Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tidak Ingin Egois


__ADS_3

Kevin tersenyum sumringah melihat sang kekasih yang kini berdiri di hadapannya. Ia juga sangat merindukan gadis itu. Namun ia kemudian mengerutkan keningnya melihat wajah cemberut Jeany.


"Jean, tumben pagi-pagi ke sini? Ada apa?" Kevin langsung menarik tangan kekasihnya itu untuk duduk di teras.


"Cuma Giselle yang boleh ke sini?"


Kevin menahan tawa. Ia merasa senang kekasihnya cemburu. "Aku satu kelompok SIM ama Giselle. Dia kebagian tugas bikin flowchart tapi gak ngerti caranya, jadi ke sini minta diajarin." Pemuda itu menjelaskan dengan sabar.


"Gak bisa minta orang lain yang ajarin? Lagian kenapa harus pagi-pagi, di kos kamu lagi?"


"Kan aku yang ngerti alurnya. Jam sepuluh ini mau kerja kelompok. Kalo dia belum selesai bikin flowchart bisa-bisa dikeluarin dari kelompok. Ketua kelompoknya galak," jawab Kevin sambil meringis.


"Kerja kelompok di mana? Rumah Giselle?"


"Hahaha di perpus, Sayang .... Kamu imut deh kalo lagi cemburu." Kevin mencubit gemas hidung Jeany.


"Jangan ijinin Giselle ke sini lagi," kata Jeany sambil menepis tangan Kevin.


"Iya iya sorry. Tadi dianya tiba-tiba nongol di sini. Aku bantuin juga demi nilai kelompok."


"Dia kok bisa tahu kos kamu?"


"Kan satu kelompok, Sayang .... Dia pernah ambil flashdisk tugas di sini soalnya waktu itu aku gak sempat ke kampus lagi, buru-buru mau berangkat kerja."


"Pasti dia cuma modus!"


"Hahaha .... Aduh sakit, Jean!" Tawa Kevin langsung hilang karena Jeany mencubitnya dengan keras. Wajah gadis itu masih saja cemberut.


"Jangan ngambek dong. Udah lama gak ketemu masak mau diem-dieman? Kamu gak kangen sama aku?" Kevin membujuk sang kekasih yang sedang merajuk.


"Kangennya hilang habis liat Giselle."


CUP!


Tanpa peringatan Kevin mengecup bibir Jeany.


"Kamu-"


CUP!


Kevin mengecupnya lagi. "Masuk kamarku yuk?"


"Dasar mesum!" Jeany kembali mencubit Kevin, tetapi wajahnya tak lagi cemberut. Gadis itu menyodorkan makanan yang dibawanya dengan rantang.


"Wah kamu masak buat aku?" tanya Kevin dengan wajah sumringah.


"Cuma nasinya, lauknya engga. Kemarin ada kelebihan masakan jadi dibagi-bagi. Kamu gapapa kan makan ini?"


"Gapapa lah, malah seneng bisa makan gratis masakan chef restoran."


Jeany tersenyum lega mendengarnya. "Kalo gitu buruan dimakan. Trus minum obatnya."


"Iya, Sayangku ...."


"Stevi gimana kabarnya ya, Vin?" tanya Jeany sembari memperhatikan kekasihnya yang tengah menyantap fuyunghai dengan lahap.

__ADS_1


"Terakhir kali aku telpon sih kayaknya baik-baik aja. Dia dipanggil ke persidangan buat jadi saksi."


Jeany bergidik saat mengingat betapa paniknya ia ketika mengetahui Stevi berniat jual diri. "Aku gak bisa bayangin kalo polisi telat datang."


"Iya gak semua cewek seberuntung Stevi ada yang nolong. Moga-moga dia bisa ambil pelajaran dari kejadian itu," timpal Kevin.


"Skripsi kamu gimana?"


"Besok mau bimbingan buat bikin bab satu. Aku jadiin percetakan Kak Hansen obyek penelitiannya hehe ...."


"Jangan terlalu maksa, Vin. Kalo capek kamu harus istirahat ya," kata Jeany memberi tatapan khawatir pada Kevin.


"Iya, Sayangku."


***


Drrrt drrrt!


