
Jeany dan Mita tengah berjibaku di dapur. Empat loyang adonan brownies telah dimasukkan ke dalam panggangan. Tangan Jeany kini tidak berhenti mencuci piring, sendok, mangkuk, gelas ukur dan berbagai peralatan yang tadi digunakannya untuk membuat brownies. Mita sang sahabat membantu membersihkan meja dapur dari bekas tepung dan mentega yang tercecer.
"Akhirnya selesai juga." Sambil mengusap peluh di wajahnya, Jeany tertawa karena merasa lucu melihat wajah sahabatnya kini tampak sangat berminyak. "Rumah aku panas banget ya, Mit? Muka kamu sampe mengkilat gitu?" ucapnya sambil terkekeh.
Mita langsung mengambil kertas minyak khusus wajah dari dalam tasnya dan menempelkannya pelan-pelan pada pipi, hidung, dahi dan dagunya agar minyak di wajahnya terserap ke dalam kertas tersebut. Ia belum puas dengan hasilnya. "Habis ini aku cuci muka lagi aja deh," tukasnya kemudian.
Jeany lalu melihat jam di dinding dapurnya yang menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh malam. Ia pergi ke kamar untuk memeriksa putranya yang tengah tertidur. Tidak lama kemudian ia keluar dengan senyum keibuan menghiasi wajahnya.
"Pules banget tidurnya. Tumben hari ini dia tidur cepet," ucapnya pada sang sahabat.
"Hehe pasti gara-gara tadi aku ajak jalan seharian. Habis aku bosen banget di rumah, Jean. Mas Pras belum ijinin aku kerja. Dia takut aku kecapekan dan pengaruh ke program kehamilan aku."
"Iya nurut aja apa kata suami kamu."
Wajah Mita berubah sedih. "Kadang aku merasa Tuhan gak adil. Aku ama Mas Pras udah mapan dan sangat sayang anak-anak, tapi kenapa sampai sekarang belum dikasih kepercayaan untuk punya keturunan? Tapi di luar sana banyak ABG belum mateng, gak bertanggung jawab malah dengan gampangnya hamil di luar nikah trus ujung-ujungnya anaknya ditelantarin."
Mita tersadar sudah salah berbicara setelah melihat perubahan pada raut wajah sahabatnya. "Sorry, Jean, aku gak bermaksud nyinggung kamu."
"Iya aku ngerti kok. Kamu sabar aja, mudah-mudahan doa ama usaha kamu selama ini didenger Tuhan ya."
"Iya." Mita meneliti wajah sahabatnya yang masih tampak sedikit kaku akibat ucapannya tadi. "Jean, aku tahu ini pertanyaan lancang. Tapi apa kamu gak mau cariin papa baru buat Kenny? Kamu kan udah cerai lama sekali dari Randy. Dia juga udah nikah lagi kan?"
Jeany menggeleng. "Aku merasa hidup kayak gini udah cukup, Mit. Yang penting aku sama Kenny sehat dan kebutuhan kami tercukupi."
"Jangan cuma pikirin perasaan kamu, pikirin juga anak kamu. Dia udah masuk SD, pasti dia bakal mulai ngerasa beda dengan anak-anak lain yang punya papa."
"Iya nanti aku pikirin. Kamu belum mau pulang? Jangan sampai pas suami kamu pulang, kamunya belum di rumah." Jeany mengingatkan sahabatnya.
"Iya ya udah jam segini aja," keluh Mita yang masih ingin mengobrol lama dengan sahabatnya. "Aku kok sering takut Mas Pras berpaling ya, Jean. Kalau dia pamit main futsal ama temen-temennya kayak sekarang ini aku suka parno dia beneran main futsal atau ke tempat lain."
"Jangan mikir yang engga-engga. Suami kamu setia banget, mukanya aja kalem gitu gak ada genit-genitnya sama sekali."
"Ih kamu udah punya anak masih aja polos. Justru cowok yang kelihatan kalem tuh paling beringas kalo di kasur." Mita berkata tanpa malu-malu.
Jeany tidak menyanggah ucapan Mita. Seorang laki-laki yang dikenalnya di masa lalu juga seperti itu.
"Ya udah aku habis ini pulang deh. Berapa lama lagi nih brownies-nya mateng?" tanya Mita sembari membantu Jeany mengambil dus brownies dari dalam lemari. "Wah dusnya tinggal sepuluh, Jean! Kamu harus pesen lagi."
"Dua puluh menit lagi mateng. Iya aku udah pesen kok di percetakan. Besok pulang kerja aku ambil."
"Kalau kamu menikah lagi kan kamu gak perlu capek-capek cari penghasilan tambahan kayak gini."
"Aku senang kok ini kan hobi."
