Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Janji


__ADS_3

"Apa syaratnya?" Kevin memicingkan matanya curiga. "Kamu tahu kan aku gak mungkin balik sama kamu."


Stevi memberi senyum pahit sebelum menjawab. "Aku tahu di hati kamu udah gak ada tempat buat aku. Aku cuma minta waktu kamu beberapa jam aja buat acara reuni nanti. Setelah itu aku gak akan ganggu hubungan kamu sama Jeany lagi."


Gadis itu memang hampir merelakan Kevin. Ia hanya ingin mengukir kenangan indah, mewujudkan angan-angannya sebelum benar-benar berpisah dengan pemuda itu.


"Kamu kenapa ngotot banget mau ke reuni sih?" tanya Kevin tak habis pikir. Menurutnya acara reuni tersebut tidak penting dan tidak menjadi masalah bila tidak menghadirinya.


"Ada acara prom night di sana. Temen-temen tahunya kamu pasangan aku. Gak mungkin aku datang tanpa kamu, mau taruh di mana muka aku? Sebenarnya aku udah menunggu lama untuk pergi ke sana sama kamu, dansa sama kamu ... Aku udah membayangkan itu semua ...," jawab Stevi dengan wajah sendu.


"Keadaan aku juga kayak gini belum tentu bisa pergi," elak Kevin.


"Kata dokter kamu lusa boleh pulang."


"Oke kalo begitu. Asal kondisi aku memungkinkan untuk pergi," jawab Kevin setelah berpikir sejenak. Ia memperkirakan menghadiri acara reuni SMA paling lama hanya akan menghabiskan waktu lima jam saja. Setelah itu ia akan bebas menjalani hubungannya dengan Jeany tanpa beban lagi.


"Kamu janji kan?"


"Iya janji."


Stevi lantas mengirim pesan Whatsapp pada Randy.


[Kalian standby di RS. Kalo Tante Henny keluar ntar gue kabarin.]


Sesuai perkiraan Stevi, setelah agak sore mama Kevin meninggalkan rumah sakit. Gadis itu langsung memberitahu Randy.


[Mama Kevin baru aja pergi, kalian boleh ke sini. Tolong bilang sama Jeany, Kevin mengalami pendarahan di otaknya. Dia gak boleh sampai stress.]


"Kevin pendarahan di otak, Ran?" Jeany sangat cemas setelah membaca pesan di ponsel Randy tersebut.


"Hm paling Stevi-nya aja yang lebay. Cuma luka dikit dibilang pendarahan otak," ucap Randy sebal.


Tidak butuh waktu lama bagi Randy dan Jeany untuk tiba di ruang perawatan Kevin. Mereka memang sudah berada di rumah sakit tersebut, menunggu saat yang tepat untuk masuk sesuai petunjuk dari Stevi.


"Hufff sukur deh Stevi berubah pikiran," gumam Randy merasa lega. Ia memang sedang malas bertemu dengan Kevin. Pertemuan terakhir mereka masih melekat di benaknya. Mereka kini telah berada di depan pintu kamar Kevin.


"Ran, lo gak masuk?"


"Engga deh kan dia udah gapapa juga. Buruan, waktu lo gak lama, jangan sampe nyokapnya balik. Gue tunggu di luar."


Jeany pun mengangguk. Ia mengetuk pintu kamar Kevin lalu masuk ke dalam. Pemuda itu terlihat terkejut, tetapi tidak lama kemudian wajahnya menampakkan senyum.


"Sini ...."


Kevin memanggil Jeany agar segera mendekat, yang langsung dituruti oleh gadis itu. Jeany membisikkan kata terima kasih ketika lewat di samping Stevi.


"Kamu udah gapapa, Vin?"


Bukannya menjawab, Kevin malah sibuk merapikan rambut Jeany yang sedikit berantakan akibat tertiup angin. Melihat itu, Stevi memutuskan untuk keluar.


"Duduk sini." Kevin menggeser posisi duduknya, memberi tempat pada Jeany agar duduk di sampingnya. "Muka kamu pucat. Kamu lagi sakit?" ucapnya menatap cemas pada sang kekasih.


"Aku baik-baik aja kok. Kamu sendiri gimana? Ada pendarahan di kepala? Sampe memar begini ...." Jeany mengusap lembut pipi Kevin yang masih sedikit lebam.


