
Stevi berusaha tenang ketika mendengar kartu kreditnya tidak dapat digunakan. Begitu pula dengan Devi dan Sandra. Toh masih bisa dibayar dengan uang tunai, pikir mereka. Sedangkan Jeany, ia hanya mengikuti arus saja. Karena yang lain terlihat tenang, ia pun tidak berpikiran macam-macam.
"Boleh diulangi lagi, Mbak? Mungkin tadi saya salah masukin pin," pinta Stevi pada petugas kasir restoran.
"Iya boleh, Kak."
Setelah menggesek kartu kredit Stevi pada mesin EDC dan menekan beberapa angka yang diinginkan, petugas kasir tersebut mempersilakan Stevi memasukkan kembali enam digit pin kartu kreditnya.
"Masih gagal, Kak," ucap petugas kasir itu beberapa saat kemudian.
"Aduh kok bisa gini sih," keluh Stevi yang mulai panik. "Bentar ya saya telpon mama saya dulu."
Setelah beberapa menit, Stevi menutup ponselnya tanpa hasil.
"Dev, San, pinjem duit kalian dulu ya? Ntar gue ganti. Gue ada cash empat ratus ribu, masih kurang delapan ratus ribu lagi." Stevi meminjam uang tunai karena tahu kedua sahabatnya itu tidak memiliki kartu kredit.
Mendengar Stevi berkata demikian, sontak Devi dan Sandra mengeluarkan dompetnya masing-masing.
"Yah, duit gue tinggal dua ratus ribu, Stev. Tadi habis beli nih sepatu CnK mumpung lagi sale," ujar Devi sambil menunjukkan tas belanjaannya yang berukuran lumayan besar.
"Gue malah sisa cepek doang," ucap Sandra setengah berbisik karena malu.
Stevi menatap sebal pada Devi dan Sandra. Baru kali ini ia mengutuk perilaku boros kedua sahabatnya itu, hingga hanya menyisakan sedikit uang tunai. Bagaimana kalau ada keperluan darurat seperti yang terjadi sekarang ini? Ia tanpa sadar memandang Jeany, tetapi langsung mengalihkan pandangannya tanpa berkata apa-apa. Jika Devi dan Sandra saja tidak bisa membantu, apalagi Jeany yang sedang kesulitan keuangan.
"Tarik tunai bisa?"
Devi dan Sandra menggelengkan kepala mereka bersamaan.
"Permisi, kalau masih lama boleh saya duluan? Saya lagi buru-buru," sela seorang pengunjung restoran yang juga ingin melakukan pembayaran.
Stevi dan kawan-kawan langsung menggeser posisi berdiri mereka. Kekasih Kevin itu merasa malu bercampur panik, membuatnya tidak ingat lagi untuk menanyakan alasan kedua sahabatnya tidak bisa menarik uang mereka di ATM.
"Gimana nih, masak kita harus cuci piring di sini?"
Devi tanpa sadar berbicara dengan suara keras, membuat petugas kasir dan pelanggan restoran yang sedang melakukan pembayaran tadi menoleh dan melihat mereka dengan tatapan aneh.
"Lo kalo ngomong kira-kira dong! Malu kan kita jadinya!" omel Sandra.
"Ya habis gimana? Emang kenyataannya gak ada duit buat bayar."
Kata-kata Devi itu membuat Stevi merasa jengkel. Selama ini ia sangat sering mentraktir Devi dan Sandra. Tapi di saat ada kejadian seperti ini kedua sahabatnya itu seolah berpangku tangan. Sambil menahan emosi, gadis itu mencoba menghubungi mamanya kembali. Kali ini panggilan tersebut diterima.
"Ma, kok kartu kredit aku gak bisa dipake? Apa? Belum sempat bayar? Iya udah aku pinjam temanku dulu."
Jeany kini menyadari situasi gawat mereka. Ia menimbang-nimbang perlu tidaknya menggunakan kartu Kevin.
Gapapa kali ya? Kan buat bayarin makan pacarnya juga ini.
"Ehm, pake kartu ini aja bayarnya."
Jeany mengeluarkan kartu kredit Kevin dari dalam tasnya dan memberikannya pada Stevi. Namun kekasih Kevin itu hanya menatapnya, tidak mengambil kartu tersebut dari tangan Jeany.
"Ya ampun dari tadi kek lo bilang. Kita gak perlu kayak napi yang lagi nunggu giliran dieksekusi begini. Buruan sana!" Devi mendorong Jeany agar maju mendekati kasir.
"Tapi ini kartu-"
"Apa sudah bisa saya proses pembayarannya, Kak?"
Melihat Jeany yang sedang memegang kartu kredit, petugas kasir itu langsung menanyainya.
"Eh iya."