Ponsel Jeany yang tergeletak begitu saja di samping kepala gadis itu bergetar. Ia mengabaikannya. Masih terasa berat baginya untuk membuka mata. Tubuhnya belum cukup terisi energi. Pulang tengah malam setiap hari membuatnya kelelahan.


Drrrt drrrt!


Ponsel itu terus bergetar, sepertinya peneleponnya adalah orang yang tidak mudah menyerah. Dengan mata setengah terpejam Jeany mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo?"


"Lama amat sih angkat telponnya! Buruan bukain pagar gue ada di depan kos lo!"


Jeany mengernyit mendengar dirinya dimarahi. Rasa-rasanya ia mengenali suara tersebut, tetapi tidak dapat memastikan siapa pemiliknya. Dalam keadaan masih mengantuk berat, gadis itu belum dapat menggunakan otaknya secara maksimal. Kendati demikian ia tetap bangkit dari tempat tidurnya. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka barulah ia keluar. Ia tercengang melihat siapa yang datang.


"Mau apa lo ke sini?" Jeany membiarkan Giselle tetap berdiri di luar pagar.


"To the point aja, Gis."


"Ok gue to the point. Lo tuh udah bikin Kevin susah!"


"Itu cuma anggapan lo."


"Lo gak perhatiin dia tambah kurus? Lo pikir dia bisa tidur nyenyak di kamar yang gak ada AC-nya? Lo kira dia gak sedih gak diakuin sebagai anak?"


Kata-kata Giselle membuat Jeany tercenung di balik pagar. Giselle terus berusaha mempengaruhi pikiran lawan bicaranya.


"Sadar, Jean. Lo itu gak membawa kebaikan buat Kevin. Lo cuma bikin hidup dia menderita."


"Lo gak tahu apa-apa."


"Jangan lupa dia belum pulih dari kecelakaan, tapi udah dipaksa kerja keras."


Dalam hati Jeany membenarkan kata-kata Giselle. Memang hal itu yang selama ini paling mengganggu pikirannya.


"Dia juga kehilangan kesempatan buat meneruskan perusahaan Om Alan, kehilangan hak warisnya. Semua itu gara-gara lo!"


"Kalo Tante Henny merestui, kami gak akan seperti ini."


"Semua ibu mau yang terbaik buat anaknya. Tanpa restu orang tua, hubungan kalian gak akan berjalan lancar. Lebih baik kalian berhenti."

__ADS_1


"Gue ama Kevin yang menjalani, jadi lo gak usah ikut campur. Mending sekarang lo pulang."


"Gue ngomong gini bukan karena ada perasaan ama dia, tapi karena gue beneran gak tega lihat kondisi dia sekarang. Kalo bener-bener cinta ama dia, harusnya lo gak egois. Biarkan dia kembali ke keluarganya dan hidup bahagia seperti waktu belum jadian ama lo."


Setelah Giselle pergi, Jeany duduk merenung seorang diri di kamarnya. Air matanya menetes. Ia baru menyadari Kevin telah begitu banyak menderita karena dirinya.


Aku harus gimana, Vin? Apa aku egois kalau membiarkan kamu tetap seperti ini?


***


Beberapa hari telah berlalu. Kevin baru saja keluar dari ruangan Hansen sambil tersenyum senang. Hari itu ia telah dapat menggunakan sepeda motor yang sebelumnya dijanjikan oleh sepupunya itu. Pemuda itu mengirim pesan pada Jeany.


[Nanti pulang kerja aku jemput ya, Yang. Bilang sama tukang ojeknya malam ini gak usah datang.]


Suasana hati Kevin yang sedang baik ternyata berbanding terbalik dengan rekan kerjanya. Reyhan sedari tadi murung dan tidak berkonsentrasi kerja hingga berkali-kali melakukan kesalahan. Pada akhirnya Hansen menyuruhnya pulang untuk beristirahat.


"Kasihan dia, istrinya minta cerai. Padahal baru setahun nikah." Begitu ada kesempatan, Angga mulai bergosip.


"Oh." Kevin hanya menanggapi dengan datar karena tidak ingin usil dengan kehidupan rumah tangga orang lain.


Angga masih bersemangat dengan ceritanya. Ia memang sangat suka mengobrol.


