
Tidak kurang dari seratus orang berkumpul di sebuah ruang pertemuan besar. Wajah mereka tampak bingung karena tidak tahu untuk apa dikumpulkan di sana. Kevin, sang direktur utama adalah sosok yang telah membuat para karyawan tersebut menghentikan sementara aktivitas kerja mereka.
Tampak meja panjang diletakkan di bagian paling depan ruangan tersebut, dilengkapi dengan lima buah mikrofon di atasnya. Sebuah layar proyektor juga telah dipersiapkan. Dalam waktu singkat, Kevin benar-benar memikirkan semuanya dengan matang.
Semua yang hadir menahan napas saat lima orang memasuki ruangan dan duduk di balik meja panjang. Lima orang tersebut adalah Kevin, Jeany, Lisa, Vera dan satu orang laki-laki paruh baya berkacamata yang tidak mereka kenal. Kevin duduk di tengah-tengah diapit oleh Jeany dan Lisa. Vera duduk di sebelah Lisa sambil memegang setumpuk kertas dengan wajah tegang.
Jeany juga sangat gugup. Duduk di depan seperti itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Ia tak pernah suka menjadi sorotan. Juli, Anet, Febi dan semua rekan satu divisinya juga melihat ke arahnya dengan wajah meminta penjelasan. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya dan jantungnya berdegup kencang. Namun ia memaksakan diri untuk berani. Percaya sama aku, ucap Kevin tadi saat memintanya untuk turut duduk di depan.
Lain lagi dengan Lisa yang sama sekali tidak terlihat gugup. Ia merasa menjadi korban di sini. Perempuan lain berniat merebut tunangannya. Dan melihat Jeany saat ini ikut duduk di balik meja panjang tersebut, ia sudah dapat menebak siapa perempuan lain itu. Lisa mengepalkan tangannya, ingin memberi pelajaran pada orang yang telah merebut Kevin darinya.
Tanpa buang-buang waktu, Kevin segera mendekatkan bibirnya pada mikrofon dan mulai berbicara.
"Selamat pagi, Semuanya."
Suara Kevin terdengar jelas hingga ke sudut ruangan. Layar proyektor besar juga menampilkan dirinya sehingga orang-orang yang berada di deretan paling belakang dapat melihat wajah tampan tanpa ekspresi itu. Setelah memastikan suaranya dapat didengar dengan jelas, Kevin melanjutkan kalimatnya.
"Saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk meluruskan berita yang telah tersebar. Terkait foto pertunangan saya dengan Lisa, saya menyatakan pertunangan tersebut benar adanya."
Terdengar suara riuh redam di ruangan tersebut, yang langsung menghilang begitu Kevin meneruskan kata-katanya.
"Sebelum pertunangan terjadi, saya tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun karena saya belum bisa melupakan mantan istri saya. Tapi mama saya yang sedang sakit keras menginginkan saya segera menikah. Saya sangat berterima kasih pada Lisa, sahabat saya karena menawarkan diri untuk membantu saya mengabulkan permintaan mama saya. Sampai di sini saya harap semua mengerti bahwa pertunangan tersebut tidak dilakukan atas dasar cinta. Sebenarnya sebelum foto pertunangan beredar, saya sudah membatalkan pertunangan tersebut."
Lagi-lagi terdengar bisikan dan gumaman yang mengomentari pernyataan mengejutkan Kevin tersebut. Pandangan orang-orang mengarah pada Lisa yang kini raut mukanya tampak memendam emosi. Sedangkan Jeany, ia menyembunyikan keterkejutannya karena Kevin berbohong soal mantan istri.
"Saya juga ingin mengumumkan hubungan saya dengan Jeany." Kevin kembali bersuara, kali ini dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Jeany adalah mantan istri yang saya sebut tadi. Kami berpisah karena alasan yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Tapi kami akan segera rujuk dan kembali menikah."
Staf divisi keuangan saling berpandangan dengan mata terbelalak. Begitu pula dengan staf divisi lain, semua tampak sangat syok.
Tiba-tiba suara Lisa terdengar tinggi memecah keriuhan.
"Jangan bohong kamu, Vin! Mantan istri apanya! Kamu membatalkan pertunangan kita karena tergoda perempuan murahan ini kan?! Padahal kamu tahu dia punya anak haram dengan laki-laki lain!"