Mita pulang dari rumah Jeany dengan helaan napas. Lagi-lagi ia gagal membujuk sahabatnya. Sayang sekali, pikirnya, di usia yang masih sangat muda Jeany lebih memilih untuk hidup melajang dan seorang diri membesarkan putranya karena takut kegagalannya dalam berumah tangga akan terulang.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, seperti biasa Jeany mengendarai sepeda motornya menuju kantor. Ia sudah ijin untuk masuk siang karena harus mengantar putranya masuk sekolah di hari pertama pembelajaran. Tentu saja tidak ada yang tahu hal tersebut kecuali Prasetyo, atasannya di kantor sekaligus suami dari sahabatnya.
Jeany berjalan cepat dan masuk ke dalam ruangannya di divisi keuangan. Juli, teman seperjuangannya di sana sudah menunggu, tidak sabar untuk berbagi cerita.
"Lo tau gak, Jean, dirut baru kita cakeeeppp banget deh. Masih muda lagi!"
"Hmm." Jeany tidak antusias mendengarkan karena pikirannya sedang fokus pada tumpukan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
"Lo ngapain juga sih pake masuk telat? Kalo lihat Pak Kevin lo juga pasti bakal klepek-klepek kayak gue. Semua cewek di kantor pada heboh tau gak!"
Jeany seketika menoleh. Gerakan tangannya yang sedang menyusun nota penjualan terhenti. "Apa? Pak Kevin?"
"Iya. Pak Kevin nama dirut baru kita. Kenapa? Lo kenal? Katanya lulusan Singapore dan sebelum ini kerja jadi GM di sana. Tipe laki idaman banget deh pokoknya. Kayaknya masih single. Kira-kira dia bisa jatuh cinta ama gue gak ya?" Juli tampak mulai berkhayal.
Jeany tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Mustahil, pikirnya. Pemilik nama Kevin bukan hanya satu orang itu saja. Lebih mustahil lagi kalau setelah sekian lama, mereka akan dipertemukan kembali sebagai atasan dan bawahan di perusahaan yang sama. Terlalu kebetulan. Perempuan itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Ada gosip seru lagi nih!" Anet, teman lain mulai bercerita. "Bu Lisa barusan tunangan loh! Katanya tunangannya sama anak pemilik perusahaan ini. Dia sih cuma cerita sama Vera, tapi tahu sendiri kan Vera embernya kayak gimana?"
"Ah yang bener yang bener?! Beruntung banget sih Bu Lisa. Udah cantik, pinter, banyak duit, dapet jodohnya sama anak bos lagi!" Juli berkata iri.
Jeany mulai kehilangan kesabarannya. Dua temannya itu tidak pernah berubah, selalu saja suka bergosip. Meskipun mereka berdua juga yang membuat hari-harinya di kantor jadi tidak membosankan.
"Iya, Bu SPV ...," sahut Juli dan Anet bersamaan.
Mereka hanya berkelakar. Jabatan Jeany di kantor sama dengan mereka, sama-sama staf keuangan. Namun karena Jeany selalu serius bekerja dan sering mengingatkan mereka yang kadang berbuat melenceng dari pekerjaan seperti tadi, mereka jadi menjulukinya Bu Supervisor.
"Amiiin." Jeany mengamini ucapan teman-temannya.
***
"Ada apa?" Kevin mendongakkan kepalanya melihat Lisa yang baru saja masuk ke dalam ruangan laki-laki itu.
"Aku mau ajak kamu buat pilih-pilih undangan pulang kantor nanti. Waktunya udah mepet kan."
"Lain kali jangan terlalu sering menemui aku di kantor kalau hanya untuk urusan pribadi seperti ini."
"Apa aku gak boleh menemui tunanganku sendiri?"
"Kita harus profesional, Lis. Jangan kasih contoh buruk sama karyawan."
"Gak ada yang tahu juga kita tunangan. Mereka pasti mikirnya aku ke ruangan kamu untuk urusan pekerjaan."
Kevin memang melarang Lisa mengumumkan hubungan mereka di kantor. Perempuan itu menurutinya dengan berat hati, karena sebetulnya ia sangat ingin memamerkan Kevin sebagai calon suaminya pada teman-teman kantornya dan membuat mereka merasa iri pada keberuntungannya.
__ADS_1
"Jadi gimana, Vin?" desak Lisa lagi karena tidak mendapat jawaban dari Kevin.
"Nanti pulang kantor kita ke percetakan Kak Hansen aja."
"Oke ntar mobil aku ditinggal di kantor aja ya, kamu anterin aku pulang gapapa kan?" Lisa bertanya dengan wajah berbinar senang.
Kevin hanya memberi anggukan sebagai jawaban.
***
Siang itu Henny merasa kondisi tubuhnya sangat baik. Perasaan bahagia karena putra keduanya akan segera menikah turut membantu meningkatkan kondisi kesehatannya. Ia pun ikut sang sopir yang setiap hari bertugas mengantar dan menjemput cucu satu-satunya di sekolah. Suster yang membantu memantau kondisi kesehatannya di rumah dilarangnya ikut.
