Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Memang Dekat


__ADS_3

"Uhuk uhuk uhuk!"


Kuah bakso yang masuk ke dalam saluran pernapasannya membuat Jeany terbatuk hebat. Ia sempat kesulitan mengambil napas hingga wajahnya memerah. Rasa gatal di tenggorokan juga membuat mata Jeany berkaca-kaca, benar-benar menyiksanya. Dalam kekacauannya, Jeany yang ingin mengambil gelas minumannya justru menyenggol gelas berisi es teh manis itu. Isi gelas tersebut tumpah mengenai baju Kevin.


Semua staf keuangan menahan napas mereka, mengira Kevin yang di kantor terkenal dingin itu akan marah besar. Namun laki-laki itu justru menepuk-nepuk punggung Jeany dengan lembut. Tak cukup sampai di situ, Kevin mengambil gelasnya sendiri dan menyodorkannya pada Jeany. Gelas itu diterima oleh Jeany yang langsung menghabiskan isinya yang tinggal tiga perempat.


"Kamu kenapa gak hati-hati sih?" ucap Kevin lembut. Tangannya masih mengusap pelan punggung Jeany.


Prasetyo beserta para stafnya melongo melihat pemandangan tersebut. Jeany yang sadar dirinya sedang diperhatikan berusaha menepis tangan Kevin, cukup pelan agar tak terlihat tidak sopan. "Aku udah gapapa."


Kalau tadi Jeany merasa tersiksa, kini ia merasa sangat malu. Tangannya mengambil tissue yang disediakan pihak warung dan mengusapnya pada bagian dada dan perut Kevin yang basah. Laki-laki itu tersenyum senang menerima perlakuan Jeany.


Insiden tersedaknya Jeany membuat semua orang melupakan apa yang dikatakan oleh Prasetyo sebelumnya. Akan tetapi, Prasetyo bukan orang yang tidak tanggap situasi. Ia telah mencurigai sesuatu.


Waktu istirahat yang singkat membuat para pekerja kantoran itu harus segera kembali. Kevin tetap menyuruh Jeany untuk ikut dengannya. Lagi-lagi mereka berdua hanya membisu di dalam mobil. Jeany baru bersuara setelah mobil Kevin membelok di sebuah perempatan, bukan ke arah kantor mereka.


"Mau ke mana?"


"Ke apartemenku."


"Ngapain?" tanya Jeany curiga.


"Biasanya kalau ke apartemenku kita ngapain?"


"Kevin!" Jeany memberi laki-laki itu tatapan tajam.


Kevin membalasnya dengan senyum tanpa dosa. "Mau ganti baju, Jean ... Kamu mau aku ke kantor pake baju basah begini?"


Jeany hanya bungkam, membiarkan Kevin melajukan kendaraannya ke tempat yang dikehendakinya. Kompleks apartemen yang dimasuki kendaraan laki-laki itu berbeda dengan yang dulu pernah didatangi oleh Jeany. Rasa ingin tahu perempuan itu membuatnya melanggar niatnya untuk tetap mendiamkan Kevin.


"Kamu pindah?"


Kevin sedikit terkejut Jeany mengajaknya berbicara. "Ah ya. Yang ini lebih dekat kantor. Kalo udah kemaleman aku lebih suka pulang ke sini," jelasnya menjawab pertanyaan perempuan itu.


Kamu ngapain aja sampe pulang kemaleman? Jeany ingin bertanya seperti itu, tetapi ia sadar kehidupan Kevin sudah bukan urusannya lagi. Perempuan itu kembali terdiam.


Kevin mengajak Jeany masuk ke dalam apartemen yang ukurannya dua kali lipat lebih luas dari apartemen lama laki-laki itu. Kevin segera masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Ia keluar dengan membawa paperbag dan melemparnya pada Jeany. Perempuan itu refleks menangkapnya.


"Apa ini?"


"Kemeja kotorku."


"Hah?"


"Kamu yang bikin kotor, jadi kamu juga yang harus cuci. Besok pagi harus sudah kamu antar ke ruanganku."


"Apa-apaan kamu?! Memangnya gak bisa laundry?!"


"Kenapa? Ini kan bukan pertama kalinya kamu mencuci bajuku?"


"Gak pernah."