Keinginan Lisa untuk mempermalukan Jeany benar-benar kuat. Sebelum Jeany mengatakan sesuatu, Kevin telah membentak Lisa.
"Tutup mulutmu!! Yang kamu sebut anak haram itu anakku!!" Nada tinggi suara Kevin terdengar berbarengan dengan suara pukulan di meja.
Semua orang terperangah termasuk Lisa. Hanya pria paruh baya berkacamata yang duduk di samping Jeany yang tetap mendengarkan dengan tenang. Sepertinya ia telah cukup sering menyaksikan drama kehidupan rumah tangga sehingga tidak ada lagi hal yang benar-benar dapat mengagetkannya.
Kevin memberi penjelasan lanjutan.
"Ketika berpisah dengan Jeany, saya tidak tahu dia sedang mengandung anak saya. Saya baru saja mengetahuinya setelah kami bertemu kembali di kantor ini." Suara Kevin terdengar bergetar menunjukkan penyesalannya.
"Itu benar."
Entah bagaimana, Henny tiba-tiba muncul di sana. Wanita itu membawa tubuh kurusnya berjalan maju ke depan. Kevin berdiri dan membiarkan sang mama menggantikannya duduk. Henny menarik napas sebentar sebelum berbicara di depan mikrofon.
"Perkenalkan. Saya adalah Henny Wijaya, istri dari Alan Wijaya pemegang saham mayoritas di perusahaan ini, sekaligus ibu dari Kevin Wijaya. Dan saya adalah orang yang membuat anak saya berpisah dengan perempuan yang dicintainya." Mata Henny tampak berkaca-kaca sambil melihat ke arah Jeany. "Dulu saya sangat menentang hubungan mereka. Saya melakukan segala cara untuk memisahkan mereka."
Semua orang kini memandang iba pada Jeany.
"Sekarang di hadapan kalian semua saya ingin meminta maaf pada menantu saya ... karena sudah membuat dia berpisah dengan suaminya, dan karena membuat dia menderita melahirkan dan membesarkan cucu saya seorang diri. Jeany, kamu mau kan memaafkan saya?" Henny berbicara sambil memegang tangan Jeany.
Rasa haru memenuhi rongga dada Jeany melihat Henny tanpa segan meminta maaf padanya di hadapan begitu banyak orang. "Iya saya sudah memaafkan Mama," jawabnya dengan tulus.
Beberapa karyawan perempuan yang menyaksikan momen tersebut tidak kuasa menahan air matanya.
"Bagaimana dengan aku, Vin?! Kamu gak bisa seenaknya membatalkan pertunangan kita!!" teriak Lisa sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Aku minta maaf, Lis. Sebelum pertunangan pun kamu tahu aku tidak pernah mencintai kamu, kamu sendiri yang memaksa. Selama ini yang aku cintai adalah Jeany."
Kata-kata Kevin mencoreng muka Lisa. Niat hati ingin mempermalukan Jeany, malah ia yang dipermalukan. Tatapan orang-orang padanya menyiratkan cemoohan tanpa suara. Cemoohan pada seorang perempuan yang memaksakan cintanya pada laki-laki yang jelas-jelas sudah mencintai perempuan lain.
"Betul kelihatan banget kok kalo Pak Kevin cintanya sama Jeany! Iya kan, Teman-teman kita lihat sendiri waktu makan bakso!" Juli bersuara untuk membela Jeany.
__ADS_1
"Iya Pak Kevin perhatian banget sama Jeany!"
"Bu Lisa kok maksa gitu ya?"
"Iya orang baru tunangan belum nikah. Yang minta tunangan juga dia sendiri!"
Cemoohan kini disuarakan dengan lantang hingga terdengar ke telinga Lisa. Perempuan itu berlari meninggalkan ruang pertemuan karena tidak mampu menahan rasa malunya.
Kevin tetap memasang wajah dingin. Ia sudah memperingatkan Lisa, tetapi perempuan itu malah dengan keji menyebut anaknya dan Jeany sebagai anak haram di hadapan ratusan karyawan. Demi menjaga nama baik keluarga kecilnya, ia akan melakukan apa saja walaupun harus mempermalukan Lisa.
Kalimat berikutnya dari Kevin diucapkan dengan nada yang tidak menunjukkan adanya kompromi.
"Setelah ini, saya harap tidak ada kalimat buruk yang beredar mengenai pembatalan pertunangan saya dengan Lisa maupun pernikahan saya dengan Jeany. Pengacara saya akan menjelaskan apa sanksi hukum bagi mereka yang mencemarkan nama baik keluarga saya."
