Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tidak Usah Sedih


__ADS_3

Jeany sengaja mengulur waktu sebelum kembali ke ruangan yang ditinggalkannya. Ia berharap pembicaraan orang-orang di ruangan tersebut telah berganti ke topik lain. Apa saja asalkan bukan kisah kemesraan Kevin dengan kekasihnya.


Gadis itu tidak mengerti mengapa Kevin menatapnya tajam ketika ia kembali dan mendudukkan diri di sofa, dan bukan kebetulan pula orang yang duduk di sebelahnya adalah Randy.


"Lama amat, Babe? Hampir gue susulin tadi."


Jeany hanya tersenyum tipis, tidak berniat menjawab.


"Lo beneran semester depan mau cuti kuliah, Jean?" Stevi sangat berharap informasi yang didengarnya dari Randy benar adanya. Semua orang kini memusatkan perhatiannya pada Jeany.


Seketika Jeany memelototkan matanya pada Randy. Ia tak suka urusan pribadinya diketahui banyak orang.


"Ups sorry gue keceplosan. Lo gak bilang kalo cuma gue yang boleh tahu." Randy berkata sambil meringis.


"Kamu juga gak tahu, Yang?" Stevi bertanya pada Kevin.


"Engga," jawab Kevin datar.


"Wah kayaknya bentar lagi ada yang jadian nih. Jangan lupa traktirannya biar awet!" goda Johan bersemangat. Lumayan bisa makan-makan gratis, pikirnya.


"Tenang lo orang pertama yang bakal gue kasih tahu. Eh engga dong, Kevin yang harus tahu duluan."


"Kenapa Kevin?"


"Dia kan sahabat Jeany dan sahabat gue juga," jawab Randy sambil menekankan kata sahabat.


"Terserah deh tapi jangan lama-lama keburu gue balik China!"


"Denger tuh, Babe, jangan gantung gue lama-lama ya," kata Randy menoleh pada Jeany.


"Lo katanya belum makan siang, buruan pesan makan gih! Nih recommended menurut gue," kata Kevin menyela. Ia memberi brosur berisi menu restoran favoritnya di apartemen tersebut. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk mengalihkan pembicaraan. Ia sudah melakukannya dua kali dalam waktu berdekatan.


Kevin melihat ke arah Jeany. Ternyata gadis itu juga sedang memperhatikannya. Mata mereka saling beradu selama beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu membuang pandangan karena melihat amarah yang nyata pada tatapan pemuda itu.


Semua orang kini sibuk melihat-lihat beberapa brosur yang diberikan oleh Kevin.


"Lo aja yang catet pesenan anak-anak, San!" titah Devi.


Sandra mengikuti permintaan sahabatnya. Ia mendata satu per satu menu yang ingin dipesan oleh teman-temannya. Ia pula yang menelepon restoran tersebut untuk melakukan pesan antar. Sambil menunggu makanan yang dipesan, mereka menikmati kudapan yang dibawa oleh Randy.


"Kita gak main kartu nih?" ajak pemuda itu.


"Masih jaman ya maen remi?"


"Engga ah gue gak tau caranya."


"Maen yang lain kek yang lebih seru!"


Semua menyuarakan pendapat masing-masing, kecuali Jeany. Ia merasa tak nyaman berada di antara mereka, ingin pulang tetapi tak menemukan alasan yang tepat. Kevin menyadarinya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Stevi selalu menempel padanya. Lagipula ia sedang kesal pada gadis itu. Kekesalannya bertambah setelah dilihatnya Jeany kini asyik mengobrol dengan Randy.


"Ya ampun, Stev, kok tumben muka lo ada jerawatnya?" tunjuk Devi yang baru menyadari perubahan di wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Eh ma-masa?"


Stevi memegang wajahnya dengan gugup. Ia telah berusaha menutupi jerawat tersebut dengan concealer, tetapi rupanya usaha tersebut tidak memberikan hasil yang diinginkannya.


"Bukannya lo udah cocok ama krim dari klinik ya?" Sandra juga mempertanyakan munculnya jerawat di wajah Stevi.


"Gu-gue belum sempat beli habis dari Singapore."


"Besok gue temenin beli deh. Lo gak boleh lalai merawat muka lo. Ntar cowok lo digoda cewek lain yang mukanya lebih mulus gimana?" Devi lagi-lagi menyindir Jeany.


"Hahaha tenang aja Kevin gak bakal berpaling cuma gara-gara hal sepele begitu, Stev! Kecuali ada hal lain yang lebih besar ...." Kata-kata Randy mengagetkan semua orang yang ada di situ.


