Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Mengumumkan Status


__ADS_3

Antara percaya dan tidak, Jeany menyambut uluran tangan Kevin. Tangan itu langsung menggenggam jemarinya dengan mantap seakan tak ingin melepasnya lagi. Ia berpamitan pada Randy sebelum berdiri.


"Ran, gue ke sana dulu sama Kevin ya?"


"Iya. Have fun aja gak usah pikirin yang laen."


Sementara itu, Stevi sudah kembali ke tempat duduknya tanpa mengatakan apa pun. Walau sudah merelakan Kevin, bukan berarti hatinya telah sembuh dari rasa sakit. Bagaimanapun ia benar-benar mencintai pemuda itu.


Kevin langsung menggandeng Jeany menuju lantai dansa. Kini serasa semua mata memandang ke arah mereka. Terdengar bisikan-bisikan yang membicarakan mereka. Karena terlalu gugup, gadis itu tersandung kakinya sendiri. Untung Kevin cepat-cepat menahannya sebelum ia terjatuh. Pemuda itu merasakan tubuh sang kekasih sedikit gemetar.


"Sorry tadi aku gak pikir panjang. Aku lupa kalo kamu punya kecemasan," ucap Kevin menyesali keputusannya mengajak Jeany ke lantai dansa.


Karena lidahnya terasa kaku, Jeany hanya menjawab dengan gelengan. Baginya lebih baik begini daripada didiamkan oleh Kevin. Setelah masuk di keremangan cahaya barulah ketegangannya sedikit mencair. Lagu Beautiful in White mengiringi langkah mereka menuju tempat yang masih kosong di sudut lantai dansa.


"A-aku kira kamu gak mau ngomong lagi sama aku," ucap Jeany sedikit terbata.


Kevin tersenyum, memandang sayang pada gadis itu. "Mana bisa aku marah lama-lama sama kamu."


"Aku gak ngerti kenapa kamu harus marah?"


"Karena ...." Kevin meletakkan tangannya di punggung Jeany dan mendorong gadis itu maju, hingga tidak ada celah di antara tubuh mereka berdua. "Kamu seneng banget bikin aku cemburu."


"Kevin!" Jeany memprotes perlakuan Kevin. Setengah berbisik, karena takut suaranya terdengar oleh orang lain.


"Taruh tangan kamu di pundak aku."


Jeany melakukannya dengan kaku.


"Gak usah malu. Lihat, semua orang juga begini," tunjuk Kevin.


Gadis itu melihat sekelilingnya. "Mana ada yang nempel begini, apa kata orang nanti?"


"Tadi aku juga begini ama Stevi- Aduh! Becanda becanda!"


Kevin meringis kesakitan karena Jeany mencubit keras pinggangnya. Namun kemudian dilihatnya bola mata gadis itu telah berkaca-kaca. Ia otomatis mengendurkan tangannya.


"Sorry sorry. Becandaku bikin kamu sedih ya?"


Jeany langsung mengambil kesempatan itu untuk menambah sedikit jarak di antara mereka agar tidak lagi saling menempel. "Iya," jawabnya jujur.


"Gak gitu lagi deh. Kamu juga jangan bikin aku cemburu lagi ya. Gak enak tau rasanya."


"Siapa suruh cemburu. Orang aku ama Randy berteman biasa kok."


"Tapi Randy itu buaya darat, nanti kamu terjerat pesonanya trus dimangsa gimana?"


"Kayak kamu gak pernah khilaf aja."


Kevin menyeringai. "Kamu yang bikin aku khilaf," bisiknya dengan suara rendah.


"Apaan sih," elak Jeany malu. Wajahnya memerah. "Kamu jangan negative thinking mulu sama Randy. Dia gak separah yang kamu kira. Jangan sampai persahabatan kalian rusak."


Kevin menghela napas. Mana mungkin ia tidak mengenal sahabatnya sendiri? Namun perasaan bahwa dirinya tidak sehebat Randy dalam urusan perempuan membuatnya selalu ketakutan Jeany akan berpaling darinya.


