
Gerbang pagar yang terbuka separuh itu baru saja ditutup oleh laki-laki yang tadi membukanya. Jeany masih berdiri mematung dengan perasaan gugup. Gadis itu tidak mengerti mengapa Kevin melihatnya dengan tatapan seolah ia telah melakukan kesalahan yang amat besar.
"Udah jadi kebiasaan ya pergi gak pamit?"
Sekarang Jeany tahu penyebab pemuda itu terlihat hendak menerkamnya hidup-hidup. Suara Kevin terdengar rendah dan menakutkan. Jeany tidak menjawab. Bukan karena ingin mengabaikan pemuda itu, tetapi rasa takut yang muncul membuatnya tidak mampu membuka mulut untuk berkata-kata.
"Kamu anggap apa orang rumah ini, pergi dan pulang sesukamu?"
"Sorry." Jeany akhirnya menjawab dengan kepala tertunduk, sadar akan kesalahannya.
"Kenapa gak angkat telponku?"
"HP-ku ketinggalan di kamar."
"Segitu gak sabarnya ya pergi ama Randy sampe lupa bawa HP? Jangan-jangan kemarin juga pergi sama Randy sampe lupa waktu!" Suara Kevin mulai meninggi.
Jeany mengernyit. Kenapa Kevin memberinya tuduhan aneh seperti itu? Hampir saja ia mengira pemuda itu sedang cemburu, membuatnya memiliki secercah harapan bahwa pemuda yang dicintainya juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"Aku mau pergi ama siapa bukan urusanmu kan?" Jeany sengaja menjawab demikian, ingin menggali isi hati Kevin.
"Jelas urusanku. Jangan lupa kamu sedang kerja di rumahku."
Bagai diterbangkan ke langit ke tujuh dan langsung dihempaskan kembali ke jurang terdalam, seperti itu pula perasaan Jeany saat ini. Bukan hanya tidak membalas perasaannya, Kevin bahkan mengingatkannya akan status mereka yang tidak setara.
"Iya aku gak lupa kok kalo kamu majikanku."
"Jean, bukan gitu maksudku ...." Kevin ingin menjelaskan kekeliruannya, tetapi Jeany telah meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
"Sial*n!"
Entah untuk siapa makian itu Kevin tujukan. Mungkin untuk dirinya sendiri yang telah bersikap berlebihan hingga mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. Ia pun bergegas menyusul Jeany. Kedua muda-mudi itu sama sekali melupakan satpam rumah yang sedari tadi berada di dalam pos penjagaannya menyaksikan tontonan gratis yang mereka suguhkan.
Kevin secepat mungkin berlari, agar sempat menggapai Jeany sebelum gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Karena bila gadis itu sudah berada di dalam kamar, akan sulit memaksanya membuka pintu tanpa membangunkan penghuni kamar lain. Bisa-bisa ia harus menunggu esok pagi baru bisa berbicara dengan gadis itu.
Tepat ketika Jeany hendak menutup pintu kamarnya, Kevin menahan dengan tangannya sebelum pintu itu benar-benar tertutup. Ia harus berbicara dengan gadis itu malam ini juga.
"Tunggu, Jean! Aku mau ngomong!"
"Aku lagi gak pingin ngomong."
"Bentar aja. Penting!"
"Sorry aku capek mau tidur."
Jeany mendorong pintu yang ditahan oleh Kevin itu dengan kekuatan penuh, tetapi herannya pintu itu tidak mau menutup juga. Sedetik kemudian ia tahu penyebabnya.
__ADS_1
"Aduh, Jean, kakiku!" pekik Kevin membuat gadis itu mengarahkan pandangannya ke bawah. Terlihat kaki kanan Kevin menyembul dari balik pintu, terjepit cukup keras.
"Astaga! Sorry sorry aku gak maksud ...."
Gadis itu cepat-cepat menarik pintu kamarnya agar kaki Kevin terbebas dari himpitan pintu. Dilihatnya wajah pemuda itu meringis kesakitan. Timbul rasa bersalah dalam dirinya. Ia mengamati kaki Kevin yang kini berwarna kemerahan pada bagian yang terjepit tadi.
"Kaki kamu gapapa?"
Secepat kilat Kevin mengambil kesempatan itu untuk menerobos masuk, memaksa Jeany mundur dari posisi berdirinya semula. Pemuda itu lalu menutup pintu kamar.
"Kamu ngapain?" tanya Jeany waswas sambil melihat pintu yang kini terhalang oleh tubuh Kevin.
"Aku udah bilang kan mau ngomong sama kamu."
"Ngomong di luar aja. Gak enak di kamar gini."
Jeany berjalan maju untuk membuka pintu kamarnya. Namun belum sempat tangannya mencapai gagang pintu, Kevin telah mencengkeram pergelangan tangannya dan menarik gadis itu menjauhi pintu.
