
Di sebuah pusat perbelanjaan, sambil bergandengan tangan Kevin menemani Stevi keluar masuk toko untuk sekadar cuci mata. Tidak ada rona kebahagiaan di wajah gadis itu. Sebaliknya, semakin banyak toko yang ia masuki, wajahnya terlihat semakin kusut. Kevin tentu saja menanyakan alasannya.
"Diajak jalan-jalan bukannya seneng, malah cemberut?"
Stevi menjawab dengan wajah memelas. "Tas ama baju tadi bagus ya, Yang."
"Tas ama baju kamu kan udah banyak banget."
Stevi semakin memajukan bibirnya. "Tapi biasanya aku bisa beli, sekarang cuma bisa lihat."
Kevin mengerti kesedihan kekasihnya, dari yang terbiasa hidup bergelimang harta kini harus berhemat sedemikian rupa.
"Bukan aku gak mau beliin kamu. Tapi kamu harus bisa bedain antara kebutuhan dengan keinginan, supaya gak stress kayak gini. Lebih baik gak usah cuci mata dulu kalau malah bikin sedih. Kita pergi makan aja."
"Sampai kapan aku harus kayak gini, Yang? Rasanya menderita banget ...." Suara Stevi terdengar hampir menangis.
Kevin meremas jemari sang kekasih. "Iya aku ngerti ini pasti berat buat kamu. Tapi kamu tetap harus bersyukur masih diberi kesehatan, masih bisa makan teratur, bisa kuliah. Pikirkan aja hal-hal baik yang masih ada di hidup kamu."
Senyum tulus terulas di bibir Stevi. "Iya, aku bersyukur banget masih punya kamu. Makasih ya gak ninggalin aku di saat aku lagi terpuruk kayak gini." Gadis itu memeluk lengan Kevin dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. Kevin menjawab dengan senyuman.
Ketika mereka melewati area yang dipenuhi toko perhiasan, Kevin tiba-tiba teringat pada Jeany. Rasa sakit hatinya muncul kembali mengingat gadis itu lebih memilih menjual kalung daripada mengandalkannya, dan mengingat sikap Jeany yang begitu ketus padanya belakangan ini. Padahal setiap kali pergi dengan Stevi, Kevin selalu memikirkan Jeany yang sendirian menjaga Enzo. Itulah sebabnya ia selalu pulang dengan membawa buah tangan untuk gadis itu.
"Yang, kapan-kapan ke apartemen kamu dong." Tiba-tiba Stevi mengusulkan sesuatu yang mengejutkan.
"Eh? Buat apa ke apartemen aku?"
"Ya main-main aja. Boleh kan?"
"Kan aku udah pernah bilang kita pacaran sehat aja."
"Ih kamu ngeres deh. Orang aku mau ajak anak-anak juga kok, kumpul-kumpul aja gitu."
"Oh hehehe ...."
Kevin menggaruk kepalanya. Pemuda itu enggan kekasih dan teman-temannya datang ke apartemennya, tempat ia berbuat kesalahan fatal hingga merenggut kesucian seorang gadis yang mereka kenal.
"Apartemen aku kecil. Kalo mau kumpul-kumpul di rumah Randy aja, luas banget bisa nampung banyak orang."
"Ya tapi masak aku pacar kamu gak pernah tahu apartemen kamu. Kan rame-rame juga, ntar bikin acara apa gitu biar seru," ucap Stevi dengan nada manja.
Kevin tidak dapat menemukan alasan lagi untuk menolak. "Iya ntar atur aja sama anak-anak kapan mau ke sana," ucap Kevin sambil berharap kekasihnya itu tidak benar-benar serius ingin datang ke apartemennya.
"Oke secepatnya aku atur."
***
Setelah membantu Winda menyiapkan perlengkapan Enzo yang akan dibawa ke Bandung, Jeany kini menikmati waktu istirahatnya di kamar. Ia merasa tubuhnya begitu lelah dan sudah akan tertidur ketika ponselnya berdering. Gadis itu mengabaikan panggilan tersebut setelah melihat nama Randy pada layar ponselnya.
Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk. Ia membacanya dan langsung bangkit terduduk di ranjangnya.
Cepetan keluar, gue di depan.
Jeany masih mencerna pesan dari Randy tersebut. Bagaimana bisa Randy tahu ia sedang berada di rumah Kevin?
