
Kevin menggeliat terbangun dari tidur siangnya. Seperti biasa bila ia tidur siang, alih-alih merasa lebih segar, begitu bangun tubuhnya justru terasa lelah. Namun rasa kantuk yang teramat sangat membuatnya tidak bisa menghindari godaan untuk tidur siang. Ia kini sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca pesan Whatsapp di ponselnya, pesan dari sahabatnya sejak SMA
Randy
[Bro, Jeany kerja di mana skrg? Kasitau dong gue mo jemput dia.]
Tidak ingin Randy mendekati Jeany, Kevin memutar otak untuk berpikir. Ia yakin sahabatnya itu hanya ingin bermain-main. Jeany bukan tipe perempuan yang disukai Randy.
Tapi bukankah kita gak boleh menghakimi orang lain secara sepihak? Gimana kalo Randy bener-bener serius suka ama Jeany?
Helaan napas keluar dari mulut Kevin. Ingin menjadi orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan benar-benar tidak mudah. Setelah batinnya berkecamuk cukup lama, Kevin memilih untuk tidak memberitahu Randy. Ia takut Jeany akan tersakiti nantinya. Lebih baik tidak mengambil risiko apa pun.
Sorry, Ran. Kalo cewek lain gue pasti bantu lo. Tapi jangan Jeany.
Setelah menetapkan keputusannya, Kevin turun dari ranjang hendak keluar kamar melihat Enzo. Tentu saja sekalian dengan gadis yang menjaga keponakannya itu.
Baru berjalan beberapa langkah, ponselnya berdering. Ia mengeluh dalam hati saat layar ponselnya memperlihatkan nama Randy sebagai pemanggil.
"Halo, Ran?" sapanya menjawab panggilan.
"Kevin! Kok gue WA cuma di-read doang sih?!" Nada bicara Randy di seberang terdengar kesal.
Kevin otomatis menepuk keningnya. Ia sibuk berpikir hingga lupa membalas pesan dari Randy. "Sorry, Ran gue lupa hehe ...."
"Lupa apa sengaja gak mau kasih tahu?" cecar Randy.
"Seriusan lupa balas tadi. Maklum baru bangun tidur, belum sadar sepenuhnya."
"Buset udah kayak emak-emak aja lo tidur siang!" Randy tergelak.
"Gue tutup nih ya."
"Eh tunggu tunggu! Kasih tau gue. Jeany kerja di mana sekarang?"
"Gue gak tahu, Ran," dusta Kevin pada sang sahabat.
__ADS_1
Namun Randy tidak begitu saja mempercayainya. "Gak mungkin lo gak tahu. Lo kan sahabatnya."
"Gak semua hal dia ceritain ke gue kali. Lo kan tahu dia orangnya tertutup," kilah Kevin.
"Kalo gitu lo bisa bantu gue tanyain ke dia kan?"
Kevin hampir berdecak mendengar permintaan Randy. Kegigihan sahabatnya itu membuat hatinya semakin cemas. Ia paham betul Randy tidak akan berhenti bila belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia kembali harus berdusta.
"Oke. Tapi gue gak janji dia bakal kasih tahu ya," jawabnya berpura-pura menuruti keinginan Randy.
"Dia kan gak punya alasan buat gak kasih tahu lo."
"Kenapa sih lo ngebet banget ama Jeany? Dia kan bukan tipe lo?" tanya Kevin kesal karena terus didesak.
Terdengar tawa kecil Randy. "Ada deh alasannya, yang jelas kali ini gue gak main-main."
"Maksud lo, lo mau serius ama Jeany?"
"Hehehe menurut lo?"
Bukannya takut, Randy malah berseloroh kurang ajar. "Udah deh jangan bawel aja, lama-lama beneran jadi emak-emak lo."
Kevin memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut tidak nyaman. Sepertinya ia harus bertemu langsung dengan Randy. Berbicara melalui telepon hanya akan membuat tekanan darahnya naik.
"By the way minggu depan Johan balik dari Beijing. Dia ngajakin kita kumpul," timpal Randy tiba-tiba.
"Iya atur aja, gue pasti datang," jawab Kevin. Ia juga sudah rindu pada sahabatnya yang kini mendalami bahasa Mandarin langsung di negara asalnya itu.
"Oke deh. Jangan lupa tanyain Jeany ya!" Randy berpesan sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah satu kali lagi menghela napas, karena bagaimanapun ia tidak suka berbohong, Kevin melihat penunjuk waktu pada layar ponsel. Ternyata sudah hampir pukul empat sore. Ia memutuskan untuk mandi sebelum keluar dari kamar, berharap setelah itu tubuhnya akan terasa lebih segar.
Di kamar Enzo, Jeany sedang mengganti popok bayi itu sambil berharap Kevin segera bangun dari tidur siangnya. Tadi ketika buang air kecil, ia mendapati bercak darah di cel*na d*lamnya. Ia seketika merasakan kelegaan yang luar biasa karena akhirnya menstruasinya datang juga walaupun terlambat beberapa hari. Pantas saja dari pagi perutnya terasa tidak nyaman.