"Kamu gak tahu aja hebatnya dia. Bisa bikin cewek-cewek ngajak tidur duluan."


"Ha?" Jeany melongo kaget.


"Udah lupain aja, gak penting. Sekarang bisa jelasin gak kenapa kamu pergi dari rumah aku?"


Wajah gadis itu berubah sedih. "Aku harus gimana, Vin? Mama kamu gak suka sama aku."


"Maksud kamu, kamu pergi dari rumah aku karena mama gak menyetujui hubungan kita?"


"Itu ... kan udah ada Kak Winda. Jadi aku juga udah gak dibutuhin lagi."


Jeany bingung bagaimana menjelaskannya pada Kevin. Bolehkah ia menceritakan yang sebenarnya? Ia akan merasa sangat bersalah bila hubungan Kevin dengan mamanya sampai rusak karena dirinya. Pendarahan di kepala Kevin juga membuatnya tak ingin membebani pikiran sang kekasih.


"Berarti Kak Winda mempercepat resign-nya. Seingat aku akhir bulan baru mau resign."


"Mu-mungkin."

__ADS_1


"Semua ini gara-gara Randy. Kalo dia gak sering cari kamu ke rumah aku, mama gak akan salah paham sama kamu."


"Jangan salahin Randy. Kan kamu sendiri yang kasih tahu dia kalo aku kerja di rumah kamu."


"Gak pernah, Jean," kata Kevin serius. "Hm aku tau, pasti Stevi yang bilang ke Randy. Aku harus tegur dia!"


"Udah udah gak usah, Vin. Kita juga ada salah sama dia kan? Yang penting sekarang dia udah menerima keputusan kamu untuk putus."


Kevin menghembuskan napas untuk menetralkan perasaan negatifnya. "Maafin mama aku ya. Aku bakal terus membujuk mama supaya mau menerima hubungan kita."


Jeany mengangguk pelan. "Kamu jangan terlalu banyak mikir biar kepala kamu gak sakit."


"Iya, Sayangku ...."


"Apaan sih gombal."


Mereka terus berbicara hingga tidak menyadari acara dansa telah berakhir. Pasangan lain telah meninggalkan lantai dansa, kini menunggu pengumuman siapa yang terpilih menjadi pasangan terbaik. Jeany merasa banyak yang menatap sinis padanya ketika ia dan Kevin berjalan kembali ke tempat duduk mereka.


"Vin Vin ... cepet jelasin apa yang dari tadi kami lihat!" Rafael mengejar penjelasan dari sahabatnya itu. Ia sempat mendengar Devi memaki Jeany dengan sebutan pelakor di lantai dansa tadi.


"Iya lho, Vin, kaget banget gue tadi liat lo mesra banget ama Jeany."


"Trus Stevi gimana dong statusnya?"


Dan masih banyak teman lain yang mengerumuninya, semua ingin tahu ada hubungan apa antara Kevin dengan Jeany.


Kevin menggenggam tangan Jeany yang kini terasa amat dingin dan meremasnya untuk memberi kekuatan pada gadis itu menghadapi teman-teman mereka.


"Gue ama Jeany pacaran."


Hening sejenak karena semua orang sedang mencerna ucapan Kevin.


"Pacar lo bukannya Stevi? Waktu gue tanya soal foto lo bareng Jeany, lo bilang dia cuma sahabat!" Akbar menyuarakan pertanyaan teman-temannya.


Bayang sendu muncul di wajah Jeany, membuat Kevin sangat menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Ia semakin ingin mempertegas kedudukan Jeany di hadapan teman-temannya. "Gue ama Stevi udah putus. Pacar gue sekarang Jeany," ucapnya tegas.


"Tapi kalian pake baju couple."


"Iya udah telanjur beli jadi dipake aja," jawab Kevin enteng.


