Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tidak Pantas


__ADS_3

"Dadyyyyyyy ...."


Kenny berlari riang menyambut laki-laki yang sedang berdiri di mulut pintu. Laki-laki itu berjongkok dan merentangkan tangannya untuk memberi pelukan hangat pada bocah tampan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Di belakang Kenny, sang mama berdiri dengan senyum lembut di wajahnya.


"Daddy kira Kenny udah gak ingat lagi sama Daddy," ucap Randy masih sambil memeluk Kenny.


"Kata Mama gak boleh lupa sama Daddy. Kan Daddy yang jaga Mama sama Kenny waktu Papa berobat. Daddy juga papanya Kenny."


Perasaan bahagia terpancar dari mata Randy. "Kenny sayang sama Daddy?" tanyanya menatap sang bocah.


"Sayang!" Bocah itu menjawab dengan mantap.


"Daddy juga sayang Kenny."


Randy mengecup kepala Kenny sebelum berdiri. Ia membalas senyuman perempuan yang sedari tadi berdiri memperhatikannya, perempuan yang pernah menyandang status sebagai istrinya.


"Capek, Ran?" Jeany memajukan tubuhnya untuk menerima kecupan di pipi dari Randy.


"Engga, cuma bosen aja. Delay-nya lama banget!" keluh laki-laki itu dengan wajah sebal. "Ini aku bawain kacang disco ama pai susu."


"Horeeeeeee ...! Makasih, Daddy!" Kenny berteriak girang mendengar Randy membawa oleh-oleh dua kudapan kesukaannya. Ia langsung menyambar tas yang sedang dipegang oleh Randy.


"Kenny, yang sopan, Sayang," tegur Jeany pada putranya.


"Gapapa, Jean. Sama aku juga, bukan orang lain."


Wajah Jeany yang tadi tampak tegas ketika menegur Kenny, berubah lebih lembut, menunjukkan senyumnya pada Randy. "Mau minum apa, Ran?"


"Kayak biasanya aja."


Jeany mengangguk lalu pergi ke dapur. Dua tahun lebih menjadi istri Randy membuatnya mengetahui banyak hal tentang laki-laki itu. Ia menjalankan semua kewajibannya sebagai istri, kecuali urusan ranjang.


"Gimana kabar Papa Mama?" tanya perempuan itu sekembalinya dari dapur.


Randy meminum es teh manis yang disuguhkan oleh Jeany sebelum menjawab. "Baik. Mama bilang dia kangen sama Kenny, kapan-kapan kamu harus ajak Kenny main ke rumah."


Jeany terpaku sebentar. Perasaan bersalah kembali mendera dirinya. Ia pernah membohongi sepasang suami istri yang sangat merindukan kehadiran seorang cucu. Teringat jelas wajah kecewa orang tua Randy begitu mengetahui Kenny bukan cucu kandung mereka, terlampau kecewa hingga tidak ingin mendengar penjelasan apa pun.


Namun ternyata rasa sayang yang telah tumbuh tidak bisa disingkirkan begitu saja. Setelah sekian lama, tetap ada keinginan untuk kembali bertemu.


"Iya nanti aku bilang sama Kevin."


"Trus di mana dia sekarang? Kangen juga aku sama dia." Randy berkata sambil menyeringai lebar.


"Masih di kantor."


"Udah mau nikah masih ngantor aja?"


"Banyak yang harus dia tanda tangani. Ada sedikit masalah juga di kantor."


Randy melirik Kenny sebentar. Bocah itu sedang asyik makan pai susu sambil melihat layar ponsel, sepertinya tidak memperhatikan percakapannya dengan Jeany. Namun ia tetap memelankan suaranya ketika berbicara.


"Mungkin kalian memang jodoh. Kamu udah nikah sama aku, ujung-ujungnya balik lagi sama dia."

__ADS_1


Di hati Randy selalu ada rasa sayang untuk Jeany. Walau kini ia telah menikah lagi, tidak mengurangi keinginannya untuk selalu menjaga perempuan itu.


"Iya aku juga kaget banget waktu tahu kami ternyata satu kantor. Kamu udah hubungi dia buat ketemuan berdua?"


Randy menggeleng. "Nomornya aja aku gak tahu."


"Nanti aku kirim nomornya. Kamu harus ajak dia ketemuan trus jelasin sejelas-jelasnya."


Terdengar tawa kecil dari mulut Randy. "Yakin sejelas-jelasnya?" tanyanya dengan tatapan mata menggoda.


"Ehm gak usah terlalu jelas juga sih," kata Jeany meralat kalimatnya.


"Hahaha gak janji ya?"


"Eihh kamu! Jangan sampai dia salah paham loh ...."


"Iya iya. Aku juga pengen lihat kamu bahagia kok," ujar Randy sambil mengusap kepala Jeany dengan lembut.


Perempuan itu membiarkan Randy mencurahkan rasa sayangnya. Ia sendiri telah menyayangi laki-laki itu. Ketulusan Randy membuatnya memiliki tempat tersendiri di hati Jeany.


"Kamu nginap di mana, Ran?"


"Di rumah Johan," jawab Randy. Ia melihat jam tangannya, lalu menatap Jeany. "Masih sore nih, pergi jalan-jalan bentar ama Kenny yuk? Besok pasti kamu gak bisa keluar-keluar. Kalau aku terlalu lama di rumah kamu juga gak enak."