Gadis itu menyerahkan kartu kredit Kevin pada petugas kasir, yang diam-diam menerima kartu platinum itu dengan perasaan lega.
__ADS_1
"Totalnya satu juta dua ratus tiga belas ribu rupiah ya. Silakan masukkan pinnya, Kak."
"Oh ya bentar saya gak hapal pinnya."
Jeany mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Ia membuka pesan percakapan lalu mengetikkan pin yang telah dikirimkan oleh Kevin.
Ketika transaksi berhasil, petugas kasir langsung memandang ramah pada Jeany yang dianggapnya orang berada dengan penampilan sederhana. Ia mengembalikan kartu Jeany beserta nota dan struk bukti pembayaran sambil berbasa-basi.
"Terima kasih, Kak. Bulan depan ada promo khusus couple. Ditunggu kedatangannya kembali dengan pasangannya ya."
"Haha pacar dari mana, dia jomblo, Mbak," tukas Devi mengejek.
"Oh maaf saya kira sudah ada pasangan. Soalnya kartunya-" Sadar telah berbicara di luar keharusan, petugas kasir itu tidak meneruskan kata-katanya.
Keempat gadis itu lalu berjalan keluar restoran. Setelah melewati tempat yang agak sepi, Devi langsung menyambar tas Jeany dan mencari kartu kredit yang tadi digunakannya. Begitu melihat nama yang tertera pada kartu kredit tersebut, Devi menunjukkannya pada kedua sahabatnya.
"Kevin Wijaya. Sudah gue duga. Dari tadi gue heran lo kok bisa pegang kartu kredit platinum. Ternyata kartunya Kevin. Lihat nih, Stev, kelakuan sahabat cowok lo yang selalu lo bela!"
"Devi! Lo lancang banget!"
Dengan marah, Jeany merebut kembali tasnya dan kartu kredit Kevin dari tangan Devi. Ia sangat tidak suka kelakuan teman Stevi yang telah lancang menggeledah tasnya itu.
"Lancang? Halo lo sadar diri dong! Lo ngapain deketin cowok sahabat gue? Lo harus sadar lo tuh gak bakal bisa menyaingi Stevi!"
Biasanya Stevi akan menghentikan temannya bila telah berbicara keterlaluan. Bagaimanapun, ia bukan tipe orang yang suka mengolok-olok orang lain. Namun rasa sakit hatinya membuatnya hanya diam membisu.
"Gue gak pernah berniat menyaingi Stevi," Jeany berkata jujur.
"Trus ngapain lo bawa kartu kredit Kevin? Kalo mau morotin cowok, cari yang belum punya cewek. Jangan pacar orang lo embat!"
Jeany hanya mematung, tidak kuasa menjawab karena terlalu terkejut dengan kata-kata Devi yang terasa sangat menusuk hatinya.
"Devi, udah udah! Jangan bikin ribut deh di sini." Sandra berusaha menghentikan sahabatnya sebelum berbicara terlalu jauh.
"Devi, cukup. Biar gue yang selesaiin ini." Akhirnya Stevi bersuara setelah mampu menguasai emosinya.
"Sorry ya, Jean. Devi cuma khawatir sama gue jadi bicaranya agak kelewatan."
"Ck, lo masih minta maaf ma dia? Jelas-jelas dia udah ngegoda cowok lo!"
"Devi, please ...."
"Kalo gitu gue ama Devi ke sana dulu ya. Lo bicara baik-baik ma Jeany. Jean, kami duluan ya." Sandra berpamitan pada Stevi dan Jeany, lalu menarik Devi menjauh. Devi tidak melawan. Ia puas karena telah mengeluarkan kata-kata pedas yang memang dari dulu ingin dilontarkannya pada Jeany.
"Lo gapapa, Jean? Gak usah diambil hati ya dia dari dulu emang pedes mulutnya," ucap Stevi yang melihat wajah Jeany sedikit memucat.
"Trus lo sekarang mau ngomong apa?" tanya Jeany lirih. Ia ingin segera menyudahi pertemuan mereka dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah.
"Kita bicara di sana ya." Stevi menunjuk sebuah kafe yang tampak sepi pengunjung.
Di dalam kafe tersebut, kedua gadis itu hanya memesan minuman karena telah makan sebelumnya.
"Langsung aja ya, lo sejak kapan deket ama cowok gue?"
Jeany sudah menebak Stevi mengajaknya bertemu untuk membicarakan hubungannya dengan Kevin.
"Sejak semester ini."
"Bukan sejak kuliah Manajemen Keuangan?"
"Manajemen Keuangan?" Jeany balik bertanya dengan bingung.
"Udahlah lupain. Trus lo gimana ceritanya bisa deket ama Kevin?"