Kevin menatap Jeany tajam, merasa terluka karena perempuan itu melupakan masa lalu mereka.


"Waktu itu aku pulang kampus kehujanan. Kemeja biru yang aku pakai basah. Aku bingung karena besoknya harus pakai kemeja itu untuk presentasi tugas kelompok. Kamu bilang kamu bisa mencucinya dan membuatnya kering dalam waktu satu hari, lalu kamu—"


"Cukup, Vin!" Jeany menghentikan ucapan laki-laki itu. Dadanya kembali terasa sesak. Kenapa laki-laki itu selalu mengungkit masa lalu mereka?


"Walaupun kita sekarang udah gak ada hubungan apa-apa, aku bersyukur kita pernah punya kenangan itu. Saat itu adalah saat-saat aku merasa sangat bahagia. Biarpun harus hidup serba kekurangan, aku bahagia karena kamu ada di sampingku!" Kevin terus berbicara tanpa menyadari kata-katanya bagai menabur garam pada luka yang masih menganga di hati Jeany.


"Apa gunanya kamu ngomongin itu sekarang?" Jeany bertanya tanpa memandang laki-laki itu.


"Jean, aku tahu kita gak bisa kembali kayak dulu. Kamu udah punya kehidupan sendiri, aku juga sebentar lagi akan menikah. Tapi kita sekarang satu kantor. Apa kita gak bisa memperbaiki hubungan kita, seenggaknya kembali sebagai sahabat?" Apa pun itu, Jean, asal kamu gak benci aku lagi ....


Kata-kata Kevin justru membuat Jeany semakin menutup pintu hatinya. Sahabat? Sejak awal mereka memang bukan sahabat!


"Aku gak bisa."


Kevin memandang Jeany sangat lama. Yang dipandang hanya bergeming.


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan memperlakukan kamu sebagai bawahan," ucap Kevin dengan nada dingin.


"Itu lebih baik."


Mereka keluar dari apartemen Kevin dengan perasaan kecewa di hati masing-masing. Namun Jeany tetap membawa kemeja kotor laki-laki itu untuk dicucinya. Dengan demikian ia tidak akan merasa berhutang apa-apa lagi pada laki-laki itu.


Sebuah lagu dari grup musik Naff diputar Kevin untuk menemani perjalanan singkatnya dengan Jeany menuju kantor mereka. Entah disengaja atau tidak, lirik lagu tersebut malah mencabik-cabik perasaan dua insan yang sedang mendengarkannya dalam diam.


Resah jiwaku menanti


Mengingat semua yg terlewati

__ADS_1


Saat kau masih ada di sisi


Mendekapku dalam hangatnya cintamu


Lambat sang waktu berganti


Endapkan laraku di sini


Coba 'tuk lupakan bayangan dirimu


Yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu


Sekian lama aku mencoba


Menepikan diriku di redupnya hatiku


Letih menahan perih yang kurasakan


Walau kutahu kumasih mendambamu


***


Lisa baru tiba di tempat parkir kantornya setelah menjamu seorang agen besar asal Makasar. Sebagai manajer pemasaran, bersama dengan manajer sales ia harus menjalin hubungan baik dengan para agen. Terkadang sikap para agen tersebut dirasanya menyebalkan dan banyak menuntut, seperti agen yang baru saja ditemuinya. Untung agen besar, pikir Lisa sambil menghela napasnya.


Setelah turun dari mobilnya, Lisa berjalan menuju lobi kantor. Pada saat itulah ia melihat kendaraan milik tunangannya memasuki area parkir. Tidak lama kemudian Kevin dan Jeany turun dari mobil tersebut. Ia pun berlari menghampiri mereka.


"Vin! Jeany! Kalian habis dari mana?" tanyanya sambil mengernyit.


"Aku habis ikut divisi finance makan bakso," jawab Kevin jujur.


"Trus kok Jeany bisa sama kamu?"


"Mobil Pak Pras gak muat, jadi Jeany ikut aku."


"Oh gitu ...." Lisa memasang senyum manja pada Kevin. "Padahal aku juga pingin makan bakso, tapi tadi harus nemenin agen."


"Ya nanti aku ajak kamu ke sana."


"Beneran?"