"Kevin, lepasin!" Jeany berusaha melepaskan diri.
"Jangan berisik! Kamu mau semua orang bangun?"
Pemuda itu terus menarik Jeany dan baru melepaskannya setelah berada persis di sebelah ranjang. Terlihat ponsel Jeany tergeletak di atas ranjang berukuran sedang itu.
Tubuh Jeany menurut, namun hatinya tidak. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Kevin yang sedang berdiri di hadapannya, menuntut penjelasan.
"Kamu ngapain kayak gini?"
"Kamu harus dengerin aku. Tadi itu salah paham. Aku gak pernah nganggap diri aku majikan kamu. Aku cuma emosi karna kamu pergi gak bilang-bilang, dan karna telponku gak kamu angkat."
"Ya," tukas Jeany dingin. "Kalo udah selesai ngomong tolong keluar."
Kevin diam sesaat untuk meredakan gemuruh di hatinya. Sejak melihat Jeany turun dari mobil Randy, ia harus membendung emosi yang ia tahu sewaktu-waktu siap meledak. Terlebih sikap Jeany padanya sangat tidak bersahabat. Didorong oleh amarah, ia memegang lengan Jeany dan meremasnya sebelum menarik gadis itu berdiri.
"Aw! Kamu kenapa sih?" tanya Jeany merasakan sakit di lengannya karena cekalan tangan Kevin yang begitu kuat.
"Kenapa? Harusnya aku yang tanya begitu ke kamu! Kenapa sikap kamu beberapa hari ini aneh?"
Jeany segera membuang pandangannya. "Menurutku itu yang terbaik," jawabnya dengan suara pelan.
"Terbaik?"
"Iya. Lebih baik kita gak usah terlalu dekat."
"Oh. Apa karna kamu sekarang udah dekat ama Randy jadi gak mau dekat sama aku lagi?" Kevin bertanya sambil memandang Jeany sinis.
__ADS_1
"Gak ada hubungannya sama Randy."
"Lalu kenapa? Jawab aku!"
"Karena memang seharusnya kita gak dekat."
Kesabaran Kevin mulai habis dengan jawaban Jeany yang sama sekali tidak dipahaminya. Ditambah lagi gadis itu kini tidak mau melihat wajahnya. Tangan kirinya memegang dagu Jeany dan membuatnya mendongakkan kepala, memaksa gadis itu menatap kedua matanya.
"Lihat aku kalo lagi ngomong. Dan tolong ngomong yang jelas supaya aku mengerti."
Perlahan Jeany menatap Kevin tepat di kedua matanya seperti yang diinginkan oleh pemuda itu. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat, sangat menyadari keberadaan satu sama lain yang membuat detak jantung keduanya tidak beraturan.
"Kalau gak ada kejadian malam itu, apa kamu mau dekat sama aku?" Jeany bertanya masih dengan menatap Kevin.
"Mau. Tapi kan dulu kita memang gak dekat."
"Trus kenapa sekarang harus dekat?"
"Karna aku mau bertanggung jawab sama kamu."
"Bertanggung jawab? Dengan bikin aku selalu bergantung sama kamu?"
"Aku-"
"Mulai sekarang tolong jangan terlalu baik sama aku. Setelah pekerjaanku di rumah ini selesai, anggap aja kita gak saling kenal, anggap kejadian malam itu gak pernah ada."
Gadis itu lalu melepaskan diri dari Kevin dan berjalan ke arah pintu, hendak mempersilakan pemuda itu keluar dari kamarnya. Namun lagi-lagi Kevin menariknya agar kembali. Kali ini Jeany tidak tinggal diam, dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari Kevin.
Bila Kevin tidak mau keluar, ia yang harus keluar, karena ia takut tidak mampu lagi menahan air mata yang hendak tumpah. Ia tidak ingin menangis di hadapan laki-laki yang telah menghancurkan hatinya.
Dengan frustrasi Kevin mendorong kedua bahu Jeany hingga gadis itu terhimpit ke dinding tepat di samping pintu. Kevin tidak melepaskan tangannya yang memegangi bahu Jeany ketika berbicara.
"Apa aku gak boleh mempertanggung jawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!"
"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit, Vin!" Jeany menunjuk bagian dadanya, tempat ia merasakan sesak dan pilu setiap kali melihat Kevin bersama Stevi.
Kevin termangu menatap Jeany yang terlihat begitu merana. Ia tidak menyangka keinginannya untuk menjaga Jeany justru membuat gadis itu merasakan sakit.
"Kenapa?" bisiknya lirih.
"Kamu mau tahu kenapa?"
"Ya."
Kevin dapat merasakan Jeany memegang kedua pipinya, membuat pandangannya terkunci pada paras ayu yang semakin lama semakin tak berjarak dengannya. Ia membelalakkan matanya ketika gadis itu mempertemukan bibir mereka.
__ADS_1