
Kemeja lengan pendek berwarna biru gelap dan celana panjang denim hitam menjadi pilihan Jeany untuk dikenakan oleh putranya. Ia mengamati Kenny dari kepala hingga ujung kaki, mencari sesuatu yang kurang dari penampilan bocah tersebut. Jeany ingin putranya terlihat sempurna di mata keluarga Kevin.
"Gimana menurutmu, udah oke?" tanyanya meminta pendapat Kevin.
Laki-laki itu tersenyum memandang duplikat dirinya yang terlihat tampan sekaligus imut itu.
"Udah oke banget kok," jawab Kevin sembari mendekati sang kekasih. "Kamu juga cantik banget, bikin aku pingin cium," bisiknya di telinga Jeany agar tidak terdengar oleh putra mereka.
Sebagai akibatnya Kevin meringis merasakan cubitan di perut. Ia lalu merangkul pinggang Jeany dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggandeng tangan Kenny. "Yuk berangkat," ucapnya pada mereka.
Di dalam mobil, Jeany berkali-kali mengingatkan putranya untuk menjaga sikap ketika berada di rumah orang tua Kevin. Penolakan yang dulu dialaminya membuatnya takut anaknya akan mengalami hal yang sama.
"Kenny, kalau sudah sampai di rumah Opa Oma jangan lupa menyapa ya, jangan diam aja biar gak dibilang gak sopan."
"Kenny, nanti di sana jangan sembarangan pegang barang-barang ya, jangan lari-lari di dalam rumah ...."
"Trus apa lagi ya ...?" Jeany berpikir keras, berusaha mengingat apa lagi yang ingin disampaikannya pada Kenny.
"Santai aja, Jean ... Nanti Kenny malah tegang kalo kamu kayak gini." Kevin menenangkan Jeany dengan meremas jemari perempuan itu menggunakan tangan kirinya.
Jeany menoleh dan mengulas senyum malu menyadari sikapnya yang berlebihan.
"Opa sama Oma baru pulang juga ya, Ma?" Kenny tiba-tiba bertanya.
"Ehm gimana, Sayang?" Jeany berpura-pura tidak mengerti, sengaja mengulur waktu untuk berpikir. Ia ingin memberi jawaban tanpa harus berbohong.
"Opa sama Oma dulu di mana? Kok kita baru ketemu sekarang?" Kenny mengulangi pertanyaannya.
"Opa sama Oma sering ke luar negri buat kerja, Kenny. Tapi sekarang sudah pensiun."
Jawaban Kevin memang bukan sebuah kebohongan, walau sebenarnya tidak menjawab inti pertanyaan Kenny. Jeany menghela napas lega karena tidak perlu lagi mendustai putranya.
"Pensiun itu apa, Pa?" tanya Kenny sambil memajukan tubuhnya dan memegang sandaran kepala tempat duduk Kevin.
"Kenny, duduk yang bener, Nak. Pakai sabuk pengamannya lagi." Jeany menoleh ke belakang untuk mengawasi putranya.
"Ya, Ma."
Jeany protektif banget, pikir Kevin sambil tersenyum. Ia menjawab pertanyaan Kenny setelah memastikan putranya itu telah mengenakan sabuk pengaman. "Pensiun itu gak kerja lagi karena masa kerja sudah habis."
"Papa Mama kapan pensiun?"
"Hahaha masih lama ... Papa Mama masih muda. Pensiun itu kalau sudah tua seperti Opa sama Oma." Kevin tertawa lepas mendengar pertanyaan polos Kenny.
"Tapi kan uang Papa udah banyak, gak usah kerja lagi ...."
"Kalau uangnya dipakai terus kan lama-lama habis, jadi harus ditambah terus ...."
"Oo gitu ya ... Nanti kalau Kenny sudah besar Papa Mama gak usah kerja, biar Kenny yang kerja ...."
Lagi-lagi Kevin tertawa. Sementara itu, Jeany mengusap setetes air di sudut matanya. Ia terharu, tak pernah menyangka akan dapat merasakan suasana hangat kekeluargaan bersama Kevin dan putra mereka. Terasa seperti keajaiban baginya.
Saat tiba di rumah keluarga Kevin, mereka bertiga disambut dengan ramai. Semua orang berkumpul, ingin melihat anggota keluarga termuda yang berita keberadaannya sempat menggemparkan keluarga besar mereka.
Henny menarik suaminya maju untuk memeluk cucu kedua mereka. "Kenny, Sayang ... Kenalkan ini Opa kamu, Nak," ucapnya dengan senyum merekah sempurna.
"Selamat malam, Opa."
Semua orang tertawa mendengar sapaan Kenny yang terlalu formal. Alan berlutut di depan Kenny dan tersenyum padanya. "Selamat malam, Cucu Opa. Wah kamu mirip sekali dengan papa kamu," komentar Alan padanya.
