
Di ruang tengah rumahnya, Henny sedang berbincang dengan putri dari teman karibnya yang datang bertamu. Sejak Kevin meninggalkan rumah, Henny sering menghubungi Giselle untuk memantau kondisi putranya itu di kampus.
"Diminum dulu jusnya, Nak Giselle."
"Makasih, Tante."
Wanita itu memberi waktu pada tamunya untuk minum. Setelah itu ia mulai membuka percakapan. "Jadi bagaimana, apa Jeany mau mendengarkan kamu?"
"Belum, Tante. Giselle udah tiga kali menemui dia tapi gak didengerin. Malah kalo Giselle ke sana gak pernah dibukain pagar."
"Kurang ajar sekali dia!" geram Henny.
"Iya, Tante, Giselle juga gak suka sama dia. Gak tahu apa yang Kevin lihat dari dia."
Henny bergeming. Awalnya ia sebenarnya merasa Jeany tidaklah buruk. Seandainya saja gadis itu dulu tidak bekerja di kelab malam, ia pasti sudah menerimanya menjadi kekasih Kevin. Wanita itu kembali bertanya, "lalu Kevin bagaimana di kampus?"
"Kevin gak pernah absen kecuali kalo kuliah diganti sore, Tante. Kemarin Giselle lihat Kevin agak pucat, tapi gak tahu kenapa. Kevin selalu jaga jarak. Kalo bukan masalah kuliah dia gak mau banyak ngobrol."
"Sudah satu bulan lebih. Tante mau jemput dia pulang." Dari informasi yang diberikan oleh Hansen, Henny tahu Kevin masih meminum obatnya secara teratur. Namun itu belum membuatnya merasa tenang.
"Dia pasti gak mau, Tante. Pikirannya sudah dipengaruhi Jeany." Giselle berusaha membuat Henny semakin membenci Jeany.
"Tante akan paksa dia. Sudah waktunya kontrol ke dokter."
Pada saat itu Winda setengah berlari turun dari lantai dua. Wajahnya terlihat cemas dan tangan kanannya menggenggam ponsel dengan erat.
"Ma, barusan Jeany telpon. Katanya Kevin pingsan, sekarang ada di rumah sakit!"
"Ya Tuhan anakku Kevin!" Henny memekik cemas. Ia langsung berdiri dan dengan tergopoh-gopoh mengambil tasnya yang masih berada di kamar. "Di rumah sakit mana, Winda???" tanyanya setelah turun kembali.
"Di RS Royal, Ma. Katanya masih di IGD."
Mertua Winda itu berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut.
"Tante, saya ikut ya!" seru Giselle sembari berlari menyusul Henny.
"Ya sudah ayo cepat!"
Henny dan Giselle bergegas pergi ke rumah sakit. Winda tidak bisa ikut karena harus menjaga putranya. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Henny menelepon suami dan putra pertamanya.
***
PLAK!
"Puas kamu bikin anak saya celaka?!"
Jeany tidak mundur walau merasakan sakit yang menyengat pada pipinya yang baru saja ditampar oleh Henny. Hanya air matanya yang keluar. Ia menangis bukan karena rasa sakit di pipinya, melainkan karena dirinya begitu mengkhawatirkan kekasihnya yang belum juga sadar, dengan selang infus menancap di pergelangan tangan pemuda itu.
Mama Kevin terlihat hendak menamparnya lagi tetapi langsung ditahan oleh Randy. "Cukup, Tante!"
Seorang perawat mendatangi mereka dan berbicara dengan nada tegas, "Bapak, Ibu, mohon jangan membuat keributan! Yang tidak berkepentingan harap menunggu di luar agar tidak mengganggu penanganan di sini."
Di luar ruang IGD, Henny menudingkan jari telunjuknya pada Jeany. "Ini semua gara-gara kamu! Kalau tidak, anak saya tidak akan begini!"
"Betul! Gue udah bilang Kevin belum pulih! Lo gak liat kmarin aja mukanya pucet banget? Sekarang begini kan akibatnya!" Giselle ikut menimpali.
Jeany tetap diam, tahu tidak ada gunanya menjawab seperti apa pun. Kebencian Henny padanya sudah terpatri sangat dalam. Gadis itu juga tidak memedulikan tatapan orang-orang padanya. Ia hanya ingin menunggu hasil pemeriksaan Kevin, berharap keadaan kekasihnya itu tidak seburuk yang dikhawatirkannya.
"Ngapain kalian masih di sini? Pergi! Setelah ini jangan dekati anak saya lagi!" Henny mengusir Randy dan Jeany.
"Kami mau menunggu hasil CT Scan Kevin, Tante." Randy yang menjawab wanita itu.
"Saya tidak mengijinkan kalian di sini!"
Randy lalu menarik tangan Jeany. "Kita pergi aja, Jean."
"Tapi, Ran-"
__ADS_1
"Udah ikut gue aja!"
Pemuda itu tidak benar-benar mengajak Jeany pergi dari rumah sakit. Mereka duduk di kursi panjang tidak jauh dari ruang IGD, tetapi cukup jauh dari jangkauan pandangan Henny dan Giselle.