Gue bakal bilang ke tuh satpam kalo lo cewek gue biar dia bukain.
Jeany mengerang kesal. Ia cepat-cepat mengganti pakaian tidurnya dengan kaos dan celana panjang. Gadis itu bergegas turun ke bawah agar Randy tidak melaksanakan ancamannya. Ia tidak ingin orang rumah Kevin benar-benar berpikir Randy adalah kekasihnya.
"Pak Darto, saya keluar sebentar ya." Jeany memberitahu pria paruh baya yang kemudian membukakan pagar untuknya.
"Mau ke mana, Non?" tanya Pak Darto sopan.
"Ada teman saya di depan."
Satpam tersebut agak bingung dengan jawaban Jeany. Ia kemudian menyimpulkan gadis itu akan pergi keluar dengan temannya.
__ADS_1
"Jangan pulang terlalu malam, Non, ntar dicariin Den Kevin lagi."
Jeany hanya mengangguk, walaupun sebenarnya ia hanya keluar untuk berbicara sebentar dengan Randy. Melihat Jeany keluar, Randy turun dari mobilnya. Ia tersenyum begitu cerah, senang karena taktiknya berhasil.
"Lo makin cantik aja." Belum apa-apa Randy sudah mengeluarkan rayuan mautnya. Sayangnya, Jeany bukan jenis perempuan yang mudah dirayu.
"Lo tahu dari mana gue ada di sini?"
"Dari Kevin lah."
"Bohong. Kevin gak mungkin kasih tahu lo."
Bukankah Kevin yang memintanya untuk berhati-hati terhadap Randy?
Randy mengangkat kedua alisnya. "Apa untungnya gue bohong? Lo pikir gue tahu dari mana jam kerja lo kalo bukan dari Kevin?"
Jeany tidak menjawab.
"Yuk pergi," ajak Randy kemudian.
"Ke mana?"
"Makan dong."
"Gue udah makan."
"Temeni gue ya. Gue gak selera makan kalo gak ada yang nemenin. Mau ajak Kevin juga? Dia pasti kaget banget ketemu gue."
"Kenapa kaget? Kan dia yang kasih tahu lo kalo gue di sini."
"Soalnya dia pikir gue gak bakal serius ngedeketin lo."
Raut wajah Jeany langsung berubah kaku. "Dia pergi ama Stevi."
Jeany bertambah dongkol mendengar cerita Randy. "Lo mau makan apa mau cerita terus?"
"Hahaha mau makan dong. Ayo, Sayang." Randy membukakan pintu mobilnya untuk Jeany.
"Gak usah jauh-jauh ya makannya. Gue besok harus bangun pagi mau ke kampus," ucap Jeany setelah mengenakan sabuk pengaman.
"Ah kok lo udah pake sih? Kan gue mau pakein biar mesra kayak di novel-novel," keluh Randy.
"Kayak lo suka baca novel aja."
"Suka dong. Makanya kapan-kapan ke rumah gue ntar gue tunjukin koleksi novel gue mulai dari karangan Agatha Christie sampe Mira W. ada semua," jawab Randy sambil mengedipkan mata.
"Beneran?" Jeany mulai tertarik. Ia memang sangat suka membaca novel. Kebetulan nama pengarang yang disebut oleh Randy adalah pengarang novel favoritnya.
"Atau mau ke rumah gue aja sekarang?"
Mata Jeany menyipit mendengar tawaran tidak tahu malu itu. "Lo pikir gue anak kecil polos yang bisa dibujuk masuk ke rumah serigala pake permen?"
"Hahaha gue lupa kalo lo udah gak polos."
Jeany seketika menoleh. "Apa maksud lo?"
"Iya kan lo bukan anak kecil lagi, jadi udah gak polos," jawab Randy kalem sambil melajukan mobilnya.
Jeany memilih untuk mengabaikan Randy hingga pemuda itu menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah restoran yang menyajikan kuliner nusantara. Di sana Randy memilih menu bandeng presto.
"Lo yakin gak makan? Gak usah takut gemuk. Lo kurus atau gemuk gak masalah buat gue," tawarnya sembari memamerkan senyumnya yang tidak pernah gagal membuat para gadis luluh. Kecuali Jeany.
"Engga gue udah makan."