"Hal besar apa maksud lo, Ran?" tanya Johan penasaran.


"Ya misalnya dia gak sengaja ngehamilin cewek lain ...."


"Kevin gak mungkin selingkuh, Ran. Gue percaya sama dia," ucap Stevi menyembunyikan kegundahannya.


"Husss jangan ngomong sembarangan! Lo kayak gak tahu Kevin aja. Cuma Stevi yang bisa menggerakkan hatinya sampe mau pacaran, gimana ceritanya dia bisa ngehamilin cewek lain," timpal Johan pula.


"Iya kalo sampe Kevin tidur ama cewek lain paling juga cewek murahan itu yang jebak dia!" Kata-kata Devi yang paling ekstrem membuat semua kepala menoleh padanya.


"Hehehe sabar dong. Kan gue bilang misalnya ...."


"Lo mending kuatirin diri lo sendiri, Ran. Mana tahu salah satu cewek lo ada yang hamil," balas Kevin geram.


"Bedalah gue kan selalu pake pengaman kalo maen, sedangkan lo-"


Stevi merasa jengah mendengar pembicaraan yang terlalu blakblakan itu. Begitu pula dengan Devi dan Sandra yang jadi membayangkan perbuatan Randy di benak mereka. Sedangkan Jeany, wajah gadis itu memucat tetapi ia berusaha terlihat biasa saja. Padahal ia yang paling terpukul mendengar kata-kata semua orang yang ada di sana.


"Aku ke toilet dulu ya, Yang." Stevi beranjak dari tempat duduknya hendak berjalan menuju toilet. Namun baru beberapa langkah berjalan, ia bingung harus berbelok ke kiri atau ke kanan.


"Ke kiri," ucap Kevin memberitahunya.


Sama seperti Jeany tadi, Stevi ke toilet untuk menenangkan dirinya. Ia sangat malu dengan keadaan wajahnya yang kini berjerawat. Sedangkan Jeany yang dianggapnya sebagai saingan terbesar dalam percintaan, memiliki kulit yang mulus hingga tanpa polesan bedak pun sudah terlihat bagus. Masalahnya keuangannya kini tidak memungkinkan untuk membeli satu paket krim wajah dari klinik kecantikan langganan yang harganya cukup mahal itu.


Setelah dari toilet, Stevi memutuskan untuk melihat wajahnya di cermin wastafel yang berada di dekat toilet. Ada dua tambahan jerawat baru di sana. Gadis itu mendesah, gelisah dengan keadaan kulit wajahnya. Ia harus segera membeli krim wajah itu sebelum wajahnya semakin hancur.


Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah benda kecil yang hanya dipakai oleh perempuan. Benda itu terselip di belakang botol sabun cuci tangan. Ia mengambil benda itu dan memperhatikannya. Sebuah lipstik berwarna peach yang terlihat masih baru, mungkin baru beberapa kali digunakan untuk memoles bibir pemiliknya. Dan yang pasti harga lipstik tersebut tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah, karena Stevi mengenali mereknya sebagai merek murah tetapi cukup berkualitas. Gadis itu mematung dengan berbagai pikiran buruk di benaknya.


Karena tidak ingin menduga-duga lagi, Stevi membawa lipstik tersebut ke ruangan depan. Ia tahu keretakan suatu hubungan salah satunya disebabkan oleh kurangnya komunikasi. Karena itu ia tidak ingin ada kesalahpahaman hanya karena takut bertanya. Toh hingga detik ini ia masih sangat percaya bila sang kekasih setia padanya.


Stevi kembali duduk di samping Kevin dan segera menanyainya. "Yang, ini punya siapa?"


DEG!


Wajah Jeany semakin pucat melihat lipstik miliknya berada dalam genggaman Stevi. Gadis itu memejamkan mata menyesali kebodohannya. Ia memiliki dua kali kesempatan untuk mengambil lipstik tersebut, kemarin dan tadi, tetapi sama sekali tidak terpikir untuk melakukannya. Bodohnya kamu, Jeany!


"Oh itu punya adik aku," jawab Kevin berdusta. Pemuda itu tidak tahu ada lipstik yang tertinggal di apartemennya. Namun ia tahu siapa pemiliknya, karena hanya ada satu orang gadis yang pernah diajaknya masuk ke tempat tinggalnya itu.