"Semua ini salah gue, Ran! Seandainya gue gak ngeremehin kondisi Kevin. Gue malah ngebiarin dia ngeforsir dirinya ...." Jeany tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan mikir yang engga-engga dulu. Kan belum tentu kondisinya seburuk yang lo kira."
"Iya semoga Kevin baik-baik aja. Biar gue aja yang sakit jangan dia!"
Randy menghela napasnya. Saat mencintai seseorang kita jadi rela berkorban, rela diri sendiri terluka asal orang yang dicintai bahagia. Ia pun rela sakit demi Jeany, demi melihat senyum di wajah gadis itu. Sekali lagi Randy menghela napas, lebih panjang dan berat. Pemuda itu merasa sangat sedih karena teringat suatu hal.
"Lo mau makan atau minum sesuatu, Jean?" tanya Randy setelah mereka menunggu cukup lama.
"Gak, Ran."
"Kalo gitu gue intip dulu ya ke sana, siapa tahu udah keluar hasilnya."
"Iya," jawab Jeany mengangguk lemah.
Pada saat Randy kembali ke ruang IGD, Kevin sudah tidak ada di tempatnya terbaring tadi. Ia pun bertanya pada dokter jaga yang kebetulan lewat di sebelahnya.
"Permisi, Dok. Saya mau tanya teman saya yang tadi di sini apa sudah dipindah?"
"Iya sudah dipindah ke ruang rawat inap."
"Oh. Lalu hasil CT Scan-nya bagaimana, Dok?"
Dokter tadi lantas memanggil rekannya yang merupakan dokter spesialis saraf.
"Pasien mengalami bengkak otak ringan," kata dokter yang datang belakangan tersebut.
"Ringan? Berarti gak bahaya kan, Dok?"
"Berbahaya bila tidak ditangani dengan tepat. Jadi pasien diharuskan rawat inap dan minum obat untuk menstabilkan tekanan darah dan mengeluarkan kelebihan cairan di otaknya," terang dokter tersebut dengan bahasa yang menurutnya mudah dipahami.
"Penyebabnya apa ya, Dok?"
Randy mengangguk-anggukkan kepalanya. Penjelasan dokter yang sederhana itu tidak terlalu dipahaminya. Namun baginya yang terpenting adalah kondisi Kevin tidak berbahaya.
"Oke terima kasih ya, Dok."
Setelahnya, Randy kembali ke tempat ia dan Jeany tadi menunggu. Kepada gadis itu ia menyampaikan kembali apa yang didengarnya dari dokter. "Jadi gak usah kuatir, Jean. Kevin gapapa kok," ucapnya mengakhiri cerita.
Jeany mendengarnya dengan linangan air mata. "Bengkak otak gimana gapapa, Ran?"
"Yang penting ditangani dengan benar. Suer deh gak ada omongan dokter yang gue tambah ato kurangin."
Jeany meremas-remas jemarinya. Penjelasan dokter yang didengarnya dari Randy belum membuatnya merasa tenang.
"Jean, udah waktunya lo siap-siap buat berangkat kerja." Randy mengingatkan gadis itu.
"Aduh, Ran .... Gue gak ada mood buat kerja ...," rengek Jeany dengan wajah basah karena air mata.
"Lo di sini terus juga percuma. Nyokap Kevin gak bakal ngijinin lo ketemu anaknya. Lagian lo harus kasih gue muka, gue yang ngerekomendasiin lo ke sepupu gue, Jean."
Dengan berat hati Jeany meninggalkan rumah sakit untuk menjalankan kewajibannya sebagai kasir restoran. Randy benar. Ia tidak boleh bersikap semaunya hanya karena suasana hatinya sedang tidak baik.
"Oh iya, Ran, makasih ya udah datang dan bantu bayarin biaya rumah sakit," ucap Jeany saat di dalam mobil.
"Gak perlu makasih, Jean. Kevin sahabat gue juga."
***
Kevin merasakan pandangannya berputar. Kata dokter ia mengalami vertigo akibat pembengkakan pada otaknya. Pemuda itu memejamkan matanya untuk mengurangi rasa mual walaupun sensasi berputar itu masih tetap ada.
Seolah waktu terulang kembali, ia menemui lagi perasaan hampa karena tidak melihat keberadaan kekasihnya ketika tersadar tadi. Hanya ada sang mama yang sedari tadi menatapnya cemas dan mengajaknya berbicara, juga seorang gadis yang kehadirannya tidak ia harapkan sama sekali.
__ADS_1
"Mama pasti ngusir Jeany kan?" tanyanya getir masih sambil memejamkan mata.
"Jangan sebut-sebut dia lagi, Kevin. Gara-gara dia kondisi kamu seperti ini."
"Bukan salah dia. Ini karena Mama yang menyuruh aku untuk memilih."
"Dan terbukti pilihan kamu salah."