Lima belas menit kemudian gadis itu mengubah keputusannya. Bukan bandeng presto berbalut tepung yang membangkitkan selera makannya, tetapi sambal terasi yang menyertainya. Aroma sambal tersebut sungguh menggiurkan bagi Jeany. Randy langsung memesankan satu porsi lagi untuk gadis itu.
__ADS_1
"Gak nyangka ya lo kecil-kecil makannya banyak juga." Randy melihat piring Jeany yang sudah tidak menyisakan nasi satu butir pun.
"Habis enak banget, apalagi sambelnya." Rasa puas dan senang karena baru saja menyantap makanan yang menurutnya sangat lezat membuat Jeany tanpa sadar mengeluarkan logat aslinya.
"Hahahaha! Sumpah muka lo gak cocok banget ngomong medok gitu!" Randy terpingkal-pingkal mendengar Jeany berbicara.
"Ehem. Kalo udah selesai makan ayo pulang."
"Bentaran dulu ya. Gue masih pengen lebih lama sama lo," bujuk Randy.
"Gak. Tadi gue lupa pamit, lupa bawa HP juga gara-gara lo. Takutnya dicariin."
"Hehe gampang itu mah. Gue telponin Kevin deh." Randy langsung membuka daftar kontak di ponselnya.
"Eh eh gak usah!" Jeany mencegahnya.
Randy menatapnya dengan bingung.
"Balik sekarang aja ya, gue juga udah ngantuk," ucap Jeany agar Randy tidak berlama-lama lagi.
"Ya udah kita balik kalo gitu, Sayang."
"Gak usah sayang-sayang, geli dengernya."
"Gue panggil babe aja kalo gitu ya?"
Jeany memilih tidak menanggapi. Randy melirik gadis itu sekilas, lalu tersenyum kecil sebelum melajukan mobilnya. Setelah sampai di depan gerbang rumah orang tua Kevin, pemuda itu menghentikan mobilnya. Ia belum membuka pintu mobilnya karena ada yang ingin disampaikannya pada gadis yang saat ini sedang duduk di sampingnya, menunggu dengan pandangan bertanya.
"Bukain lock-nya, Ran."
Randy lantas merengkuh bahu Jeany, memutar posisi duduk gadis itu agar menghadap ke arahnya. Ia menarik napas dalam sebelum berbicara.
"Jean, gue tahu selama ini lo anggap gue cowok berengsek. Dan emang bener gue berengsek. Tapi gue serius sama lo. Tolong kasih gue kesempatan buat jadi cowok lo, gue janji bakal berubah demi lo."
DEG!
Jeany tidak memungkiri ia cukup tersentuh dengan ucapan Randy. Pemuda itu terlihat begitu serius ketika mengatakannya. Namun tidak ada perasaan spesial sedikit pun dalam hatinya untuk Randy.
"Gue ... gue ...."
"Ssttt .... Lo gak perlu jawab sekarang. Masih banyak waktu untuk kita saling menjajaki. Besok gue jemput ya? Kita ke kampus bareng."
Ucapan Randy menyadarkan Jeany. Tidak seharusnya ia memberi harapan pada pemuda itu dengan sikap ragu-ragunya. "Sorry, Ran. Gue gak bisa. Gue belum ingin pacaran."
Randy memberi senyum masam. "Jadi gue langsung ditolak?"
"Sorry."
"Tapi gue boleh jadi sahabat lo kan? Masak cuma Kevin aja yang boleh?"
Jeany merasa hatinya pedih setiap kali mendengar nama Kevin disebut. Ia hanya mengangguk.
"Makasih, Babe."
"Buruan bukain lock-nya."
Randy menurutinya. Jeany langsung membuka pintu mobil dan turun. "Makasih ya udah ditraktir makan, hati-hati pulangnya," ucapnya tulus sebelum menutup pintu mobil Randy.
"Makasih doang? Gak ada sun?" Randy menawarkan pipinya, yang langsung dijawab oleh Jeany dengan menutup pintu.
Tidak lama kemudian gerbang pagar terbuka. Randy menjalankan kendaraannya setelah memastikan Jeany telah masuk.
"Makasih ya Pak Dar-"
Betapa terkejutnya Jeany karena yang membukakan gerbang pagar bukan satpam rumah tersebut, melainkan laki-laki yang sedang dihindarinya. Laki-laki itu kini menatap dirinya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1