
Kevin sedikit berjongkok untuk mengambil benda yang terjatuh di dekat kaki Jeany. Ia memberikannya pada perempuan itu dan memperhatikan tangan yang menerimanya sedikit bergetar. Mereka kini berdiri berhadapan.
"Te-terima kasih," ucap Jeany sambil memandang ke bawah, merasa gugup karena Kevin memberinya tatapan yang begitu dalam.
"Kamu ... selama ini tinggal di Jakarta?" tanya laki-laki itu.
"Iya." Jeany lalu memberanikan diri menatap laki-laki di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang. Setelah sekian lama, laki-laki itu masih tampak begitu mengagumkan di matanya. "Kamu sudah kembali dari Singapore?"
"Mamaku yang minta aku kembali. Aku terpaksa mengabulkannya karena mama sedang sakit kanker."
Mendengar ibu laki-laki itu disebut, Jeany langsung mengatupkan bibirnya. Dengan sorot mata penuh kebencian, ia mengutarakan apa yang ada di pikirannya. "Dia pantas mendapatkannya."
"Apa katamu?" Kevin nyaris tidak mempercayai pendengarannya.
"Aku bilang mama kamu pantas mendapatkannya."
"Jeany! Kamu menyalahkan mamaku karena dulu menentang hubungan kita? Kamu sendiri yang waktu itu minta putus!"
Jeany memegang lengan baju laki-laki itu. "Vin, sebenarnya aku-"
"Kevin! Kenapa kamu gak masuk, malah berdiri di luar? Aku udah nungguin lama banget loh."
Suara seorang perempuan terdengar tidak asing di pendengaran Jeany. Ia melepas pegangannya pada baju Kevin dan menoleh. Pantas saja ia merasa seperti pernah mendengar suara tersebut, karena ternyata pemiliknya adalah manajer pemasaran di perusahaan tempatnya bekerja.
"Loh, Jeany? Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Lisa yang merasa terkejut melihat Jeany berbicara berdua dengan Kevin.
"Saya habis ambil pesanan cetakan dus brownies, Bu," jawab Jeany dengan panggilan sopan karena jabatan Lisa di kantor lebih tinggi darinya.
"Oh .... Trus kok bisa ngobrol sama Kevin?"
Lisa menyebut nama Kevin begitu hangat, membuat perasaan Jeany mulai tidak enak.
"Dia teman SMA sama teman kuliah aku dulu," jawab Kevin cepat, terlihat jelas tidak ingin orang lain mengetahui bahwa Jeany adalah mantan kekasihnya.
"Wah kebetulan banget dong! Jeany ini staf keuangan di kantor kita, Vin!" seru Lisa dengan senyum mengembang. Hatinya girang, akhirnya ada kesempatan untuk mengenalkan Kevin sebagai calon suaminya pada teman kantor. Walau ia sedikit menyayangkan mengapa teman kantor tersebut harus perempuan paling pendiam di divisi keuangan. Sudah pasti berita bahagia tersebut tidak akan tersebar di kantor.
Kevin kembali menatap Jeany. Mereka satu kantor, pikirnya. Ternyata ada hal yang bisa begitu kebetulan di dunia ini. Tatapan laki-laki itu terlihat semakin sendu mengingat masa lalu mereka. Akhirnya kamu bisa kerja di tempat impian kamu, Jean, ucapnya dalam hati.
"Karena Jeany teman lama kamu, gapapa kan kalo dia tahu hubungan kita, Vin?" Lisa bertanya pada tunangannya, yang hanya membisu seolah tidak mendengar pertanyaan tersebut.
"Hubungan?" Tanpa sadar Jeany menirukan ucapan Lisa.
"Hehe tapi jangan bilang siapa-siapa ya, Jean. Jadi saya sama Kevin baru aja tunangan dan bulan depan mau menikah! Makanya sekarang lagi di sini mau pilih-pilih desain undangan. Oh ya karena kamu juga di sini, gimana kalau kamu bantu pilihkan juga?"