Kevin mengangguk. Ia dan Lisa berjalan beriringan meninggalkan Jeany.


"Biarin aja."


***


Malamnya, Jeany baru saja selesai membantu sang putra mengerjakan pekerjaan rumah ketika pintu rumahnya diketuk. Ia membukanya.


"Mita, Mas Pras? Ayo masuk." Jeany mempersilakan tamunya untuk masuk.


"Jean, aku boleh ajak Kenny ke foodfest sebentar gak?" Prasetyo meminta ijin.


"Tapi ini udah malam ...," jawab Jeany ragu.


"Aku mau pergi, Ma! Aku mau naik kuda-kudaan di sana!" Kenny yang mendengar dirinya akan diajak jalan-jalan berteriak girang sambil melompat-lompat.


Jeany menatap putranya yang tampak sangat senang. Ia tak sampai hati membuatnya kecewa. "Kamu mau, Kenny? Tapi jangan pisah dari Papi ya? Jangan terima makanan dari orang gak dikenal, jangan mau kalo diajak pergi orang gak dikenal, pokoknya harus sama Papi terus. Ngerti, Kenny?"


"Kenny ngerti, Ma!" Sang putra menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar.


"Tenang aja, Jean. Mas Pras pasti jagain anak kamu dengan baik." Mita menenangkan Jeany.


"Iya tolong ya, Mas?" pinta Jeany pada atasan sekaligus suami sahabatnya itu.


"Yup tenang aja. Anakmu gak akan lecet sedikit pun."


Setelah Kenny berganti pakaian, Jeany membekalinya dengan jaket, berjaga-jaga agar anaknya tidak masuk angin karena akan bermain di tempat terbuka. Sang putra lalu pergi bersama ayah angkatnya.


Mita kini duduk di ruang tamu Jeany sambil bersedekap. "Sekarang jelasin semuanya sama aku," ucapnya tegas.


Jeany meneguk ludahnya. Ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. "Apa yang mau kamu tahu?"


"Kenapa muka Kenny bisa mirip sama direktur baru kalian yang bernama Kevin?"


Sunyi sejenak. Jeany tidak berani memandang Mitha ketika menjawab.


"Dia papanya Kenny."


Mita menutup mulutnya dengan telapak tangan sebagai reaksi atas keterkejutannya. "Gimana ceritanya?"


Tangis Jeany pun pecah. Kepada sahabatnya itu ia menceritakan semua yang dialaminya mulai dari Kevin yang merenggut kesuciannya hingga Henny yang ingin menggugurkan kandungannya.

__ADS_1


Mita langsung memeluk sahabatnya erat. "Aku gak nyangka kamu ngalamin semua itu. Jahat sekali mama Kevin mau menggugurkan cucunya sendiri! Harusnya kamu cerita sama aku dari awal."


"Sorry, Mit ...," lirih Jeany dalam pelukan sang sahabat.


"Ya aku ngerti kamu pasti malu. Pantas kamu gak pernah mau menerima bantuan dari Randy, karena Kenny ternyata bukan anaknya."


Jeany menggeleng. "Dia udah terlalu banyak bantu aku. Sekarang dia udah punya keluarga sendiri, gak seharusnya aku masih menyusahkan dia."


"Lalu gimana dengan Kevin? Dia harus tahu kalau kamu sudah melahirkan anaknya!"


Air mata Jeany kembali mengalir. "Aku sakit hati, Mit. Aku sakit hati dia mau menikah sama orang lain, aku sakit hati dia udah ngelupain aku ...."


"Tapi kasihan Kenny kalau gak dapat kasih sayang dari papanya. Siapa tahu Kevin malah batal nikah."


"Kamu yakin? Trus kalo Kenny malah mau dibawa gimana? Cuma Kenny yang aku punya . Aku bisa gila kalau Kenny diambilnya!"


"Coba dulu, Jean. Ingat anakmu butuh kasih sayang papanya. Kalau dia mau bawa Kenny nanti aku dan Mas Pras yang akan bantu kamu. Atau mau minta tolong Mas Pras yang bilang ke Kevin?" usul Mita.


"Jangan!" Jeany buru-buru mencegahnya. "Biar aku sendiri yang bilang, setelah aku memastikan perasaan dia ke aku."