Satu per satu anggota keluarga yang lain diperkenalkan pada Kenny, mulai dari Marvin, Winda, Jovina, dan terakhir suami Jovina yang bernama Erwin. Jeany baru tahu Jovina sedang mengandung setelah melihat perutnya yang membuncit.
"Hehe jalan lima bulan, Kak," ucap Jovina yang menyadari arah pandangan Jeany.
Mereka saling berpelukan diakhiri dengan bertukar kecupan di pipi. Tentu saja Jovina yang berinisiatif memulainya. Begitu pula Jeany dengan Winda yang memeluknya sangat erat, sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
"Ayo kita semua makan," ajak Henny yang sudah mempersiapkan makan malam istimewa.
__ADS_1
Asisten rumah tangga membantu menyiapkan perlengkapan makan. Jeany tidak mengenali mereka. Bi Murni dan Mbak Iis sudah tidak bekerja di sana.
Saat mereka menyantap makan malam, Henny tak henti memberi lauk di piring Kenny. "Coba ini, Kenny. Ini Oma sendiri yang buat," ucapnya sambil meletakkan ayam goreng tanpa tulang buatannya.
Kenny memakannya dengan lahap. Matanya berbinar senang. "Iya enak, Oma!"
"Enak kan?! Ini ... Makan yang banyak ...." Henny menyendokkan lagi beberapa potong ayam goreng. Ia juga melakukan hal yang sama pada Enzo, cucunya yang lain.
Alan menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat sikap istrinya yang terlalu bersemangat. "Sudah, Ma, nanti Kenny sama Enzo kekenyangan."
Jeany senang karena putranya diterima dengan baik. Ia juga tanpa sadar jadi sering tersenyum di meja makan.
"Kak Jeany, dulu lahirannya normal apa cesar?" Jovina menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
Kevin terlihat tetap makan, tetapi telinganya mendengarkan dengan seksama.
"Cesar, soalnya posisi Kenny sungsang."
"Sakit banget gak sih, Kak? Aku bingung mau cesar apa normal ...." Jovina berbicara sambil melirik suaminya.
"Lumayan sakit waktu disuntik di belakang, sama abis efek biusnya hilang." Jeany meringis sendiri mengingat rasa sakit kala melahirkan Kenny. "Tapi gak lama kok. Kamu tanya dokter aja baiknya gimana."
Erwin membelai bahu sang istri yang terlihat cemas. "Aku terserah kamu aja mau normal atau cesar, Vina. Yang penting kamu dan anak kita sehat."
"Iya, Vina. Gak usah terlalu takut, rasa sakitnya masih bisa ditahan kok," ucap Winda menimpali. Ia sangat mengerti ketakutan Vina karena pernah mengalaminya sendiri.
"Hmm iya semoga bisa melahirkan normal kalo gitu," putus Vina sebelum kembali melihat Jeany. "Kak Jeany udah dapat gaun pengantin? Biar aku sesuaikan sama makeup yang cocok."
"Gimana mau dapat, Vina. Orang sibuk bikin brownies terus ...." Kevin mengeluh pada adiknya.
"Kak Jeany nyantai banget ...."
"Pakai yang sudah dipilih Lisa aja kalo gak sempat lagi, ukuran badan kalian kayaknya hampir sama," usul Winda pada Jeany.
"Kayaknya aku mau sewa gaun lain aja, Kak," tolak Jeany halus, tak sudi mengenakan gaun pengantin milik Lisa.
"Loh kenapa? Kan gaunnya masih baru belum pernah dipakai?" Winda menatap suaminya dengan wajah bingung.
"Dia cemburu sama Lisa, Kak," jawab Kevin sambil menyeringai.
"Lisa itu siapa, Pa? Kenapa Mama cemburu sama Lisa?" Suara Kenny menyela pembicaraan orang dewasa di sana.
Jeany dan lainnya menatap geli pada Kevin yang sedang kebingungan menjawab. Namun laki-laki itu juga melihat makna lain dalam tatapan sang kekasih.
***
Usai makan malam, Kevin mengajak Jeany ke kamarnya. Kenny dan Enzo sedang bermain bersama di lantai bawah sembari dijaga oleh opa dan omanya. Sisa anggota keluarga yang lain juga duduk bercengkerama di sana.
"Ayo sini."
Kevin meminta kekasihnya berdiri dengan posisi membelakanginya. Perempuan itu lalu mendengar suara laci dibuka. Tidak lama kemudian ia merasakan sentuhan pada tengkuknya.
"Ini?" Pertanyaan yang sama ia ucapkan seperti pada saat Kevin pertama kali memasangkan kalung tersebut di lehernya.
