Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Aku Tidak Bisa Ikut


__ADS_3

Pintu lift yang dinaiki Jeany menutup. Lift itu perlahan bergerak naik tidak lama setelah pemuda yang baru saja masuk menekan tombol angka lima. Jeany berdoa agar lift tersebut segera tiba di tempat tujuannya, agar ia bisa segera keluar dan tidak perlu lagi berdekatan dengan pemuda itu.


"Gue gak pernah liat lo lagi di club." Tiba-tiba pemuda itu bersuara. Wajahnya tampak santai seolah sedang berbicara dengan teman karibnya.


"Gue udah berhenti," jawab Jeany singkat. Ia berusaha terlihat tenang walaupun jantungnya sedang berdetak kencang.


"Oh ya? Kenapa berhenti?" tanya pemuda itu sambil menaikkan kedua alisnya.


"Gue yakin Kevin udah cerita semuanya sama lo." Jeany menolak menjelaskan lebih lanjut. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan sikap pemuda itu.


Buat apa dia nanya masalah pribadiku? Deket aja engga.


Pemuda itu tidak membalas perkataan Jeany karena pintu lift terbuka di lantai tiga, diikuti masuknya dua orang mahasiswa. Dua orang mahasiswa tersebut tampak asyik berbicara sendiri tanpa memedulikan dua orang yang telah lebih dulu ada di dalam lift.


Jeany bergegas keluar setelah lift tiba di lantai empat. Namun sebelum keluar, kakinya seperti tersandung sesuatu membuatnya kehilangan keseimbangan. Dengan tangkas pemuda yang berbicara dengannya tadi memegang Jeany agar tidak terjatuh. Posisinya setengah memeluk gadis itu.


"Hati-hati. Ini bukan pertama kalinya lo bertindak ceroboh," bisiknya di telinga Jeany.


Jeany tidak berbicara apa pun. Ia melangkah keluar tanpa melihat wajah pemuda itu. Kejadian di dalam lift membuatnya tidak dapat berkonsentrasi mengikuti kuliah. Ia yakin pemuda tersebut sengaja menyandung kakinya. Jeany bertanya-tanya dalam hati.


Apa maksud Randy melakukan semua itu?


***


Minggu tenang akhirnya tiba juga. Kevin tidak banyak bertemu dengan Stevi selama minggu tenang. Walaupun rindu ingin bertemu, ia tidak ingin menjadi laki-laki egois yang menyita waktu belajar sang kekasih. Mereka masih akan punya banyak waktu luang setelah ujian akhir semester berlalu.


Kevin cukup senang karena Stevi memenuhi janjinya untuk pergi jalan-jalan. Mereka memutuskan untuk pergi ke mal sambil melihat film bagus apa yang sedang tayang di bioskop. Di dalam mal, mereka keluar masuk toko sesuai keinginan Stevi. Kevin hanya mengikuti saja karena memang tidak ada barang yang ingin dibelinya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang kekasih, ke mana pun itu tidak menjadi masalah baginya.

__ADS_1


Tampaknya Stevi sangat suka belanja. Ia sibuk memilih-milih baju, tas, sepatu sambil bertanya pada Kevin apakah barang yang sedang dipegangnya bagus. Pada akhirnya ia membeli sebuah tas tangan. Lalu ia membeli pula sepasang sepatu di toko yang sama. Dan terakhir ia membeli jam tangan bermerek dengan logo berbentuk segitiga.


Sebagai kekasih yang baik tentu saja Kevin ingin membayar barang-barang yang dibeli oleh Stevi. Uang tidak menjadi masalah baginya. Namun gadis itu menolaknya.


"Aku bawa kartu kredit kok, Vin."


"Tapi aku ingin membelikan kamu."


"Kita kan masih pacaran belum menikah. Aku gak mau dicap sebagai cewek matre. Toh orangtuaku masih mampu bayarin belanjaku kok," kata Stevi sambil tersenyum.


"Kalo gitu makan ama nonton aku yang bayarin yah. Gak boleh nolak!" kata Kevin sembari mencubit kedua pipi Stevi.


"Iya iya kalo itu harus kamu yang bayarin dong. Kan kamu yang ajak jalan." Stevi bicara sambil melingkarkan tangannya pada lengan Kevin dan mengajaknya jalan menuju bioskop. Sekarang ia sudah tidak malu lagi bersikap manja dan mesra pada Kevin.


