
Keluarga Wijaya sedang berkumpul di ruang makan untuk bersantap pagi. Tidak ada keceriaan di sana, terutama Henny yang tampak sedang memikul beban pikiran yang tidak ringan. Alan melirik istrinya yang makan dengan tatapan mata kosong.
"Ma, sudah hampir satu minggu Kevin meninggalkan rumah. Ini sudah terlalu lama. Lebih baik kita suruh dia pulang."
"Biarkan saja, Pa. Mama mau lihat sampai kapan dia bisa tahan hidup susah!"
"Tapi persediaan obat Kevin pasti sudah habis. Papa benar-benar khawatir. Dia tinggal di kos-kosan yang kamarnya kecil tidak pakai AC. Apa dia bisa tidur nyenyak di sana?"
"Itu lebih baik daripada dia kumpul kebo dengan perempuan itu! Kalau persediaan obatnya habis tidak mungkin dia tidak pulang kan?" Henny lantas menoleh pada putra sulungnya. "Marvin, kamu bilang adik kamu sekarang kerja jadi sales di mall?"
"Iya, Ma. Orang suruhanku sudah cari info, katanya cuma satu minggu kerjanya. Setelah itu Kevin harus cari kerja lagi."
Henny berpikir sejenak. "Biar mama tanya sama tante kamu, siapa tahu di tempat Hansen ada lowongan."
Alan dan Marvin sama-sama menggelengkan kepala. Mereka tahu Henny sangat mengkhawatirkan Kevin, tetapi terlalu keras kepala untuk mau mengubah keputusannya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dapat melunakkan hati wanita itu.
***
Seperti yang diduga papanya, Kevin memang mengalami kesulitan tidur tanpa pendingin ruangan. Sirkulasi udara yang buruk membuatnya gerah di malam hari. Kipas angin tidak mampu mengatasi masalahnya karena ia sudah terlalu terbiasa menggunakan pendingin ruangan.
Di hari ketujuhnya bekerja sebagai sales promotion boy, Kevin banyak menguap. Ia harus berkali-kali memberi dirinya sendiri semangat di hari terakhirnya bekerja di sana. Rasa-rasanya ia ingin tidur seharian setelah ini. Sayangnya besok ia sudah harus masuk kuliah, yang dimulai tepat pukul setengah delapan pagi.
"Ini aku beliin buat kamu. Kayaknya kamu ngantuk banget." Dewi menyodorkan minuman kopi botol dingin pada Kevin ketika pemuda itu masuk untuk mengambil brosur yang telah habis.
"Thanks," jawab Kevin sedikit terkejut.
"Hari ini rame banget ya?" Dewi sedang mengisi berbagai aplikasi pada ponsel yang terjual, sebagai layanan ekstra untuk menarik pembeli.
"Iya."
"Habis ini kita bisa ketemu lagi gak ya?"
"Kayaknya engga." Kevin tidak ingin memberikan harapan, kesempatan atau apa pun istilahnya pada Dewi yang berpotensi merusak hubungannya dengan Jeany. Masalah mereka sudah cukup banyak tanpa perlu ditambah lagi dengan gangguan dari perempuan lain.
Perempuan itu tersenyum mendengar jawaban lugas Kevin. "Nanti aku WA ya. Sekadar ngobrol gapapa kan?"
Kevin tidak mengacuhkannya. Ia langsung kembali ke depan stan tanpa menjawab pertanyaan Dewi. Dengan senyum terpatri ia membagikan brosur pada orang-orang yang lewat, berharap mereka akan tertarik dan membeli produk yang ia tawarkan.
"Loh, Kevin? Kamu kerja di sini sekarang?"
Kevin terkejut melihat kakak sepupunya. "Kak Hansen?"
"Pas banget nih gue lagi mau beliin karyawan gue HP. Yang bagus tapi gak terlalu mahal ada gak?"
"Ada dong, Kak ... Yang ini harga cuma satu jutaan udah dapet HP layar 5.5 inch, RAM 4 GB, memori internal 32 GB, kamera belakang 13 MP, kamera depan 5 MP, udah fingerprint lagi ...." Kevin menjelaskan dengan sangat lancar.