"Saya cuma sebentar, tidak perlu ditemani."
Wanita tua itu keluar dari mobilnya ketika mendengar bel sekolah berbunyi, tanda jam pelajaran telah berakhir. Ia berjalan menuju gerbang sekolah. Tidak lama kemudian tampak anak-anak berlarian keluar. Beberapa anak langsung pulang bersama orang tua mereka, beberapa anak lain berjalan menuju mobil antar jemput sekolah. Sedangkan anak-anak yang belum dijemput tetap menunggu di dalam gerbang. Tampak satpam sekolah mengawasi anak-anak tersebut.
Henny masih menunggu Enzo keluar. Saat itu dua orang anak laki-laki bertengkar tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mereka saling memukul dan menendang dengan teriakan kemarahan. Henny tidak dapat menghindar saat dua anak tersebut menabraknya. Ia kehilangan keseimbangan dan kepalanya sedikit mengenai pagar sebelum ia terjatuh.
Wanita itu berteriak kaget. Rambut palsu yang dikenakannya terlepas dari tempatnya semula. Beberapa anak yang melihatnya spontan tertawa. Namun tidak sedikit yang justru berteriak ketakutan dan berlari menjauhinya. Henny duduk tertunduk. Ia merasa sangat malu. Kemoterapi untuk pengobatan kanker yang dilakukannya membuat rambutnya mengalami kerontokan parah. Dalam waktu singkat ia mengalami kebotakan. Ia menyadari kulit wajahnya yang telah keriput dan kepalanya yang botak mungkin terlihat sangat menakutkan bagi anak-anak tersebut.
Satpam sekolah dan beberapa orang tua murid beranjak untuk membantunya berdiri. Pada saat itu sebuah tangan kecil terulur padanya, sambil memegang rambut palsunya.
"Ini rambutnya, Bu," ucap anak kecil itu dengan senyum polos.
Henny tertegun melihat anak kecil tersebut. Bukan hanya karena anak tersebut tidak takut padanya, namun juga karena wajah anak laki-laki tersebut sangat mirip dengan putra keduanya.
***
Jeany meneliti hasil cetakan dus brownies yang dipesannya pada sebuah percetakan. Tertulis nama Kenny's Cake di sana. Ya, ia menjadikan nama putranya sebagai nama dagang untuk brownies yang dijualnya. Hal tersebut memberinya semangat tersendiri di kala ia merasa lelah dan ingin berhenti berjualan.
Sejak Kenny bisa makan, Jeany tahu putranya sangat menyukai makanan manis. Ia jadi belajar membuat berbagai macam kue untuk diberikan pada putranya. Mita dan banyak orang memuji citarasa kue buatannya, mendorongnya untuk berani menjual kue buatannya itu. Namun perempuan itu hanya memiliki kepercayaan diri untuk memasarkan brownies, yang dirasanya paling enak di antara semua kue yang pernah ia coba buat.
Sementara itu, Kevin dan Lisa baru saja sampai di percetakan milik Hansen.
"Kamu masuk aja, Lis, pilih-pilih desainnya aja dulu. Aku mau beli minum dulu di sana. Kamu mau gak?" ucap Kevin menunjuk kios berdesain minimalis yang menjual minuman kopi kekinian.
"Gak usah kamu kan tahu aku gak suka kopi. Ya udah aku masuk dulu, kamu jangan lama-lama ya nyusulnya."
Lisa lalu masuk ke dalam bangunan percetakan. Kevin melihatnya dan berjalan menjauh. Bukan menuju kios kopi yang tadi ditunjuknya, namun ke sebuah taman kecil tidak jauh dari sana. Laki-laki itu duduk diam di sana dan merenung.
Kevin sebenarnya tidak peduli dengan undangan pernikahannya. Desain apa pun yang dipilih oleh Lisa pasti akan langsung disetujuinya. Oleh sebab itu ia memilih menunda waktu, berharap ketika ia masuk nanti Lisa telah menemukan desain yang disukainya sehingga ia tidak perlu lagi berlama-lama di sana.
Setelah dirasa cukup lama dan Lisa pasti sudah mendapat desain undangan yang diinginkan, Kevin berjalan kembali ke percetakan. Langkahnya yang semula berada dalam kecepatan biasa, melambat saat melihat sosok perempuan yang terlihat tidak asing baginya. Ia memperhatikan lebih seksama. Kakinya kini berhenti melangkah. Ia ternganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Perempuan itu masih sama seperti tujuh tahun lalu. Tubuhnya tetap kecil dan langsing. Rambutnya yang dulu panjang kini dipotong sebahu, dengan model potongan yang sangat cocok dengan wajahnya, membuatnya masih terlihat seperti gadis kuliahan. Paras yang amat dirindukannya itu perlahan mengarahkan pandangan padanya. Ketika mata mereka bertemu, perempuan itu menjatuhkan benda yang sedang dipegangnya.
__ADS_1