"Istrinya kepincut mantan yang udah jadi manajer di perusahaan besar. Itu tuh yang produknya macem-macem mulai dari sabun mandi sampe es krim. Wajar sih cewek jaman sekarang pasti milih yang punya mobil. Cewekku aja ngaku dia mau sama aku karena bawa mobil. Dia emang gak munafik hehe .... " Angga terkekeh mengingat keterus-terangan kekasihnya.


Kevin mulai penasaran. "Tapi apa gaji kamu di sini cukup buat biaya hidup ama pacaran? Bisa nabung?" tanyanya pada Angga. Siapa tahu ia bisa mendapat tips cara mengelola keuangan dengan baik.


Angga menyeringai. "Gak cukuplah. Aku kerja cuma buat cari ilmu sebelum buka percetakan sendiri. Biaya lain-lain masih ditanggung orang tuaku."


Kevin terperangah mendengar pengakuan jujur tersebut. Entah bagaimana reaksi Hansen bila mendengarnya. Ia tahu Angga bukanlah jenis karyawan yang diinginkan oleh pemilik perusahaan mana pun, yang menjadikan tempat kerjanya sebagai batu loncatan. Namun ia salut dengan keuletan rekan kerjanya itu.


" Ngomong-ngomong, kamu udah punya cewek?" Angga menunjukkan rasa ingin tahu yang besar.


"Udah."


"Kamu cakep sih jadi biarpun belum mapan tetep ada cewek yang mau. Kalo aku pasti udah beda ceritanya."


Pembicaraan mereka terputus karena ada pelanggan yang datang. Kevin berusaha menepis perasaan tidak enak yang menghinggapinya setelah mendengar cerita Angga. Bila ia tidak tampan, akankah Jeany tetap mencintainya yang tidak memiliki kekayaan apa pun?


Pulang kerja, Kevin mengendarai sepeda motor menuju restoran tempat kekasihnya bekerja. Segala sesuatu telah ia persiapkan. Ia membawa helm untuk Jeany, juga jaket agar gadis itu tidak kedinginan saat diboncengnya. Namun satu hal lupa diprediksinya. Cuaca. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Kevin yang tidak sempat berteduh. Ia tidak membawa jas hujan. Tubuhnya telah basah kuyup saat sampai di depan restoran. Dilihatnya mobil Randy sedang terparkir di sana.


Sementara itu, Jeany menunggu Kevin datang dengan perasaan cemas. Hujan begitu deras di luar. Restoran telah tutup dan tinggal beberapa rekan kerjanya yang masih belum pulang. Ia berkali-kali menghubungi Kevin tetapi tidak diangkat. Kekasihnya juga tidak menjawab ketika tadi ia bertanya dengan apa pemuda itu akan datang menjemputnya.


"Pulang bareng gue aja, Jean. Hujan deras banget ini. Udah malem juga." Randy masih setia menunggu Jeany walaupun gadis itu sudah berlangganan tukang ojek bulanan. Karyawan restoran juga sudah terbiasa dengan kehadiran sepupu bos mereka di sana.


"Kevin bilang dia mau jemput gue, Ran."


Randy melihat jam tangannya dengan kening berkerut. "Udah jam segini kok dia belum nyampe?"


"Gue juga gak tahu. Duh semoga dia gak kenapa-napa di jalan ...."


Jeany bertambah cemas. Gadis itu hendak menghubungi Kevin lagi, tetapi ternyata pemuda itu telah mengiriminya pesan. Ia membaca pesan tersebut dan menatap Randy dengan wajah lega bercampur kecewa.


"Kevin gak jadi jemput, Ran. Katanya mendadak lembur."


"Hmm kok baru bilang sekarang? Ya udah lo pulang bareng gue aja kalo gitu!"

__ADS_1


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Kevin memperhatikan Jeany masuk ke dalam mobil Randy. Pemuda itu merelakan kekasihnya pulang dengan laki-laki lain. Ia tidak ingin egois. Pulang bersamanya hanya akan membuat gadis itu sakit karena kehujanan.


Setelahnya ia memutuskan kembali ke tempat kosnya. Kevin melajukan motornya membelah hujan yang masih mengguyur jalanan ibu kota, sama sekali tidak memedulikan rasa dingin di sekujur tubuhnya.


__ADS_2