Kevin menggeleng. "Cuma sakit sedikit di sini," ucap pemuda itu memegang bagian belakang kepalanya yang masih sakit. Ia tidak menyebut kondisinya, tidak ingin membuat Jeany khawatir.


Mereka saling memandang dengan segudang pertanyaan di benak masing-masing.


"Kamu kenapa gak pernah angkat telpon dari aku, Jean?"


"T-telpon? Tapi gak ada telpon masuk ...." Jeany menjawab dengan bingung.


Kevin mengernyitkan dahinya. "Jelas-jelas aku minta tolong Kak Marvin, Jovina, sampai suster buat telponin kamu."

__ADS_1


Jeany berusaha agar Kevin tidak berpikir terlalu keras. "Udah udah gak usah dipikirin. Yang penting kan sekarang aku udah di sini."


"Kamu bisa ke sini trus siapa yang jaga Enzo?"


"Eh i-itu dijaga Bi Murni bentar. Makanya aku gak bisa lama-lama di sini, jangan bilang mama kamu ya. Trus kamu gimana ceritanya kok bisa kecelakaan?" tanya Jeany mengalihkan perhatian.


"Ada motor yang tiba-tiba nyelonong keluar gang. Trus aku menghindar. Gak tahunya ada mobil dari arah depan jalannya oleng juga gara-gara nyetir sambil liat HP, jadinya tabrakan deh."


"Kok semua gak hati-hati sih nyetirnya? Kalo mereka gak ceroboh kan kamu gak bakal kayak gini ...!" Jeany sangat kesal hingga rasanya ingin menangis.


Kevin meringis melihat wajah gusar gadis itu. "Aku juga salah gak pakai seat belt .... Aduduh sakit, Jean!" Pemuda itu mengeluh karena merasakan sakitnya cubitan Jeany pada perutnya.


"Sakit mana sama waktu tabrakan? Kenapa gak pakai seat belt, itu kan penting! Pokoknya gak boleh kayak gitu lagi, kamu harus jaga diri baik-baik, pikirin aku juga!" Jeany berkata sambil terus mencubiti perut dan lengan Kevin.


"Aduh iya iya kamu kok jadi ganas gini sekarang ...."


Pemuda itu memegang kedua pergelangan tangan Jeany agar berhenti menyiksanya. Namun ia tertegun saat melihat bulir air mata gadis itu.


"Aku kuatir banget tau gak, aku takut gak bisa ketemu kamu lagi ...," ucap Jeany sambil terisak.


Kevin segera menarik Jeany ke dalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala gadis itu, yang kini bersandar penuh di dadanya.


"Maafin aku ya udah bikin kamu kuatir. Aku janji lain kali lebih hati-hati."


Jeany mendongakkan kepalanya. "Janji ya? Kamu harus cepat sembuh!"


"Iya janji."


Mereka kembali saling berpandangan. Kevin memegang pipi kanan Jeany dengan telapak tangannya, menatap kedua manik gadis itu.


"Aku kangen banget sama kamu ...."


Pemuda itu menunduk dan perlahan menempelkan bibirnya di bibir Jeany. Gadis itu memejamkan mata. Mungkin karena rasa rindu yang telah tertumpuk lama, atau rasa takut kehilangan yang amat besar, Jeany membalas ciuman Kevin dengan sepenuh hati. Mereka saling berpagutan seolah dunia hanya milik berdua.


"Jeany lama banget di dalam? Keburu ada yang datang nih. Coba lo liat, Stev."


"Lo aja, Ran. Gue gak mau sakit hati ngelihat mereka mesra-mesraan."


"Gue gak yakin tuh bocah berani mesum di rumah sakit."


Randy membuka pintu ruang rawat inap Kevin. Namun detik itu juga ia menyesali keputusannya. Pemuda itu segera menutup kembali pintu tersebut, tidak jadi masuk. Sedangkan Kevin dan Jeany terlalu asyik dengan kegiatan mereka hingga tidak sadar pintu kamar tersebut sempat dibuka dan ditutup kembali oleh seseorang.


"Hiiishh dasar tuh bocah gak mau rugi! Ambil kesempatan dalam kesempitan!" umpat Randy kesal sambil mendudukkan diri di samping Stevi.


"Kenapa, Ran?"


Randy memandang Stevi dengan perasaan iba. "Lo mending gak usah tahu deh."


Untuk menghalau rasa kesalnya, Randy memilih bermain game online di ponselnya. Tidak lama kemudian terdengar umpatan demi umpatan keluar dari mulut pemuda itu.