Mereka memutuskan untuk tidak menonton bioskop karena menurut Stevi tidak ada film yang menarik. Sebenarnya Kevin ingin sekali menonton film kesukaannya yang baru satu minggu diputar di bioskop, film bertema perang luar angkasa. Namun belum sempat mengutarakan keinginannya, Stevi sudah berkomentar negatif.


Kevin hanya tersenyum kecut. Ia terpaksa mengurungkan niatnya nonton bareng Stevi. Padahal pemutaran film tersebut di bioskop telah ia tunggu-tunggu sejak lama. Biarlah nanti pergi nonton dengan Randy saja, pikirnya. Randy pasti tidak akan menolak karena sahabatnya itu penyuka film bioskop.


Karena merasa lapar akhirnya mereka masuk ke restoran daging bakar Korea. Restoran ini juga Stevi yang memilihnya karena ia penggemar kuliner khas Korea. Belum sempat memilih menu, dua orang perempuan mendatangi meja mereka.


"Wah wah artisnya kampus. Bukannya belajar malah pacaran," sapa salah seorang dari dua perempuan tersebut.


"Loh Devi! Sandra! Ya ampun kebetulan banget! Ayo sini- sini duduk di sini aja kita makan bareng!" ajak Stevi girang karena tidak sengaja berjumpa dengan sahabatnya.


"Engga ah takut ganggu," tolak Sandra sambil memasang mimik wajah jenaka.


"Ganggu gimana? Gak ganggu kan, Sayang?" Stevi meminta persetujuan Kevin.

__ADS_1


"Iya gak ganggu. Gak perlu sungkan. Gue yang traktir," kata Kevin ramah. Namun ada semacam perasaan aneh yang muncul dalam hatinya karena Stevi memanggilnya sayang.


Dua sahabat Stevi tersebut akhirnya duduk satu meja dengan mereka, setelah sebelumnya Stevi pindah ke tempat duduk di samping Kevin. Mereka tidak saling memperkenalkan diri karena sudah saling mengenal. Devi dan Sandra berasal dari SMA yang sama dengan Kevin dan Stevi tetapi mereka berbeda fakultas di perguruan tinggi.


Mereka berbincang sambil membakar daging pesanan yang telah disuguhkan di atas meja. Lebih banyak Kevin yang melakukannya karena ia malas ikut andil dalam pembicaraan antar perempuan.


"Kok kalian jalan gak ajak gue sih?" protes Stevi pada kedua sahabatnya.


"Kita gak mau ganggu lo lah. Kita tahu banget lo pasti lagi serius-seriusnya belajar. Eh gak tahunya malah pacaran di sini!" ejek Devi.


"Gak mungkin belajar terus dong. Sekali-sekali jalan ama pacar kan gapapa." Lagi-lagi Stevi menunjukkan sikap mesranya ke Kevin.


"Duh duh gak kuat gue liatnya. Udah jadi bucin lo ya. Oh iya, Kevin jadi ikut kita ke Singapore kan?" tanya Devi di luar dugaan.


"Singapore?" Kevin akhirnya bersuara setelah sekian lama.


"Iya. Lo belum cerita, Stev?"


"Tadinya gue mau kasih surprise dengan langsung kasih tiket pesawatnya. Tapi lo maen sambar aja!" Lagi-lagi Stevi protes pada sahabatnya. Kali ini wajahnya cemberut.


"Ya ampun sorry sorry! Gue gak tau. Duh, b*go bener deh gue!" Devi meminta maaf sambil mencaci dirinya sendiri.


"Emang kapan kalian mau ke Singapore, Stev?"


"Habis UAS, Yang. Kebetulan om aku punya apartemen kosong di sana, jadi terserah kita mau berapa lama di sana. Rencananya sih dua minggu biar puas sekalian. Ntar balik sehari sebelum pengambilan rekap nilai. Kamu ikut yah?" pinta Stevi penuh harap.


Kevin berpikir sejenak. Tidak dapat dipungkiri ada perasaan kecewa karena sebenarnya ia telah memiliki rencana lain untuk libur semester kelak.

__ADS_1


"Kayaknya aku gak bisa ikut, Stev."


__ADS_2