Devi memandang Jeany dengan curiga. Sejak tadi Jeany berjalan ke toilet ia sudah merasa ada yang aneh. Jeany terlihat sudah mengetahui letak toilet tersebut. Ditambah kini Stevi menemukan sebuah lipstik di apartemen Kevin, barang yang pernah dikatakan hilang oleh Jeany. Menurutnya bukan sebuah kebetulan.

__ADS_1


"Adik kamu sering ke sini ya?" tanya Stevi lagi.


"Jarang sih, cuma kalo ada perlu."


"Oh ya udah ini jangan lupa balikin, siapa tahu dia masih mau pake."


Kevin menyimpan lipstik tersebut di tasnya. Diam-diam ia menghembuskan napas lega karena Stevi percaya padanya. Gadis itu kini duduk dengan menyandarkan kepalanya di pundak Kevin.


"Yang, ngantuk ...," ucapnya manja.


"Jangan gini, Stev, gak enak dilihat temen-temen."


"Biasa aja sih, Vin. Cuma nyandarin kepala juga," celetuk Devi.


"Iyalah, Vin, kita semua juga ngerti kali kalo kalian pacaran," imbuh Johan.


Randy tidak ikut dalam pembicaraan karena ia sedang sibuk mengambil hati Jeany. Gadis itu sangat antusias dengan topik obrolan mereka saat ini.


"Lo punya yang judulnya Pembunuhan atas Roger Ackroyd, Ran?!"


Bagaimana tidak antusias, sudah sejak lama ia ingin membaca novel dengan judul tersebut, salah satu judul yang diklaim merupakan karya terbaik pengarang novel favoritnya.


"Ada dong .... Koleksi gue kan lengkap!"


"Wah boleh gue pinjam?"


"Apa yang engga buat lo? Besok gue anterin ke kos lo ya?"


"Ehm ...." Jeany bimbang, ingin bukunya tetapi tidak ingin pemuda itu mendatangi kosnya.


"Atau lo mo ambil di rumah gue?"


"Hmm .... Ntaran aja kalo gitu gue pinjamnya."


"Hahaha lo gak percayaan amat ama gue. Gue bakal buktiin kalo gue udah berubah."


Begitulah pembicaraan yang mereka lakukan dengan suara pelan. Namun di mata Kevin, terlihat Jeany dan Randy sedang berbincang mesra. Ia tidak menolak ketika Stevi memintanya untuk mengusap-usap kepala gadis itu, yang tentu saja tidak luput dari perhatian Jeany.


Ketika makanan yang dipesan datang dan mereka menikmati makan siang, Kevin lagi-lagi menahan kesal karena melihat Jeany bertukar lauk dengan Randy. Padahal gadis itu hanya memindahkan sayur yang tidak ingin dimakannya ke piring Randy, semata-mata agar tidak terbuang sia-sia.


Mereka tidak terlalu lama berkumpul di apartemen Kevin, sengaja ingin memberi waktu pemuda itu berdua saja dengan kekasihnya. Tentu saja usul tersebut berasal dari Devi untuk membantu hubungan percintaan sahabatnya.


"Vin, kami pulang dulu ya. Lo yang antar pulang Stevi kan?" tanya Randy yang sedari tadi tidak mau jauh dari Jeany.


"Iya pacar gue biar gue yang antar."


Satu kalimat sederhana dari Kevin tetapi terasa menyakitkan bagi Jeany. Gadis itu hanya bisa pasrah. Ia yang salah telah mencintai kekasih orang lain.


Semua orang keluar dari apartemen Kevin, kecuali Stevi yang akan diantar pulang oleh pemuda itu. Jeany sengaja keluar paling terakhir. Rasa rindunya membuatnya ingin berbicara dengan pemuda itu, walau hanya sepatah dua patah kata. Setidaknya menanyakan apakah ia telah benar-benar sembuh dari sakitnya. Namun ketika menoleh, yang dilihatnya dari pintu yang masih terbuka justru pemandangan Stevi yang sedang memeluk erat sang kekasih.


Jeany langsung memalingkan wajahnya. Matanya terasa panas karena menahan air mata yang menggenang. Tiba-tiba Randy melingkarkan lengannya di pundak gadis itu. "Udah gak usah sedih," bisiknya di telinga Jeany.

__ADS_1


Dalam keadaan dipeluk oleh Stevi, Kevin melihat Randy merangkul Jeany. Ia melihat kepergian gadis itu dengan amarah dan sesak di dada. Begitu pula dengan Jeany yang meninggalkan apartemen Kevin dengan tambahan luka di hatinya.


__ADS_2