Jeany berdiri terdiam selama beberapa saat. Otaknya berusaha mencerna kabar menyakitkan itu. Hatinya ingin menolak. Namun itulah kenyataan yang kini harus dihadapinya. Ternyata tunangan Bu Lisa yang dibicarakan oleh teman kantornya adalah Kevin, mantan kekasih yang masih sangat ia cintai. Sementara itu, Kevin hanya diam meneliti ekspresi wajah Jeany.
"Oh." Akhirnya Jeany hanya mampu menjawab dengan satu suku kata.
"Ayo kita masuk, Jean. Bantuin saya pilih desain undangan ya?" ajak Lisa lagi.
"Maaf, Bu saya harus buru-buru pulang. Permisi."
Jeany pergi begitu saja. Lisa melihatnya dengan heran. "Dasar gak sopan," komentarnya.
"Dia sudah lama kerja di kantor, Lis?" Kevin bertanya sambil terus memperhatikan Jeany yang tengah mengeluarkan sepeda motor dari tempat parkir.
"Ya kalo gak salah udah dua tahun. Tahu gak, waktu dulu dia masuk sempat jadi perdebatan di divisi personalia."
"Kenapa begitu?"
"Soalnya Pak Pras bersikeras memilih dia yang lulusan SMA. Padahal aturan di perusahaan untuk jabatan staf minimal harus bergelar S1. Tapi karena kerjanya memang bagus akhirnya dibiarkan sampai sekarang."
Jadi dia tidak lanjut kuliah? Kevin bertanya dalam hati.
"Yuk masuk, Vin. Kita dari tadi udah ditungguin orang percetakannya."
__ADS_1
Kevin mengiakan setelah melihat Jeany pergi dengan mengendarai sepeda motornya. Laki-laki itu kembali bertanya dalam hatinya. Kenapa suaminya tidak menjemput?
Setelah masuk, ternyata karyawan percetakan yang melayani mereka adalah Angga, rekan kerja Kevin dulu.
"Wah, Kevin akhirnya kamu bisa menuju jenjang selanjutnya. Jadi ini cewek yang bikin kamu rela diusir dari rumah dan kerja banting tulang? Luar biasa memang perjalanan cinta kalian." Angga terus berceloteh, tidak sadar sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan.
"Bukan. Kevin sudah putus dari cewek itu," jawab Lisa tegas. Ia tak suka mantan kekasih Kevin disebut-sebut lagi.
"Wah lho kok bisa sampe putus lho?" tanya Angga menyayangkan.
"Kamu masih kerja di sini, Ngga?" Kevin bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Yah begitulah," jawab Angga tanpa beban. "Ternyata gak mudah mendirikan percetakan sendiri. Rugi terus, akhirnya kututup. Untung Bos berbaik hati mau menerima aku kerja di sini lagi. Aku sungguhan kaget lho waktu tau ternyata kamu sepupunya Bos."
Kevin hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Desainnya yang ini aja gimana, Vin?" Lisa menyela karena tujuannya datang ke sana bukan untuk mendengar kisah masa lalu tunangannya.
"Terserah kamu aja," jawab Kevin tak antusias.
"Nanti warna tulisan yang ini diganti warna emas gimana?"
"Ya terserah kamu aja."
Mereka akhirnya memilih desain sesuai keinginan Lisa. Setelah berdiskusi soal undangan yang ternyata memakan waktu cukup lama, Kevin kini mengantar Lisa menuju kediamannya di sebuah kompleks apartemen. Sepanjang perjalanan laki-laki itu hanya diam membisu, memikirkan pertemuannya dengan Jeany tadi.
"Kamu kepikiran omongan orang percetakan tadi?" tanya Lisa.
Tidak ada jawaban.
"Kamu dulu benar-benar keluar dari rumah demi mantan kamu?"
Kevin mengangguk.
"Kamu begitu mencintai dia. Lalu kenapa kalian bisa putus?"
Lisa sangat ingin mengetahui seperti apa perempuan yang bisa membuat laki-laki dingin itu sekian tahun menyiksa dirinya sendiri dalam kesepian dan harapan kosong. Namun sekarang ialah yang menjadi tunangan Kevin. Suka atau tidak, laki-laki itu harus segera menghapus masa lalunya.
"Vin, kita sebentar lagi akan menikah. Walaupun kamu belum bisa mencintai aku, tolong hargai perasaanku. Jangan memikirkan perempuan itu lagi."