"Sebenarnya kamu masih berharap bisa kembali sama Kevin kan? Kalo engga kamu gak akan menamai anakmu Kenny, singkatan dari nama kalian."


Jeany memutuskan untuk menjawabnya dengan jujur walau harus tersenyum pahit.


"Iya. Bodohnya aku masih mencintai dia ...."


Malamnya, Jeany melipat kemeja milik Kevin yang baru saja selesai disetrikanya. Ia memeluk kemeja itu sebentar sebelum memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu Jeany masuk ke kamar. Terlihat sang buah hati yang tengah terlelap. Jeany mengusap lembut rambut Kenny. Ia mengecup pipi bocah itu.


"Kenny, apa pun yang terjadi jangan pernah tinggalin mama ya ...."


***


Kedekatan Kevin dengan Jeany segera menjadi buah bibir di kantor. Perlakuan lembut Kevin pada Jeany di warung bakso menyebar dari mulut ke mulut, dengan berbagai bumbu cerita yang ditambahkan sesuka hati oleh para tukang gosip.


Lisa melempar ponselnya dengan kasar ke atas meja. Ia baru saja melihat gosip hubungan istimewa antara Kevin dengan Jeany di grup Whatsapp yang beranggotakan teman-teman kantornya. Hatinya sangat kesal. Ia yang menjadi tunangan Kevin, namun perempuan kaku itu yang menjadi pusat perhatian. Pikirannya menyalahkan Jeany. Pasti perempuan itu yang menggoda Kevin, geramnya.


Sementara itu Jeany selalu tutup mulut bila ditanya oleh rekan satu divisinya.


"Kalian beneran kemarin gak ngapa-ngapain? Baliknya telat gitu?" cecar Juli padanya. Rekan kerja yang lain diam-diam mendengarkan.


"Kemarin kan udah gue jawab? Pak Kevin cuma ganti baju sebentar di apartemennya ...."


"Tapi lo diajak ke apartemennya!"


"Trus lo mau dia bolak-balik? Ke kantor dulu antar gue, baru ke apartemen ganti baju, habis itu balik lagi ke kantor gitu?"


"Ya enggak gitu juga sih ...." Juli menggaruk-garuk kepalanya. "Tapi tetep aja perlakuan Pak Kevin ke lo beda banget! Dia aja di kantor gak pernah senyum!"


"Dia emang gitu kalo belum kenal."


"Masak sih?"


"Iya."


"Wah beruntung banget lo bisa jadi temennya Pak Kevin!"


Jeany tidak menanggapinya. Baginya dekat dengan Kevin bukan sebuah keberuntungan. Ia lalu teringat harus mengembalikan kemeja laki-laki itu di ruangannya.


Di depan ruangan Kevin, sekretaris direktur utama itu menyambutnya dengan wajah tak ramah. Vera, sang sekretaris, adalah sahabat Lisa di kantor. Jeany tetap bersikap seolah tidak terjadi apa pun.


"Saya mau mengembalikan barang milik Pak Kevin," ucap Jeany pada Vera.


"Pak Kevin sedang tidak ingin diganggu. Taruh saja di sini nanti saya sampaikan," sahut Vera ketus.


"Ada yang harus saya bicarakan dengan Pak Kevin."


"Kamu tidak dengar tadi saya bilang apa? Pak Kevin sedang tidak ingin diganggu!"


Jeany terpaksa kembali ke ruangannya tanpa sempat bertemu dengan Kevin. Akan terlihat aneh kalau ia yang hanya seorang staf biasa bersikeras untuk bertemu dengan direktur utama yang telah berpesan pada sekretarisnya agar tidak diganggu.


Di lorong sepi yang menghubungkan ruangan divisi keuangan dengan divisi pemasaran, Lisa menghadangnya.


"Kamu tidak tahu malu sekali ya! Sudah tahu Kevin tunangan saya tapi masih mendekati dia!"


Jeany menatap Lisa jengkel. Ia sudah kesal karena tadi Vera menghalanginya bertemu dengan Kevin. Kini kekesalannya tak terbendung lagi.


"Saya gak perlu mendekati Kevin, kami memang sudah dekat!"


Mampir juga di karya temanku ya 😃


__ADS_1


__ADS_2