"Dasar bocah t*lol disuruh ke samping malah ke atas! Turret di samping gak ada yang jaga b*go!"


"Anjr*t nih bocah pake AFK segala jadi kalah kan!"


"Anj*ng ranking gue turun!!" Randy melihat layar ponselnya dengan kesal.


Stevi lama kelamaan merasa terganggu. Ia tidak mengerti di mana letak keseruan game yang sedang dimainkan oleh Randy, bila nyatanya hanya membuat pemuda itu marah-marah tidak jelas.


"Lo ngapain maen kalo cuma bikin stress?"


"Biasanya gue menang .... Apes banget hari ini!" Randy masih saja menggerutu.


Setelah waktu yang dirasa cukup lama bagi Randy dan Stevi, Jeany akhirnya keluar. Ia disambut dengan wajah kecut Randy.

__ADS_1


"Sorry ya gue lama," ucapnya merasa bersalah.


"Seneng ya di dalam?" sindir Randy.


"Iya seneng." Jeany yang tidak tahu maksud dari kalimat Randy itu menjawab sambil tersenyum polos. "Stev, makasih ya udah bantu gue ketemu Kevin."


"Gak perlu makasih. Gue ngelakuin itu demi diri gue sendiri."


Usai berkata demikian, Stevi langsung masuk ke dalam ruangan Kevin tanpa berpamitan lagi. Randy menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, berusaha menghilangkan perasaan tidak nyaman karena melihat gadis yang disukainya berciuman dengan sahabatnya sendiri.


Gue emang player, tapi gue juga punya perasaan ....


"Ayo pulang, jangan sampai ada yang ngelihat lo di sini," ajaknya kemudian pada Jeany.


Belum jauh berjalan, Jeany meminta berhenti di toilet karena merasa mual. Ia memuntahkan isi perutnya di sana.


"Jean, lo gapapa? Kok bisa tiba-tiba muntah sih?" tanya Randy cemas setelah Jeany keluar dari toilet.


"Gak tahu nih baunya gak enak banget di sini, bikin mual."


Randy mengendus-endus dengan hidungnya. "Perasaan gak ada bau apa-apa deh," gumamnya heran.


"Pulang aja yuk? Perut gue eneg di sini."


"Jean, lo akhir-akhir ini sering muntah?" tanya Randy sambil berjalan.


"Iya akhir-akhir ini sakit maag gue sering kambuh."


Randy merasakan firasat tidak enak. "Lo yakin cuma sakit maag? Jangan-jangan di situ udah ada calon anaknya tuh bocah." Pemuda itu menunjuk perut Jeany dengan dagunya.


"Ish, Randy apa-apaan sih!"


"Lo apa udah coba pake testpack? Gue curiga lo hamil .... Tuh bocah pasti waktu itu gak pake pengaman kan?"


"Lo ngomong apa sih, gue gak tahu." Wajah Jeany sudah memerah.


"Masak gak tahu, kan ada bekasnya ...."


"Randy! Bisa gak sih gak usah ngomongin itu? Gue malu ...."


"Ya habis kalo sampe tuh bocah berhasil numbuhin pasukannya di perut lo berarti gue udah kalah telak, Jean! Emang licik banget ya tuh bocah!" geram Randy.


"Lo bisa gak sih gak manggil dia bocah lagi, kalian loh seumuran."


"Jangan ngalihin pembicaraan. Lo yakin gak mau periksa kehamilan?"


"Yakin, Ran. Gue sempet dapet setelah kejadian itu." Jeany menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa malu.


Randy langsung sumringah melihatnya. Ia membuka tangan yang menutupi wajah gadis itu.


"Beneran?"


"Iya beneran buat apa gue bohong."


Pemuda itu langsung memeluk Jeany senang, merasa masih memiliki harapan untuk mendapatkan cinta gadis itu.


"Ish apaan sih main peluk-peluk aja!" Jeany berusaha lepas dari pelukan Randy sambil menggerutu.


"Hm gak sadar kemarin lo juga peluk-peluk gue?"


"Mana ada?"


Mereka berjalan kembali sambil saling berbantahan, tidak menyadari Henny sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Mama Kevin itu tersenyum puas melihat foto pada layar ponselnya.

__ADS_1


Bantu like, vote dan komen ya, Teman-teman 🙏


__ADS_2