Kevin hanya tersenyum, tidak merasa berkewajiban untuk menjelaskan. Ia hanya ingin mengumumkan status Jeany sebagai kekasihnya, bukan mengumbar kehidupan pribadinya.


"Gue masih gak percaya lo jadian ama Jeany. Dulu kan kalian gak deket," imbuh Rafael.


"Sama. Gue juga gak nyangka bisa jatuh cinta ama dia." Kevin menatap Jeany dan tersenyum.


Semua orang tercengang melihat Kevin yang biasanya dingin pada perempuan itu kini terang-terangan mengaku mencintai Jeany. Di sudut lain, Stevi duduk dengan sahabat-sahabatnya, enggan bergabung dengan kerumunan yang ada. Begitu pula Randy yang sibuk sendiri menjelajah internet dengan ponselnya.


***


Keesokan harinya, papa dan mama Kevin pagi-pagi sekali telah berangkat ke Bogor. Pemuda itu memanfaatkan perginya Henny untuk menemui Jeany. Rasanya lebih lega setelah teman-teman mengetahui hubungan mereka. Tinggal membujuk sang mama yang masih belum mau memberikan restunya. Namun untuk hari ini, ia ingin menghabiskan waktu dengan Jeany. Menurutnya cinta perlu dipupuk dengan sering bertemu.


"Stev, aku pergi dulu ya. Kalau butuh bantuan panggil aja Bi Murni atau Mbak Iis," pamitnya pada Stevi yang sedang menggendong Enzo.


Sebenarnya Kevin ingin membantu Stevi yang terlihat kewalahan. Namun ia tidak ingin melewatkan kesempatan langka untuk bertemu dengan Jeany. Karena bila mamanya ada, bisa dipastikan ia tidak boleh keluar rumah.


"Memangnya mama kamu ngijinin?" tanya Stevi tak suka.


"Makanya aku perginya sekarang mumpung mama aku gak di rumah."


"Terserah kamu deh." Stevi melengos meninggalkan Kevin.


Sementara itu, di teras kosnya Jeany sedang menunggu kedatangan Kevin sambil melihat-lihat situs lowongan kerja di ponselnya. Ia tak sengaja memikirkan Randy yang tadi malam bersikap aneh. Sepanjang perjalanan pulang pun lebih banyak diam. Gadis itu memutuskan untuk mengirimi pemuda itu pesan percakapan.


[Ran, lo baik-baik aja kan?]


Setelahnya Jeany melihat ada pesan baru dari nomor yang tidak disimpannya. Sebuah gambar dikirim, disertai dengan kalimat ancaman.


[Cepat putusin Kevin atau gue sebar foto lo.]


Jeany merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mengklik foto tersebut agar terpampang lebih jelas. Gadis itu seketika lemas melihat foto dirinya yang seperti seorang wanita penghibur. Ia merasa sedih, takut sekaligus marah. Siapa yang tega melakukan ini?

__ADS_1


"Jean?" Suara Kevin mengagetkannya.


Gadis itu langsung tidak dapat menahan tangisnya. "Vin, gimana ini? Ada yang punya foto waktu aku di club malam. Gimana kalo ada yang nyebarin?" ucapnya dengan mata basah.


"Apa? Sini aku lihat!"


Kevin terlihat marah sekali. Ia menghubungi nomor pengirim foto tadi dari ponsel Jeany dan mendengar dengan seksama suara orang tersebut.


"Halo, cewek murahan. Gimana, udah lihat fotonya? Ckck gak nyangka ya muka alim ternyata bispak. Pantesan aja hobi ngegodain cowok orang!"


"DEVI! CEPET KASIH TAHU ALAMAT LO SEKARANG!"


Jeany terkejut dengan suara keras Kevin, juga tidak menyangka Devi bisa memiliki fotonya. Setelah memutus panggilannya, Kevin berusaha menenangkan Jeany.


"Kamu jangan takut. Sekarang juga aku selesaikan masalah ini sama dia."


