
"Kamu harus banyak belajar dari Revan."
"Iya, Pa." Devan mengiakan sambil tersenyum.
"Kamu nggak pernah becus urus perusahaan. Sales yang jumlahnya sedikit aja nggak bisa kamu kontrol. Harus kakak kamu lagi yang turun tangan."
Vivian menyaksikan dengan terperangah. Kata-kata tajam yang baru saja meluncur dari mulut mama Revan bukan ditujukan untuknya, tetapi ia ikut sakit hati mendengarnya. Ia merasa kasihan pada Devan. Dibanding masalah profesionalitas kerja, kejadian yang baru saja ia saksikan lebih mempertontonkan aksi orang tua yang sedang membanding-bandingkan putra sulung dengan putra bungsu mereka.
"Iya, Ma, aku minta maaf. Aku akan berusaha lebih baik lagi."
Tidak ada pembelaan diri dari Devan. Setelah beberapa menit mendengar pengarahan—yang banyak diselingi teguran keras—dari papanya, Devan keluar ruangan tanpa perubahan berarti pada raut wajahnya. Ia bahkan masih sempat tersenyum pada Vivian.
Vivian tidak tahu apakah Devan bersikap seperti itu karena sudah terbiasa ataukah hanya berpura-pura tenang menerima celaan yang ia terima. Yang jelas jika laki-laki itu merasa sakit hati, ia sangat pandai menutupinya karena hal tersebut sama sekali tak tampak di wajahnya.
__ADS_1
Vivian jadi bertanya-tanya dengan pola asuh seperti apa suaminya dibesarkan. Apa Revan juga mengalami perlakuan yang sama jika melakukan kesalahan? Ah, banyak sekali hal yang tidak ia ketahui tentang keluarga Revan. Selama ini ia memang tidak pernah ingin tahu. Sebab makin ia tahu, makin ia merasa tak pantas menjadi bagian dari keluarga itu.
Karena tenggelam dalam lamunan, Vivian tidak menyadari ia tengah ditatap sedemikian rupa oleh kedua mertuanya. Ia menatap balik setelah mendengar papa Revan mengucapkan kalimat demi kalimat, yang anehnya, ia tidak terlalu merasa terkejut mendengarnya.
"Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Bercerailah dengan Revan."
"Kami tidak pernah setuju dengan pernikahan kalian. Kami rasa dalam dua tahun ini sudah cukup banyak yang keluarga kalian dapatkan dari Revan." Mama Revan menyambung ucapan suaminya dengan kata-kata yang lebih pedas.
"Tadinya kami masih ingin memberi sedikit kesempatan, tapi kedatangan adik kamu ke perusahaan benar-benar tidak bisa ditoleransi."
"Omongan Om sama Tante keterlaluan! Kak Vivi sama sekali nggak tahu saya datang ke sini! Yang salah itu saya, bukan Kak Vivi!"
"David! Jangan kurang ajar!" Vivian menghardik adiknya.
__ADS_1
"Tapi, Kak—"
Sorot mata Vivian yang penuh peringatan membuat David terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat. Padahal ia sudah siap mengembalikan hinaan yang kakaknya terima.
Setelah memastikan adiknya bisa diajak bekerjasama, Vivian beralih menatap kedua mertuanya dengan pandangan tegas. Ia bukan Devan yang diam saja ketika dihina. "Pa, Ma, saya menikah dengan Revan bukan karena uang. Saya bekerja dan punya penghasilan sendiri. Sepeser pun saya tidak pernah minta Revan untuk membiayai keluarga saya."
Mama Revan tersenyum sinis. "Kami diam bukan berarti tidak tahu. Kamu bisa tanya sendiri sama suami kamu, berapa yang sudah dia kasih ke mertuanya yang mata duitan itu."
Vivian hampir membuka mulutnya untuk membantah ketika ia tiba-tiba teringat perubahan drastis pada rumahnya : pagar besi tinggi, taman yang ditanami pohon bonsai, lantai teras yang dilapisi keramik berkilau, dinding yang baru saja dicat ulang hingga tampak seperti rumah baru, dapur modern minimalis, dan masih banyak lagi .... Ia sempat tidak mengenali rumah masa kecilnya itu.
Seketika wajahnya memucat. Dari mana orang tuanya mendapatkan uang untuk membayar biaya renovasi rumah yang ia yakin tidak sedikit itu?
Halo, Teman-teman. Sekadar info, novel cetak Kemelut Cinta masih bisa dipesan ya 😃
__ADS_1