"Wah serius?" Hansen yang awalnya hanya mencari alasan untuk berbicara dengan adik sepupunya itu jadi benar-benar membeli. Tidak tanggung-tanggung, ia membeli lima buah ponsel sekaligus.
"Terima kasih, Kakak Sepupu Juragan ...." kelakar Kevin pada kakak sepupunya itu.
Hansen hanya tersenyum kecut, dalam hati bertanya-tanya mengapa ia bisa demikian kalap.
__ADS_1
Bayu pun tersenyum begitu lebar pada Kevin dan Hansen. Pasalnya transaksi pembelian dari Hansen membuat target penjualan mereka hari itu tercapai. Usai mengambil ponselnya, Hansen mengajak Kevin ke tempat lain. Pemuda itu meminta ijin pada Bayu.
"Udah lo ke sono aja dulu gapapa. Lima belas menit cukup kan?"
"Cukup kok," balas Hansen.
Kevin dan Hansen mencari tempat agak sepi untuk berbicara. Pria itu menanyai adik sepupunya. "Lo sampe kapan kerja di sini, Vin?"
"Ini hari terakhir, Kak."
"Habis ini kerja di tempat gue mau gak?"
"Di percetakan Kak Hansen? Tapi ...." Kevin masih ragu untuk mengiakan.
"Tenang aja, gue gak bakal kasih tahu Om Alan dan Tante Henny," bujuk Hansen.
Kevin menunduk, sedikit malu masalah pribadinya diketahui orang luar walaupun masih sepupunya sendiri.
"Gimana kabar cewek lo?" Hansen berbasa-basi untuk mengangkat suasana hati Kevin. Caranya cukup berhasil. Pemuda yang tadi tampak lesu itu kini menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Baik, Kak. Dia juga lagi training jadi kasir di restoran. Kalo uang udah terkumpul kami rencananya mau menikah."
Hansen mengeluarkan decakan kagum. "Mantap jiwa ... Jangan lupa kalo nikah undang-undang gue."
"Semoga aja waktu itu Mama udah memberikan restunya ...." Wajah Kevin kembali lesu.
"Makanya lo harus buktiin keseriusan lo. Apa yang bikin lo masih ragu buat kerja di tempat gue? Bisa pake Photoshop kan?"
"Bisa, Kak. Tapi jam kerjanya gimana? Aku pagi sampai siang masih harus kuliah."
"Trus gajinya gimana, Kak?" Kini Kevin bertanya sambil meringis.
"Kalo baru masuk ya sebesar UMR dulu hehehe ...." Hansen menjawab tanpa rasa sungkan.
"Hmm tapi habis itu dinaikin lima puluh persen ya ...."
" Lo mau percetakan gue gulung tikar?"
Jadilah Kevin menerima tawaran pekerjaan dari sepupunya itu. Selain jam kerja yang kondusif dengan jadwal kuliahnya, percetakan milik Hansen juga tidak jauh dari kampus Kevin. Mungkin bisa ditempuh dengan satu kali naik bis, pikir pemuda itu.
***
"Ran, besok lo gak usah antar jemput gue lagi," ucap Jeany sebelum turun dari mobil pemuda itu. Ia baru pulang dari mengikuti pelatihan untuk menjadi kasir di restoran milik sepupu Randy.
"Kenapa emangnya? Gue gak ada kerjaan, daripada bengong di rumah mending antar jemput cewek cakep ...."
"Cakep dari Hong Kong ...."
"Emang lo cakep kayak artis Hong Kong."
"Siapa?"
__ADS_1
"Cecilia Cheung."
Mau tak mau Jeany jadi tertawa. Kemiripannya dengan artis tersebut mungkin hanya rambut mereka yang sama-sama hitam lurus dan panjang.
"Besok kan lo udah mulai kuliah, Ran. Fokus kuliah sana."
"Haizz males banget masuk kuliah lagi ...." Randy memutar bola matanya.
