Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Ada Gosip Baru Apa?


__ADS_3

Akhirnya waktu makan yang ditunggu-tunggu oleh Jeany tiba juga. Para pelayan restoran menghidangkan berbagai macam menu yang semuanya terlihat menggiurkan di atas meja. Gadis itu makan dengan lahap, terlihat sekali sedang kelaparan. Usai mengisi perutnya, Jeany merasa suasana hatinya telah jauh lebih baik.


Senyum kembali terukir di wajah Jeany ketika Jovina mengajaknya bicara. Kontras sekali dengan ketika belum makan, bibirnya bahkan tidak bergerak ketika semua orang tertawa melihat aksi kocak badut di atas panggung.


Kevin memperhatikan perubahan pada raut wajah Jeany. Ia merasa lucu. Rupanya perut lapar dapat mempengaruhi emosi seseorang. "Lain kali, sedia snack yang banyak di tas kamu," ucapnya di telinga gadis itu.


"Kenapa?" tanya Jeany dengan wajah bingung.


"Kamu rese kalo lagi laper."


Jeany langsung tertawa, membayangkan iklan yang kata-katanya baru saja dicatut oleh Kevin. Ia melihat Kevin dengan tatapan meminta maaf karena sadar sedari tadi sudah mengabaikan pemuda itu, hanya merespons dengan wajah tidak bersahabat ketika Kevin mencoba berbicara dengannya. Padahal kalau dipikir-pikir suasana hatinya yang buruk tidak ada hubungannya dengan Kevin. Ucapan Giselle yang menjadi penyebab mendung di hatinya.


"Kak Kevin, Kak Jeany, ayo maju kita dipanggil buat foto," ucap Jovina yang telah berdiri dari tempat duduknya.


"Eh? Saya?" tanya Jeany gugup. Ia merasa bukan anggota keluarga sehingga tidak perlu ikut berfoto.


"Yuk!" Kevin langsung menarik tangan Jeany.


Gadis itu melihat Kevin dengan tatapan memohon agar pemuda itu melepaskan tangannya. Namun Kevin terus berjalan maju. Ia tahu bila tidak dipaksa Jeany tidak akan mau melangkah ke depan. Jeany akhirnya menurut saja setelah melihat Tania juga ikut maju. Di atas panggung sudah menunggu Marvin dan Winda yang sedang menggendong Enzo, menyambut mereka dengan senyuman.


"Sekarang Kak Kevin ama Kak Jeany foto berdua ya!" Jovina mengusulkan dengan senyum lebar setelah sesi foto mereka selesai. Marvin dan Winda kini sedang menemui para tamu yang menyapa mereka. Tidak sedikit pula tamu yang berpamitan untuk pulang.


"Foto rame-rame aja, sama kamu dan Tania juga," ajak Jeany yang merasa aneh dengan usul Jovina.


"Gampang itu, sekarang Kak Kevin ama Kak Jeany foto duluan ya. Aku yang fotoin."


"Tapi-"


"Udah, Jean gapapa sekali-kali nyenengin anak kecil," potong Kevin meledek adiknya yang kemauannya harus selalu dituruti itu.

__ADS_1


"Kak Kevin emang paling baek hehe ... Dijamin gak nyesel deh kalo foto."


Kevin hanya mengangkat alisnya, bertanya-tanya apa maksud ucapan sang adik.


Jovina menggiring Kevin dan Jeany ke sudut panggung yang dipenuhi dengan berbagai macam hiasan berbentuk gula-gula, membuatnya menjadi latar belakang yang sempurna untuk foto yang diinginkan oleh adik Kevin itu. Jovina mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya pada kedua orang yang menjadi obyek foto. Namun tidak lama kemudian terdengar suara protes darinya.


"Aduh Kak Kevin ama Kak Jeany kaku banget!"


Jovina lalu berjalan menghampiri Kevin dan Jeany. Ia meraih tangan Jeany dan menaruhnya di tempat yang diinginkannya.


"Oh!"


Jeany buru-buru menarik tangannya yang sempat mendarat dengan sempurna di bokong Kevin.


"Eh sorry sorry, Kak .... Maksud aku tadi mau taruh di pinggang hehehe ...," ujar Jovina tanpa rasa bersalah. Kejadian tadi memang murni tanpa kesengajaan.


"Jovina! Gak usah aneh-aneh!" Kevin berkata galak. Insiden barusan benar-benar membuatnya malu.