Kevin kemudian mengajak mamanya dan Jeany meninggalkan ruang pertemuan. Pembicaraan diambil alih oleh laki-laki paruh baya yang ternyata berprofesi sebagai advokat itu.
Vera menyebarkan surat yang tadi diketiknya pada semua karyawan yang ada di sana. Surat yang berisi pernyataan setuju untuk tidak menyebarkan berita negatif seperti yang dikatakan oleh Kevin tadi. Semua karyawan diharuskan membubuhkan tanda tangannya di atas surat pernyataan bermaterai tersebut.
Walau Lisa adalah sahabatnya, Vera tidak dapat berbuat apa-apa untuk membelanya. Ia hanya karyawan biasa yang harus patuh pada perintah atasan. Apalagi setelah mendengar penjelasan Kevin dalam konferensi tadi, ia tahu sahabatnya berada pada posisi yang salah.
Jeany tidak langsung kembali ke ruangannya. Henny memintanya ikut ke ruangan Kevin.
"Ma, kok Mama tadi bisa tiba-tiba muncul di ruang meeting?" tanya Kevin.
"Mama tadi mau antar vitamin buat Jeany, supaya gak nge-drop gara-gara kecapekan bikin brownies. Kan kalian sebentar lagi menikah. Trus resepsionis kasih tahu mama kalo kamu sedang mengumpulkan semua orang di ruang meeting."
"Oh iya resepsionis juga harus tanda tangan surat pernyataan."
"Apa perlu sampe segitunya, Vin?" Jeany merasa tak enak pada para karyawan tersebut.
"Perlu. Biar gak ada yang berani menjelek-jelekkan kamu dan Kenny."
Jeany mengikuti apa kata Kevin. Ia tahu laki-laki itu melakukan hal tersebut untuk dirinya dan putra mereka.
Senyum Jeany terulas mengingat adik Kevin itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. "Boleh sekali, Tante. Eh, Mama." Jeany salah tingkah mendapat lirikan tajam dari Henny.
"Kalian harus segera fitting baju pengantin. Waktunya sudah mepet sekali lho." Tanggal pernikahan memang tidak dirubah. Yang berubah adalah calon mempelai wanitanya.
"Iya, Ma. Tapi aku baru plong kalo udah menemui orang tua Lisa. Kalo masalah itu sudah beres, baru aku bisa secara resmi membatalkan undangan yang sudah telanjur disebar."
"Iya mama juga sudah bicara sama papa kamu masalah itu. Nanti papa akan suruh sekretarisnya yang urus sekalian dengan undangan baru. Kamu gak usah pikirin lagi, fokus saja sama pernikahan kalian.
Kevin memberi pelukan pada Henny. "Makasih ya, Ma."
"Iya, Sayang. Sekarang yang mama inginkan cuma melihat kalian hidup bahagia." Henny meraih tangan Kevin dan Jeany ke dalam genggamannya. Ia sedikit terisak, masih menyesali perbuatannya dulu.
***
Malam yang benar-benar sudah larut, Kevin datang mengunjungi rumah Jeany. Tentu saja Kenny sudah berada di alam mimpi. Jeany memprotes calon suaminya itu.
"Udah malam banget kok masih ke sini? Kenny juga udah tidur." Tidak seperti waktu pacaran dulu, kali ini Jeany membiarkan Kevin masuk ke dalam rumah.
"Aku kangen kamu," ucap Kevin sambil memeluk perempuan itu.
Jeany membalas pelukan kekasihnya. "Aku juga kangen ... Gimana pertemuan kamu sama keluarga Lisa?"
Ekspresi wajah Kevin terlihat senang. "Syukurlah mereka mau mengerti. Cuma Lisa yang masih marah."
"Kamu juga sih segampang itu tunangan sama dia. Kalo kita gak ketemu trus kamu telanjur nikahin dia gimana?" Jeany mencubit pinggang Kevin.
Laki-laki itu meringis. "Ya aku sadar ada salah sama dia. Tapi bagi aku sekarang kamu sama Kenny yang paling penting. Aku gak mau lagi ada yang menghalangi pernikahan kita."
"Aku masih takut dia cari masalah, Vin ...."
__ADS_1
"Gak usah mikir yang engga-engga. Aku gak akan biarin dia bikin masalah." Kevin memajukan wajahnya ingin mengecup bibir Jeany.
