udah masuk dunia kerja? Lusa juga Kak Serly mau berangkat ke Tanjung Pinang."


"Mau ngapain dia ke sana?"


"Ditempatkan kerja di sana. Hebat ya akhirnya cita-citanya untuk kerja di bank besar tercapai."


"Kamu sendirian dong di kos?"


"Iya."


"Hati-hati, pagar harus selalu dikunci. Mana gang kos kamu sepi lagi ...." Kevin menampakkan wajah khawatir.


"Gak sepi-sepi amat kok."


"Eihh kamu ini! Lain kali jangan main nyosor gitu! Kak Serly liat tau gak ...." Jeany menutup wajah dengan kedua telapak tangannya karena malu.


"Ma-masak?" Kevin terkejut, tetapi tidak merasa malu. "Sorry deh habis waktu itu gak tahan."


Jeany masih memanyunkan bibirnya.


"Sayang banget kok yang lihat malah Kak Serly sih. Harusnya si cecunguk itu yang lihat," ucap Kevin dengan wajah kesal.


"Amit-amit jangan sampe Randy liat. Malunya pake banget!"


"Biarin. Biar dia tahu kamu milik aku dan gak deketin kamu lagi."


"Ngomong-ngomong soal Randy, aku gak enak dia antar jemput aku terus. Mau naik bis tapi harus ganti beberapa kali dan harus jalan kaki lumayan jauh. Kayaknya aku mau langganan ojek bulanan aja."


Kevin menghembuskan napasnya dengan wajah sedih. "Aku cowok gak berguna. Harusnya aku yang antar jemput kamu."


"Kenapa kamu ngomong diri kamu gak berguna terus? Kamu kan memang gak punya kewajiban antar jemput aku."


"Memang gak berguna. Selama ini aku hidup enak karena uang orang tuaku. Tanpa mereka aku gak bisa apa-apa."


Jeany menggenggam tangan kekasihnya yang sedang dilanda krisis kepercayaan diri itu. "Kamu hidup susah kayak gini demi aku, mana mungkin aku anggap kamu gak berguna? Jangan mikir gitu lagi ya. Mending sekarang kita makan, udah laper banget ni."


Usai makan, Kevin dan Jeany berjalan pulang. Melihat masih ada waktu sebelum kekasihnya berangkat kerja, Kevin memutuskan untuk mampir di kos gadis itu. Pemuda itu duduk di teras sambil melihat iklan sepeda motor bekas pada aplikasi jual beli online. Ia ingin membeli sepeda motor agar dapat mengantar jemput sang kekasih.


Jeany yang duduk di sampingnya mendadak teringat sesuatu. "Vin, kamu lupa minum obat ya?"

__ADS_1


Kevin hanya diam.


"Vin?"


"Obat aku abis, Jean."


"Jadi gak perlu minum obat lagi? Atau gimana?"


"Aku juga gak tahu. Harus konsultasi dokter dulu."


"Udah berapa hari kamu gak minum obat?"


"Tiga hari."


"Hari ini juga kamu harus ke dokter. Jam berapa dokternya praktek?"


"Jean ...."


"Harus, Vin. Aku gak mau kamu kenapa-napa."


"Uang aku kayaknya gak cukup ...." Kevin menjawab lirih, tahu biaya konsultasi dokter dan harga obat yang diresepkannya tidaklah murah.


Jeany terhenyak mendengar pengakuan Kevin. Ia memang tidak berpikir ke arah sana. "Bantu aku lepas ini." Gadis itu memegang kalungnya.


Kali ini giliran Kevin yang terhenyak. Pemuda itu mengacak rambutnya frustrasi. "Itu tanda cinta aku buat kamu. Mau kamu jual?"


"Buat biaya berobat kamu, Vin. Yang penting sembuh dulu. Please .... Kamu harus sehat ya? Katanya mau nikahin aku?" Jeany hampir menangis ketika mengatakannya.


Dengan perasaan sesak di dada Kevin melepas pengait kalung yang melingkar di leher kekasihnya. Ia memasukkan kalung tersebut ke dalam tasnya. Setelahnya ia hanya duduk diam. Suasana hatinya benar-benar buruk.


"Jangan bete gitu dong. Kan lain kali bisa beli kalung lagi." Jeany mencoba menghibur pemuda itu.


"Maafin aku belum bisa bahagiain kamu."


"Tuh kan ngomong gitu lagi. Aku udah cukup bahagia kok sekarang."


"Yaelah kalian siang bolong udah bikin mata gue sakit aja!" Tiba-tiba terdengar sebuah kalimat diucapkan dengan nada kesal.


Kevin dan Jeany sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


"Randy? Lo ngapain kemari?" tanya Jeany terkejut.


"Mau jemput lo lah. Sengaja gue datang pagian biar lo belum sempat pesan ojol," jawab Randy sambil menyeringai.


"Kan gue udah bilang gak usah jemput lagi."


"Gapapa, Jean, terima aja. Mumpung ada sopir gratis." Kevin menyela pembicaraan mereka setelah dilihatnya langit dipenuhi awan gelap. Ia tidak ingin Jeany kehujanan.


"Hehehe udah nyerah lo?" ledek Randy.


"Dalam mimpi lo."


Randy tergelak lalu beralih melihat Jeany. "Kita berangkat sekarang aja, Jean. Takutnya macet gara-gara hujan."


Jeany mengiakan setelah melihat Kevin mengangguk. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam karyawan restoran. Sementara itu, Randy telah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


"Habis ini kamu ke dokter ya," pesan Jeany pada Kevin sembari mencium pipi pemuda itu. Kevin ingin membalasnya, tetapi gadis itu telah berlari kecil meninggalkannya. Jelas karena malu.

__ADS_1


Setelah itu Kevin pergi ke pegadaian. Ia sengaja menggadaikan kalung milik Jeany, bukan menjualnya. Setelah uangnya cukup ia akan menebusnya kembali. Kalung itu memiliki arti khusus baginya. Dengan kalung itu ia menyatakan cintanya pada Jeany. Berbekal uang yang diterimanya dari pegadaian, Kevin pergi ke rumah sakit yang dulu merawatnya ketika mengalami kecelakaan.


__ADS_2