"Bersyukur dong masih bisa kuliah," jawab Jeany sewot.
"Hehe bersyukur kok, Babe ... Kalo engga pasti udah gak dilanjutin. Besok lo masuk shift sore kan? Gue jemput ya?"
"Gak usah, Ran. Gue udah hapal jalan ke restoran kok. Gue bisa berangkat ama pulang sendiri."
"Pokoknya gue mau jemput. Lo gak boleh nolak."
"Kevin gak suka lo antar jemput gue, Ran ...."
"Berarti dia egois. Emang dia mau ceweknya pulang malam-malam sendirian? Dia sendiri juga gak bisa jemput lo kan?"
"Dia kan sibuk kerja. Gue juga udah biasa pulang malam sendiri kok. Ya udah gue masuk dulu ya, makasih udah anter gue."
"Gue gak mau makasih dari lo. Gue mau lo coba buka hati lo buat gue."
Jeany menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. "Suatu hari lo pasti akan menemukan cewek yang lebih baik dari gue, Ran ...." Gadis itu lalu turun dari mobil Randy dan masuk ke dalam rumah kosnya.
Pemuda itu terus memperhatikan dari dalam mobil hingga Jeany menghilang dari pandangannya. Ada kerinduan yang tidak dapat diungkapkannya.
Gue maunya sama lo, Jean ....
***
Hari pertama masuk kuliah ternyata Kevin satu kelas dengan mantan kekasihnya. Namun gadis itu tidak mengacuhkan Kevin. Mereka kini bagai dua orang yang tidak saling mengenal.
Bukan hanya dengan Stevi, pemuda itu juga satu kelas dengan Giselle yang merupakan putri dari sahabat orang tua Kevin sekaligus gadis yang dulu pernah menyatakan cinta padanya dan ia tolak. Giselle sengaja mengambil tempat duduk persis di sebelah Kevin.
"Lo gak mau pulang ke rumah, Vin? Kata nyokap gue Tante Henny stres mikirin lo."
"Bukan urusan lo."
Giselle mencoba mengabaikan sikap Kevin yang tidak ramah padanya. "Gue kasihan ama nyokap lo. Kok bisa sih lo lebih pilih Jeany daripada ibu kandung lo sendiri?"
"Ibu kandung gak selamanya benar."
"Jangan sampe lo nyesel udah jadi anak gak berbakti."
Kevin tidak mengindahkan kata-kata Giselle. Ia memusatkan perhatian pada materi yang disampaikan oleh dosen. Setelah kuliah berakhir, Kevin bergegas meninggalkan kampus, mengejar waktu yang masih tersisa untuk berjumpa dengan Jeany sebelum kekasihnya itu berangkat kerja. Akhir-akhir ini mereka tidak punya waktu untuk bertemu karena sibuk mengejar rupiah.
Di tengah perjalanan dari kampus menuju kos Jeany, ia melihat sesosok gadis yang dikenalnya. Stevi. Gadis itu tampak masuk ke dalam sebuah mobil sedan berwarna merah. Ia tidak dapat melihat pengemudi sedan tersebut karena pandangannya terhalang kaca film mobil. Mungkinkah itu kekasih baru Stevi?
Kevin mengambil ponselnya dan menelepon Stevi. Ia masih hafal dengan nomor ponsel mantan kekasihnya itu. "Halo. Ini aku. Kamu barusan dijemput siapa, Stev?"
__ADS_1
"Oh apa kamu cemburu? Tapi udah telat tuh. Aku udah move on dari kamu." Suara Stevi terdengar tajam menusuk. Gadis itu langsung memutus sambungan telepon.
Kevin benar-benar merasakan firasat tidak enak. Bagaimanapun ia pernah berjanji pada mama Stevi untuk menjaga putrinya selagi sang mama menemani suaminya berobat di Malaysia. Pemuda itu berharap kini belum terlambat untuk menepati janjinya, setidaknya sebagai seorang teman. Ia akan merasa sangat bersalah bila sampai terjadi hal buruk pada gadis itu karena luka hati yang ditinggalkannya.