Jeany ingat tidak membawa pembalut. Ia ingin meminta pada Bi Murni atau Mbak Iis. Namun niat tersebut diurungkannya setelah melihat Bi Murni sedang berkutat di dapur memasak makan malam yang jumlahnya tidak sedikit. Sedangkan Mbak Iis, ia sedang mengepel rumah dua lantai itu dengan wajah cemberut, membuat Jeany tidak berani mendekatinya.
__ADS_1
Akhirnya Jeany memutuskan untuk membeli di minimarket dekat rumah Kevin saja. Hanya perlu menunggu Kevin bangun dari tidur siangnya yang seharusnya tidak lama lagi, karena sudah tiga jam laki-laki itu berada di kamarnya. Untung saja cairan menstruasinya kali ini tidak sebanyak biasanya.
Begitu memasuki kamar Enzo, Kevin langsung diserbu oleh Jeany yang terlihat terburu-buru.
"Kevin, syukurlah kamu udah bangun! Aku boleh titip Enzo sebentar gak? Ada yang mau aku beli di minimarket depan."
Kevin tidak langsung menjawab karena masih mencerna kalimat demi kalimat Jeany yang diucapkan dalam satu tarikan napas itu.
"Kita pergi sama-sama aja kalo gitu. Aku juga mau beli cukuran, yang lama ketinggalan di apartemen," jawabnya setelah paham.
"Eh? Titip aku aja beli alat cukurnya. Kan harus ada yang jaga Enzo." Tentu saja Jeany sangat malu bila Kevin sampai mengetahui dirinya sedang datang bulan.
"Gapapa Enzo diajak aja sekalian jalan-jalan sore. Ayok!" Kevin semakin bersemangat. Ia langsung menggendong Enzo dan berjalan keluar kamar. Jeany hanya bisa mengikuti dengan pasrah.
Mereka berjalan kaki menuju minimarket yang terletak sekitar seratus meter dari rumah Kevin, melewati rumah-rumah besar berbeda arsitektur seolah saling bersaing mempertontonkan kemegahannya masing-masing.
Biasanya Jeany akan terkagum-kagum dan melihat satu per satu rumah dengan antusias. Ia memang suka melihat rumah yang didesain sedemikian rupa hingga terlihat mewah dan indah tetapi tetap nyaman untuk ditinggali, berharap suatu hari dirinya cukup beruntung memiliki rumah seperti itu. Akan tetapi, untuk saat ini ia sibuk memikirkan cara agar dapat membeli pembalut tanpa diketahui oleh Kevin.
"Jean, aku ke sana dulu ya." Begitu sampai di minimarket, Kevin memberitahu Jeany sambil menunjuk rak tempat alat cukur yang langsung diangguki dengan penuh semangat oleh gadis itu.
Jeany tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bergegas mencari tempat pembalut berada, memilih sekenanya dan cepat-cepat berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Pada saat bersamaan, seorang pemuda yang sedang menggendong bayi hendak masuk ke lorong tempat Jeany sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka bertabrakan, membuat pembalut dalam pegangan Jeany terlepas dan terjatuh di dekat kaki pemuda itu.
"Jean, kamu-"
Pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya. Ia sudah paham dengan apa yang sedang terjadi. Pikirannya pun sama dengan Jeany. Malam naas itu tidak menghasilkan sesuatu yang mereka takutkan. Ia merasakan suatu kelegaan yang tiada tara. Dilihatnya Jeany yang sedang berdiri membatu dengan wajah memerah. Kevin memungut benda yang terjatuh di dekat kakinya dan memasukkannya ke keranjang belanjanya sendiri.
"Ini aja yang mau kamu beli?" Kevin bertanya dengan raut wajah biasa tetapi dalam hati tertawa melihat kekonyolan Jeany.
Jeany mengangguk dan mengambil keranjang belanja dari tangan Kevin. "Aku aja yang bawa," ucapnya.
Setelah membayar, Kevin dan Jeany berjalan kaki kembali menuju rumah pemuda itu. Bersama Enzo yang tampak nyaman dalam dekapan Kevin, ketiganya terlihat seperti keluarga kecil yang sedang menikmati suasana santai di sore hari.
"Bahagia sekali ya mereka, jalan-jalan sore sama bayinya," ujar seorang wanita paruh baya kepada anak gadisnya ketika mobil yang mereka tumpangi berjalan melewati Kevin dan Jeany. Terselip rasa iri dalam hatinya karena ketika ia muda dulu, sang suami selalu sibuk dengan pekerjaan.
Si anak gadis refleks menengok ke belakang setelah mendengar ucapan sang mama, ingin memperhatikan lebih seksama keluarga yang baru saja dipuji oleh mamanya itu.
__ADS_1
"Lho, itu kan Kak Kevin sama Enzo?"