Kevin tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan sang mama. Rasa sakit di kepala membuatnya tak berdaya. Ia memutuskan untuk bersabar mengikuti prosedur pengobatan di rumah sakit, agar dapat segera pulih dan berjumpa kembali dengan sang kekasih.
Hari berganti hari. Tidak terasa sudah sepuluh hari Kevin dirawat di rumah sakit. Setiap hari Jeany menanyakan kabar kekasihnya itu pada Winda maupun Jovina. Ia senang karena kondisi Kevin semakin hari semakin baik. Gadis itu bertekad tidak akan lalai lagi menjaga kesehatan Kevin.
Selama sepuluh hari ini pula sikap Randy semakin aneh. Terkadang tampak biasa saja, terkadang jadi diam luar biasa. Jeany tidak mengerti penyebab perubahan sikap tersebut karena pemuda itu belum ingin bercerita padanya.
Sepertinya Randy tahu ia sedang dipikirkan. Tiba-tiba saja malam itu ia muncul di rumah kos Jeany setelah beberapa hari tidak menghubungi gadis itu. Wajahnya lelah seolah tidak tidur berhari-hari. Pemuda itu duduk terdiam, sedikit pun tidak bersuara.
"Lo kenapa, Ran?"
Randy menatap Jeany sayu. "Claudia meninggal, Jean."
Gadis itu berusaha mengingat pemilik nama yang baru saja diucapkan oleh Randy. "Astaga .... Claudia mantan lo? Gue turut berduka cita ya, Ran."
Randy menggeleng. "Bukan mantan gue, tapi cewek yang pernah tidur ama gue. Dia kena AIDS, Jean."
"Oh astaga ...." Jeany refleks meletakkan telapak tangan di mulutnya.
Keheningan menyelimuti mereka.
"Tapi lo selalu pake pengaman kan?" tanya Jeany setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
Lagi-lagi Randy menggeleng. "Gue pernah ceroboh gak pake k*ndom. Cuma sekali. Dan itu sama dia."
Selama beberapa saat keduanya saling diam. Gerimis rintik-rintik kini berubah menjadi hujan deras, membawa hawa dingin ke tempat mereka duduk.
"Lo udah periksa?" Hanya itu hal yang menurut Jeany penting untuk ditanyakan.
"Gue takut, Jean. Gue takut kalo hasilnya positif."
"Lo harus berani, Ran. Sampai kapan lo mau hidup dalam ketakutan?"
Randy memejamkan matanya, terlihat begitu rapuh. Tidak ada lagi kesan seorang casanova pada dirinya.
"Gue ... gue udah beli alat tes HIV di online shop. Gue ke sini karena gak berani tes sendirian di rumah. Gue butuh temen, Jean ...."
"Maksudnya lo mau tes di sini?"
"Lo gak keberatan kan?"
"Iya gapapa. Butuh waktu berapa lama buat tahu hasilnya?"
"Cuma lima belas menit."
"Ya udah lo mulai aja tesnya."
"Boleh di dalam gak, Jean? Kalo di teras gue takut ada yang lihat. Please, Jean ...."
Jeany tidak sampai hati menolak permintaan Randy. Ia mengiakan. "Kalo gitu gue tunggu di sini ya."
Randy masuk ke dalam rumah. Jeany menunggu pemuda itu di teras, bertemankan suara hujan dan dinginnya udara malam. Gadis itu memandangi curahan air yang jatuh dari langit. Ia selalu merasa ada yang berbeda setiap kali hujan turun. Bukan perasaan suka atau pun benci. Perasaan yang masih tidak dapat didefinisikannya hingga saat ini.
Hampir tiga puluh menit lamanya gadis itu menunggu. Jeany mengerutkan alis melihat penunjuk waktu di ponselnya. Seharusnya Randy sudah selesai. Apa yang membuatnya begitu lama di dalam?
Didorong rasa khawatir, Jeany masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Randy sedang duduk meringkuk di sudut sofa. Semakin ia mendekat semakin ia tahu pemuda itu sedang menangis. Suara tangisan putus asa terdengar bercampur dengan suara air hujan.
Gadis itu melihat barang-barang yang ia yakini sebagai kelengkapan alat tes berserakan di atas meja. Salah satunya adalah sebuah benda pipih persegi panjang berwarna putih. Ia melihat dua garis merah pada benda tersebut.
***
__ADS_1
Sepuluh hari terakhir dilalui Kevin dengan perasaan tersiksa. Ia begitu merindukan kekasihnya. Ia tahu sang mama tidak mengijinkan Jeany datang menjenguknya. Namun ia tidak berkecil hati. Dari kakak ipar dan adiknya ia tahu gadis itu selalu menanyakan kabarnya.
Mengetahui Jeany masih setia di luar sana menunggu kesembuhan dirinya, Kevin semakin bersemangat untuk pulih. Namun di hari kesepuluh, kerinduannya tak terbendung lagi. Malam itu, di tengah hujan deras yang membangkitkan rasa melankolis di hatinya, Kevin meninggalkan kamarnya di rumah sakit untuk sejenak melepas rindunya dengan sang kekasih.