__ADS_1
"Eh? Gu-gue juga gak tahu. Tiba-tiba sahabatan aja."
Stevi dapat merasakan kegugupan Jeany. Terlihat jelas orang di hadapannya itu sedang berdusta.
"Jean, gue tahu lo suka ama Kevin."
"Gue ama Kevin murni bersahabat."
"Gue tahu. Tapi hati gue gak selapang itu untuk terus membiarkan cowok gue deket ama cewek lain yang menyukai dia."
"Jadi lo mau gue jauhin dia?"
"Gue mau lo mundur. Lo pasti tahu Kevin itu hatinya terlalu baik. Dia mudah kasihan sama orang."
"Lo mau bilang kalo Kevin cuma kasihan sama gue?"
"Gue tahu ini menyakitkan. Tapi kalo lo gak mau lebih sakit dari ini, stop berharap sama cowok gue. Lo masih bisa nemuin cowok yang beneran cinta sama lo."
"Gue gak berharap."
"Tapi lo merasa senang kan deket ama dia? Menerima perhatian dia? Bahkan pake uang dia."
"Dia cuma minjemin gue, ntar gajian juga gue ganti!" Jeany berbicara dengan nada agak tinggi karena kesal dituduh telah memanfaatkan kekayaan Kevin.
"Iya gue tahu. Please tenang dulu, gue gak ada maksud menyinggung masalah ekonomi lo."
Kedua gadis itu lalu meneguk minuman mereka dalam diam. Melihat Jeany telah mengosongkan separuh isi gelasnya, Stevi mulai berbicara lagi.
"Please pikirin gimana seandainya lo yang ada di posisi gue."
"Kalo lo yakin Kevin cinta ama lo harusnya lo gak usah takut."
"Gimana gue gak takut? Gue ... Gue udah ngasih segalanya buat dia ...."
Jeany merasa dunianya seketika runtuh. Ia mengulang ucapan Stevi tanpa sadar. "Ngasih ... segalanya?"
"Lo pasti ngerti kan maksud gue. Gue gak bisa kalo dia ninggalin gue, Jean ...." Stevi berkata dengan nada memelas.
Jeany menahan air matanya agar tidak tumpah. Baru beberapa hari yang lalu ia senang karena Kevin mengakui tidak pernah menyentuh perempuan selain dirinya. Berarti Kevin dan kekasihnya itu melakukannya baru-baru saja? Mungkinkah tadi siang ketika sedang berdua saja di rumah Stevi? Akan tetapi masuk akal, bukan? Jika dengan dirinya yang tidak menarik saja Kevin bisa hilang kendali, apalagi dengan kekasih cantik yang sangat dicintainya itu.
Namun Jeany belum bisa meluluskan permintaan Stevi. Hatinya tidak rela jika ia harus menjauh dari pemuda yang dicintainya itu. Bukankah ia juga kehilangan kesuciannya karena Kevin?
"Gue gak bisa. Lo tahu kan gue kerja di rumah Kevin. Gimana cara gue jauhin dia?"
"Soal itu gue bisa bantu. Gue akan atur supaya Kevin lebih banyak habisin waktu sama gue."
Jeany hanya diam, sadar dirinya tidak akan bisa menang dari Stevi. Sejak awal Kevin memang sudah menyatakan status persahabatan mereka.
"Lo gak usah putusin sekarang. Tapi please pikirkan baik-baik. Lo gak bisa terus-terusan bergantung sama Kevin," imbuh Stevi lagi.
Setelah perbincangan yang menguras emosi kedua gadis itu, Stevi mengantar Jeany pulang ke rumah Kevin. Ia tidak lagi masuk karena sedang tidak ingin bertemu dengan kekasihnya, yang terlampau baik pada perempuan lain tanpa memikirkan perasaannya. Gadis itu langsung bertolak menuju kediamannya sendiri.
Sesampainya di rumah, mamanya telah menunggu di ruang tamu dengan wajah yang lagi-lagi menunjukkan rasa lelahnya.
"Mama?"
Sang mama tersenyum lembut pada putri kesayangannya itu. "Ayo duduk dulu, Nak. Ada yang mau mama ceritakan."
Satu jam kemudian, Stevi telah berada di kamarnya dengan derai air mata yang tidak berkesudahan. Riasan matanya telah luntur, membuat air mata yang turun itu meninggalkan jejak kehitaman di kedua sisi wajahnya.
Apa ini karma buat gue karna udah meminta Jeany menjauhi Kevin? tanyanya pilu di sela-sela tangisannya.
Jaga kesehatan ya, Teman-teman. Jangan baca novel sampai begadang atau sampai lalai pada pekerjaan ya. Novel ini gak ke mana-mana kok, bisa dilanjut bacanya setelah ada kelonggaran waktu 😊😊😊
__ADS_1