Laki-laki itu juga mengenang saat indah tersebut dengan mengulangi kembali apa yang dilakukannya pada saat itu. Ia mendekap Jeany dengan erat dari belakang.
"Aku menebus kalung itu sebelum berangkat ke Singapore. Kalung itu selalu menemani aku di sana. Gak pernah ada perempuan lain di hati aku ...."
Kevin tahu Jeany masih merasa sakit hati karena ia sempat bertunangan dengan perempuan lain.
"Kalo di ranjang kamu?" tanya Jeany tanpa diduga.
Kevin menjawabnya dengan membalik tubuh Jeany dan ******* bibir perempuan itu dengan gemas.
"Gak ada, Jean," ucapnya serius setelah melepas bibir mereka.
Jeany memandang Kevin lekat-lekat. "Lalu bagaimana dengan kebutuhan kamu? Apa kamu sering pergi ke tempat khusus gituan?"
__ADS_1
Laki-laki itu menyeringai penuh arti. "Ke tempat gituan kan bayar, Jean. Buat apa bayar kalo ada yang gratis?"
Jeany langsung membalik tubuhnya, marah mendengar jawaban Kevin. Laki-laki itu kembali mendekapnya.
"Kok kamu marah sih?" Bibir Kevin menyentuh telinga Jeany ketika ia berbicara.
"Iya aku tahu banyak cewek yang sukarela tidur sama kamu!" Jeany menjawab dengan ketus sambil menjauhkan telinganya.
"Hahaha ...."
Jeany memutar tubuhnya dan memukuli Kevin untuk meluapkan rasa sesak di dadanya.
"Masih ketawa?! Sudah berapa cewek yang kamu tidurin hah?! Aku gak akan maafin kamu kalo sampe ada lagi cewek yang ngaku hamil anak kamu!!"
Kevin menangkap tangan Jeany yang sedang memukulinya. "Kamu mikir apa sih?" Mimik wajah laki-laki itu terlihat menahan tawa.
"Mikir apa lagi memang!!"
Kevin melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Jeany. "Maksud aku tadi tangan, Jean. Tangan."
"Hah?" Jeany melongo selama beberapa saat.
Setelah paham apa maksud Kevin, ia kembali memukuli laki-laki itu. "Bilang dari tadi! Kamu seneng ya bikin aku marah!"
"Hufff orang kamunya yang duluan suudzon sama aku ...." Kevin menggerutu, namun memutuskan menerima pukulan dari Jeany dengan ikhlas. Toh pukulan itu tidak terasa menyakitkan baginya karena tidak dilakukan dengan sepenuh hati.
"Udah puas mukulnya?" tanyanya setelah sang kekasih diam.
"Hm."
"Ayo sekarang ngomong soal pernikahan kita." Kevin menarik Jeany untuk duduk di pinggir ranjang. "Orang tuaku ingin menemui orang tuamu untuk melamar kamu, Jean."
Jeany mendongakkan kepalanya dengan terkejut. "Gak perlu, Vin. Dia bukan mama kandung aku."
Kevin tertegun mendengarnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu mama kandung kamu di mana?"
"Aku juga gak tahu. Waktu tahu hamil Kenny, aku menelepon mamaku. Tapi dia malah mengatai aku. Katanya aku bukan anak kandungnya. Mama kandungku pergi waktu aku baru umur beberapa bulan."
"Kamu gak berniat mencarinya?"
Jeany menggeleng. "Dia sudah meninggalkan aku. Buat apa lagi dicari."
"Berarti gak ada keluargamu yang akan menghadiri pernikahan kita?"
"Mita, Mas Pras, Kak Serly dan Randy sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri."
Kevin memeluk kekasihnya sangat erat. "Setelah ini kita gak akan berpisah lagi."
"Iya." Jeany membalas pelukan Kevin, juga sama eratnya.
***
Waktu berjalan sangat cepat. Jeany menyobek kalender harian yang terdapat di dinding ruang tamu rumahnya. Senyumnya mengembang melihat angka yang terpampang di sana. Tiga hari lagi ia akan resmi menjadi istri dari laki-laki yang dicintainya.
Ia telah mendapat gaun pengantin seperti yang diharapkannya. Gaun tanpa lengan sederhana namun memberi kesan manis dengan hiasan brocade di bagian dada. Soal lain ia tak terlalu peduli. Ia percayakan sepenuhnya pada pilihan keluarga Kevin. Baginya yang terpenting adalah ia bisa menikah dengan kekasihnya.
Tring...!
Jeany tersenyum melihat pesan yang baru masuk di ponselnya, pesan dari laki-laki yang telah amat berjasa dalam hidupnya. Ia melangkah ke kamar Kenny dan membangunkan putranya itu.
"Kenny Sayang, ayo bangun. Daddy sudah sampai di Jakarta."
Baca juga karya temanku yuk 🙏
__ADS_1