Kevin menghela napasnya, tidak memberikan jawaban. Namun Lisa benar, pikirnya. Ia tidak seharusnya memikirkan Jeany lagi. Karena perempuan itu sudah menjadi milik orang lain, milik sahabatnya sendiri.
***
Jeany sengaja membuka kaca helmnya dengan harapan terpaan angin mampu mengeringkan wajahnya yang basah oleh air mata. Perempuan itu berusaha berkonsentrasi melajukan sepeda motornya walaupun hatinya sedang berkecamuk. Pikirannya kembali ke masa tujuh tahun silam ketika ia datang ke rumah Kevin setelah mengetahui dirinya mengandung.
"Den Kevin masih di Singapore, Non," kata Pak Darto saat itu.
"Kalau Kak Winda ada?"
"Ada, tapi gimana yah saya gak berani ngijinin Non masuk. Nanti saya dimarahin Nyonya."
"Saya janji gak akan lama. Tolong, Pak, ini penting!"
Mungkin karena melihat wajahnya yang begitu memelas, satpam rumah itu jadi tidak tega dan akhirnya mengijinkannya masuk.
"Berani sekali kamu masuk rumah saya?! Siapa yang ijinkan kamu masuk?!" Ia tidak jadi bertemu dengan Winda karena mama Kevin telah lebih dulu mengetahui kedatangannya.
"Tante ...." Jeany sungguh takut melihat Henny yang sedang melotot padanya.
"Pergi dari sini!" Henny menarik tangannya.
"Tante, tolong saya, Tante. Sa-saya hamil ...!"
Mendengar itu, Henny berhenti menariknya dan menatapnya tajam. "Apa?"
__ADS_1
"Saya hamil anak Kevin, Tante ...."
"Jangan bicara sembarangan! Pasti ini cuma akal-akalan kamu supaya bisa kembali sama anak saya!"
"Saya gak bohong. Ini hasil USG-nya." Tangan Jeany gemetaran ketika mengambil foto dari dalam tasnya.
Untuk beberapa saat Henny memperhatikan foto berwarna hitam putih yang diberikan oleh Jeany. Ia lalu tersenyum. "Kalau begitu kita harus segera memeriksakan calon cucu saya. Jangan sampai dia kenapa-napa."
Mulanya Jeany mengira Henny telah menerima dirinya karena sedang mengandung darah daging dari putra wanita itu. Namun ia salah. Mama Kevin itu membawanya ke sebuah tempat mengerikan.
"Tolong gugurkan janin ini. Kasihan anak saya kalau sampai melahirkan bayi hasil pemerkosaan," ucap Henny di sana sambil mengeluarkan segebok uang.
Beberapa orang langsung membawa Jeany ke sebuah ruangan. Tampak berbagai peralatan yang terlihat sangat menakutkan. Ia langung meronta.
"Tolong jangan gugurkan bayi ini, Tante! Dia anak Kevin, cucu Tante!"
"Saya tidak peduli! Saya tidak sudi punya cucu dari kamu! Anak haram itu bukan cucu saya!! Itu pasti anak Randy atau laki-laki lain yang tidur sama kamu!" Henny lantas berbicara pada orang yang sepertinya bertugas melakukan pengguguran tersebut. "Tolong segera lakukan operasinya."
"Baik, Bu. Silakan menunggu di luar."
Henny berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Jeany yang tengah ketakutan seorang diri di sana. Jeany ingat ia berlari menyusul Henny dan memeluk kaki wanita itu, memohon padanya untuk mengubah keputusannya.
"Tolong jangan begini, Tante! Jangan gugurkan bayi saya! Dia benar-benar anak Kevin. Saya mau melahirkannya!" Tangisannya keluar semakin deras di kaki mama Kevin.
Henny mendorongnya kasar dan terus berjalan. Jeany merasa tangannya dipegang dan tubuhnya dipaksa berjalan menuju meja operasi. Ia akhirnya berteriak putus asa. "Saya mohon, Tante! Sa-saya akan lakukan apa saja asal jangan gugurkan bayi saya!"
Henny seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jeany. "Benar kamu akan melakukan apa saja?" tanyanya tajam.