"Tapi dari mana dia punya foto aku, Vin?"


"Aku curiga ini ada hubungannya ama cewek yang udah menjebak kamu. Soalnya Stevi juga tahu kalo aku ... ehm, kalo aku pernah tidur ama kamu ...."


"Apa?!"


"Gak usah dipikirin, biar aku yang urus. Kamu istirahat aja." Kevin mengusap lembut kepala Jeany, lalu beranjak pergi.


"Aku harus ikut! Aku juga mau bicara ama dia."


"Oke kita pergi sama-sama ya."


Jeany memesan taksi. Berdua dengan Kevin, ia pergi ke alamat yang diberikan oleh Devi. Kali ini ia sudah tidak bisa mentolerir perlakuan buruk Devi lagi.


***


Karena tidak sanggup menjaga Enzo seorang diri, Stevi meminta bantuan Iis. Asisten rumah tangga itu terpaksa meninggalkan pekerjaannya yang masih menumpuk. Namun setelah dilihatnya hari semakin sore, ia mau tak mau harus kembali pada tugas utamanya di rumah itu.


"Non, saya tinggal nyapu ngepel dulu ya. Takut tuan sama nyonya pulang lihat lantainya masih kotor, nanti saya dimarahi."


"Eh iya, Mbak Iis. Makasih ya udah bantuin saya jaga Enzo."


"Sama-sama, Non. Saya seneng Non orangnya ramah. Gak kayak babysitter yang dulu itu."


Stevi tersenyum kecut mendengarnya. Penilaian dari Iis tidak berpengaruh apa pun baginya, karena nyatanya di hati Kevin tidak pernah ada cinta untuknya. Ia menemani Enzo yang sedang asyik membongkar-bongkar barang di laci lemarinya. Stevi tidak dapat mencegahnya karena bayi itu mengamuk bila dilarang. Biarlah nanti dibereskan Mbak Iis, pikir gadis itu.


Saat ponselnya berdering dan menunjukkan nama sang mama sebagai pemanggil, Stevi cepat-cepat mengangkatnya.


"Halo, Ma!"


"Halo, Sayang. Kamu lagi apa?"


"Lagi jaga keponakan Kevin."


"Oh. Mama ganggu gak?"


"Engga, Ma, ini anaknya lagi main di sebelahku persis. Papa mana?"


"Papa kamu lagi kerja." Terdengar jeda sejenak, lalu suara Vira menarik napasnya. "Stevi, mama minta maaf ya. Mama minta tolong sekali .... Sepertinya mobil kamu harus dijual."


"Apa, Ma?! Tapi kenapa??" Stevi hampir menjerit mendengar kabar tidak menyenangkan itu.


"Mama ada hutang delapan puluh juta sama teman mama. Sekarang dia lagi butuh sekali uang untuk operasi, terpaksa mobil kamu harus dijual dulu. Nanti kalau sudah ada dana lebih, mama belikan lagi."


"Tapi kenapa mobil aku, Ma? Kak Gio ama Kak Aldo kan juga punya mobil?"


"Stevi, kakak-kakak kamu sudah punya rumah tangga sendiri."


"Tapi kan mereka tetap harus bantu papa mama."


"Mereka sudah sangat banyak membantu. Apa kamu tahu kakak kamu hampir gak bisa bayar uang gedung sekolahnya Justin. Mama terpaksa melakukan ini, Nak. Tidak ada jalan lain."


"Lalu aku ke mana-mana naik apa kalau gak ada mobil, Ma?" rengek Stevi.


"Untuk sementara naik angkutan umum dulu atau taksi online."

__ADS_1


"Ya ampun, Ma ...."


Stevi sibuk mengeluh pada mamanya hingga tidak menyadari Enzo telah berpindah tempat. Bayi itu berjalan tertatih-tatih menyusuri dinding untuk keluar dari kamarnya, menuju tangga berkarpet yang sedari dulu selalu menarik perhatiannya.


__ADS_2