Perempuan itu mundur. Wangi kue yang sedang dipanggang membuat Jeany membebaskan dirinya dari pelukan Kevin.
"Bentar, Vin, brownies-ku udah mateng kayaknya."
"Astaga, Jean ... Kita udah mau nikah kamu malah sibuk bikin brownies ...."
"Gimana lagi aku udah telanjur terima orderan."
"Besok juga bikin brownies lagi?"
"Iya besok ada sepuluh kotak yang harus dibikin."
"Astaga ...." Kevin menepuk jidatnya lalu berjalan menyusul Jeany ke dapur.
***
Hampir semua orang di kantor kini memperlakukan Jeany dengan sangat hormat. Walaupun tidak ada perubahan pada jabatannya di kantor, statusnya sebagai calon istri Kevin membuat orang-orang segan padanya. Ia sedikit tak nyaman dengan perlakuan tersebut.
"Wah, Bu Bos udah datang ...." Juli termasuk satu dari sedikit orang yang tetap memperlakukannya seperti biasa.
"Puas-puasin deh goda gue ... Sebelum gue resign," tukas Jeany.
"Yah elu beneran mau resign?" Wajah Juli terlihat sedih. "Harusnya Bu Lisa aja yang resign, malu banget kalo gue jadi dia ...."
"Gue mau fokus urus suami ama anak," jawab Jeany tanpa membahas Lisa.
"Gue masih kaget loh lo ama Pak Kevin dulu suami istri ... Kok bisa sih? Kenal di mana? Pak Kevin pernah marah gak sama lo? Sekarang anak lo umur berapa? Dulu mamanya Pak Kevin jahat banget gak?"
Begitu banyak pertanyaan hanya dijawab oleh Jeany dengan satu kata, "kepo."
Pekerjaan kantor dilakukan Jeany seperti biasa. Tidak ada yang berubah darinya. Untuk urusan fotokopi pun sebisa mungkin ia melakukannya sendiri. Ia meminta bantuan office boy hanya bila pekerjaannya benar-benar padat, biasanya bila jumlah nota penjualan sangat banyak.
Jeany tidak sadar bila Lisa telah berdiri di belakangnya. Ia nyaris bertabrakan dengan perempuan itu saat membalik tubuhnya.
"Sorry, Jean. Ada hal penting yang harus aku omongin sama kamu."
"Apa?"
"Kita ngomong di ruang meeting ya."
Setelah menyimpan dokumennya, Jeany menemui Lisa yang sudah menunggunya di ruang pertemuan. Ia ingin menyelesaikan permasalahan di antara mereka agar dapat hidup dengan tenang. Namun ia tak menduga hal penting yang ingin dibicarakan oleh Lisa adalah momok yang paling ditakuti oleh perempuan manapun.
"Aku hamil anak Kevin, Jean. Kamu harus batalin pernikahanmu sama dia. Dia harus bertanggung jawab!"
Jeany tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia tetap memasang wajah datar. "Aku tahu kamu bohong, Lis."
Lisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku gak bohong. Kamu pasti tahu kan kebutuhan s*ks Kevin sangat tinggi. Aku sangat mencintai Kevin jadi aku bersedia memberikan itu untuk dia, meskipun dia bilang belum bisa mencintai aku ... Di Singapore dulu kami sering melakukannya. Setelah bertunangan kami semakin sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di apartemen dia ...."
Jeany mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. "Trus kenapa?" ucapnya dengan wajah tak peduli. "Kamu bisa kan melahirkan dan membesarkan anak itu tanpa ayah kandungnya? Sama seperti aku dulu."
Setelah mengucapkan kalimat pamungkasnya itu, Jeany meninggalkan Lisa dengan sandiwara murahannya. Setidaknya itulah yang diharapkannya, bahwa Lisa hanya sedang bersandiwara. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang menderu cepat karena rasa marah.
Langkah kaki yang semula ia arahkan menuju divisi keuangan berganti dengan cepat menuju ruangan direktur utama.
"Jeany?" Kevin sangat terkejut karena kekasihnya membuka pintu dan menutupnya kembali dengan suara keras, nyaris seperti dibanting. "Kamu kenapa?"
"Jawab aku. Apa kamu pernah tidur sama Lisa?"
Yuk mampir cerita temanku juga. Dijamin gak kalah seru 😉
__ADS_1