"Benar, Tante ...." Jeany menjawab pasrah. Ia berlutut di lantai dengan air mata yang terus mengalir.
"Pergi jauh-jauh dan jangan ganggu hidup anak saya lagi. Kalau sampai kamu mendekati Kevin lagi, saya pastikan kamu tidak akan bisa melahirkan anak haram itu dengan selamat!"
Setelah itu, Jeany tidak ingat lagi bagaimana ia bisa sampai di rumah kosnya. Yang ia ingat, pikirannya sangat berantakan. Bagaimana ia akan mengandung, melahirkan dan membesarkan anak itu seorang diri? Di tengah kekalutan itu, Randy datang menawarkan sebuah asa padanya
"Nikah sama gue, Jean. Biar gue yang bertanggung jawab atas anak itu."
Sejak saat itu, tidak ada satu pun anggota keluarga Kevin yang dihubunginya. Ia berhenti berharap. Henny sudah begitu kejam padanya. Kini ia sangat membenci wanita itu, membencinya hingga ke tulang sumsum.
Tangan kiri Jeany kembali bergerak untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya. Berapa kali pun ia mengingat kejadian itu, rasa sakitnya masih tetap sama. Sekarang takdir mempertemukannya kembali dengan ayah dari anak yang dilahirkannya. Namun ia tahu sudah terlambat. Laki-laki itu telah menjadi milik orang lain.
Tidak ada yang salah, pikirnya. Waktu sudah begitu lama berlalu. Wajar bila Kevin sudah melupakan dirinya dan menjalin hubungan dengan perempuan lain. Ia pun mungkin sudah melupakan laki-laki itu, seandainya ....
Seandainya saja tidak ada bocah laki-laki yang kini menyambut kepulangannya dengan tawa ceria. "Horeee mama pulang ...!" Kenny berlari menghampiri sang mama. Ia menatap Jeany dengan wajahnya yang polos menggemaskan. Senyum di wajahnya langsung menghilang. "Mama kenapa nangis?"
Jeany cepat-cepat mengusap mata dan pipinya untuk menghapus air mata yang tersisa. "Mama gak nangis kok. Tadi mata mama kemasukan debu. Sekarang udah gapapa," jawabnya sambil memaksa diri untuk tersenyum.
Tidak lama kemudian mobil Prasetyo memasuki pelataran parkir rumah tersebut. Suami Mita itu juga baru saja sampai.
"Loh kok gak masuk, Jean?"
"Aku sama Kenny mau langsung pulang aja, Mas. Tolong pamitkan ke Mita ya."
Jeany tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya pada sang sahabat. Ia membonceng putranya menuju tempat tinggal mereka sendiri, sebuah rumah kecil yang cukup untuk melindungi mereka dari teriknya matahari dan hujan, juga tempat mereka berbagi kasih sayang.
Usai menghangatkan makanan yang tadi pagi dimasaknya, Jeany mengajak putranya makan malam. Ia mengernyit melihat Kenny sedang mengunyah sesuatu.
"Kamu makan apa, Kenny?"
"Coklat, Ma."
"Oo dikasih Mami ya?"
"Ibu-ibu di sekolah yang kasih. Mama mau?" Kenny menyodorkan coklat yang sudah tinggal separuh itu pada mamanya.
Jeany menerimanya dan meneliti coklat tersebut. Tidak ada yang mencurigakan, pikirnya. Ia kembali menatap Kenny. "Lain kali jangan sembarangan terima makanan dari orang gak dikenal ya, Sayang."
__ADS_1
"Ibunya baik kok, Ma. Kasihan tadi dia jatuh trus rambutnya lepas, Kenny yang ambilin."
Kenny dengan penuh semangat menceritakan kegiatannya selama satu hari tadi di sekolah. Jeany bersungguh-sungguh menyimak cerita Kenny, ingin mendengar bagaimana hari pertama sang putra masuk sekolah. Ia memandangi wajah Kenny yang sedang asyik berceloteh, dan tanpa sadar mendesah. Wajah Kenny selalu mengingatkannya pada ayah anak itu. Sekarang mereka satu kantor. Entah bagaimana ia harus menjalani hari-hari kerjanya setelah ini.