"Ya udah, tapi jangan malam-malam ya pulangnya. Oh iya, jam minum obat kamu masih sama?"


"Masih. Aku pesen taksi online sekarang ya?"


Saat tiba waktunya pulang, Randy ikut ke rumah Jeany untuk mengambil tas yang tadi ditinggalnya di sana. Lagi pula ia tak tenang jika belum memastikan sendiri perempuan itu dan putranya tiba di rumah dengan selamat. Usai mengambil tas, Randy langsung kembali ke taksi online yang masih menunggunya di depan rumah.


"Aku pulang dulu ya, Jean. Kenny, Daddy pulang dulu ya."


"Dadah, Daddy." Kenny melambaikan tangannya pada Randy.


"Dah, Kenny."


Randy membungkukkan badannya untuk mengecup kepala Kenny. Bocah itu tertawa, lalu berlari masuk ke dalam rumah karena tak sabar membuka mainan yang tadi dibelikan Randy untuknya. Randy juga mengecup pipi Jeany sekilas sebelum pergi, seperti kebiasaannya selama ini.


"Hati-hati, Ran. Kasih kabar kalo udah sampe rumah Johan."


"Siap, Mantan Istriku."


"Kumat!" Jeany mengomelinya sambil tertawa.


Setelah taksi online yang membawa Randy pergi, Jeany berjalan masuk ke rumah. Ia seperti mengalami deja vu saat tubuhnya dibalik paksa oleh sebuah tarikan di tangan.


"Kevin?" ucapnya terkejut. "Kamu sejak kapan di sini? Kok gak kelihatan mobil kamu?"


"Kenapa? Supaya kamu gak ketahuan lagi mesra-mesraan sama Randy?" Jawaban Kevin sangat di luar dugaan. Ia memandangi Jeany dengan wajah marah.


"Mesra gimana?" Kening Jeany tampak berkerut mendengar tuduhan dari Kevin.


"Kenapa kamu ngijinin dia cium pipi kamu?"

__ADS_1


"Itu cuma kebiasaan, Vin. Gak ada maksud lebih."


"Kebiasaan sejak kapan?"


"Sejak kami menikah," jawab Jeany dengan suara pelan.


"Kalian sudah bercerai! Gak sepantasnya lagi kayak gitu! Dan kamu mengajak anakku keluar dengan laki-laki lain sampai malam itu juga gak pantas!"


Amarah langsung menyusup di hati Jeany. Menurutnya ia sama sekali tidak melakukan hal yang tak pantas.


"Lalu maumu bagaimana? Aku pergi berdua aja gak usah ajak Kenny?!"


"Harusnya kamu gak usah pergi sama dia!"


"Kenapa kamu jadi egois begini? Randy udah jauh-jauh datang dari Bali. Gak mungkin aku sebagai tuan rumah gak menemani dia jalan-jalan! Dan jangan lupa Randy yang udah menjaga aku dan Kenny selama kamu gak ada!" Jeany terlalu emosi hingga tanpa sadar telunjuknya menusuk-nusuk dada Kevin ketika berbicara.


Saat tahu seharusnya diam, Jeany malah mengeluarkan perkataan yang menyakiti hati Kevin. Laki-laki itu tampak jelas terluka oleh kata-kata yang baru saja didengarnya.


"Oh, mungkin lebih baik kamu kembali menikah sama dia, bukan sama aku yang gak pernah menjaga kamu dan Kenny!"


Kali ini Jeany berhasil mengendalikan emosinya. Ia tidak membalas kata-kata pedas Kevin. "Masuklah. Kenny kangen sama kamu," ucapnya sebelum masuk ke rumah.


Kevin menurutinya. Ia marah pada Jeany, tapi tidak pada putra mereka.


"Papaaaa ...." Kenny yang melihat Kevin datang langsung menghambur ke dalam pelukan laki-laki itu.


"Kenny lagi apa?"


"Lagi main mobil-mobilan. Tadi dibeliin Daddy."


Kevin mengepalkan tangannya mendengar sebutan Kenny pada Randy. Cemburu buta membuatnya lupa bahwa sang putra juga memanggil Prasetyo dengan sebutan Papi.


"Kamu sering ketemu Daddy?"


"Jarang. Cuma kalo Daddy ke Jakarta."


"Daddy sering ke Jakarta?"


"Jarang ...."


Jeany melengos mendengar pertanyaan Kevin yang kentara jelas mencurigai hubungannya dengan Randy. Ia memilih pergi ke dapur yang juga menjadi ruang makan dan duduk di sana, menikmati pai susu pemberian Randy.


Kevin sendiri memilih menemani Kenny bermain tanpa memedulikan Jeany sedikit pun. Ketika sopir telah menjemputnya untuk pulang, amarahnya telah mereda. Ia mencari perempuan itu untuk berpamitan. Beberapa kali Kevin memanggil nama Jeany namun tidak ada jawaban. Saat Kevin tiba di dapur barulah ia tahu mengapa. Rupanya perempuan itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Iya jangan lupa ya, Ran. Jakarta kan satu jam lebih lambat dari Bali. Di sini jam sembilan, di Bali udah jam sepuluh."


Kevin langsung pergi meninggalkan rumah Jeany tanpa berpamitan pada perempuan itu. Di dalam mobil ia menghela napas panjang. Setelah sekian tahun, kehadiran Randy selalu membuatnya merasa tak percaya diri.


Mampir di karya temanku juga yuk 🙏



__ADS_1


__ADS_2