Sedangkan Tania lagi-lagi melihat Jeany dengan tatapan iri karena berhasil memegang bokong laki-laki yang disukainya. Sama sekali tidak ada kebencian di hatinya karena ia sadar dirinya sudah kalah sebelum berperang.


"Kenapa ini ribut-ribut? Gak di rumah gak di pesta kalian gak bisa akur ya?" Marvin datang karena melihat kedua adiknya saling memelototkan mata.


"Ini Kak Kevin, cuma gara-gara kepegang bo- Hmmph!" Jovina tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Kevin buru-buru menutup mulut adiknya itu dengan telapak tangannya.


"Gapapa kok, Kak cuma becanda biasa," ucap Kevin pada Marvin sambil memaksakan senyumnya.


"Aduh Kak Kevin apa-apaan sih!" protes Jovina begitu berhasil melepas tangan Kevin dari mulutnya, yang dibalas dengan tatapan mengancam oleh kakaknya itu.


"Sudah sudah! Habis ini kita mau ke panti, jangan ribut lagi!" Marvin yang mulai pening melihat tingkah kedua adiknya cepat-cepat menengahi.

__ADS_1


"Ehm, Kak, aku ama Jeany gak ikut boleh? Soalnya Jeany lagi gak enak badan. Aku mau antar dia pulang aja." Kevin meminta ijin pada kakaknya.


"Lho, Jeany sakit?" Winda yang datang belakangan terkejut mendengar ucapan Kevin.


"Cuma masuk angin dikit, Kak. Kita ikut aja, Vin. Aku udah gapapa kok."


"Istirahat dulu aja, Jean, jangan capek-capek. Besok kamu masih harus jaga Enzo seharian," saran Kevin.


"Oh kalo gitu kamu antar pulang Jeany aja. Kalo gak mendingan bawa ke dokter ya, Vin. Trus kamu ikut ke panti apa mau pulang juga, Vina?" Winda beralih menanyai adik iparnya yang paling bungsu.


"Ikut ke panti," jawab Jovina yang terlihat sekali masih kesal pada Kevin.


Mereka kemudian kembali ke tempat duduk tanpa sempat mengambil foto yang diinginkan oleh Jovina. Setelah Marvin dan Winda memberi ucapan terima kasih dari atas panggung, satu per satu tamu yang masih tersisa mulai meninggalkan restoran. Tinggal beberapa kerabat dekat yang masih berada di restoran dan akan ikut ke panti asuhan untuk acara syukuran sederhana. Kevin memperkenalkan Jeany sebagai temannya pada mereka semua.


"Waduh cantik sekali kamu, Nak. Rambut dan kulit kamu halus sekali ya, pasti perawatan mahal," puji salah satu adik papa Kevin pada Jeany.


"Makasih, Tante."


Jeany mulai berkeringat dingin. Dikelilingi oleh keluarga besar Kevin seperti ini membuatnya gugup. Apalagi ada yang menanyakan apa pekerjaan orang tuanya. Walaupun hanya pertanyaan basa-basi, Jeany merasa tertekan karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Om, Tante, Kevin pulang dulu ya. Masih ada urusan soalnya." Kevin segera berpamitan pada keluarganya karena tahu Jeany sudah merasa tidak nyaman. Dalam hati gadis itu benar-benar merasa terharu dengan sikap Kevin yang penuh pengertian padanya.


***


Malam itu di dalam apartemen, Stevi yang baru selesai mandi air hangat melihat kedua sahabatnya sedang menatap layar ponsel dengan sangat serius.


"Ada gosip baru apa nih?" tanya Stevi karena tahu kedua sahabatnya tidak pernah ketinggalan berita yang sedang panas. Ada saja sumber berita mereka.


"Lo lihat sendiri aja deh," jawab Devi sambil mengarahkan layar ponselnya tepat di depan wajah Stevi. Sandra memandang wajah sahabatnya itu dengan perasaan iba.

__ADS_1


Stevi berdiri terdiam untuk beberapa saat. Ia lupa pada niat awalnya untuk mengeringkan rambutnya yang baru saja dikeramas, yang kini dibiarkannya membasahi bajunya hingga ke bagian punggung. Kata-kata yang diucapkannya kemudian tidak membuat kedua sahabatnya terkejut.


"Besok gue balik Jakarta."


__ADS_2